
Ah, aku baru ingat!
Aku tiba-tiba terbangun. Natan yang melihatku tampak kaget. Langsung menanyaiku. “Kenapa? Ada yang ketinggalan?”
“Iya.” Aku mengangguk cepat. Kulirik Natan yang sedari tadi selonjoran di kasur tampak lelah dan sudah hampir terlelap kemudian terbangun ketika aku sigap bangkit.
“Apa? Bukan hal penting, kan?” tanyanya penasaran. “Apa cincin kawin kita?” Natan segera memeriksa jemariku. “Huft, untung masih ada!”
“Lebih penting dari itu, Papa Natan Brian.”
“Emang apa, Mama Nariswari Ola?” balasnya lebih manis dari gulali di pasar malam.
“Aku lupa. Aku lupa makan kelapa muda di pulau komodo.”
Natan langsung tertawa terbahak-bahak. Setelah itu, dia langsung merengkuhku, memaksaku tidur untuk beristirahat. Memang aku terlalu excited sama makhluk-makhluk purba yang endemi itu hingga melupakan tujuan awalku.
Tapi, dibalik itu semua, ada hal yang membuatku sangat ingin kulakukan, rasa-rasanya seperti mencari oasis di gurung pasir gersang!
***
“Apa kamu masih memikirkan kelapa muda?” tanya Natan setelah mengganti pakaian kerjanya, dia baru saja pulang dari rapat untuk membahas produk barunya yang akan rilis bulan depan.
“Sedikit,” sahutku meliriknya tidak berselera, bahkan rujak es krim yang menjadi salah satu makanan favoritku waktu Kerja Praktek di Jogja tidak menggairahkan.
“Memangnya ada dan boleh makan begituan di pulaunya?”
“Gak tahu, belum pernah. Yang penting kan makannya gak bareng sama komodo, yang ada kita yang dimakan,” jawabku cuek. Natan tertawa. Padahal aku lagi tidak bercanda, “yang jelas di sana aku makan banyak.” Aku meliriknya sinis.
__ADS_1
“Tapi, kenapa pas di sini kamu gak mau makan?” tanyanya tetiba khawatir.
“Aku masih memikirkan itu.”
“Apa? Kelapa muda?”
“Gak. Bukan! Ada yang lebih penting dari makan kelapa muda di pulau komodo. Sebelumnya aku sudah pengen banget. Pengen bangettt! Kayak orang yang sudah gak kebelet selama 3 hari!”
Lagi-lagi Natan tertawa. Padahal aku berbicara serius. “Kamu mau makan apa? Makan gurita di pulau panjang? Atau makan ubur-ubur di pulau padamarang?”
“Ah, gak, ah!” seruku tidak tertarik. Pasti dia lagi menggodaku oleh permintaanku yang aneh-aneh!
“Katakan saja. Jangan sampai anak kita ileran kayak komodo.”
“Mirip Papanya kalo tidur,” sahutku jutek. Kesal sama candaannya!
Natan tertawa hanya mengangguk, padahal akulah pelakunya selama ini, bahkan kadang nempel di punggungnya!
Ya, semoga! Aku lalu mengingat anak istimewa itu. Apa aku akan sabar dengan menjadi ibu dari anak spesial? Mungkin iya karena dia adalah anakku, tapi Natan?! Bagaimana dengan Natan? Natan kan seorang melankolis yang perfeksionis, dia sangat menuntut kesempurnaan fisik. Semoga ketakutan ini tidak terjadi!
“Katakan kamu mau apa?” tanyanya memakan rujak es krim yang kini hampir mencair karena hanya bisa kutatap.
“Gak, ah! Entar kamu marah.” Aku menjawab lirih tidak mau menatapnya. Kali ini, permintaanku aneh. Aku saja tidak yakin, apa betul ini keinginan bayiku? Tapi, aku betul-betul pengen! Rasanya seperti musafir yang sangat kehausan. Dan mata air itu hanya dimiliki seseorang. Ia adalah Natan.
Natan yang amat mencintaiku, apa dia mau menurutinya? Pasti ia, karena dia sangat menyayangiku apalagi aku sedang hamil. Tapi, justru yang kutakutkan adalah karena dia begitu terobsesi padaku, dia tidak akan mengabulkannya. Tes pertama, untuk makan kelapa muda di pulau komodo hanya untuk menguji cinta Natan. Sejauh mana dia akan memenuhi pintaku!
“Mana mungkin aku marah sama kamu, apalagi kamu sedang hamil anakku.”
Aku cukup terharu, saat ia mengatakan kalimat itu. Lalu berembus berat.,“janji, ya, gak marah?”
__ADS_1
“Iya.”
“Serius?”
Natan berdeham sembari menghabiskan rujaknya. Aku hanya bisa diam menatapnya, tak sanggup mengatakannya. Aku bingung! Bingung, bingung karena Natan sangat mencintaiku tentu akan mengabulkan semua mauku, tapi untuk yang satu ini, karena di terlalu menyayangiku, pasti dia akan tolak mentah-mentah! Pasti dia akan marah!
“Apa? Katakan saja?” Dia mengangkat wajahnya penasaran, dia menatap hangat, senyumnya penuh dengan ketulusan cinta yang amat mendalam. Dan, aku takut keinginanku ini membuatnya menenggelamkan senyuman manisnya.
Aku menggeleng. “Lupakan saja! Tidak penting.” Aku beranjak pergi. Keluar ke taman belakang. Memandang taman-taman cantik yang didesain oleh arsitek landscape. Aku pun menginjak rumput gajah itu, berjalan menuju gazebo bermaterialkan bamboo dengan atap ijuk. Aku terdiam menatap gemericik kolam yang berisikan ikan-ikan koi kesayangannya Natan.
“Kalau ikan-ikan mahal ini aku rebus kira-kira Natan marah gak, ya?”
Aku tertunduk. Melihat arsitektur hijau menawan di sekelilingku. Sampai sekarang aku tidak percaya, bisa menjadi nyonya Natan Brian? Yang memiliki banyak asset mewah. Natan Brian adalah salah satu anak orang terkaya di Semarang. Padahal aku hanyalah anak kampung di kota kecil Sulawesi! Yang ke Semarang untuk kuliah dan bekerja. Tapi, ternyata jodohku 180 derajat meleset dari perkiraanku.
Aku lalu bangkit. Mengambil panah dan busurku. Lalu untuk melupakan keinginan konyolku aku mulai menarik busur lalu melepaskannya.
“Nariswari!”
Aku berbalik. Cukup kaget melihat laki-laki kasual di belakangku berseru.
“Kamu lagi hamil. Kenapa malah main panahan?”
“Biar kuat,” jawabku pendek.
“Kamu belum makan sedari pagi, kan?” Natan segera mengambil busurku. Aku menjauh menolak. Dia mengejarku. “Bilang saja mau apa? Kalo pun gak cukup, bahkan restoran pun bakal kubelikan.”
Aku pun tertunduk, memalingkan muka. Tak sanggup melihatnya. Aku menyerah. Aku ingin … aku begitu ingin, aku ingin ….
“Aku pengen banget ketemu sama Juni.”
__ADS_1