Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta

Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta
Tato Laba-Laba Natan


__ADS_3


Aku bahagia. Bahagia melihat kemewahan yang disuguhkan Natan. Rasanya seperti berada di istana, dan aku dulu hanya sebagai anak gembala. Semua pun bahagia kecuali mereka yang iri. Kami pindah rumah. Juga pindah dari tetangga gerbang tinggi. Aku merasa payah. Sudah menikah, tapi sesekali mengenangnya. Dan, saat bersama Natan kemarin, aku melupakan Juni. Begitu aneh!


Natan, anak orang kaya, owner di salah satu perusahan papanya. Dia owner yang sering berleha-leha, hanya beberapa kali menengok perusahaannya, selebihnya dihandle orang-orang kepercayaannya. Itulah yang membuatnya tampak seperti pengangguran.


Aku pun resign. Dan tinggal di rumah mewah berlantai dua, dengan gerbang tinggi, mode arsitektural, dengan balkon yang menghadap ke jalan besar. Tepatnya rumah kami berada di jalan S. Parman, Semarang bawah. Rumah itu dihiasi empat pilar kokoh dan besar, finishing cat putih, yang menambah kesan mewah, untuk menopang dak yang menjorong keluar demi melindungi bangunan dari tempias dan sinar matahari.


Natan sering memberiku bunga dan coklat. Hingga kini aku tak tahu, kenapa wanita menyukai dua benda ini? Padahal kalau sering melihat dan memakannya, tentu tidak akan jadi enak lagi, tapi ennek!


Apa aku tidak bisa mengikuti ritme hidup Natan? Aku yang terlalu kaku?


"Flower...!" teriaknya membawa bunga mawar seperti tukang bunga keliling. Aku hanya berdeham menerimanya. Menghela napas. Kini, tidak hanya menjadi penonton drama, tapi menjadi tokohnya! Haruskah aku muntah? Atau menelan muntahku sendiri demi menghormati dia yang menjadi suamiku? Hah ... suami?! Rasanya aneh sekali!


"Nat, besok bawain bunga bangkai, bunga *** ayam, atau kembang tujuh rupa saja." Aku tertawa mencairkan suasana. Dia menatap bodoh. "Aku suka yang ekstrim."


Dia masih diam, bingung mengartikan pintaku.


"Terus, jangan coklat lagi! Coklat itu bisa meleleh, tapi kasih batako saja." Aku tersenyum.


Dan wajahnya masih berkerut bingung. Aduh, Natan! Dia bingung lelucon, dan kode-kodeku?!


Aku pun meninggalkannya masih bergulat dengan gurauanku. Lalu mengelilingi istana ini.


Aku selalu berdecik miris mengetuk pilar putih ini, mengestimasi harga beton bertulang pilar-pilar ini. Pagarnya bahkan diberi finishing batu alam putih yang dicoating selaras dengan warna rumah.


Semua begitu menakjubkan. Natan pun sangat memanjakanku dengan kemewahan, mulai dari fashion, perawatan kecantikan, makanan, shoping, fun, dan semua yang kuinginkan dia akan memberikannya. Dan ini adalah impian setiap perempuan. Dia juga lebih mengerti tentang skin care, mode, aksesori, dan semuanya, melebihi aku yang seorang perempuan. Aku malu dibuatnya. Apa dia beneran laki-laki?


Aku pun bisa memakan semua makanan yang dulu aku cita-citakan sejak kecil seperti pizza, burger, pasta, hot dog, kebab, sushi, es krim, pie, puding coklat dan masih banyak lagi. Maklum. Itu adalah takdir orang kere. Aku kini menjadi Maria Carey, tidak lagi menjadi Maria Kere. Aku pensiun yeay!


Aku sering dibawa Natan ke tempat mewah, mulai dari Hotel bintang 5 di Crowne Plaza Semarang Hotel di kawasan Pecinan, jalan Pemuda, hotel ini menyatu dengan Paragon City Mall. Menurut brosur, memiliki fasilitas lengkap, dengan 270 kamar, pelayanan terbaik dan memuaskan, biaya yang tentunya mahal, hampir sejuta untuk satu malam khusus VIP dan bangunannya pun arsitektural.


Atau dia mengajakku makan di restauran seperti The Tavern, yang perharga untuk menunya minimal 200 ribu, dengan outdoor dining yang cantik pada malam hari karena kerlap-kerlip lampu penduduk, lalu ke Goodfellas di kawasan Gajah Mungkur, kalau di sini, restoran ini memiliki interior yang arsitektural. Lalu ke S2 Sisingamangaraja yang tampak macam hotel elit, Nestcology, Nesto The Bistro, The Harvest, Eastman Bowery, dan Rustico yang sering aku lirik saat masih mahasiswa baru--hanya untuk belajar arsitektur tentunya. Tidak tahunya, kini takdir membawaku ke sini. Dan restoran lainnya yang aku lupa namanya.


