Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta

Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta
Melahirkan


__ADS_3

                                         



Hatiku berdebar tak karuan. Sungguh aku bingung. Dari lantai dua aku mengintip ke bawah. Ke arah ruang tamu. Apa yang harus kulakukan?


“Bu.”


Aku kaget mengejutkan Bu Lastri. “I-iya?”


“Saya sudah mengantarkan pesanan Ibu. Kenapa Ibu tidak turun?”


Aku berembus berat. Meremas jemariku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku pun berucap lirih. “Bu Lastri. Ibu kan tahu, suamiku lagi gak di rumah. Aku gak enak menemui laki-laki lain.”


“Tapi kan itu saudaranya Pak Natan, Bu.” Bu Lasri berkerut dahi. Wajahnya yang tua tampak tidak mengerti.


“Biarkan saja dia di situ. Kalo sudah cape nanti juga bakal pulang,” ucapku cemas melirik sosok yang duduk gagah di ruang tamu.


“Tapi kata Pak Juni, dia ingin ketemu Ibu, bukan Pak Natan, katanya bakal nungguin Ibu sampai Ibu turun.”


Aku menggigit bibir. Berpikir keras. Kenapa Juni begitu kepala batu? Pasti ada sesuatu. Mana mungkin dia seperti ini kalau tidak ada apa-apa. Apa lagi dia sudah menungguku selama 3 jam. Dia juga sedikit pun tak bergeming dari tempatnya!


Setelah mengucap basmallah seperti yang diajarkan Mba Lila. Aku pun turun. Menggenggam erat railing besi tangga yang dicat golden. Aku juga memegang perut yang kian hari membuncit dan kadang seperti memberontak ingin keluar. Dari sana aku melihat Juni lalu berdiri menyambutku.


“Natan sedang tidak di rumah.” Aku membuang muka, menunduk malu. Menatap granite tile putih polos berukuran 60x60 cm.


“Iya. Aku tahu.”


“Terus?” tanyaku tidak berani menatapnya. Aku tahu. Aku tahu Juni sedang menatap dalam. Tatapannya sangat sedih. Aku tak kuat untuk tidak mengetahui itu!


“Gara-gara permintaan Natan beberapa bulan yang lalu. Harapanku yang sempat mati itu, kembali hidup Nariswari. Nariswari ola.”


“A-apa maksudmu?” Aku menggigit bibir. Aku tak suka situasi ini! Tidak pantas seorang wanita menerima kehadiran sosok laki-laki, apalagi laki-laki itu punya perasaan dengan wanita itu!


“Jadi masih belum jelas, ya?” tanyanya getir. Tatapannya begitu sendu. Dan aku luluh dibuatnya.


“Ka-kamu gak bisa begini terus, Juni, Kamu harus move on. Aku sudah mempunyai kehidupan, sebentar lagi aku akan melahirkan anak Natan.” Aku berkata lirih.

__ADS_1


“Tapi, kamu kan bisa cerai, dan menikah dengan aku, aku akan menganggap anak itu seperti anakku sendiri.”


Aku pun beristighfar. “Kamu gak boleh ngomong begitu, tahu kan, prestasi terbesar setan itu adalah memisahkan suami istri yang telah menikah.”


“Bukannya juga dulu kamu hadir di tengah-tengah Mimi dan Natan?”


“Itu beda, Juni! Aku sudah menolak Natan beberapa kali karena aku takut menjadi setan atau seperti pelakor yang dicap para tetangga. Terus saat itu juga Natan telah resmi bercerai dengan Mimi.”


“Oh, begitu!”


“Sedangkan aku, aku masih menikah dengan Natan dan kini hamil anaknya.”


“Aku tidak suka mendengarnya.”


Aku tertunduk. Memang sengaja mengucapkan kalimat itu agar dia menyerah. Aku takut. Aku takut, takut kalau-kalau kembali kepada Juni. Cinta pertamaku. “Aku yakin sekali, pasti kamu akan menemukan gadis yang tepat.”


“Setelah kau menolakku, aku sudah tidak ada niat untuk menikah lagi!”


“Waktu akan menjadi penyembuh luka, Juni.”


“Semoga.”


“Bagaimana ini, Juni? Natan pulang!” seruku panik.


“Tenang saja, Nariswari. Kalo Natan menggila.” Juni tersenyum tipis. “Akan selalu ada ruang untukmu.”


Aku mengintip dari luar. Sosok itu memandang motor ninja yang terparkir di carport. Ah! Aku benci situasi ini! Belum-belum kami baikan. Sekarang akan ada masalah baru. Kehadiran Juni akan menjadi bom waktu yang membuat Natan meledak untuk marah.


Natan berhenti di depan pintu. Aku hanya diam memandangnya sedih. Tatapanku seperti memelas pengampunan darinya. Dia memandang kami bergantian.


“Aku tidak jadi ke Bandung.” Natan tersenyum. Senyumannya sangat misterius. Aku saja takut untuk menatapnya. Rasanya seperti kepergok selingkuh! Ini memang salahku. Kalau saja aku tidak mengidam aneh-aneh, Ini tidak akan terjadi!


