
Sebelumnya,
Sebelum awal tahun 2015. Aku sering bertemu Natan secara tidak sengaja. Awalnya kupikir karena kita bertetangga, kita sering bertemu.
Aku mengejar balon udara berwarna merah dengan corak putih polkadot milik Intan yang terbang saat Dodo sengaja menerbangkannya. Akhirnya Intan menangis. Lalu bos gede yang melirikku dengan kode tersirat, aku pun berlari secara spontan. Karena tubuh ringkih dan ringan di kantor hanya aku pemiliknya. Ya, semoga saja bos memberiku insentif lebih karena membantunya momong Intan!
Seperti ninja, aku mengejar balon sial itu, lalu balon itu tersangkut di pohon. Aku mendoakan balon itu biar meletus saja, atau digondol tuyul buat mainan. Tapi tak dikabulkan.
"Mau kemana?"
Aku kaget lalu menunjuk ke atas. Laki-laki berambut coklat itu melirik balon murahan yang tersangkut di pohon akasia. Lalu dia mengusap bibir. Kupikir dia akan berlagak seperti power ranger yang sigap membantu dengan gagah memanjat pohon. Dia berembus napas.
"Aku beliin yang baru, ya."
Aku lalu melongo. Dasar generasi micin! Maunya yang instan! Lalu aku segera menolak. Aku pun melepas sandal ninja hitam, bersiap memanjat.
Gila! Pohon ini tidak ada batangnya, untung di kampung sejak kecil, aku terkenal jagonya nyolong jambu, dan meski tanpa batang pohon sekalipun, ajaibnya aku bisa mencapainya!
"Hei, jangan! Entar jatuh." Natan tampak khawatir.
Aku tertawa. "Tenang saja, aku lebih jago daripada monyet di Goa Kreo."
Dia pun memandang bulat. Masih tak percaya. Aku pun menunjukkan ketangkasanku bergelantung di atas pohon rimbun yang bercabang-cabang. Kulirik dia berlipat dahi, seperti khawatir. Aku tersenyum. Dia tidak tahu, aku memang anak pesisir, tapi aku sering berkebun untuk memanjat langsat, cengkeh, jambu, mangga, rambutan, dan jambu monyet. Bahkan seringnya aku tertidur di atas pohon.
Aku pun meraih balon sial ini. Lalu gembira menunjukkannya ke tetanggaku yang pernah gila itu, "Aku berhasil."
Natan tersenyum.
Aku pun turun menginjak dahan-dahan pohon. Lalu.
Balon merah polkadot putih ini pun terkait patahan kayu di samping tangan kananku. Hanya berselang detik. Balon itu say good bye.
"Sudahlah itu hanya balon," hibur Natan. Aku masih merengut. Mataku berkaca-kaca. "Nanti aku belikan yang baru."
Aku pun mengangguk sedih. Natan pun pergi. Aku lalu terhenti. Melupakan suatu hal. Sejak kapan tetanggaku yang gila itu jadi care begini?
Aku tak langsung pulang di kantor, tapi bertolak arah, hendak mengorupsi waktu kerja untuk membeli siomay dari ikan tenggiri asli, 99% tepung, dan 1% tenggiri.
Sepulangku ke kantor. Aku syok, melihat kantor bukan lagi seperti kantor, tapi berubah menjadi paud. Intan dan Dodo sibuk bermain, mendorong ke atas balon-balon yang jumlahnya hampir dua puluhan itu.
"Natan itu, apa dia sebenarnya penjual koke'-koke'---penjual balon dan permainan anak-anak."
"Kamu pake sihir apa, tiba-tiba balonnya si Intan jadi bertelur begini banyaknya?" goda Aziz, teman kantor berkepala plontos.
"Itu jurus kage bunshin no jutsu."
"Oh, kukira pake jampi-jampi ilmu kanuragan."
"Nar ... Nar ... 1 balon saja sudah bikin kantor kita kaya kena bom atom tahu, tambah 20 balon, ini kayak habis perang dunia kedua." Lagi-lagi Suci begitu hiperbola dalam berekspresi. Bilang saja mau dibawa pulang sebagian
balonnya buat anak sama suaminya di rumah.
Aku pun mengusap dagu. Bagaimana kalau seperempat balon ini aku jual? Uangnya lumayan buat beli lauk. Batinku, tersenyum sinis. Memanfaatkan kesempatan, ada pulus semua mulus!
Setelah tragedi di pohon akasia. Berlanjut pada episode bergenre thriller, dikejar preman kampung.
