Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta

Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta
Honeymoon Pertama Setelah Dua Tahun


__ADS_3


Bisa dibilang ini adalah honeymoon pertama setelah dua tahun. Setelah kejadian mengerikan itu! Sebenarnya aku tidak ingin mengingatknya. Kalau boleh, aku ingin meminta Tuhan untuk menghapus memori itu. Tiap kali melihat Natan. Aku bingung. Mungkin ini yang dinamakan benci dan cinta. Tapi, bukankah maaf itu sudah diberikan? Ya, demikianlah wanita. Akan selalu mengingat kejadian itu sampai ke ujung kuku. Memaafkan tidak berarti melupakan!


Apa kita bisa bahagia setelah semua kejadian ini?


“Han?”


“Han?” bisik laki-laki itu di sampingku.


Aku terbangun dari lamunan. Lalu berbalik dan bertanya, “Han?” Aku berkerut alis sembari menarik selimut putih polos. Natan mengangguk, tersenyum, wajahnya yang pucat seperti kemarin-kemarin kini menjadi merona, tampak bahagia.


“Iya. Hani. Honey. Sayang.”


“Hah? Sejak kapan aku ganti nama.” Aku menyengir.


Bibir Natan yang mungil melengkungkan bulan sabit. “Mulai lagi. Mulai lagi deh, istriku Nariswari kembali seperti dulu hehehe.” Ia pun menggeser tubuhnya lebih dekat. Lalu memegang kedua pundakku dan menatap. “Coba bilang ….”


“Apa-apaan, sih?” Aku mencoba melepas rengkuhannya yang erat, tapi sulit!


“Coba bilang, Natan … aku cinta kamu.”


“Ih, lebay banget! Bucin ah bucin, gak mau!” Aku langsung mencubit tangannya yang akhirnya membuatnya mengalah dan menjerit. Aku pun menutup wajah seperti maling ayam yang sedang kepergok Pak RT.


Natan tertawa melihatku menggeliat malu. “Ya sudahlah, gak papa, yang penting aku tahu kamu suka sama aku. Itu sudah lebih dari cukup. Bahkan aku lebih menyukai cintamu dari bumi dan seisinya,” bisiknya lirih seperti ungkapan hati tulus mendalam Qais ke Laila.


“Apaan sih, Nat! Malu tahu! Udah ah, kayak di film-film Korea saja.” Aku pun berbalik dan pura-pura tertidur, dia terus mengoceh. Menceritakan isi hatinya. Bagaimana dia bisa jatuh cinta sama aku. Dia tahu betul, aku hanya pura-pura tidur karenanya dia masih bercerita.


“Kamu orang pertama yang mengulurkan tangan saat aku terjatuh lagi. Saat aku merasa aku gak berdaya, dan kehilangan harapan untuk kedua kalinya.” Dia bercerita sambil memainkan anak rambutku. Aku menutup wajah karena malu lalu terhenti. Oh, iya? Untuk kedua kalinya? Pastilah yang pertama adalah Mimi! Kejadian mengerikan itu adalah saat Natan kehilangan Mama, dan bapaknya menikah lagi. Mama barunya menyukai Natan dan menggodanya. Lalu, Mimi datang memberikannya kehangatan dari dinginnya hari-hari Natan.


“Waktu kamu nolongin aku pertama kali saat sendirian meringkuk di teras rumah.” Natan tertawa. “terus kamu minumin aku minyak tanah. Aneh sekali memang! Kok bisa ada minyak tanah ya di teras rumahku.”


“Terus kamu merasa bersalah. Aku bisa saja melaporkanmu. Tapi, aku ingat. Ingat sekali wajahmu yang begitu mengkhawatirkanku seperti wanita yang diam-diam menyukaiku. Sayangnya, aku harus mengalami cinta bertepuk sebelah tangan.”

__ADS_1


“Kamu datang setiap hari. Entah karena merasa bersalah atau karena ingin menemuinya.”


“Lupakan saja soal dia! Hari ini aku hanya bercerita tentang bagaimana aku belajar mencintaimu. Awalnya, aku merasa payah! Kita sangat berbeda. Seperti timur dan barat. Hanya cintalah atau entahlah apa namanya yang bisa membuat kita bertemu. Ah, iya! Namanya … takdir.”


“Aku selalu memperhatikanmu dari balik jendela kamarku yang tepat menghadap jalan. Bagaimana kamu berjalan, berlari karena telat, terjatuh, berjongkok saat memberi makan kucing, sikapmu yang acuh sama anak-anak, hingga caramu yang lucu memanjat pohon untuk mengambil balon yang tersangkut di pohon akasia.”


“Banyak sekali kejadian lucu yang membuat hidupku yang sekarat mencoba hidup, seperti dikejar preman kampung, angsa, bermain di semua permainan wahana, hingga melamarmu untuk kesekian kalinya.”


