
Aku menggoncangkan tubuh laki-laki itu. “Nat-Natan! Bangun!”
“Kenapa?” tanya laki-laki dengan suara payah dan mata masih terpejam.”udah mau lahiran, ya?”
“Bodoh! Lahiran apa? Usianya kan masih 14 minggu.”
“Oh, syukurlah!” Dia kembali memeluk guling kesayangannya.
“Bangun. Ih!” Aku pun mencubit hidungnya. Dia membuka mulutnya, dan hanya bisa bernapas lewat mulut, aku lalu menguncinya dengan tanganku. Setelah lelah menahan napas. Akhirnya dia bangun. Mengembus napas kesal.
“Aku ngidam,” seruku berbinar.
“Apa itu?” Natan bertanya parau.
“Ih, ngidam itu keinginan kuat dari bayi, misalnya pengen makan yang asam-asam.”
“Apa? Nariswari mau makan apa?”
“Kelapa muda.”
“Oalah cuma itu, aku WA Pak Surip dulu biar dibeliin kelapa muda dini hari. Ayam jago saja belum bangun, Nar,” keluh Natan.
Aku menggeleng kuat. “Bukan, bukan itu!”
“Yang kemasan?”
“Bukan juga!” Aku menatapnya. “Aku pengen makan kelapa muda di pulau komodo.”
“Apa? Pulau komodo?” Mata Natan langsung membelalak. “Ini dini hari loh, Nar. Jangan bercanda!”
“Aku serius, Nat.” Aku berkomentar, lalu mendekap tangannya. Mengangguk manja. “Ya-ya-ya?”
“Ta-tapi aku ada rapat penting hari ini. Mungkin sampai besok atau besoknya.”
“Apa rapatnya sampai beberapa bulan ke depan sampai bayinya lahir? Jangan banyak alasan deh, Nat! Aku tahu kok materi rapatnya sudah siap dan bisa diwakilkan kapan pun kau mau. Kalo kamu gak bisa. Aku bisa kok pergi sendirian!”
“Hamil-hamil kamu mau pergi sendirian, jangankan pas hamil, saat gak hamil pun bakal kularang!”
“Terus? Ini keinginan bayimu, loh.” Aku lebih erat menggenggam tangannya yang hangat.
“Yasudah … tapi apa gak papa naik pesawat? Kamu kan lagi hamil.” Dia berkomentar. Mungkin lagi-lagi mencari alasan.
“Gak papa, usia segini, mualnya sudah berkurang, lagian aku sudah dapat surat dokter sedari kemarin. Aku sudah urus dari kemarin tahu. Dan hari ini, aku sudah tidak bisa menahannya. Aku kebelet banget, Nat.”
__ADS_1
“Wah, mantap! Kamu sudah merencanakannya dengan baik.” Natan bertepuk tangan. Mungkin sedang menggodaku.
***
Semarang to Komodo National Park
Tidak pake lama, setelah Natan mengangguk setuju untuk ke Pulau Komodo, aku sudah memesan tiket secara online melalui website resmi. Dan siang ini juga kami akan berangkat! Sedang Natan amat syok. Kini dia kebingungan harus membawa apa dengan waktu singkat dan dadakan ini. Maafkan aku, Natan!
Pulau Komodo. Terletak di Labuan Bajo, NTT. Kalian tahu, aku juga baru tahu kalau pulau komodo ini berada di kepulauan Nusa Tenggara Timur, yang perbedaan waktunya satu jam lebih cepat dari kota Semarang.
Dari kota Semarang ke Labuan Bajo, sekitar 3 jam setengah perjalanan menggunakan pesawat. Aku sengaja memesan tiket ekonomi dengan maskapai yang paling murah. Dan, sekarang Natan sedang merengut karena harus menggunakan fasilitas serba ekonomi.
“Biar lebih romantis, Nat,” jawabku santai menyandarkan kepalaku ke pundaknya. Dia hanya mengangguk pelan pasrah.
Waktu kami tiba, hari sudah senja, aku sudah memesan resort. Kalau untuk penginapan, servisnya cukup berbeda. Aku sengaja memesan salah satu resort yang paling mahal, dengan biaya 5 juta lebih permalamnya. Yang viewnya menghadap langsung ke laut. Untuk yang satu ini, aku tidak bisa main-main, soalnya Natan tidak akan bisa tidur di hotel murah yang serampangan.