Aku baru tahu, beginilah caranya orang kaya tujuh turunan menikmati hidup dan menghabiskan uang. Meski


aku menikmati juga, tapi rasa sangat menyayangkan itu selalu ada. Karena di luar sana, di jejalanan, saat menaiki mobil mewah pun, ke hotel, restoran, atau mol, banyak orangtua dan anak-anak kecil yang begitu kekurangan, dan aku melihat diriku dahulu, saat kecil harus memetik cengkeh, dikejar anjing di kebun hingga jatuh di kali, memancing ikan mujair hingga jari tertusuk kail, atau setiap libur sekolah mengangkut durian sekarung terus berjalan jauh untuk menemukan ojek di jalan raya.


Apa Natan tidak memikirkan nasib mereka?


Aku bisa makan ini itu banyak sekali, seperti Nobita yang memiliki Doraemon. Lalu, apa Natan seperti Doreamon, yang mengabulkan pintaku? Kok gak nyambung?!


Lantas, tidak ada lagi yang kukerjakan selain makan dan tidur. Karena semua pekerjaan dikerjakan pembantu. Dan, aku hampir mati kelelahan karena kebanyakan tidur, kalau dulu, aku setengah mati kerja, kini sekarang aku hidup sepertinya hanya bermalas-malasan. Untungnya juga aku punya gen kurus, jadi meski makan siapa pun ya tetap kurus!


Dan syukurnya ... sabtu dan minggu adalah waktu untuk kuliah dan refreshing. Tapi, sayang, Natan selalu meminta untuk pulang selepas mengikuti kelas. Aku hampir tidak punya waktu bersama teman-teman, semuanya kuhabiskan bersamanya.


"Ini semua milikku?" tanyaku melongo. Aku geleng-geleng menatap lemari hampir full kaca berukuran 320x50x210 cm, dengan 6 daun pintu yang sisinya dicat duco. Natan tersenyum hebat.

__ADS_1


Aku hanya bisa menelan ludah. Sungguh memukau! Tapi, ini pemborosan parah! Di sisi kiri, semua mode gaun-gaun cantik ala Korea yang membuatku merinding melihatnya. Kebanyakan adalah baju you can see. Aku mengejeknya you can see my ketek.


Di tengah, berjejer sepatu-sepatu cantik mulai dari ala-ala Cinderella, hingga mode gadis Jepang harajuku yang sok imut. Aku pusing melihat pemandangan ini.


"Cobain, deh!" Natan mengambil sepatu kaca transparan yang ada hiasan efek beling-belingnya.


"Meski sudah di manicure, pedicure setiap hari, kaki ini tidak akan cantik dan mengecil seperti Cinderella." Aku merengut melihat kaki Natan, yang lebih cantik dariku. Kakinya kecil, bebas bulu, dan tidak ada uratnya. Mungkin juga ukurannya hanya 36. Sedang aku? 39! Dengan betis besar seperti tukang kebun di gunung-gunung. Lagipula aku lebih cocok pakai sandal ninja untuk mengeluarkan jurus shuriken kalo Natan dipatuk bebek lagi.


Natan hanya tertawa. Dia tetap menyuruh memakai sepatu yang ingin diam-diam aku jual itu. "Tuh, cantikkan! Ini bisa dipakai ke pesta." Dia bergumam cerah.


Aku hanya tersenyum tipis. Natan pun membuka daun lemari terakhir. Aku sesak napas lagi. Berjejer tas-tas berbrand, dengan bau-bau mahal, juga segala aksesori. Aku hampir menangis dibuatnya. Borosnya lebay! Teriakku dalam hati.


Aku memang tidak bisa mengikuti ritme hidupnya! Aku mengela napas.


"Kamu tidak suka, ya?"


Hah?


Aku pun tertawa. Pura-pura bahagia. Jujur... ini semua bukan gayaku!


Bahkan, aku jatuh cinta sama pakaian Natan di lemarinya, pakaiannya rapi, casual, dan formal, lalu ada jas warna gelap dan pastel, jaket denim,  kemeja necis, kaos pendek dan panjang, blazer, celana-celana jeans keren dan berbrand,  juga sepatu-sepatu miliknya, boots, kets, sport, sepatu kulit, dan mode sepatu yang aku tidak tahu namanya. Aku memang aneh. Apa aku dan Natan, jiwa yang tertukar?


