
'Aku janji,seberat apapun rintanganya kita akan segera bertemu kembali.'
-Algafriel Hazka Dwiarga-
**
"Tc...Tc"
Bunyi suara pembawa acara didepan panggung megah tersebut.
"Good night,ladies and gentleman."
Sapa si pembawa acara kondang tersebut,sambil memberikan prakata pembuka untuk membuka acara malam hari ini.
Riuh sorak sorai para tamu undangan berkelas elite,menyambut kedatangan si tuan rumah.Brama dan juga Andra Genandra tentunya.Disamping mereka juga sudah berdiri dengan gagahnya,Dr.Alan yang malah hari ini terlihat tampan dengan balutan kemeja putih susu yang dipadu padankan dengan jas hitam dan celana bahan hitam.Tak lupa sepatu pentopel hitam yang terlihat mengkilat,dengan jam Rolex silver jutaan dollar yang melingkar diperhelangan tangan kirinya,menunjang tatananya malam ini.
Acara pertunangan yang dihadiri lebih dari 200 orang tersebut memang diadakan secara ekaklusif dan mewah tentunya.Orang tua Dr.Alan pun sudah duduk rapi didepan podium,untuk menyaksikan acara lamarang putra tunggalnya.Namun semua itu tidak terlihat menyenangkan bagi si calon mempelai perempuan.Gadis cantik itu terlihat muring ditempatnya kini.Hingga suara MC memanggil namanya,ia harus berulang kali menghembuskan napasnya kasar.Guna menetralkan detak jantungnya yang tak karuan.
"Okay,kamu pasti bisa Gla."
Ujarnya menyemangati diri sendiri.
'Bismillah.'
Gumamnya didalam hati sebelum pintu dibuka dan memperlihatkan wajah pria paruh baya yang disayanginya.
"Let's go princess,pangeranmu sudah menunggu."
Ujar pria paruh baya tersebut.
"Putri papa gugup hm?"
Tanya pria itu-Andra sambil tersenyum kecil.
"Semuanya akan baik baik saja."
Ujarnya lembut,sambi mengusap tangan sang putri yang memeluk lenganya.
"Papa promise."
Lanjutnya yang dihadiahi senyuman manis dari Gladis.
Setibanya diatas podium,kedatangan keduanya disambut hari biru oleh seluruh tamu undangan.Gladis tersenyum kecil,saat melihat calonya disana tengah menatapnya tak berkedip.Terpukau mungkin,pikirnya sebelum menolak jauh jauh pemikiran tersebut.
"Kamu terlihat sangat çantik malam ini."
Ujar pria yang mengenakan kacamata tersebut.
Hingga sampai dipuncak acara,yaitu pertukaran cincin.Keduanya sudah berdiri ditengah tengah podium,dengan seorang perempuan membawa baki berisi cincin untuk keduanya keduanya.Pria tampan itu mengambil cincin berpermata biru tersebut.Memgarahkanya kepada jari manis Gla,disaksikan oleh Brama dan Andra yang terlihat tersenyum di pojok podium.Belum sempat cincin itu terpasang hingga sempurnya,sebuah seringai muncul dibibirnya.
"One..."
Sambil bergumang menghitung detik demi detik.
"Two..."
"Three..."
DOR
DOR
Suasana yang tadinya khidmat langsung berubah menjadi mencekam.Riuh teriakan para tamu undangan saat mendengar letupan keras senjata api diiringi padamnya listrik,membuat kekacauan dimana man.
"Ayah....Papah..."
Panggil Gla,sambil meraba raba sekelilingnya saat gelap melanda penglihatanya.
"Gla..."
Panggil seseorang dari belakangnya.
"Papah....Ayah....itu kalian?"
Tanyanya khwatir.
Grep
__ADS_1
"Ayo,ikut denganku."
Ujar pria pemilik suara britis yang kental tersebut.
"Dokter Alan?!"
Tanya Gla karena yang ia rasakan selanjutnya kegelapan yang menerpanya diiringi rasa berat dibelakang kepalanya.
"Gla..."
"Gla sayang....ini papah Gla."
Risau Andra pasalnya putrinya itu tidak ditemukan dimanapun.
"Cepat cari putri saya."
Ucapnya menahan amarah kepada interkom berbentuk heanset yang terpasang pada telinganya.Diseluruh ruangan ia sudah sengaja memperketat keamanan,namun tetap saja ia masih bisa kecolongan.
"Bram,amankan para tamu undangan."
Titah Andra yang langsung diangguki oleh pria paruh baya tersebut.
"X,cari siapa pelaku penembakan tadi."
Ujarnya kepada tangan kananya.
Dalam waktu 15 menit listrik padam,ia sudah kecolongan.Putrinya menghilang,dan dua bodyguard miliknya tewas mengenaskan disayap kanan ballroom hotel.
