Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta

Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta
Aku Rindu Aku yang Dulu


__ADS_3


"Uang bulanannya kurang?"


"Sampai tumpah-tumpah," komentarku malas.


"Terus kenapa tidak ke salon, dokter, atau shoping?"


Aku menggeleng, "Udah." Dan aku mulai bosan. Lalu menyayangkan uang Natan yang hanya dipakai untuk hal begituan. Kalau tidak dibelikan pakaian, asesoris, furniture, perawatan kecantikan, makanan, dan barang-barang mewah lainnya. Rasanya mubazir!


Akhirnya diam-diam, kuputuskan menjadi donatur untuk membantu berbagai acara teman-teman di kampus.


Seperti mereka membuka taman baca untuk anak-anak, memberi pengobatan gratis, bagi-bagi snack, mengadakan training, dan mendanai bisnis-bisnis mereka, mulai dari kuliner hingga bisnis butik. Dan aku pun menjadi disukai dan dikenal di kampus.


Tapi, aku di mata Natan, dia tidak menyukai situasi ini, situasi kalau aku memiliki banyak teman. Aku pun mencoba mencairkan suasana.


"Kapan-kapan aku mau dibonceng sama kamu."


"Hah? Kan, ada Pak Surip."


Aku menggeleng, "Masak kalau naik sepeda atau motor sama Pak Surip? Kita cenglu gitu?"


"Aku gak bisa—“ Natan menggaruk kepala. Lalu buat apa ada motor ninja dan scoopy di garasi? Buat Pameran?


"Biar aku ajarkan!"


Akhirnya Natan pun belajar bersepeda, dia sering jatuh, dan meringis. "Jangan nangis! Nanti aku kasih hadiah."


Mata Natan pun berbinar, "Apa?" Dia memandang nakal.


"Boneka voodoo!"


Natan pun tertawa. Dan dia mulai mencoba lagi, bahkan sampai berhasil belajar naik motor, kalau naik motor ninja diajari Pak Surip. Pak Surip keren, tua-tua begitu tapi masih mampu naik ninja. Sedang, scoopy akulah yang mengajarinya. Begitulah hari-hariku bersama Natan.Akhirnya aku pun kembali lagi, meninggalkan teman-temanku, karena masalah waktu. Waktu hanya untuk Natan.


Natan pun mengantarku ke kampus dengan mengendarai motor ninja, bahkan menungguiku, agar aku langsung pulang--tidak kabur kelayapan. Kuintipnya dari balik jendela. Teman-teman melirik iri dan selalu kesengsem melihatnya.


"Bahagianya, ya, hidup Nariswari. Kayak film Telenopela!"


"Hah, aku?" tanyaku lugu.


"Iya, punya suami yang gantengnya pake banget, setia, dan juga kaya. Itu impian semua wanita."


Apa iya? Dulu juga aku bermimpi sama, lalu hanya bahagia sebentar, terus, rasanya hampa. Aku menginginkan sesuatu yang berbeda. Seperti berpetulang seorang diri, tapi, Natan tak pernah mau membiarkanku sendirian. Di mana ada aku selalu ada dia. Dan inilah ujiannya, aku dilanda kondisi seperti itu. Aku seperti tidak mempunyai teman lagi di dunia ini selain dia. Rasanya sempit! Sesak! Aku seperti sulit untuk bernapas! Dia begitu posesif! Posesif karena trauma gagalnya rumah tangga pertamanya.


***


Bahkan saat survey di kampung pelangi. Dia pun ikut. Karena kampung itu memiliki puluhan anak tangga,dia jadi sama sekali tidak membantu, malah merepotkan. Harus menariknya mendaki sampai ke puncak.


Selepas itu, aku lalu menginterview penduduk tentang sejarah kampung yang penuh mural di dinding-dinding eksterior rumah, juga anak tangga, dan atap yang difinishing cat warna-warni sehingga dari tampak atas dan bawah. Kampung kumuh ini disulap menjadi kampung pelangi.