“Aku tidak pernah merasa payah, merasa tidak percaya diri, tapi … kamu menghancurkan sejarah hidupku. Di balik sikapku yang terkesan santai. Tahu gak? Aku begitu gugup. Aku takut. Takut sekali kalo kamu menolakku. Aku gak bisa bayangin kalo iu terjadi. Mungkin aku akan terbaring kaku di atas kasur dan tidak ingin bangun lagi.”


Entah kenapa mataku basah. Diam-diam aku segera menyapunya. Menunggu Natan bercerita lagi. Ada beberapa part yang sangat mengejutkan. Adalah perasaan Natan yang sesungguhnya. Dan sekali lagi itu sangat mengejutkan. Kalau tidak malu, aku sudah berlari dan memeluknya hangat. Nyatanya aku hanya bisa mendekap guling.


Aku berhenti. Aneh! Kenapa dia tidak melanjutkan ceritanya. Jangan-jangan dia tertidur. Pelan-pelan aku bangkit dan berbalik. Aku terlonjat kaget. Aduh! Mati aku!


Dia masih terjaga dan memandangku dalam. Dia lalu berhamburan ke arahku!


***


“Tidak usah!”


Aku lalu lari ke kamar mandi. Memuntahkan semua isi perutku. Kuremas porselen itu. Rasanya betul-betul menyakitkan. Selama ini, aku tidak terbiasa untuk muntah, karena sangat menyakitkan, biasanya ditahan. Aku sampai menangis-nangis.


“Nariswari, buka pintunya!” Natan mengetuk pintu, dari sini terdengar dia cukup panik. Aku mengingat-ngingat apa yang tadi malam kumakan? Hanya buah-buahan. Memang akhir-akhir ini nafsu makanku sangat turun. Aku sampai takut menjadi tengkorak hidup. Lalu … Aku terhenti. Apa jangan-jangan?!


Ini serius? Entahlah, aku segera membersihkan diri. Lalu tersenyum. Menatap diri dari pantulan cermin. Apa betul? Terus mengingat-ingat lagi, terakhir kali aku … aku sepertinya sudah telat datang bulan 2 minggu. Aku segera mengambil test pack dari laci di depan setelah memberitahukan Natan kalau aku baik-baik saja. Meski dia terus mengetuk pintu.


Aku menutup mulut. Memandang tes pack itu. Dua garis biru! Dua garis biru! Dua garis biru! Hah?! Aku berteriak. Dan pintu berhasil di buka dengan kunci cadangan. Natan berhamburan masuk.


“Kamu … kenapa? Khawatir tahu.”


“Nat, aku … aku ….” Aku ragu tapi aku bahagia sekali, rasanya seperti ketika Natan memilihku lagi, dan bukan Mimi.


“Apa itu?” tanyanya menerawang menatap benda mungil berwarna putih yang sedari tadi kupegang. Dia mengambilnya. Lalu menatap lamat. “Hasilnya?”

__ADS_1


Aku tersenyum. Tersenyum bahagia. Lalu berbisik. “Positif.” Aku memeluknya erat.


“Hah?!”


“Kok hah?”


“Ah, tidak.” Natan terlihat gugup. Dia tidak berani menatapku lagi. “Kok bisa, ya,” desisnya lirih. “kukira negatif.”


“Apa? Kamu bilang apa?!”


Laki-laki kasual itu tersenyum kikuk, dia menggaruk kepala. “Ah, gak kok.” Dia lalu berlalu. Duduk di balkon menatap lurus tak bersuara. Entah apa yang dipikirkannya. Daripada disebut bahagia, dia kelihatan syok, rasa-rasanya seperti laki-laki yang menghamili pacarnya sendiri. Natan sama sekali tak bergeming, masih memandang ke depan hingga senja. Ia baru masuk. Dan menggeser pintu.


“Kamu beneran hamil?”


Aku yang sedari tadi berseluncur di dunia maya di tablet, mencari info seputar ibu hamil, lalu terhenti, aku hanya mengangguk kesal. Aneh sekali! Di sini, aku bahagia sendiri. Terharu sendiri, dan mungkin akan berjuang sendiri.


“Kenapa, Nat?”


Natan menggeleng lemah. Masih tak percaya. Dia bersandar di dipan lalu menarik selimutnya. Aku jengkel sekali dibuatnya! Kenapa bisa ada jenis suami yang tidak bahagia dengan kehamilan istrinya? Dan itu suamiku sendiri? Aku harus bagaimana?


“Kamu kenapa sih, Nat? Kamu sedih, ya?”


Dia masih terdiam. Lalu berembus berat. “Sebenarnya … aku … aku … hanya belum siap ada orang lain di tengah kita. Rasanya terlalu cepat. Cepat banget! Aku gak percaya.” Natan memegang kepala seperti ada gundukan beton di atas kepalanya.


“Terus gimana?” tanyaku tanpa menoleh padanya.


“Gak tahu …. Kan, sudah terlanjur”


Aku berembus berat. Menarik napas. “Kamu harus tanggung jawab loh, ini bayimu juga. Kamu pelakunya.” Aku mencoba tersenyum. Dia hanya terdiam, tak berani menatapku.


 


 

__ADS_1


__ADS_2