
“Be-belum ketemu, ya?” tanyaku cemas mengusap pelu. Aku memandang Pak Surip penuh harap.
“Ma-maafkan saya, Bu.” Laki-laki tua itu tampak ragu-ragu menunduk merasa bersalah.
“Kita ke rumah sakit aja ya, Bu.” Bu Lastri yang sedari tadi menyiapkan perlengkapan seperti pakaian ganti, baju bayi, dan selimut langsung dimasukkanya ke dalam tas. Lantas mereka bergegas membantuku menuruni anak tangga.
“Beneran gak ketemu?” tanyaku lagi, kali ini mataku berkaca-kaca. Pak Surip hanya bisa menunduk minta maaf. Segera Pak tua itu mengeluarkan mobil gold Natan. Aku pun merebahkan diri di dalam mobil itu, menahan sakit yang kian menggerogoti. Perihnya seperti menjalar ke seluruh tubuh. Terluka di tubuh dan hati.
Natan, kamu di mana?
Dari balik kaca mobil. Aku tidak berhenti berdoa. Seperti ini ternyata perihnya menjadi seorang ibu, rasa-rasanya hidupku akan singkat. Rasa sakit karena kontraksi yang disebut visceral-dull dan aching yang dimulai dari bagian bawah punggung, kemudian menyebar ke bagian bawah perut, hingga ke kakiku. Rasa sakitnya seperti ditusuk-tusuk.
Aku menghirup dan menghela napas panjang. Rasa nyilu itu menjalar ke punggung, perut, pinggang hingga pangkal paha. Bahkan aku mulai pusing, sakit kepala, tubuhku juga gemetar, panas-dingin, keram, pegal-pegal, dan mengalami nyeri otot. Tidak pernah aku merasa sepayah ini.
Aku pun teringat akan buku yang kubaca. Selain sakit karena kontraksi, seorang ibu juga akan mengalami sakit di mana saat bayi mulai muncul di ******. Jaringan antara ****** dengan anus atau perineum terentang sangat kencang karena kepala bayi mendorongnya agar bisa terbuka. Rasa sakit itu karena adanya perobekan jaringan. Sebagian besar ibu akan merasakan seolah-olah bagian bawahnya akan meledak. Ada juga yang menggambarkannya rasa sakit itu seperti akan membuang kotoran setelah sembelit satu bulan. Nama medisnya, sakit ini disebut somatic-sharp dan burning.
Kata WHO, sekitar 830 perempuan meninggal setiap hari karena komplikasi selama kehamilan dan persalinan. Sekitar 99 persennya dari seluruh kematian ibu terjadi di negara berkembang.
Tak terasa aku sudah terbaring lemah di atas kasur. Di sekelilingku ruangan putih seperti es. Rasanya begitu dingin menusuk tulang. Aku tak hentinya menunggu sosok itu di ujung pintu, memberiku kehangatan. Aku masih menatap pintu ruangan. Berharap dia segera datang. Aku tidak ingin berjuang seorang diri! Dan aku tidak ingin mati seorang diri!
“Natan kamu di mana?”
Beberapa perawat sementara mempersiapkan alat medisnya, dokter juga telah tampak dan menghiburku. Memberikanku semangat. Mungkin melihatku seorang diri hanya ditemani Bu Lastri dan Pak Surip yang menunggu di luar. Bahkan Pak Surip mungkin masih mencari Natan.
__ADS_1
“Tidak usah panik ya, Mba.” Dokter tersenyum menenangkan. Aku hanya mengangguk pasrah berusaha tersenyum. Menahan sakit seorang diri. Aku pun mengelus perut. Apa bisa aku bertahan dengan kondisi seperti ini?
“Suami Ibu akhirnya datang.” Salah satu perawat yang baru saja keluar kini masuk membawa kabar yang menghangatkan itu. Aku yang teramat gugup dan sakit, mendengar Natan telah datang saja, rasa sakitnya tiba-tiba sedikit berkurang.