Warganya pun kreatif. Merancang spot foto di tiap sudut rumah, agar wisatawan termasuk bule-bule begitu antusias. Ide yang menarik. Sepadat apapun perkampungan yang hampir langka dalam ruang terbuka hijaunya, tapi sistem perairan bersih dan kotor begitu didesain apik. Sehingga saat hujan, tidak ada lagi fenomena longsor dan banjir. Meski kini kampung ini menjadi beton-beton yang bersusun-susun.


Setelah mengumpulkan data, dan Natan tampak mau mati, ia pun lagi-lagi bermanja-manja. Ingin segera pulang untuk beristirahat. Benar-benar dia tidak bisa diandalkan. Payah! Awalnya ikut akan membantu, tapi malah membuatku jadi sangat susah, yang harus memapahnya menuruni anak tangga, padahal setelah ini aku harus ke kota lama, mencacah data tentang prilaku menyimpang masyarakat yang menggunakan fasilitas pemerintah dengan tidak sesuai rule. Tapi dia meminta untuk pulang. Katanya, aku akan sakit kalau terlalu serius mengerjakan tugas, padahal deadlinenya besok. Dan sebenarnya dia saja yang lelah. Mungkin kalau aku yang cowok, dia sudah minta digendong.


Dan kalau dia menginginkan aku di rumah, meski aku ada UTS, ya, aku harus di rumah. Lalu caranya begitu santun, hingga aku tidak punya pilihan untuk tidak mengabulkannya. Saat nilai ujianku dapat E karena Natan. Aku pun SP, saat mengerjakan tugas SP pun dia minta ditemani, katanya aku akan sakit kalau kebanyakan nugas, padahal bilang saja dia kesepian, karena aku begitu fokus pada tugas-tugas kuliahku. Akhirnya dia memberi solusi membayar temanku untuk mengerjakan tugasku. Inilah pembodohan! Dan, aku memilih telat lulus, daripada


melakukan kecurangan bodoh seperti itu. Akhirnya, aku pun tidak lulus-lulus.


Padahal, saat jomblo, aku baru masuk kuliah, tahu-tahu langsung lulus. Aku pun kini dongkol. Meratapi nasib. Memandangi kemewahan semu di ruang keluarga. Lalu melihat ke luar jendela.


Betul kata Yunita, bahagia itu bukan karena punya suami ganteng. Tapi, kalau pasangannya baik. Sedang, yunita bersuamikan cowok ganteng, seorang pembisnis yang lebih banyak menghabiskan hidupnya di game online. Semoga tidak mati karena game online.


"Kamu berubah, Ri." Natan berbisik, berdiri di sisiku yang juga melihat dari balik jendela.


Ah? Aku?


"Kamu nyesel, ya, menikah sama aku?" Tampak Natan sangat berhati-hati mengucapkan pertanyaan itu, dan memilah-milah kalimat dengan benar.


Aku lalu menggeleng, dan berpura-pura tertawa. Sinar matanya berubah. Aku rasa, dia bisa membaca gesture tubuhku.


"Kamu mau apa? Apa bulanannya kurang?"


Aku terdiam lama. Wajahku murung. Selalu uang-uang dan uang. Apa kebahagiaan perempuan itu hanya karena dikasih uang banyak? Aku hanya tertunduk, "Aku hanya rindu aku yang dulu." Baru kali ini aku tampak lemah, dan begitulah takdir perempuan. Mataku berkaca-kaca. Natan lalu memelukku. "Aku ingin kembali kerja, kuliah seperti dulu, dan berteman dengan teman-temanku,” bisikku.

__ADS_1


Aku rindu tertawa, membully seperti saat aku jomblo dan bahagia. Natan membelai rambut keriting gantungku. Dia pun menghiburku.


"Iya-iya, maafkan aku ... maafkan aku," bisiknya merasa bersalah.


***


Inilah hidup. Aku bisa tertawa lepas, dan bernapas seperti dulu. Aku bersyukur. Teman-temanku pun bersuka cita saat aku punya waktu dengan mereka.


Teman-teman kantor mengatakan kalau aku sekarang seperti habis pulang dari Korea paska melakukan operasi plastik. Dan aku ingin menghajarnya satu-satu karena membullyku habis-habisan. Tapi, aku suka hidupku yang sekarang. Kini aku freelance di kantor. Memang bukan uang yang kini dicari. Tapi, kebahagiaan hidup.


