
Lima hari sudah aku berada di sana. Sisa dua hari lagi waktuku, dan semua keberangkatan dan barang-barang sudah dipersiapkan Mimi seolah-olah secepatnya ingin mengusirku!
Aku berdoa siang dan malam, selama ini aku menjadi istri yang buruk. Matre, tidak bersyukur, menyukai laki-laki lain, berbohong, kaku, tidak romantis, dan suka pergi tanpa memberitahukannya. Aku hanya ingin membalas kebaikan Natan selama ini.
Cinta Natan, cinta yang menyakitkan. Hingga sekarang, aku tidak tahu sebabnya apa, dan kenapa, dia berubah? Dua tahun lamanya. Dan dua tahun ini adalah waktu yang tepat untuk berpisah, dengan atau tanpa persetujuannya! Telah lama aku menunggu saat-saat ini.
Aku memandangi wajah tirusnya yang pucat, bibirnya yang mungil, mata sipitnya, juga rambut coklat yang agak panjang menutupi sebagian wajah gagahnya. Enam hari sudah aku menunggunya, besok adalah kepulanganku, dan hari ini, aku akan ke pengadilan agama. Mengucapkan perpisahan untuk terakhir kalinya sebagai seorang istri yang tidak diakuinya lagi.
Selama ini, aku telah menjadi istri yang buruk!
Aku tidak percaya! Sungguh aku tidak percaya! Tidak percaya bahwa keajaiban itu seketika datang, mata Natan yang dahulu cerah, kini cekung dan kuyu, dia tetiba membuka mata lalu menemukanku berdiri hendak menghapus namanya dari hidupku. Dan, aku pun terhenti. Menatapnya sendu.
"Ini bukan mimpi, Natan. Aku di sini. Seperti yang aku bilang dulu, kalo kamu berhenti minum, aku akan kembali." Aku patah-patah menyentuh tangan ringkih yang memucat itu. Dia menangis. Aku pun segera memanggil dokter. Katanya, kondisinya mulai stabil. Kata beliau Natan kini memiliki keinginan hidup yang meningkat drastis.
Dia melihat perubahanku seperti di awal bertemu, rambut minyak kemiri, hanya memakai bedak tabur kuno di wajah, muka yang ditumbuhi satu dua jerawat, dengan kulit agak mengkilap dan terpapar sinar. Juga pakaianku yang lusuh, kemeja kotak-kotak tidak disetrika dan celana jeans. Sedang, gaun hitam selutut yang menjadi mode kesukaan Natan pun sudah tidak ada lagi.
Dan.
Dugaanku ternyata keliru.
Dia malah bernostalgia.
Natan pun makan dengan lahap setelah dua bulan lamanya berpuasa. Biasanya dia hanya mendapat asupan melalui belalai infus. Aku menyuapinya, dia yang memintanya. Juga kusuguhkan air mineral yang kukasih sedotan. Dia. Seperti tidak mengingat dua tahun lalu. Kalau kami sudah berpisah.
"Ini bukan minyak tanah, kok," candaku untuk pertamakalinya setelah hari itu, mengingat insiden dahulu, awal aku mengenalnya. Natan tertawa cerah. Dia pun maju memelukku manja, seperti tidak akan pernah melepaskannya. Ya Allah, bisakah kami berpisah setelah semua ini? Waktuku sisa satu hari!
"Kupikir kamu meninggal, Ri! Gempa, tsunami dan likuifaksi," bisiknya terisak. Tubuhnya gemetar ketakutan. Aku pun mengelusnya, menenangkannya.
__ADS_1
Kulirik Mimi menatap tajam di pojok ruangan. Ia pun terisak dan keluar menemani Juni. Di dalam pelukan Natan aku memberanikan diri bertanya tentang masalah kami dahulu.
"Dulu, waktu kita bersama, kira-kira aku salah apa?" Aku terdiam. Merangkai kata yang tepat untuk tidak menyakitinya. "Terus kamu minum."
Kudengar Natan terisak. Aku tahu dia cengeng. Sekarang pun begitu. "Kamu tidak salah. Akulah yang salah, memaksamu mencintaiku. Untuk melupakannya. Aku melanggar janjiku. Aku minum. Minum untuk melupakan kalo kamu tidak mencintaiku. Selama aku jadi suamimu, aku bahagia sendiri, dan jatuh cinta sendiri...."
Benarkah seperti itu? Benarkah selama ini Natan beranggapan aku tidak pernah mencintainya?
