Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta

Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta
Bertemu Cinta Pertama


__ADS_3

                                                   



Aku menatap sosok itu dalam-dalam. Mata ini mulai berkaca-kaca. Aku tidak tahu kenapa. Perasaan apa ini? Entahlah. Rasanya seperti haus yang ingin membunuh, ke sana kemari mencari oase di padang pasir, lalu tepat di hadapanku, Juni adalah oaseku. Laki-laki pendiam itu sama, menatap dengan seulas senyum tipisnya. Dari balik sinar matanya, seperti terpancar sinar kerinduan yang begitu amat dalam.


Natan berdeham. Kami pun sadar. Kembali ke dunia kami. Aku segera menyapu pelupuk mata yang seketika basah. Natan melirik, aku tidak berani menatapnya, tapi seketika Natan memelukku erat di depan Juni seperti tidak akan melepasnya.


Laki-laki di depanku segera membuang muka. Dia tampak begitu membenci suasana ini. Maafkan aku, Juni! Untung saja, Bu Lastri yang membawa cake coklat dan susu segera mencairkan situasi yang kikuk ini.


“Apa kabar?” tanyanya lirih.


Aku membalas pertanyaannya dengan senyuman manis. Lantas mengangguk. “Baik. Kamu?”


Belum sempat Juni menjawab. Natan langsung komentar. “Istriku sekarang sedang hamil, kau tahu, kan?”


Juni tampak kaget, menatapku seperti menanyakan kebenarannya. Entah kenapa aku tak enak hati mengatakannya. Aku hanya tersenyum kaku. Mempersilahkannya makan cake buatan Bu Lastri yang sempat kuajarkan lewat streaming youtube.


Pertemuan pertama setelah hari itu. Rasanya begitu lama tak jumpa. Padahal baru setengah tahun aku kembali pada Natan. Natan pun segera menyuruh Bu Lastri mengeluarkan semua makanan yang ada, aku pun lahap memakannya, melihat Juni makan. Sayangnya Natan tampak tak bernafsu. Maafkan aku, Natan! Kalau kamu tidak suka, kenapa kamu mengalah lagi karena aku?


“Semoga anakmu seperti kamu ya Nariswari,” ucap laki-laki berpakaian gelap dengan topi jaket hitamnya sembari memakan pudding susu.


“Kenapa kalo kayak aku?” tanya Natan sinis, aku bisa merasakannya. Tangannya yang masih menggenggam tanganku semakin erat dipeluknya. Dia tampak kesal.


Juni tidak menjawab, dia hanya tertawa seolah-olah mengejek sepupunya. Aku tidak tahu kenapa mereka masih saling mendendam. Kenapa tidak saling memaafkan? Situasi ini sangat buruk! Aku tidak suka!

__ADS_1


Aku pun segera mengelus tangan Natan, dia melirik, aku menatapnya seolah-olah berkata tidak usah bertengkar lagi! Laki-laki berkulit putih itu pun mengerti.


“Kamu banyak berubah Nariswari,” ujar Juni melirikku sambil meminum susu.


“Hah? Apa yang berubah?” Aku lalu sontak mengangkat lengan, memencetnya, perasaan badanku segini-segini saja tetap kurus sedia kala. Kulirik Natan masih terdiam tidak ingin menanggapi.


Juni tersenyum tipis, rasa-rasanya sudah lama sekali tidak melihat seulas lengkungan bulan sabit itu. “Bu-bukan itu! Kamu jadi lebih serius, gak kayak biasanya, dulu selalu ceria, lucu.”


Aku pun hanya menjawab dengan ketawa kecil, mencuri pandang ke arah suamiku. Wajah Natan lagi-lagi berubah. Entahlah kenapa aku bisa berubah seperti ini?


***


Seharian ini aku senyum-senyum sendiri sembari mengelus perutku yang membuncit, kini berusia 16 minggu. Rasanya lega sekali bisa mempertemukan bayi ini dengan omnya. Ataukah ini hanya perasaanku saja! Bedanya begitu tipis sampai gak nampak.


Aku pun melirik ke kamar, Nampak Natan bergelut dengan tabletnya. Dia begitu serius. Entah lagi main game atau sedang kerja. Daripada mengganggunya, aku lebih baik menunggu marahnya reda di balkon. Sembari merapikan bunga-bunga cantik yang ditata rapi aku bernyanyi bahagia.


Aku pun terhenti, lalu berbalik. Natan sudah berada di belakangku. Dia berdeham.


“Seneng, ya?” tanyanya sinis.


“Ke-kenapa?”