Lalu.


Tak lama setelah itu.


Ada kabar buruk!


Satu per-satu teman-temanku yang cowok, dikabarkan sakit. Memar di bagian tubuh.


Kabar yang beredar, menurut saksi mata, mereka diserang anak geng motor yang suka berkeliaran di jalan sepi saat malam hari. Aku begitu berempati. Natan yang tahu pun sangat khawatir. Langsung turun tangan.


"Karena itu aku jaga kamu, tahu gak sekarang? Di mana pun berada, selalu ada bahaya. Sebelumnya memang aku sudah denger berita itu."


Natan pun mendekat. Membelai rambutku seperti anak kucing. "Selama aku hidup di dunia ini, tidak akan ada yang bisa menyakitimu,"  bisiknya romantis seperti biasa yang membuatku amat bosan.


Aku mengangguk—malas membalas adegan puitis itu dengan kekonyolan. Aku lalu melirik Natan. Baru tersadar. Dia juga mempunyai sedikit luka memar di pipi yang sengaja disembunyikan. Tidak biasanya dia diam, apa aku


sibuk dengan masalahku hingga tidak memperhatikannya? Cara berjalannya juga agak kaku. Biasanya kalau


sakit. Dia akan segera bermanja-manja untuk kurawat. Tapi, untuk kali ini dia menyembunyikannya. Apa dia tidak ingin aku khawatir, karena aku juga sedang sedih?


Ada apa dengan Natan? Dia sakit serius?


Dan sejujurnya, aku tidak takut sama anak geng motor itu, yang kutakutkan adalah hidup seolah-olah tampak bahagia tapi ternyata itu hanya kebohongan!


"Kamu... ada luka di wajahmu?"


Natan memegangi pipinya, dia tertawa, "Ini jatuh dari motor. Tapi, jangan khawatir ... sudah kuobati." Dia pun pergi. Masuk ke kamar.


Aku lamat menatapnya. Dia berbohong! Luka itu, mustahil karena kecelakaan. Lagipula kalau kecelakaan motor, dokter pribadi Natan sudah ada di sini. Dan kalau sakit normal, dia pasti bermanja-manja seperti bayi.


berbentuk G untuk ruangan dapur yang lumayan luas. Desain ini mirip dengan bentuk U, lalu diberi tambahan seperti mini bar untuk 2-3 orang pada salah satu bagian ujungnya—mini bar yang digunakan untuk makan cemilan tanpa alkohol. Aku masih tak percaya, bisa tinggal di sini.


Aku pun sendu. Hanya Bu Lastri yang sering menghabiskan waktu di sini. Dan, barusan kudapati pesan, beliau ijin.


"Apa yang kamu lakukan?!" Natan kaget mendapatiku di dapur. Aku terbelalak lalu berhenti dari aktivitasku.Saat itu aku sedang mengiris bawang bombay.


Aku terkejut dibuatnya, "Memasak...," jawabku tersenyum.


"Kan, ada Bu Lastri."


"Anak Bu Lastri sakit, hari ini beliau ijin."


"Kok gak ijin ke aku?"


"Oh itu, soalnya udah ijin ke aku, nah, biar cepet, langsung kusuruh pulang kampung aja."


"Kamu itu terlalu baik." Natan pun memegang tanganku. "Tanganmu nanti bisa kena minyak panas, itu berbahaya, kukumu juga nanti rusak, kulitmu akan tidak terawat jika berada di dapur. Minyak panas, sea food, bawang, cabe. Itu akan meninggalkan bau. Sudah, ya, kita delivery aja, ya." Natan


mengelus rambutku. Aku terdiam.  Terus apa yang harus kulakukan? Menjadi boneka barbie yang berada di etalase cantik! Aku merengut. Mengepalkan tangan.


Ini bukan hidupku! Ini hidup Mimi. Seperti tahanan dalam penjara emas. Aku ingin marah dan menangis rasanya! Tapi, sayang inilah pilihanku.