"Dari mana kamu tahu, kalo aku tidak mencintaimu?"
"Juni. Juni mengirimkanku bukti-bukti."
Aku terdiam lama. Lalu menarik napas, "Apa alasanmu membunuh Cambollong, kucing hitam kesayanganku dan Juni, lalu meneror Juni?"
"Aku tidak sengaja menabraknya. Aku meneror Juni biar dia berhenti mendekatimu."
Natan diam. Mengelus rambutku. Tidak menjawab. Aku pun mengulangi pertanyaanku. Tapi, tak dijawabnya. Aku pun beranjak, melepas rengkuhannya, tapi dia terus melingkarkan kedua tangannya begitu erat. Dia pun menghela napas.
"Karena itulah yang terbaik. Mimpiku dan mimpimu."
"Apa maksudmu?" Aku langsung melepas rengkuhan Natan dengan kuat, lalu tajam menatapnya. Melupakan kondisinya yang begitu lemah.
"Mimi kembali. Itu adalah mimpiku. Sedang, Juni adalah mimpimu. Kamu paham maksudku?"
"Jadi, kamu ingin aku bersama Juni, dan kamu bersama Mimi?" tanyaku meminta penjelasan.
"Awalnya seperti itu. Tapi, aku ternyata tidak bisa melepaskanmu. Karena itu aku minum untuk melupakanmu. Lalu aku berakhir seperti ini, kamu ada dipelukanku. Tidak pernah aku merasa sebahagia ini." Dia tersenyum pucat. "Kamu ... wanita pertama yang membuatku ingin menjadi lebih baik."
Aku terdiam. Lalu, angkat bicara, "Apa, sih, yang membuatmu berpikir aku mencintai Juni?"
__ADS_1
Natan terdiam lamat. Dia menunjuk di bawah kasur. Aku menemukan kotak hitam yang berdebu. Sumber kesakitannya selama ini.
Aku pun membukanya. Lalu menangis. Kudapati fotoku bersama Juni sedang berangkulan mesra. Tanganku gemetar. Dan foto ini tampak nyata. Kami seperti suami istri.
"Kamu melakukannya, dengan Juni." Natan tertunduk dalam. Matanya berkaca-kaca.
"Kamu percaya dengan foto-foto ini? Ini, tuh, fitnah!"
"Fitnah?"
Aku mengangguk, "Aku bersumpah tidak pernah melakukan ini! Mana mungkin seorang istri bisa melakukan hal seperti ini dengan laki-laki lain? Bahkan Juni sekalipun tidak pernah memegang tanganku atau menyentuh rambutku!" Nada suaraku meninggi. "Kenapa tidak pernah bertanya? Siapa yang memberikanmu foto-foto ini? Juni?"
Natan diam. Sorot matanya begitu sedih, kecewa, marah, dia masih tidak menjawab. Dan aku tahu siapa itu?
Aku menaruh ranselku di dekat kasurnya, "Mau kemana?" tanyanya.
"Aku hanya punya waktu satu minggu, Nat. Dan besok aku pulang. Aku—"
Natan menggeleng, "Tidak mau!" teriaknya seperti anak kecil. Mimi dan Juni pun masuk. "Kamu harus di sini!" bentaknya.
"Aku tidak bisa kembali, kamu sudah punya Mimi...." Aku menenangkannya. Entah itu kalimat terberat yang pernah meluncur dari bibirku yang bergetar. Aku mengacak rambutnya. "Menikahlah segera. Dan tuntaskan urusan kita." Aku memalingkan wajah tidak ingin melihatnya. Tanganku pun ditariknya, sehingga aku jatuh terduduk di sampingnya.
"Natan, kamu pilih dia atau aku?!" Mimi menggigit bibirnya berseru. Dia menatap Natan sambil menangis. Lagi-lagi aku dihadapkan situasi rumit seperti ini.
Aku berembus berat, "Pilih Mimi saja. Aku ingin kembali." Kembali mendedikasikan diri untuk masyarakat, mereka membutuhkanku, biarkanlah aku menyendiri sampai di ujung hari, asal orang-orang di luar sana juga berbahagia, toh, aku juga pernah merasakannya. Untuk lamaran Juni enam hari yang lalu, aku belum tahu. Biarlah waktu yang mengarungi hati barangkali ia bisa tertambat dan menemukan Juni. Ataukah Lolo, anak Bajo dengan cita-cita tinggi. Tapi kini, aku masih terlalu takut untuk menyusuri lautan rumah tangga lagi.
__ADS_1