Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta

Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta
Pilih Saja Mimi, Aku Ingin Kembali!


__ADS_3

                                                    



Aku berembus berat, "Pilih Mimi saja. Aku ingin kembali." Kembali mendedikasikan diri untuk masyarakat, mereka membutuhkanku, biarkanlah aku menyendiri sampai di ujung hari, asal orang-orang di luar sana juga berbahagia, toh, aku juga pernah merasakannya. Untuk lamaran Juni enam hari yang lalu, aku belum tahu. Biarlah waktu yang mengarungi hati barangkali ia bisa tertambat dan menemukan Juni. Ataukah Lolo, anak Bajo dengan cita-cita tinggi. Tapi kini, aku masih terlalu takut untuk menyusuri lautan rumah tangga lagi.


Natan maju memegangi pipiku. Aku pun terbangun dari pikiranku, "Nariswari Ola, kamu mencintaiku?" Natan berat bertanya. Empat tahun lamanya kami menikah. Dan aku harus menjawab apa ketika ditanya seperti ini? Kulihat Natan tidak melirik Mimi, Mimi pun tampak begitu tersinggung. "Apa kamu mencintaiku?!" teriaknya menerawang sinar mataku.


"Aku... aku...."


"Dia mencintaimu, ****!" Juni maju dan berteriak.


"Bukan kamu yang kutanya!"


"Awas saja kalo sudah sembuh!" Juni menatap dingin, mengepal tangannya. "Dengar bocah *****. Aku tidak pernah menemukan perempuan yang begitu mencintai suaminya. Meskipun suaminya sudah selingkuh seenak dengkulnya. Dia tetap membantunya dan mengingatkan si pelakor, agar suaminya jangan minum lagi, agar suaminya segera menikahi pelakor, dan menceraikan dirinya. Bahkan sebelum itu, saat perusahaan suaminya kolaps, sebelum dia pergi, dia memohon pada teman-temannya untuk mempertahankan kerjasama perusahaan, bahkan sampai memintaku ikut menolongnya. Memakai nama perusahaan temanku untuk membantunya agar si pelakor tidak meninggalkannya karena dia bangkrut. Lalu setelah itu dia masih menanyakan kabarnya? Dan mengikhlaskan suaminya menikah dengan pelakor. Apa itu masih belum jelas?"


Aku terdiam menunduk. Menatap Juni. Ini pertamakalinya aku mendengar dia berbicara banyak. Lalu kulirik Natan tak berkedip. Dia diam.


"Biar aku perjelas. Akulah yang membuat perusahaanmu kolaps di awal pernikahan kalian, itulah balasan karena telah menerorku. Tapi, setelah bangkrut, apa Nariswari meninggalkanmu? Tidak, kan? Dia tetap setia di sampingmu. Terus, saat kamu sakit, overdosis alkohol. Lalu kamu melakukan KDRT, dia juga memilih bertahan, hingga kamu membawa wanita lain, dan dia tidak punya alasan lain untuk bertahan."


"Kamu sudah mengambil seluruh hidupnya, dan kamu masih menanyakan hal sebodoh itu?"


"Dasar *****!"


"Dia selalu ada saat kamu sehat, sakit, kaya, maupun miskin. Tapi, dia tidak bisa lagi bertahan saat kamu membawa pulang wanita lain."


Natan mematung. Wajah pucatnya merah. Kembali memelukku. Aku diam menangis, Natan pun juga, hingga membasahi baju kemejaku.


"Kalo kamu mengulangi kesalahan lagi, akan kubawa Nariswari pergi, ingat itu!" Juni pun keluar. Juni begitu berbeda. Dia ternyata begitu peduli. Aku bahagia mengenalnya. Mimi pun terisak lalu berlari keluar.


Kesalahan Natan begitu besar. Sangat besar. Sampai aku tidak punya alasan lagi untuk memaafkannya. Tapi, kalau Allah saja mau memaafkan dosa hambanya. Kenapa manusia tidak?


Dengan sangat terpaksa, aku belajar memaafkannya. Meskipun kenangan itu masih terbayang sampai akhir.

__ADS_1


Mengenai Juni yang baik hati, nyatanya dia hanya ingin memperbaiki apa yang telah ia rusak, ia memberitahuku diam-diam, bahwa dialah dalang dari babak belurnya rumah tanggaku. Aku sangat marah karenanya. Karena itulah dia pergi, dan aku belajar memaafkannya. Bahwasanya, dia suka mengumpulkan bukti berupa foto, rekaman, video saat aku bersamanya untuk menjadi barang bukti pembalasan dendam, juga sengaja menemuiku di Jogja, sengaja membuat seolah-olah terjadi sesuatu antara aku dan dia. Untuk foto fitnah itu, yang menggoncangkan jiwa Natan, memang Juni yang memberikannya ke Mimi, atas permintaan Mimi, dan Mimilah yang mengedit habis-habisan foto-foto itu. Dan kembalinya Mimi lagi-lagi ada hubungannya dengan Juni. Juni memanas-manasi Mimi.


