Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta

Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta
Hari Ini Bilangnya I Love You, Besoknya Good Bye!


__ADS_3


"Juni. Juni ada di kampus," bisikku lirih. Mataku menatap sendu. "Ini beneran?" Kulihat laki-laki berpakaian gelap itu masuk ke dalam ruangan pojok. Aku mengikutinya.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanyaku berdebar. "Apa harus aku tegur?" Aku mengusap dagu. Lalu menggeleng. Ah, tidak! Aku tidak boleh agresif! Itu, kan, memalukan! Perempuan juga harus punya rasa malu, kata Mba


Lila.


 Aku pun senyum-senyum, lalu merengut. Mengingat hari kemarin. Hampir-hampir saja aku akan menikah dengan sepupu Juni.


"Kalau ketemu dia, akan kuhajar!" desisku lirih mengepalkan tinju. Bahkan aku sampai harus menyibukkan diri, dan aku tidak mau lewat depan rumahnya lagi!


Sabtu dan minggu adalah jadwal kuliahku. Selain karena untuk memuaskan hasrat keilmuwan saat aku memutuskan untuk lanjut kuliah di hari libur kerja, juga sebagai kebanggaan Mamak di kampung, kalau anaknya bisa sarjana, apalagi biar gajinya bisa meroket, dan ada yang lebih penting, ialah menyibukkan diri, agar tidak tenggelam dalam masa lalu yang mengenaskan.


Tentang Natan yang menyukaiku, lalu menghilang, bertepatan aku pun terpaksa menerimanya, dan jujur, bukan aku orang pertama yang menolongnya, melainkan Lila. Lila hendak ke kosku untuk buang hajat, karena pintu kantor masih terkunci. Dia melirik tetanggaku terbujur di lantai, lantas memanggilku yang lewat di situ. Aku pun menolong Natan, sedang Lila berlari ke kosku.


Sialnya, Natan menghilang!


Harusnya dia menyukai Lila, bukan aku! Dia salah orang. Aku hanya tokoh pembantu yang hanya kebetulan numpang lewat. Lalu skenario hidup Natan, membawaku menjadi salah satu tokoh, ya, tokoh. Tokoh antagonis! Apes-apes!


Saat menjadi teman Natan, lalu berubah seperti cerita klise yang kuimajinasikan. Karena kesungguhan Natan, meski meragukan jika mengingat masa lalu Natan. Agaknya mustahil. Aku bisa menerima Natan. Kalau bukan karena dia ganteng dan kaya.


Meski matre sekalipun, untuk hidup serius, yang akan kujalani sampai di ujung hari, tentu aku tidak mau menikah dengan Natan. Hanya karena melihat ketulusan, dan aku berhasil dikalahkannya. Padahal jurus cewek galak sudah kukeluarkan!


Aku menggeleng, "Natan hanya masa lalu!" bisikku. "Masa depan menungguku. Pun Juni." Aku tertawa. Lalu garuk-garuk. "Semangat kuliah! Semangat kuda!" Aku menyemangati diri, mengangkat kedua tangan. Tentu saja! Karena, biaya kuliah, akulah yang menanggungnya.


***


"Namanya Cambollong." Aku berkomentar. Cambollong dalam bahasa bugis berarti hitam pekat.


Juni berhenti. Seperti biasa, dia hanya diam, tak berbalik. Aduh kenapa aku tegur? Aku bertepuk jidat. Jalanan ini sedang lengang. Seperti biasa kalau di hari libur. Para tetangga suka menghabiskan liburan ke Ungaran, Jogja, atau pulang kampung ke Demak atau Pati. Juni kini menunduk di bawah pohon kersen yang rindang, tak jauh dari


rumahnya.


"Aku lihat kamu di kampus kemarin." Aku tersenyum patah-patah. Ah, sudah terlanjur membuka pembicaraan. Kulihat Juni masih mengelus lembut kucing bulu hitam yang sering hamil itu. Aku pun membuka tas, lalu mengeluarkan kotak makan yang berisi teri, bekal ini tadi kumakan saat jam istirahat kelas. Lalu kusisakan buat makan malam. Dan nasibnya, akan kuberi ke Cambollong.


"Btw kita bertetangga, loh!"


Juni hanya mengangguk kecil. Lalu pergi.


Aku berbalik. Aneh sekali sepupu Natan ini! Aku tersenyum. Dia bisu!


***


"Juni."


Laki-laki dingin itu berbalik. Lalu menjaga jarak, tampak kaku seperti biasa. Aku mengusap bibir. Dia masih sama seperti kemarin. Dan selalu seperti itu. Kutemui dia dengan wajah geram. Sudah limited kesabaranku.


"Woi, kamu ini!" teriakku gemas. Dia terlonjak kaget. "Kamu ini beda, ya, antik, ah, gak, aneh." Aku mengangguk. Mengusap bibir. "Kamu takut sama manusia."