Dulu, di kampung aku punya teman kecil sedari orok hingga menuju bangkotan, namanya Halima, atau yang biasa aku puji Halime jande mude.
Anak yang postur tubuhnya ini di bawah rata-rata, begitu takut pada preman kampung yang satu ini. Kepalanya botak, mulutnya tonggos, tubuhnya kekar, dan suaranya serak. Dia adalah angsa. Gak seperti di film Barbie! Swan Lake!
__ADS_1
Tiap kali kami perpas-pasan dengan angsa, Halima langsung bersembunyi di punggungku, menyuruh jalan duluan. Entahlah sekarang dia masih takut apa, tidak, yang jelas si kecil Halima kini menjadi tentor muda, idola murid-muridnya.
Tapi ini bukan tentang Halima dan angsa. Tapi tentang preman botak yang berada di dekat kantorku. Tiap melewati kantor. Ada RTH yang cukup luas dan rawa-rawa yang tidak cukup besar, karenanya beberapa angsa di jalan raya ini kadang nampak di jalan besar.
Lalu kudapati sepulang dari kantor, ada laki-laki payah yang sedang dikejar angsa. Ya, dia adalah ... Natan?
Bukan main, ia lari seperti orang gila, lalu berteriak. Membuatku seketika iilfeel. Angsa itu mengejarnya, lalu mematuk bokongnya. Aku tak berhenti tertawa melihat kekonyolan itu secara live di depanku. Ingin aku rekam tragedi ini lalu kuupload di youtube. Tapi, hapeku lobet. Aku yakin habis ini dia tidak akan menunjukkan wajah gagahnya paska dijatuhkan harkat dan martabatnya oleh seekor unggas.
Lalu.
Natan berputar arah, dan dia berlari ke arahku. Aku agak syok. Kulepaskan sigap sandal ninja hitamku. Dan.
Dengan jurus ninja. Macam melempar shuriken. Aku pun melempar preman kampung itu, tapi meleset, bahkan Natan yang menjadi korban. Dia pun seketika berhenti. Bebek-bebek itu pun masih mematuknya. Aku pun melempari sandal yang tersisa. Kali ini berhasil. Mengenai kepala angsa putih itu. Aku tersenyum puas.
Mengingat kehebatanku jaman dulu dalam melempar mangga tetangga atau memappe'--menggunakan katapel dan karet untuk melempar sasaran.
Dan.
Angsa sial itu malah sengit berlari ke arahku. Aku pun spot jantung, berlari split, malunya, orang-orang di jalan menontonku. Untung saja, sebelum kena patuk, segera pemilik angsa itu datang menjinakkan dengan sigap memberinya ransum yang ditaburinya di tanah.
Aku tersadar. Sudah lari sejauh ini, bahkan agak jauh melewati gang kosanku. Dan baru ingat, sandal ninjaku, tertinggal di dekat rawa.
Aku pun menemukan Natan yang celingak-celinguk memandangi rawa-rawa.
"Nyari angsa?" tanyaku mengejeknya.
Natan kaget. Bertanya kondisiku.
"Masih hidup, tenang saja, tidak ada sejarahnya ada orang mati karena dipatuk bebek, kecuali dipatuk bebek sambil lari ke jalan raya terus digilas mobil truk. Nah, itu." Aku tertawa. "Lihat sandalku?" Mengalihkan topik.
Natan menggeleng. Tampaknya dia masih malu atas tragedi tadi. Padahal aku juga harusnya malu.
"Ini juga aku cari. Sandal sebelahnya jatuh di rawa." Natan menunjuk di depan.
"Sialan, tuh, bebek!" makiku memungut sandal yang masuk ke dalam rawa yang berada di sekitar ilalang.
Aku kini mencium bau khas dari rawa-rawa ini. Untung saja tidak ada buayanya. "Kalo ketemu lagi sama, tuh, bebek. Aku potong, deh!" Aku mengeluarkan taringku.
Natan tertawa.
Aku pun meliriknya. "Kamu kenapa dikejar? Nganggur, ya? Sampai ngegodain si bebek tadi?"
Natan tersenyum. Dia garuk-garuk. Menceritakan kronologis ceritanya, dia tidak sengaja mengagetkan angsa itu saat dia melintas di jalan. Aku pun manggut-manggut.
"Angsa itu jantan."
"Tahu dari mana? Kalian kenalan sebelum berantem, main kejar-kejaran kayak gitu film India?"
Natan tertawa lagi. "Tubuhnya besar, gagah, dan condong ke depan, lehernya juga lebih panjang, ada jendolan bulat di atas paruhnya, suaranya juga lebih keras."
