
Hari ini pulang lebih cepat. Uang SPP kuliahku rasanya begitu menyedihkan, saat dosen tiba-tiba menghilang dari radar kampus. Aku kesal. Aku bekerja mati-matian untuk kuliah, hemat makan, puasa jajan, selalu diet meski sudah kurus, memburu makanan diskon, dan yang sudah mendekati expired. Tapi, Pak Dosen, beberapa hari tidak muncul ke permukaan, seperti ditelan bumi.
Sambil masih menuruni tangga yang berdesain strukstural, jauh dari kesan seni. Tak sengaja kudapati dari parkir, sosok yang kurindu dalam diam. Aku mengejarnya. Seperti mendapat kekuatan baru, melupakan ratapanku.
"Jun!" panggilku. Dia terhenti. Aku tersenyum. "Jun, nama panjangmu siapa?" Aku mengusap bibir. "Ehm, Junaidi?" tanyaku lugu mencari topik, hanya sekedar untuk berbicara padanya.
Matanya yang minimalis lalu membulat. Ia menahan ekspresinya. Kulihat rambut agak gondrong ikalnya yang disapu angin pun tampak gagah. Bahkan ada daun yang hinggap di rambutnya. Kulirik pakaiannya yang kusut. Aku tersenyum.
"Kamu gak mau beliin aku roti buaya?"
Dia berbalik. Seperti bertanya. "Ya, untuk dimakan, apalagi?"
Dia tersenyum tipis. Roti buaya yang kutahu memang untuk seserahan pernikahan adat betawi. Lucu sekali!
"Kamu tahu kenapa harus roti buaya? Kenapa bukan biawak? Atau kelelawar, atau hewan lainnya?"
Juni memandang tertarik. Dia menggeleng.
"Karena, buaya itu hewan yang setia," kataku bersungguh-sungguh. Juni berhenti, tidak percaya.
"Iya, buaya itu setia, kalau di dalam air, lain lagi ceritanya kalau udah di darat." Aku tertawa. Itu hanya lelucon konyol agar Juni terhindar dari wajah nelangsa. Dan menghibur kekesalanku. Aku jadi terbiasa berkawan dengannya.
Tawa kami terhenti ketika mobil flamboyan berwarna gold di depan kami berhenti. Sosok yang gantengnya lebay pun turun. Ia menyapa dengan ramah.Dan aku terpukau—karena mobilnya.
"Nariswari, ikut aku, yuk!"
"Kemana?"
Natan tersenyum seperti anak kecil. "Nanti kamu juga tahu!"
Aku pun berbalik ke Juni. Dia hanya diam, menatap dingin Natan, Natan pun begitu. Seperti ingin memakan Juni bulat-bulat seperti tahu bulat.
Sepanjang perjalanan Natan hanya diam. Ke mana aku akan pergi? Keluar negeri? Mau diculik? Atau ke KUA lalu dipaksa nikah? Aku menggeleng jeri.
"Kamu kenapa?"
Aku terbangun dari imajinasi liar. "Ah, tidak apa-apa, kok!"
"Aku baru ingat, kita belum pernah jalan-jalan."
"Ini bukan jalan-jalan! Tapi, naik mobil." Aku memandangi mobil mewah ini. Lalu mengelusnya. Bau-bau orang kaya. Wangi Natan pun begitu. Juga stylenya. Apa nanti kalau kita jalan berdua, seperti anak buruh tani dan anak kompeni?
Sial. Aku terlalu lama hidup kere, menjadikanku matre, yang menyukai dan jatuh cinta atas kemewahan. Sedang, Natan seperti tahu titik lemahku. Dia memang musuh berbahaya!
Dan akhirnya dibawanya aku ke mol. Bagian pusat kota.
"Hari ini aku traktir. Kamu pilih aja yang kamu suka!"
"Wah, beneran, nih?" tanyaku antusias. Lalu lupa, kalau ini itu pasti ada maunya, dan tidak gratis!
"Aku pusing, harganya terlalu mahal! Seharga dengan uang kosanku selama sebulan, jadi gak tega. Kalaupun aku beli, bakal kusimpan, gak kupake, biar tidak kotor dan rusak." Aku memegangi kemeja kotak-kotak merah yang dipakai boneka cantik di depan. Stylenya seperti orang-orang Korea. Dipadu kaos putih dan celana jeans hitam.
Natan tertawa, "Gak papa." Lalu dia mengambil sebuah dress putih cantik sedikit berenda elegan tapi berkain minimalis. "Bagaimana dengan ini?"
Aku langsung menunjuk gaun itu, "Ini?" Aku masih melongo. Baju ini, tidak bisa disebut baju, kurang kain! Gaun ini juga mode baju Mimi. "Mahal sekali! Bisa dapat ubi 1 truk!" Aku berseru. Lalu kututup mulutku karena pengunjung tertarik mendengar komplainku.