"Tuan dimana Gla?"
Tanya Alan yang sama cemasnya dengan Andra.
"Dia menghilang."
Ujar Andra menggeram menahan emosi.
Entah mengapa,pertahanya yang sudah super ketat ternyata masih bisa dibobol.
Kini banyak pertanyaan yang berkecambuk dipikiranya,siapa sebenarnya yang telah mengacaukan acara ini.
Ucap X dari interkom yang langsung terpasang ditelinga Andra.
Pria paruh baya itu menggeram,ternyata ada musuh dibalik selimut diantara mereka.
"Cepat,cari sampai dapat mata mata itu."
Ujarnya penuh penekanan.
Bahkan Alan yang mendengar itu,sampai dibuat merinding seketika.Menurutnya pria dihadapanya ini sangat mengerikan jika menyangkut tentang keselamatan Gladis,putrinya.
"Tuan Andra,apa semuanya baik baik saja?
Apa Gla sudah ditemukan?"
Tanya Alan to the point.
Pria paruh baya itu menetralkan emosinya,sebelum beralih menatap dokter muda disampingnya.
"Belum.Berdoalah Dr.Alan,semoga putri saya baik baik saja."
Ujar Andra meyakinkan.
Hingga hari semakin larut pun,Gladis belum bisa ditemukan.Andra sudah menyuruh anak buahnya menyisih seluruh area,namun tetap saja ia belum menemukan gadis bermanik hazel tersebut.
"Saya harus pamit terlebih dahulu untuk mengantar orang tua saya.Mommy kelihatan masih sangat shok akibat insiden tadi."
Izin Alan,yang tentu disetujui oleh Andra dan Bram.
Namun Andra tak semudah itu membiarkanya,ia langsung memberi intruksi kepada anak buahnya untuk membuntuti dua dokter muda tersebut.Hingga hari menjelang pagi pun,belum ada tanda tanda tentang keberadaan Gladis.Kekacauan yang tadi sempat terjadi sudah dihandle oleh Brama dan anak buahnya.Kini Andra bekerja sama dengan kepolisian setempat,untuk mencari putrinya yang hilang.
"Dimana Bram?"
Tanya Andra,ketika baru saja keluar dari kamar hotelnya.Semalaman suntuk ia tidak tertidur karena mencari keberadaan putrinya.
Dan sialnya lagi saat kejadian,CCTV yang terpasang disekitaran TKP tiba tiba saja mati tanpa diketahui sebabnya yang pasti.
"Tuan sudah Bram pergi,pagi pagi sekali."
__ADS_1
Ujar X to the point.
"Pergi,kemana dia X?"
"Beliau tidak berkata apa apa.Tapi saya sudah memasang pelacak di mobilnya."
Ujar X sambil memperlihatkan GPS yang menunjukkan lokasi Bram.
"Jangan jangan,dia-"
Ujarnya terpotong,oleh suara smartphonenya yang nyarig.
"Hall-"
"Cepat pergi ke gedung tua kearah barat daya,lima kilo meter dari tempat insiden semalam terjadi."
Ujar suara bariton disebrang sana menyela.
"Siapa anda berani memerintah saya?"
Bentak Andra tak terima.
"Saya Al,dan saya sedang berusaha menyelamatkan Gea disini."
Deg
Andra mematung seketika,apa dia tidak salah dengar.Apa yang baru saja pria diujung sana ucapkan?
"Dia bukan Ge-"
"Saya sudah tahu semuanya tuan Andra Genandra yang terhormat.Dan jangan mencoba membodohi saya lagi."
Ujar pria disebrang sana kembali menyela.
"Kamu-"
"Jika nyawa Gea tidak lebih berarti dari kebohongan anda ini,saya akan menyelamatkan dia sendiri dan tidak akan membiarkan anda menemuinya barang sedetik pun."
Ujarnya penuh penekanan.
"Saya-"
Tutt
Tutt
Tutt
Bunyi sambungan telepon yang terputus sebelah pihak tersebut.
"Arrrgg,siapa dalang dibalik semua ini?!"
Murkanya sambil melemparkan smartphonenya frustasi.
"X,cepat siapkan mobil.Kita akan pergi ke gedung tua diarah Barat Daya,lima kilo meter dari tempat ini."
Titahnya tak terbantah.
"Baik tuan."
Jawab X yang langsung undur diri.
'Siapapun yang berani menyakiti putriku seujung kuku pun,akan kulenyapkan dengan tanganku sendiri nyawanya.'
Batin Andra,terlewat marah karena ada yang berani menyentuh berlian paling berharga didalam hidupnya.
**
To Be Continue
Jangan lupa like dan komentarnya ya:)
maaf typo masih bertebaran🙏🙏
Sukabumi 15 mei 2020
06.16
__ADS_1