Aku lalu bertepuk tangan sembari memakai sandalku yang masih basah, sedang yang sepasangnya baru diberikan Natan.
"Wah, kamu tahu banyak! Jangan-jangan kamu ini ternyata juragan bebek, atau tukang jagal, atau pengembala bebek?" Aku menunjuk-nunjuk wajahnya.
Dia lagi-lagi tertawa. Entah kenapa setiap kali aku menanggapi komentarnya, dia selalu seperti itu. Padahal guyonanku, kan, receh. Standar humornya murahan sekali!
"Kenapa kamu gak pelihara anak biar sibuk?" tanyaku mengganti topik, meliriknya sambil tersenyum.
"Hah? Anak?"
Aku mengangguk. Mukanya setika tampak bodoh.
__ADS_1
"Iya anak." Aku mesem-mesem, menutup mulut. "Anak bebek."
"Buat apa?"
"Ya, biar kamu sibuk. Sibuk dipatuk karena jahilin dia. Kalo udah bosan. Tinggal potong saja! Cerdas, kan?"
Natan melirikku, alisnya berkerut.
"Guyon-guyon. Serius amat, sih. Amat aja gak serius."
Natan mengangguk polos.
"Ada - ada ide?!" Aku agak berteriak. Natan tampak penasaran. "Bagaimana kalo kamu pelihara ikan aja di akuarium."
"Pelihara--"
"Iya. Biar kamu sibuk--sibuk melupakan masa lalu."
"Boleh tahu, ikan apa?"
"Ikan lele kayaknya unik ditaruh di akuarium." Aku tersenyum meliriknya.
Kulihat wajahnya mengkerucut. Entah ternyata dia begitu polos! Aku lalu membayang imajinasi bodoh, cara memberi makan ikan lele di akurium dari hasil defekasi individu.
Aku kembali ke dunia nyata, mendengar dehamnya. Dia menggaruk-garuk kepala. Lantas kembali bercerita tentang angsa, di negara 4 musim macam di Inggris. Ceritanya komplit, seperti dia pernah ke sana. Dan tak mustahil sebenarnya.
Katanya, angsa itu kalau musim dingin, akan berimigrasi ke Selatan, di musim panas akan kembali ke Utara. Lalu mereka akan terbang membentuk formasi huruf V. Karena tempat yang dituju akan cepat dan lebih ringan. Mereka bisa terbang 71% lebih jauh dari pergi sendiri.
Bila ada anggota formasi V sakit, maka akan segera digantikan oleh angsa di sampingnya. Dan mereka akan bernyanyi untuk memberikan semangat.
Ternyata Natan bisa ngomong pintar juga. Batinku meliriknya. Sambil berjalan pulang.
"Bisa seperti itu, ya?"
Natan kaget. "Hah? Bukannya semua orang tahu soal itu?"
Aku memandang bodoh. Aku tidak tahu. Dan aku memangnya bukan orang? Aku tidak tahu tentang angsa 4 musim. Yang aku tahu, angsa-angsa atau si preman kampung, yang mematuk-matuk Halima.
Dan kukira burung itu penjahat!
"Ada satu hal lagi!" Dia berbalik. Lalu tersenyum. "Angsa itu hewan monogami. Dia akan mencintai pasangannya sampai akhir, dia akan memproduksi telur hanya dari pasangannya."
Aku manggut-manggut. Hewan ini sok romantis juga. Seperti penceritanya.
"Intinya kamu itu kayak angsa, ya?"
"Hah?" Alisnya berkerut.
Aku berbalik, lalu melirik. "Ya. Iya, kamu akan hidup dengan Mimi seorang." Aku kecoplosan. Lalu menutup mulut. Dia hanya menunduk dalam.
Aku menyesal sudah mengorek masa lalunya. Yang susah payahnya diobatinya.
Natan diam. Hanya terdiam. Dia diam sampai kami pulang ke tujuan masing-masing. Ternyata tidak seperti angsa, pergi bersama malah membuat perjalanan jadi lebih lama. 71% lebih lama!
Dan aku lagi-lagi merasa bersalah.
Mungkin Natan sedang belajar menerapkan buanglah mantan pada tempatnya, tapi aku malah memungut bekas-bekas memori mantannya. Bodohnya aku!
Begitulah pertemanan anehku dengan Natan.
Kalau dibilang suka. Kupikir, aku menurutnya lebih mirip badut atau topeng monyet keliling yang membuat sirkus-sirkus antik, dan receh hingga dia selalu tertawa setiap bertemu.
__ADS_1
Ternyata kegilaanku membuatnya teralihkan dari dunianya.