"Natan?" panggilku membelalak. Natan pun mendekat.


"Kenapa?"


"Hah?"


"Baju-bajumu keren."


Agak lama Natan melirik, lalu mengangguk, "Terus baju-bajumu di lemari?"


"Ya, kamu yang pake!" Aku tertawa memukul pundaknya. Dia melongo bodoh. "Aku bercanda." Dia lalu mengembus napas. "Tapi, aku serius. Aku pake baju-bajumu, ya."


"Uhm, iya. Tapi, bajumu dipake juga, ya."


"Iya, akan aku pake di rumah." Terpaksa sudah!


"Hah?"


Aku melirik muka Natan yang begitu lucu. Dia lalu mendekat mengambil baju kaos coklatnya dari lemari.


"Ini bagus gak?" tanyanya.


Aku mengangguk. Cakep juga pilihan Natan. Aku ingin sekali mencobanya. Dia lalu segera mengganti bajunya, segera aku memalingkan pandanganku.


Lalu aku berbalik lagi. Ternyata dia belum selesai. Lalu tampaklah tanda hitam di balik bahu atas kirinya. Ukurannya sebesar jeruk nipis. Aku penasaran.

__ADS_1


"Apa itu?" tanyaku membulat.


"Apa?"


"Itu di belakang bahu kirimu!" Aku menunjuk. Natan pun menarik bajunya ke bawah.


"Ini?"


"Iya." Alisku berkerut.


"Ini--"


"Itu daki, ya?"


"Hah?" Natan melongo. "Ini?"


"Iya. Itu apa? Bulat-bulat hitam kayak kecoak."


Natan tersenyum bangga, "Ini tato."


"Tato?" Aku menatap bulat. Natan mengangguk. "Tato itu, maksudnya yang--"


"Iya. Tato yang mana lagi memangnya?" Natan senyum. Lalu bersemangat menjelaskan. Dan aku menyembunyikan kekecewaanku. Lila pernah cerita, zaman orde baru, preman itu pastilah bertato, lalu diadakan cleaning untuk menekan tingkat kriminalitas.


"Kamu tenang saja. Aku, tuh, bikin tato di Bali. Tempatnya berlisensi, yang tidak sembarang pakai jarum bekas. Ini bebas HIV." Dia tersenyum. Lalu bangga memperlihatkan tatonya.


"Itu laba-laba?" Tadi, kukira kecoak!


Natan mengangguk. "Kamu mau tahu artinya?"


Aku pun mengangguk malas. Sepertinya Natan begitu terobsesi dengan laba-laba di balik bahunya.


"Bangsa Romawi menganggap laba-laba sebagai pembawa kabar baik, orang Kristen percaya, serangga itu karakter positif, terus jaring laba-laba menyelamatkan Yesus dari kematian. Orang Yunani menyamakan laba-laba itu dengan gadis cantik Arachne yang harus mati karena bakatnya. Lalu dihidupkan Aphorodite dalam bentuk


laba-laba."


Aku hanya terdiam tak menanggapi. Natan pun sadar melihat ekspresiku.


"Ada apa? Kamu gak suka, ya?"


Aku senyap. Lalu angkat bicara. "Di tato itu, kan, menyakitkan, Nat. Belum lagi kalo alergi, tintanya karsinogen, entar bisa kanker, kalo mandi juga kehalang air, terus keringatnya ketahan, jadinya gak sehat, gatal-gatal, apalagi kalo infeksi, dan lebih parahnya kalo kamu pemeriksaan MRI kamu bisa kena luka bakar."


Natan pun tertunduk, "Jadi gak suka, ya?" desisnya getir. Kecewa.


Aku langsung maju menepuk punggungnya. Aku tertawa menghibur. "Memang kalo masih muda itu bentuknya laba-laba, tapi kalo kamu tua, kulit keriput, laba-labanya berubah jadi kutu anjing." Aku tertawa lagi. "Kalo misalnya aku bikin tato macan sekarang, nanti kalo sudah tua, bakal berubah jadi kucing kecebur minyak panas." Aku tersenyum. Entah Natan mengerti maksudku atau tidak. Aku hanya berharap dia tidak mentato tubuhnya lagi.


Sebenarnya dia bisa saja melaser tatonya untuk menghilangkannya.

__ADS_1


Aku dan Natan memang begitu sulit menyatukan perbedaan. Dan aku hanya menuntut kebaikan darinya, begitu pun dia. Tapi, apa yang dipandangnya baik, entah kenapa aku selalu menyelisihinya. Apa yang salah?


__ADS_2