Raut wajahnya jadi berbeda dari sebelumnya. "Sudahlah, santai aja kalo sama aku, galak-galak gini, aku gak gigit, loh." Aku lalu menggerakkan kedua tanganku ke depan lalu mengeong.


Bibirnya tampak bergerak. Aku tertawa. "Kalo kamu gak suka sama manusia. Anggap saja aku kucing besar."


Dia masih memandang. Ekspresi aneh. Setidaknya sinar matanya agak berubah. Aku memang aneh. Tidak biasanya aku peduli sama cowok. Tapi Juni beda. Tiap kali melihatnya, entah aku seperti tersihir untuk ingin tahu tentangnya dan langsung berempati.


Dan dia masih sama. Pendiam. Berteman dengannya seperti berbicara dengan tembok, ah, tidak, tapi dengan batu nisan. Dia menyimpan aura mistis. Tapi, aku menyukainya. Aneh!


***

__ADS_1


"Kenapa berteman dengan Juni?"


Aku syok. Kulirik ke belakang. Benar. Dia. Dia yang kurindu, kurindu untuk mencabut giginya karena sebal.


Dia kembali. Natan.


"Kenapa berteman dengan Juni?"


Jantungku berdegub. Mataku membulat. Lalu berbalik ke samping. Aku bisa melihat sosoknya. Dia nyata. Kakinya menapak di paving block. Natan. Natan kembali. Menemuiku di ruang terbuka kampus.


"Kenapa berteman dengan Juni?" ulangnya lagi. Wajahnya pucat. Alisnya berkerut.


Aku mengepal tangan. Geram. Aku hanya diam menahan diri. Lalu pergi. Kudengar langkah kakinya yang khas mengejarku.


Seketika tubuhku beradu cepat. Aku berlari. Tak ingin melihat wajah payahnya. Dasar bocah pengecut! Sial!


Aku berbalik. Dia tertinggal di belakang. Payah!


Dengan masih berlari kuda. Aku menuju ke halte. Lalu duduk istirahat, mengambil udara sebanyak-banyaknya. Dan sebelum trans Semarang datang, aku kini tidak sendirian.


Ada Natan di sini. Bagaimana bisa? Dia seperti jin ifrit!


"Nariswari. Nariswari Ola." Dia berdiri. Tubuhnya kian mengurus. Dia bergerak mendekatiku. Sangat dekat. Sampai-sampai aku bisa mencium bau parfumnya yang sangat menyihir. Aku tersengal.


Tanganku pun bergerak. Dia tersenyum. Menyuguhkan wajahnya. Jari jemariku lalu menyambut wajahnya, segera kejentik telinga kanannya dengan sisa-sisa kekuatan kuda yang kumiliku. Dia menjerit.


Dan aku tidak puas. Kutarik telinganya sampai merah. Dia memegang tanganku merontah hendak melepas. Lalu tangan kiriku memukul tangannya. Dia pun jatuh berlutut. Mukanya merah.


Adegan ini adalah adegan yang sering Mamak lakukan saat aku nakal. Dan Natan harus merasakannya.


"Gimana rasanya? Sakit?" tanyaku kesal. Sesakit-sakitnya telingamu, tidak lebih sakit dari perasaanku. Betapa sakitnya aku, juga keluargaku, Natan sudah memPHP mereka, belum lagi teman-teman kantor, tetangga, bos dan semuanya yang sering bertanya paska hilangnya kamu. Setidaknya telingamu bisa sembuh. Tapi, hati perempuan? Sampai yaumul qiyamah ia akan mengingatnya.


Natan masih meringis. Mengipas telinga kanannya. Di situ aku merasa bersalah. Karena adegan itu menyakitkan. Aku tahu, aku juga salah. Tidak jujur dari awal. Takut. Takut kalau kamu akan pergi. Dan itu benar.


Aku mengangguk. Dan jujur aku terharu, tapi tidak semudah itu, di usia mudanya yang plin-plan. Hari ini bilangnya i love you, besok bilang good bye. Ah, sudahlah!


"Maafin aku, ya."


Lama aku terdiam. Memandangi view selain dirinya, melihat pohon-pohon rimbun dan jejalanan yang sepi. Aku mengembus napas. Lalu mengangguk. Wajahnya langsung berbinar. "Tahu gak, sebagai manusia yang baik, harus menerima maaf manusia, kan,kita bukan setan!"


"Analogi menarik." Natan tersenyum. Senyumnya manis. Ah, sial!


"Terus?" tanyanya. "Kita bisa... memulai apa yang pernah kita mulai."


"Ma... maksudmu yang itu?" tanyaku gagap.


Natan mengangguk cerah. Aku lagi-lagi mengambil napas panjang. "Sudah berakhir!" jawabku galak.


***


"Kamu menolaknya?" Suci terlonjak kaget. Sampai-sampai brem Madiun yang dimakannya melompat keluar. Dia pun terbatuk-batuk. Aku menenangkannya sehingga tidak sampai gosip itu ke telinga bos gede.