“Ah, gak! Cuma nyanyianmu sampai sini, kelihatannya bahagia banget, pasti bahagia banget kan didatangin doi, eh bukan mantan,” desisnya sinis.


Aku berembus berat. Bukannya kamu sendiri yang mengundangnya saat aku ingin membatalkan permintaan aneh itu?! Aku pun tersenyum lalu mengangguk. “Iya kok tahu aku bahagia?” Alis hitamnya seketika berkerut. Tampak sekali kalau dia tdak suka jawabanku! Dia terdiam lalu pergi. Aku lagi-lagi berembus berat!

__ADS_1


Aku bingung, bagaimana caranya agar Juni dan Natan kembali bisa bersaudara seperti dulu. Mereka selalu saja saling curiga, saling cemburu, dan membenci. Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku mencarikan Juni jodoh biar Natan tenang dan dia tidak berpikiran macam-macam antara aku dan Juni. Cukup sekali saja kejadian mengerikan itu terjadi! Kenapa juga aku harus mengidam ingin ketemu sepupu Natan, cinta pertamaku?


***


Setelah kejadian itu, hubungan kami tetap kaku, seperti saat dia tahu aku hamil, Natan mulai menjauh. Bahkan sudah berjalan selama 32 minggu usia kehamilan. Haruskah aku pura-pura sakit lagi? Tapi, kalau-kalau sakit sungguhan bagaimana? Ini akan bisa membahayakan bayiku. Bayi Natan. Aku benar-benar menyesal! Akulah yang menjadi pemantik kebekuan hubungan kami! Aku tidak mau ini terulang lagi untuk kesekian kalinya. Kuda saja tidak jatuh di lubang yang sama.


Tapi, aku juga ingin sekali membuat Juni dan Natan kembali bersaudara. Apa tidak ada cara lain? Sudah tertutupkah jalannya? Bukankah memutus hubungan kekeluargaan itu hal yang tidak benar? Tapi, kalau Natan cemburu lagi, bagaimana? Pertemuan kemarin saja dia belum bisa memaafkannya!


Aku pun memandang sekeliling, interior kamar bayiku, untuk melupakan kejadian-kejadian yang sudah, aku mulai menyibukkan diri, begitu pun Natan. Aku mendesain kamar. Desain kamar bayi perempuan Natan dominan merah muda dengan boneka lucu seperti beruang madu, bantal warna warni yang mengikuti warna kamar, juga mainan di atas kasur yang tergantung. Entahlah, apa Natan pernah melihat kamar ini atau tidak, baru saja kemarin dia bisa menerima kehadiran bayi ini, setelah insiden Juni, dia kembali seperti dulu, meskipun tampak lebih dewasa dengan kesibukan kerjanya—tidak jadi pengangguran kayak dulu, tapi dia masih kekanak-kanakan sekali, padahal sebentar lagi dia akan menjadi ayah!


Aku pun berbalik, tersadar ketika mendengar suara pintu kamar diketuk. “Kenapa?”


“Aku mau ke Bandung.”


“Ke Bandung lagi?” tanyaku dengan wajah gusar. Apa dia tidak ingat kalau aku sudah hamil 8 bulan yang bisa kapan saja melahirkan anaknya?!


Dia hanya mengangguk. Lalu mengecup dahi, aku pun mencium tangannya mengantarnya ke pintu depan. Melambai tangan. Berusaha tersenyum. Natan pun hilang dari pandanganku. Rasanya aneh! Sebenarnya aku tidak enak hati untuk melepasnya. Tapi ego dan sifat cuek melaraiku. Ta-pi, tapi bagimana kalau di Bandung, Natan bertemu cewek cantik, atau ada yang menggodanya? Tahu, kan. Secuek-cueknya cowok, cowok itu seperti kucing, yang kalau disodorkan ikan tidak akan menolak!


Aku pun mengelus perut. Berbicara pada bayiku dengan kegetiran. Entah kenapa aku begitu melankolis akhir-akhir ini? Apa pengaruh hormon? Aku juga tidak akan melakukan pekerjaan aneh-aneh semisal mengepel lantai dengan cara jongkok, terakhir kali Yunita, mantan teman kantorku melakukan hal itu, dia langsung melahirkan. Aku tidak mau melahirkan sebelum Natan pulang!


“Kamu jangan keluar dulu ya, Na,” bisikku berusaha bahagia. Karena aku tahu, kegundahaanku bisa membuat dia tidak sehat, aku takut sekali bayiku lahir tidak sempurna, lalu Natan membencinya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2