Cinta Natan ternyata melukaiku. Menikah dengan cowok tampan dan kaya, memang bukan syarat bahagia!


Aku hanya ingin menjadi diriku! Nariswari Ola! Bukan menjadi Mikhayla Calista!


Apa aku juga akan seperti ini jika bersama Juni? Tidak! Juni berbeda! Dia mencintai kucing, kucing saja begitu dikasihinya, apalagi manusia?


Aku pun tertarik ke episode beberapa bulan lalu, sebelum aku menikah dengan Natan.


"Kamu menunggu Juni, ya?" Natan lalu mengeluarkan banyak foto yang berukuran 4R. Tanganku gemetar melihatnya. Foto-foto Juni bersama perempuan lain.


"Siapa?"

__ADS_1


"Tunangan Juni di Bandung. Kalo kamu tidak percaya, sekarang juga kita berangkat ke Bandung." Natan meyakinkan.


Aku terdiam. Mataku berkaca-kaca.


Sejak saat itu, aku berhenti menunggu Juni. Perempuan memang payah! Hanya bisa menanti, bukan menghampiri. Kata mba Lila, menikah saja dengan laki-laki yang mencintai kita, karena perempuan gampang jatuh cinta. Sedang mencintai laki-laki yang abu-abu, dia mudah berpindah hati.


Aku sudah memilih Natan yang begitu mencintaiku. Tapi Natan jugalah yang membuatku tampak bodoh seperti ini, dan dia kira aku juga bahagia seperti dirinya. Menjadi istri, harus selalu taat pada suami?


Bagiku, karakter Natan itu bukan protektif, tapi dia posesif! Posesif akan trauma kegagalan cinta pertamanya.


"Natan!" panggilku. Kulihat dia sedang menonton drama korea di IPadnya. Dia lalu mempausenya.


"Iya, sini! Nonton sama aku!"


Aku menggeleng, "Natan." Aku menarik napas. "Kamu curang! Kenapa aku tidak bisa melakukan apa yang aku inginkan, sedangkan kamu, bisa melakukan apa yang kamu mau?"


Alis Natan mengerucut. Dia bangkit dari spring bed bersprei putih. Hendak mendekapku, lalu aku menjauh. Sudah menjadi jurus Natan untuk mengalahkanku. Dia tampak kaget. Ini pertamakalinya, aku protes setelah menikah selama 6 bulan.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti, aku sudah memberikan semuanya, aku minta maaf jika harus menyebutkannya, aku memberimu cinta, rumah, mobil, motor, sepeda, uang kuliah, bulanan, semua uangku, perusahanku, segala asetku, menjadi milikmu, kamu pernah meminta kembali kerja aku mengijinkannya, kembali pada teman-temanmu, bahkan uang yang kamu diam-diam donasikan juga aku merelakannya untukmu."


Aku terdiam. Hampir sepenuhnya betul.


"Aku hanya ingin melindungimu. Teman-teman cowok, aku tahu mereka, mereka itu cowok. Dan berbahaya. Apalagi anak geng motor. Kamu bertanya soal dapur? Aku, tuh, hanya takut kamu cidera karena minyak panas, dan kemungkinan lainnya yang akan terjadi."


"Kamu pasti takut perawatan kecantikan yang kujalani karena kamu, itu jadi sia-sia, ya?" tanyaku jutek.


Natan menelan ludah, "Bukan begitu. Lagipula, kalo aku suka sama cewek cantik, di luar sana juga banyak."


Oh ... berarti aku gak cantik? "Oke, berarti kalo aku kembali buluk, tidak apa-apa, kan?" Aku pun berlari tanpa


menunggu jawabannya.


Kulepaskan gaun hitam yang membuatku selalu risih memakainya. Kuambil celana jeans hitam


dan baju kemeja panjang merah bermotif kotak-kotak. Style khas kebanggaanku. Aku mengikat tinggi rambut. Natan mengintip dari balik pintu.


"Sudah lama tidak melihatmu seperti ini. Jadi ingat masa-masa sebelum memilikimu." Natan mulai lagi. Dia melingkarkan tangannya. "Kenapa tidak pake baju yang ada di lemari kamar?"