"Ini, kan, bukan pertama kalinya aku menolaknya," bisikku. Bukannya aku jual mahal. Apa, sih, hebatnya aku? Cuman anak kos-kosan kere. Aku hanya takut Natan suatu saat nanti akan pergi setelah Mimi kembali. Dan aku benci menjadi terbuang!


"Sayang banget, kesempatan ini belum tentu terjadi dua kali, kamu gak capek dibully karena jomblo?"


"Ah, aku bahagia-bahagia aja, tuh."


"Iya, Mba, kita seumuran, kami sudah pada punya anak, loh, Mba, Mba masih tingting." Yunita ikut nimbrung, tertawa polos, tampaknya dia belajar membully dari Suci. Darimana dia bisa dengar? Pakai pendengaran infrasonik? Aku mengembus napas. Memangnya menikah itu siapa cepat siapa dapat? Menikah itu butuh prepare panjang! Butuh ilmu!

__ADS_1


"Kalian ini! Ya, kalau sudah ada laki-laki baik yang melamar, ya, diterima." Lila pun komentar. Tapi, masih memandang layar komputer. Jarinya gesit mengetik. Dia sedang menulis artikel tentang kepemudaan. Dan tak peduli suaranya seperti toak.


"Memangnya, Natan baik?" tanyaku to the point.


"Ya, perempuan baik, dapatnya yang baik pula." Aku menelan ludah. Lagi-lagi Mba Lila mengeluarkan jurus


ceramahnya.


"Berarti aku penjahat, ya? Yang disukai preman?" tanyaku polos.


"Hush! Sudahlah, terima saja, Ri! Hitung-hitung kalian melakukan simbiosis komensalisme. Satu diuntungin, yang satu tidak mendapatkan apa-apa atau tidak dirugikan." Suci lalu tertawa jahat.


"Apaan, tuh?"


"Ya, hitung-hitung memperbaiki keturunan."


"What?" Aku melongo. Teman-teman kantor tertawa. Bahkan Aziz dan Mas Adi yang pura-pura sok diam dengan headset di kupingnya ikut menikmati. Sedang, bos gede melirik kami, lalu kembali ke ruangannya.


Emang aku sejelek itu? Dasar! Gini-gini, kan, aku manis juga! Pujiku membesarkan hati.


"Iya, sih." Aku berkomentar.


"Memperbaiki keturunan, tapi, si Natan yang kasihan, kehadiranku merusak keturunannya!" hiburku. Mereka pun terpingkal. Sudahlah, nasib jomblo memang untuk ditertawakan, sambil masih mengurut kaki yang terkilir di jalan saat hendak ke kantor. Sudahlah kutukan jomblo!


***


Pagi-pagi buta. Bahkan, kata Suci. Ayam jantan pun masih molor. Aku ingin keluar dari kos-kosan angker. Hendak ke pasar membeli bahan-bahan kolak. Entah, aku seperti mengidam, yang tiba-tiba ingin makanan berkuah manis itu.


Aku berhenti membuka pintu. Lalu kugeser tirai rumah tua ini.  Kulihat dari balik gorden, ada sosok yang


menggaruk-garuk pasir. Karena penasaran, aku pun membuka kunci pintu, dan mendorong daun pintu kayu yang tampak rapuh ini.


Dan. Tidak ada siapa-siapa di sana!


Siapa itu?


Sosok berpakaian gelap itu sering terlihat dini hari. Dan, aku memutuskan menagkap basah sosok mencurigakan yang berada di depan rumah Ibu kos pelit ini!


Dengan menonton serial film action yang ditonton Aziz, katanya biar tidak ketahuan untuk menyelundup. Hilangkan hawa keberadaan, dengan langkah kaki yang tidak menyeret dan meringankan tubuh tanpa suara.


Lalu.


Betapa kagetnya dia.


Aku berhasil mendapatinya di depan rumah.


"Kamu ngapain?" tanyaku kaget. Jangan-jangan dia menaruh pelet di sini!


Natan berbalik. Dia tersenyum patah-patah. Kulihat di tangannya ada sekop. Kulirik di sekeliling. Paving yang berpindah tempat pun tersusun rapi, dan tanah-tanah yang berlubang kini tertimbun, batu-batu yang menganggu kini disingkirkan.


Natan menggaruk kepalanya. "Aku sengaja menimbun tanah berlubang ini, memperbaiki paving, menyingkirkan


batu, biar kamu gak keseleo lagi kalo injak lubang." Natan menunjuk kaki kiriku.


Aku syok. Perasaan aneh! Lebay! Ini serius? Atau dia lagi-lagi mengeluarkan jurus gombal yang tidak bermutu?


Dari mana dia tahu?


Tapi, aku sudah memperhatikannya berhari-hari. Akhir-akhir ini, jalanan jelek mengenaskan yang kulalui memang

__ADS_1


berubah, sudah dipoles.


Aku hanya mengangguk. Dan terdiam. Aku bingung! Kadang-kadang dia seperti malaikat, tapi hanya kadang-kadang.


__ADS_2