"Tapi, aku serius. Ini bagus."
Aku menggeleng. "No! Baju kurang kain, apa bagusnya? Bayi aja gak muat!"
Dia lalu mengangguk lugu. Memerhatikanku dari atas ke bawah. Dan mengulanginya.
"Apa lihat-lihat?" Aku mengarahkan dua jariku mendekat ke matanya. Berpura-pura akan mencolok matanya. Aku tahu, laki-laki bisa error bila melihat banyak bukaan. Contoh kongkritnya dia! Si duda gila.
Aku menggigit bibir. Mengingat pakaian menyedihkan yang kukenakan ini, tidak sempat kusetrika karena buru-buru mengumpulkan deadline maket perumahan yang ternyata dosennya kabur. Sedang, yang kutahu, Natan lebih memilih mati daripada mengenakan pakaian yang tidak disetrika.
"Kamu sering pakai celana jeans."
"Kamu juga," jawabku terdengar gugup. "Tahu gak keutamaan celana jeans?"
__ADS_1
"Apa itu?"
"Orang yang sering memakai celana jeans akan mudah dimasuki jin!" tawaku mencairkan suasana kikuk.
Natan yang bertampang serius pun ikut tertawa. Dan endingnya, kami tak membeli apa-apa. Hidupku memang bukan ditakdirkan untuk ke mol, aku lebih menyukai pasar lokal yang bisa dengan sengit dan kejam bertempur dalam tawar menawar sama penjual. Dan aku merasa menang dan bahagia jika berhasil menawar.
"Bagaimana kalau ke bar?" tanya Natan seperti melarangku pulang.
"Apa?!" Aku berteriak. Semua pengunjung lagi-lagi kaget melirik kami. Natan pun menaruh telunjuknya di bibir lalu berbisik.
"Ke bar, yuk! Di sana enak, banyak hiburan!"
Aku pun terbatuk. Dia kebingungan. Lalu memukul-mukul punggungku. "Kamu tidak apa-apa?"
"Biasanya di sana ngapain?"
"Ya, gak ngapa-ngapain! Just have fun."
"Minum, goyang-goyang, teler, dan sebagainya?" Jari-jariku lincah bergerak mempraktekkan.
"Nah, itu kamu tahu! Kamu udah pernah ke sana?" Wajah Natan cerah memikat.
"Sialan! Belum! Itu adegan di film barat yang biasa ditonton teman kantorku."
"Oh, jadi belum? Yasudah ini akan menjadi pertamakalinya—“
Aku lalu mengambil karet gelang di tasku. "Kalau kamu ngajak aku ke sana lagi, aku akan menembakmu dengan ini!" Aku berkomentar geram.
"Loh, kenapa? Maksudku, kan, baik?" Natan garuk-garuk kepala.
Apa bocah ini beneran polos? Apa karena hidup kita berbeda, karena itu, ia menganggap ini hanyalah kesenangan dan hal yang biasa? Aku pun kasihan. Ternyata orang kaya pun seperti ini! Mencari bahagia dengan hal yang semu—tiba-tiba aku jadi bijak.
Akhirnya kami memutuskan untuk menaiki lantai 3. Ke tempat wahana. Menaiki roller coaster mini dan semua wahana seperti ontang-anting, bus tingkat ala London, bumper car, crazy taxi coaster, sky rider, mini train, dan permainan memancing. Semua wahana ini adalah impianku sejak kecil. Tapi karena aku terlahir dari keluarga pas-pasan, kami hanya bisa menonton, dan rasanya sudah seperti bisa menikmatinya. Dulu, waktu kecil, aku berjanji, suatu saat nanti. Aku akan bisa menaiki semua permainan di wahana ini. Bahkan sampai harus menabung dari uang jajanku--dan tidak terkabul, uang tabungan yang kutaruh di bawah kasur Mamak, dibawa lari kakak untuk makan bakso.
Dan kini Natan mengabulkannya.
"Aku janji tidak akan ke bar lagi," bisiknya. "Tidak akan minum, teler, dugem."
"Karena itu, aku butuh kamu buat ingetin aku terus, biar tidak lupa."
"Iya, nanti aku ingetin. Tenang saja."
"Caranya?"
"Ya, tinggal ingetin, kan?" tanyaku lugu. Nanti tinggal miskol biar ingat! Atau kirim voice noted.
Natan menggeleng, "Kamu bisa mengingatkanku, kalau kamu jadi temanku. Teman di hatiku.”
GUBRAK. Tubuhku hampir terjatuh. Aku lalu cepat berpegangan di tralis besi.
Betul juga. Aku bisa menjadi jalan kebaikan untuk Natan. Begitu yang biasa Mba Lila bilang. Tapi apa aku bisa?