“Nariswari,” panggil laki-laki itu cemas. Perawat yang menghalangi pandanganku pun menyingkir. Aku menemukan sosok itu. Senyumanku yang pucat lalu menghilang. Dia. Dia bukan Natan. Dia. Juni?
“Kamu baik-baik saja, kan?” tanyanya khawatir. Napas laki-laki itu naik turun tak karuan. Sepertinya dia habis berlari sprint untuk segera menemuiku. Aku mengangguk sedih.
“Maafkan aku. Aku gak menemukan Natan.”
Aku pun tersenyum lemah. “Tidak apa-apa.”
“Berjuanglah Nariswari. Kamu harus kuat.” Wajah empati itu membuatku sedikit bertenaga. Aku berembus dan menarik napas kuat-kuat. Aku lalu tersenyum dan mengangguk.
“Oh, iya Pak, ini istrinya kan panggulnya sedikit sempit, kami menyarankan untuk operasi caesar, tapi Ibu Nariswari mintanya normal saja padahal bisa beresiko pendarahan sehabis melahirkan atau bisa juga cephalopelvic disproportion.”
“Cephalopelvic Disproportion atau CPD itu adalah kondisi saat kepala atau tubuh bayi tidak muat melewati panggul ibu. Hal ini bisa terjadi ketika bayi terlalu besar, panggul terlalu kecil, bayi dalam posisi yang salah, atau kombinasi kasus bayi dan panggul ibu.” Dokter dengan tenang menjelaskan. “Ini bisa menyebabkan robeknya tempat keluar bayi, Pak.”
Juni langsung menatapku. Dia bingung. Aku juga bingung. Kenapa dokter dan perawat-perawat di sini menganggap Juni adalah suamiku?
“Lakukan yang terbaik saja, Dok.” Juni melirikku.
Bu dokter mengangguk. Aku pun angkat suara dengan suara lirih. “Kalo normal saja, Dok? Aku juga udah sering check kehamilan. Kata Bu Faridah bisa kok, Dok.”
Dokter pengganti itu mengembus napas. “Bisa. Tapi, ini cuma perkiraan saya saja, ya, Bu.”
__ADS_1
Aku mengangguk mantap. Dengan panggul sempit besar kemungkinan jalan keluar bayi pasti robek. Apa aku bisa bertahan? Apa aku masih bisa hidup? Aku sudah gugup duluan lantas berkeringat pucat.
“Oke bismillah, kita mulai ya, Bu.”
Aku mengangguk. Juni hanya terdiam kaget. Aku pun tersadar. “Aku sebaiknya keluar saja, ya,” ujar Juni begitu kikuk.
“Kenapa? Bapak bisa menemani istri Bapak.”
Juni tertunduk. Tersenyum tipis. “Saya bukan suaminya, saya saudaranya suaminya.”
Mereka pun hanya bisa menyengir. Lalu seketika berhenti mendengar aku menjerit. Napasku tak karuan. Aku menggenggam kuat pegangan Kasur seperti ingin mencekiknya.
“Bayinya sepertinya mau keluar!”
Juni pun bergegas ketika dokter akan memeriksa bayiku. Lalu bersamaan dengan pintu yang dibuka Juni. Sosok yang aku rindukan kini telah datang. Selintas wajahnya yang pucat panik melirik kaget kepada sepupunya yang hendak keluar. Tapi, untuk saat ini sepertinya dia tak ingin mencari perkara. Dia pun segera berlari ke arahku dan memegang lembut tanganku. Aku menutup mata. Menangis. Dia pun mengusap kepalaku.
“Aku takut.” Aku mencengkram tangan itu begitu kuat.
“Aku di sini.”
“Kamu ke mana saja? Aku sudah mau mati di sini,” ucapku lirih. Bibirku gemetar kesakitan.
“Maafkan aku.”
“Kita mulai saja, ya.” Dokter pun segera melaksanakan tugasnya.
__ADS_1