"Kamu mau aku dilihatin cowok-cowok diluar sana? Pake baju begitu!" Aku menjawab tegas. Lalu melepaskan rengkuhannya. Natan pun diam, mengangguk setuju. Sepertinya dia puas dengan jawabanku soal baju minimalis.


"Aku mau ke kampus."


"Sekarang? Kan, minggu tenang." Alis Natan mengkerut.


"Aku tidak bisa tenang! Kamu tenang-tenang aja, ya, di rumah nonton drakor."


Natan menggeleng, "Aku antar!"


"No!" Aku lalu memberinya wajah memelas. "Aku itu hampir lupa caranya naik motor, padahal dulu aku yang mengajarkanmu."


"Tapi, di luar sana berbahaya!"


"Natan, ini negara merdeka, tidak ada perang suku di sini, sudah ada polisi. Ya, kalo tidak, biar aku cabut gigi mereka kalo macam-macam." Aku menepuk pipinya. Lalu tangkas mengambil kunci motor. Berlari menuruni anak tangga dengan berseluncur di pegangan tangga bermaterialkan kayu yang dipernis. Aku bahagia melakukannya. Dulu waktu jomblo, rasanya negara ini aman-aman saja, setelah menikah, kenapa negara ini jadi seperti sedang gencatan senjata?


Kalau aku bisa bela diri, tidak ada alasan bagi Natan untuk khawatir dan melindungiku lagi!


Aku bisa bernapas. Udara sejuk yang aku hirup—meski panas, debu dan asap knalpot bergentayangan. Melihat kemacetan sana-sini. Ah, bahagianya terjebak macet seorang diri. Sambil masih merem-gas scoopy biruku. Aku memang rindu hidup menjomblo. Ah, rindu sekaliii!


Aku pun memarkirkan motor scoopy di tempat rimbun, lalu berlari kecil ke ruangan berwarna orens, sudah sejak lama aku tertarik memasukinya, karena suka pada guru besar Ip Man yang bijak dan berani. Aku membuka pintu ruangan. Kudapati beberapa orang di sana, salah seorang pun menyapa, aku lalu menyampaikan maksud untuk bergabung dalam seni bela diri.


Mataku tak sengaja menemukannya di ujung ruangan. Kenapa dia di sini? Aku begitu terkejut. Dia pun menatapku. Sudah setengah tahun tidak melihatnya. Dia masih sama seperti dulu, sedangkan aku, sudah kepunyaan Natan. Sudahlah!


"Biar aku yang mengajarinya teknik dasar." Suara dingin itu keluar dari bibir Juni. Juni pun bangkit.


"Wah, kamu ngebet banget, padahal dia belum memperkenalkan diri, loh," sahut Dimas. Senior seni bela diri Wing Chun yang baru saja memperkenalkan dirinya.


Aku menelan ludah. Juni aneh! Dia bisa bicara? Dia juga jago bela diri? Keren! Lalu kira-kira, bagaimana kabar tunangannya, ya?


Juni pun melepas jaket kebanggaannya, dan melemparnya di atas kursi. "Kita mulai. Ikuti aku!" titahnya dingin. Aku kaget, lalu mengikuti gerakan kuda-kudanya.


Juni tegas melatih kekuatan jari kaki, telapak pisau kaki, samping kaki, paha, tulang belakang, tulang ekor, kestabilan, serta kordinasi otot.


Katanya latihan ini banyak fungsinya, seperti meningkatkan teknik flekbilitas teknis langkah, sehingga badan semakin ringan. Dan ada 3 macam pergeseran kuda-kuda, yakni, Hang Ma di tempat, Hang Ma maju dan mundur satu kaki, Hang Ma ganti kaki atau Biu Ma.

__ADS_1


Seni bela diri ini pun tipe petarung jarak dekat, yang mengkombinasikan penyerangan dan pergulatan.


Aku puas dengan latihanku. Juga dengan hari ini. Mungkin Juni menjadi sebabnya. Ntah aku berhasil menemukan kebahagiaan yang kurindukan!


__ADS_2