Entah kenapa takdir membawaku di tengah-tengah mereka, yang disibukkan dengan aksi balas dendam?


Aku tidak tahu Juni selicik itu. Tapi, sebenarnya dia baik. Dan kini dia sadar akan kesalahannya. Dia sadar saat melihat kesungguhanku bersama Natan. Yang akhirnya ia memutuskan untuk memperbaiki apa yang telah dia rusak, padahal awalnya dia begitu ingin memisahkan kami, dengan ending Mimi kembali bersama Natan, dan aku bersamanya. Tapi, takdir berkata lain. Ada sang Maha pemilik hati yang membolak-balikkan hati. Menyulap hati kecil Juni untuk menemukan cahaya.


Sedang, aku tidak tahu lagi kabar Mimi.


Dan mengenai Natan, sampai sekarang aku masih belum bisa mengatakan kalau aku mencintai Natan, mungkin kapan-kapan aku harus belajar caranya—kalau aku ingat dan berhenti alergi dari adegan romantis.


***


"Aku tidak pernah mendengar kamu ingin punya anak. Apa aku yang bolot?"


Natan menggeleng, "Iya. Aku memang tidak pernah bilang mau."


"Kenapa?" tanyaku khawatir.


"Kalau kita punya anak. Kamu akan lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya. Cintamu akan terbagi. Dan aku akan cemburu."


Natan mengangguk polos. Menatapku. Aku menelan ludah. Ujian baru akan tiba. Aku masih harus banyak belajar dari kisi-kisi kehidupan.


"Kamu tidak bahagia kalo kita punya anak?"


Natan diam. Memandang kikuk. Tampaknya dia bingung menjawab apa agar aku bisa bahagia. Dan aku bisa menerawang dari sinar matanya. Aku pun menepuk-nepuk perut. Menghela napas berat.


"Tampaknya Papamu tidak mencintaimu, Nak! Dia aneh! Ayok kita ke Goa Kreo, biar kita tinggal di goa, hidup bersama monyet-monyet, makan pisang dan minum air hujan. Mama rasa, monyet-monyet di sana lebih pintar dan akan mencintai kita."


Natan melongo. Aku pun beranjak ke kamar. Mengemas baju-bajuku. Natan berlari menyusul. Dan mencegatku. Segera menutup lemari, dan memunggunginya.


"Mau kemana?"


"Goa Kreo. Yang kutahu monyet di sana. Akan menyayangi anakku seperti anaknya sendiri. Kamu lihat novel fiksi tarzan, dan cerita based on true, tentang anak-anak manusia yang diasuh serigala, anjing, dan monyet."

__ADS_1


Natan menggeleng, "Kamu marah, ya?" Muka Natan penuh rasa bersalah.


Aku pun tertawa. Berhasil membullynya, "Serius amat, sih! Amat aja gak serius. Aku, kan, hanya bercanda!" Kamu memang aneh! Kamu mungkin, satu-satunya suami di muka bumi yang tidak bahagia kalau punya anak.


Natan langsung jatuh terduduk. Bernapas lega.


"Tapi, kalo kamu gak mencintai anak kita, aku mungkin melakukan itu?"


"Hah?"


Aku tersenyum. Lalu mengelus perutku, "Anakku nanti harus mirip Papanya."


"Tidak boleh! Tidak mau! Biar dia mirip kamu saja, biar aku suka melihatnya, karena aku benci melihat wajahku."


Lebay! Padahal, salah satu alasan aku menikahi Natan, untuk memperbaiki keturunan. Ya, Allah semoga anakku, wajahnya seperti Papanya. Dan sifat kuatnya melebihi Mamanya. Aku berdoa dalam hati.


"Dia nanti akan berlatih bela diri," kataku mantap. Mempraktekkan jurus Wing Chun seperti omnya. Keenan Juni.


Mata Natan membulat, "Kenapa? Kalo dia perempuan. Nanti dia bisa jadi mafia sepertimu, yang nanti aku pun kena pukul."


Aku tertawa. Baru kali ini Natan berhasil membuliku—sepertinya dia ketularan aku. Aku pun memandang tegas, "Biar dia tidak diganggu sama cowok modus sepertimu. Karena dia cantik—seperti kamu, Natan, dan harus kuat seperti aku."


Natan pun mengangguk. Kutangkap sinar matanya. Sudah sedikit berubah. Setidaknya ia sudah rela membiarkan anggota baru yang adalah anaknya sendiri hadir di antara kita.


Natan pun melirik, "Memangnya kamu hamil?"


"Belum!"


Natan pun tertawa. "Bodoh!"


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2