"Aku juga akan membantu membayar SPP kuliahmu, kamu bisa istirahat dari senin sampai jumat, berhentilah bekerja dengan gaji pas-pasan." Natan menatap roller coaster mini yang kini melaju.
Natan....
Kenapa kamu tahu semua yang kubutuhkan?
Natan begitu baik. Semuanya sempurna. Dan tidak ada yang salah darimu, kecuali
aku belum bisa mencintai Natan.
Natan meraih tanganku. Lalu—
Segera kujentik telinganya. Dia meringis kesakitan.
"Kenapa?" tanyanya polos.
"Kenapa kamu pegang tanganku?" Aku berseringai galak. Para pengunjung mulai memperhatikan kami. Aku pun garuk-garuk.
Dia hanya diam. Mungkin mencari jawaban dan pembenaran, "Kenapa tidak boleh? Sebenarnya ada banyak cewek di luar sana yang ingin mendapatkan kesempatan ini."
__ADS_1
"Kamu tahu Ratu Elizabeth?" tanyaku galak, tidak peduli pada pembelaan dan sikap membanggakan dirinya.
Natan mengangguk.
"Lihatlah! Tidak sembarang orang yang mampu memegang tangan Ratu Elizabeth."
Natan mengangguk, "Tapi, kamu, kan,bukan ratu Ellizabeth?"
"Aku? Kembarannya! Bukan begitu, bodoh! Anggap saja aku seperti beliau."
"Menarik... antik...." Natan mengangguk.
Aku lalu memutuskan ke toilet, menata hati, dan tiba-tiba teringat curhat Yunita.
"Kamu, tuh, harusnya bersyukur. Dulu, suamiku, aku yang ngejar-ngejar. Pas udah cape. Akhirnya dia menyerah juga. Lah, kamu. Ada yang ngejar-ngejar, kok, malah ikut lari. Hayok, kalau dia udah gak mau ngejar karena keseleo, ntar bisa nyaho, loh!"
Waktu itu aku cuman ketawa-ketiwi, lalu berpikir lagi. Betul juga. Semakin lama sama Natan. Kalau terjadi sesuatu bagaimana?
Dua orang perempuan berpenampilan menarik pun masuk ke toilet dan memperbaiki make-upnya. Aku melirik selintas.
"Menurutmu cowok tadi udah punya doi belum?" kata salah seorang berhidung mancung.
"Maksudmu yang pake kardigan coklat tadi?" tanya temannya yang bertubuh ramping.
Aku lalu menduga, arah pembicaraan mereka tertuju pada Natan. Wah ... Natan digosipin?!
"Penasaran pacarnya siapa?"
"Ya,pasti cakeplah, terus kaya, fashionable."
"Ya,Tuhan, jadi iri. Pengen ih."
"Pengen jadi pacarnya?"
"Istrinya."
"Hush, mimpi!"
Aku menelan ludah. Kenapa Natan gila? Gila menyukaiku? Apa aku bejo? Dengan kesempurnaan Natan? Seperti ketiban durian montok runtuh! Padahal di luar sana, cewek-cewek memujanya. Kalau menikah dengan cowok yang gantengnya hiperbola, bisa disangka aku pakai pelet? Sedang, menikah sama cowok jelek, malulah dibawa
ke kondangan.
"Kok lama?" Natan menghampiriku. Aku kaget. Lalu celingak-celinguk. Suasana aman. Aku pun mengajak Natan menjauhi cewek-cewek tadi. Jujur, aku malu! Malu bersanding dengan Natan. Macam anak pembantu jalan sama anak majikan!
"Hei, kamu kenapa?"
Aku menggeleng. Dan sadar. Natan pasti tahu, aku sedang kacau. Aku pun segera mencari ide untuk membuat lelucon. Tapi, tidak ada ide!
"Bagaimana kalo kita nunggu Pak Surip di sana?" Natan menunjuk jalan besar remang-remang di bawah lampu. Tak sadar aku pun mengangguk. "Sepi, ya?"
"Hey, kalo sepi enaknya ngapain?" tanyaku menahan tawa. Natan memandang kikuk. "Ya, main jailangkung!"
"Dasar—“
"Nat, kelihatannya kamu pengangguran, tapi bisa beli ini itu, kamu kerja apaan, sih?"
Natan tertawa menggaruk kepala. "Nanti aku kasih tahu."
"Jangan-jangan kamu?"
"Apa?" Natan tampak penasaran.
"Ngepet!"
Aku pun tertawa. Natan juga tertawa renyah. Dari ujung jalan, sinar lampu mobil mulai menyorot. Aku masih menahan tawa. Sedang Natan terdiam melirikku.
"Aku... aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Ri."
Dia mulai lagi! Aku berhenti, menutup mulut. Dia tampak serius.
"Nikah, yuk, Ri!"
__ADS_1
Aku bungkam. Dan seperti sihir. Aku lalu mengangguk.