“Oh, ada tamu rupanya.” Dia tersenyum lagi. Juni lagi-lagi hanya menatap datar.


“Aku baru tahu kamu setega itu ninggalin istrimu yang sedang hamil.”


“Apa pedulimu?” tanyanya sinis mendekat ke Juni. Juni pun berdiri. Mereka saling tatap penuh kebencian.

__ADS_1


“Sudahlah. Aku ke sini hanya untuk melihat kondisi keponakanku. Ayahnya sudah datang. Aku harus pergi.” Juni mengambil jaket kusut kesayangannya. Dia hendak melangkah. Tapi Natan tidak memberinya jalan.


Natan tersenyum. Lalu meraih kerah baju sepupunya. Mencengkramnya kuat. Aku pun segera berdiri. ”Gak tahu malu,” desisnya dingin menatap Juni seperti ingin membunuhnya.


“Natan!” panggilku. Aku segera menarik tangannya. “Sudahlah!” Aku membujuknya memelas. Dia melirikku. Lantas melepaskan cengkramannya. Membiarkan Juni pergi. Aku berembus berat. Untung saja. Untung saja di rumah ini tidak terjadi perkelahian.


Natan hanya membisu. Aku seperti hantu. Dia sama sekali tidak menganggapku ada. Terus pertanyaan itu pun menerorku. Apa Natan sudah tidak mempercayaiku lagi? Ke mana senyuman dan wajah hangat Natan yang selalu ditampakkannya itu? Aku rindu!


“Sebenarnya apa yang kau lihat tidak seperti yang kau bayangkan, Nat.” Aku melirik Natan yang sibuk dengan tabletnya. Dia pun segera mengambil headset. Memakainya. Fix. Dia tidak mau mendengarkanku lagi!


Oh, baiklah mungkin laki-laki melankolis ini butuh waktu. Semoga saja dia bisa mengerti. Aku pun menunggu hari itu tiba. Tapi, tidak menunjukan hasil. Natan, suami pencemburu stadium 4. Suami yang amat posesif! Apa yang harus kulakukan? Dia tidak menerima penjelasanku lagi. Dia tidak mempercayaiku lagi!


Aku lalu teringat kata-kata terakhir Juni. Selalu ada ruang untukku ketika Natan menggila. Astaga! Apa yang kupikirkan? Anak ini butuh seorang Ayah! Dia harus bahagia. Dia tidak boleh tertekan. Aku pun menyapu wajahku. Terisak. Tangisan ini akhirnya pecah juga setelah cukup lama menahannya. Ternyata … aku adalah seorang perempuan. Perempuan yang hatinya lemah!


Laki-laki di sampingku pun terbangun oleh tangisanku. Aku segera menutup wajah. Aku adalah perempuan tegar. Aku hampir tidak pernah menangis di depannya. Bahkan aku hampir tidak pernah bermanja-manja dengannya. Berbeda sekali dengan istri pertamanya! Padahal setahuku, seorang suami menyukai istri yang sok manja. Tapi, inilah aku! Nariswari Ola.


“Kamu kenapa?” tanya Natan terdengar agak cemas. Itulah kalimat pertama Natan setelah mendiamkan aku selama berminggu-minggu. Saking lamanya aku sudah tidak ingat berapa lama.


Aku menggeleng kuat masih menutup wajah. “Tidak apa-apa!”


“Apa kau menyesal sekarang?”


“Menyesal?” tanyaku lirih.


Natan langsung tersenyum dingin. “Masih cinta rupanya.”


“Nat, apa yang kamu pikirkan bukan seperti itu.”


Natan menarik selimut, membungkus tubuhnya, dia lagi-lagi tak mau mendengarku.


“Aku bisa mati karena sifat cemburumu itu. Aku tidak ingin anak kita kenapa-kenapa.”


Natan diam tak bergeming. Sedetik kemudian bangkit. Segera mengambil jaket lalu pergi. Dia pergi tanpa sepatah kata pun tidak melirikku. Apa aku salah lagi? Memang benar kata Yunita, menikahi cowok ganteng dan kaya itu bukanlah penentu bahagia. Aku merasa tersiksa menikahi Natan. Ya Allah aku takut sekali, aku takut bayiku akan kenapa-kenapa saat aku stres!


“Kamu harus kuat, Nak,” bisikku membelainya. “Kamu harus kuat. Kamu harus baik. Kamu harus cantik, Nak.” Aku takut sekali, kalau-kalau anak Natan tidak seperti dia. Aku takut dia tidak akan menerimanya. Aku pun terdiam ketika perut ini mengejang. Aku mengepalkan tangan. Ah, jangan-jangan! Jangan-jangan hari ini bayi ini akan keluar. Tak lama setelah itu, aku pun merasakan bening hangat sedikit demi sedikit menetes di kakiku. Aku segera mengambil handphone lalu menghubungi Natan. Sayangnya, dia menginggalkan handphonenya di kamar!


 

__ADS_1


 


__ADS_2