Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta

Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta
Narina


__ADS_3

                                                                 



“Bayinya mengalami BBLR, Pak.”


“Apa itu?”


“Berat badan lahir rendah. Jadi untuk sementara harus dirawat, beratnya hanya 2,3 kg. Padahal bayi umunya beratnya di atas 2,5 atau 3 kg.”


“Kok bisa? Padahal dia selalu makan makanan sehat dan usianya persis 9 bulan.”


“Ya, banyak faktor, Pak. Ini bisa terjadi kalo ibunya mengalami depresi atau stres. Kalo ibunya stres, bisa menghambat pertumbuhan janin, meningkatkan risiko persalinan prematur, meningkatkan risiko bayi terlahir dengan berat badan lahir rendah seperti anak Bapak, Bisa memengaruhi temperamen bayi jadi bisa jadi anak Bapak nanti akan rewel, meningkatkan risiko gangguan tidur pada bayi, dan meningkatkan risiko bayi rentan terhadap berbagai penyakit.”


Sayup-sayup aku bisa mendengar percakapan mereka. Aku masih berpura-pura tidur. Aku kira aku akan mati. Aku ingin sekali bangun dan melihat bayiku. Aku pun teringat. Saat itu, setelah melahirkan. Aku langsung tak sadarkan diri.


“Seperti apa dia?” bisikku lirih setelah mengumpulkan sisa-sisa energi.


Natan tertunduk. Wajahnya yang cemas tak karuan lalu menatapku sepertinya dia merasa sangat bersalah dan menyesal. “Di-dia ….”


“Kamu belum melihatnya?” tanyaku masih menutup mata.


Dia pun berdeham dan berbisik lemah. “Aku takut sekali Nariswari. Kamu akan meninggalkanku sendiri. Habis kamu melahirkan. Kamu kehabisan banyak darah. Kamu mengalami pendarahan. Karena itu kamu pingsan sebelum melihat bayi kita. Aku sangat mencemaskanmu. Untuk saja semuanya sudah berlalu.”

__ADS_1


Seperti yang kutakutkan, emosiku yang berlebihan ternyata memengaruhi bayiku. Seperti yang kupelajari jauh-jauh hari. Bayi berstatus BBLR. Bayi itu perlu dirawat di NICU atau ruang perawatan intensif neonatal. Di ruangan itu, petugas medis akan membaringkan bayi di tempat tidur yang suhunya telah diatur, serta memberikan susu dengan teknik dan alat khusus. Bayi baru diperbolehkan pulang setelah komplikasi dapat diatasi dan ibunya dapat memberikan ASI secara normal. Untuk merawat bayi yang berat badan lahirnya rendah atau biasanya karena prematur, dokter juga biasanya akan menyarankan metode kangguru. Perawatan Metode Kanguru atau PMK merupakan perawatan dengan melakukan kontak langsung antara kulit bayi dengan kulit ibu atau skin-to-skin contact, di mana ibu menggunakan suhu tubuhnya untuk menghangatkan bayi


“Maafkan aku Nariswari, meninggalkanmu sendirian dalam kesakitan.”


Aku hanya tersenyum tipis. Masih dengan menutup mata. Mata yang basah. “Kalo kamu mengulanginya lagi, mungkin aku yang akan pergi.”


“Jangan!” Natan memegang tanganku erat. “Aku janji tidak akan seperti ini lagi!”


“Aku boleh minta satu hal?”


“Katakan apa itu? Apapun itu akan aku berikan.”


“Kamu harus janji, kamu harus menjadi papa yang baik.”


“Tentu saja.” Natan segera menyahut mantap. Aku bahagia mendengarnya. “Apa lagi?”


“Iya.” Akhirnya suara Natan yang berat itu pun keluar setelah lamat menatapku dalam kesakitan. Aku tersenyum menatapnya. “Istirahatlah Nariswari. Kamu sangat pucat.” Natan membelaiku lembut. Aku mengangguk. Lalu memejamkan mata. Aku rindu. Aku rindu bayiku. Narina. Nariswari dan Natan.


***


“Ngapain kamu ke sini?” Natan menghadang di depan pintu. Aku yang sedari tadi mebuat pudding susu coklat bersama Narina dan Bu Lastri mendongak keluar mendengar suara galak Natan.


“Narina! Om Juni datang.” Aku berseru bahagia.

__ADS_1


Gadis kecil berambut panjang keriting sosis itu lalu berhamburan keluar. Bukan main gembiranya dia langsung melompat ke arah laki-laki gagah berjaket hitam kesayangannya. Juni. Juni tertawa bahagia. Belum pernah aku melihat Juni tertawa selepas itu, bahkan saat bersamaku. Aku dibuatnya cemburu oleh Narina. Aku pun tertawa geli.


“Cepat sekali besarnya.”


“Iyaya, padahal dulu pas lahir dia imut-imut, beratnya cuma 2,3 kg, kayak kangguru gitu hehehe.”


“Kamu merawatnya dengan baik, Nariswari.”


Natan hanya memandang kami, tak banyak berkomentar bahkan hanya menanyakan nasib puding buatan kami. “Biar Bu Lastri aja yang bawa ke sini. Kamu duduk saja di sini.”


“Aku gak cape kok.”


“Kasihan bayimu, olahraga terus tiap hari.” Natan tersenyum. Aku pun mengangguk malu. Usianya 4 bulan, dan adik Narina begitu bahagia.


Tak terasa Narina sudah berumur 6 tahun. Dia tumbuh menjadi gadis kecil yang amat cantik. Dia mirip sekali Natan versi perempuan. Dia memiliki bulu mata yang lentik, matanya sayu tapi sendu menawan, kulitnya cerah, lesung pipit menghiasi pipi kirinya, rambutnya panjang dan kecoklatan seperti bule, sayangnya badannya untuk ukuran anak seperti dia, cukup ringkih. Meskipun begitu. Sikap cerianya seperti malaikat kecil membuat siapapun yang melihatnya jatuh hati. Seperti Juni.


“Jangan-jangan anak kita mau …,” desis Natan melahap pudding sembari memerhatikan Juni bermain dengan Narina.


“Mau apa?” tanyaku penasaran.


“Kamu pasti tahu maksudku, kan?” Natan menunjuk mereka. Dia tampak cemburu.


Aku hanya tertawa. Lalu mengangguk. “Ya, mungkin. Juni akan menjadi menantu kita.” Aku melirik wajah Natan. Wajahnya pun tak karuan.

__ADS_1


 


 


__ADS_2