Aku tidak sabar membayangkan naik ferry menyusuri lautan selama 2 setengah jam untuk menemui hewan purba itu! Kalau di kampungku, komodo itu seperti pararang atau biawak tapi lebih jumbo.
“Wah, sunsetnya keren, Nar.” Natan menarikku keluar menikmati view pantai dan pohon-pohon kelapa dengan semburat matahari berwarna oranye yang menyelimuti barat. Natan mengambil hpnya lalu mengajakku berfoto.
“Kok, aku gak lihat komodo, ya?”
“Kan, komodonya di pulau komodo, bukan di resort.” Natan menjentik jidatku.
“Oh, iya-ya kenapa aku jadi lupa ingatan?” Aku menggaruk kepala. Tertawa.
***
Paginya, aku sudah selesai siap-siap dan berdandan cantik untuk komodo. Eh, maksudnya untuk Natan hehehe, sambil menarik selimut Natan untuk membangunkannya, aku masih saja suka memerhatikan desain eklusif interior kamar, dengan lampu-lampu kuning temaram dan cat-cat putih finishing, bermaterialkan material lokal seperti kayu, bambu dan ijuk.
“Papa Natan, bangun!”
“Kenapa?”
“Ya, emangnya kenapa? Sana mandi! Siap-siap, emangnya kita ke sini cuma buat tidur-tiduran?”
“Emang buat tidur, kan,” sahutnya sambil tersenyum.
“Kalo gak mau bangun, aku seret ke laut nih!”
“Coba saja.”
Aku langsung menarik kuat kaki Natan yang putih dan banyak bulu itu. Dia pun mengalah. Lalu bangun. “Emang jam berapa sekarang?” Dia mengucek mata.
“Jam 05.30.”
__ADS_1
“Hah? Itu kan masih pagi banget!”
“Kan kita bisa lihat sunrise, jarang kan kita lihat beginian di Semarang. Oh, ya kalo gitu gak usah mandi!” Aku lalu menariknya.
“Eh, tunggu-tunggu!” Dia bangkit dari atas kasur lalu menunjuk ke arahku.
“Kenapa?” Aku segera memerhatikan pakaianku.
“Gak. Kamu kok sudah cantik.”
Aku tersenyum, sejenak merona. “Emang biasanya jelek? Buluk.”
Tanpa ba-bi-bu, Natan langsung menarikku ke luar menikmati sunrise di pesisir pantai. Bahkan kami berlarian, saling tangkap seperti anak kecil.
***
Pulau komodo. Naik ferry menyusuri lautan biru selama 2 setengah jam untuk menemui hewan purba itu. Komodo. Sepoi-sepoi angin menari-nari membawa lari anak rambut kami, sesekali kecipuk air laut menghinggapi kami. Aku menurunkan tangan untuk bisa merasakan lembutnya air laut ini. Sedang Natan sepertinya sedang mabuk laut. Senyumku yang mengambang. Lalu, tenggelam. Aku menatap hamparan air biru itu. Laut biru. Bajo. Suku Bajo. Lolo. Apa kabar kau di sana?
Setelah Ferry berlabuh, kami bersama ranger atau pemandu atau pawang komodo ini memandu jalan kami, menyusuri pulau warisan UNESCO ini. “Nat, itu biawaknya kelihatan!” seruku sambil melompat. Para pelancong berbalik menatap. Langsung aku ditegur sama beberapa ranger, termasuk ranger kami.
“Mba, di sini tidak boleh teriak, apalagi kalo ada komodonya, lagian itu komodo, Mba. Bukan biawak.” Ranger kami berkomentar tampak kesal. Aku tersenyum kaku.
“Maaf ya, Pak. Istri saya lagi hamil. Jadinya excited banget.” Natan memegang tanganku lalu kami kembali berjalan. Aku hanya senyum-senyum. Banyak aturan di sini!
Natan pun berbisik, harusnya aku tidak berteriak apapun itu yang sifatnya membuat kegaduhan, karena bisa mengganggu makhluk purba yang hanya ada di Indonesia ini, bisa-bisa aku menjadi mangsanya katanya, karena itu kita harus berjalan bersama-sama, menjaga jarak dari komodo sekitar 3-5 meter, tidak mengayunkan botol, tas, karena mereka akan menganggap kita akan memberi makan, tapi di sini, kita tidak boleh memberinya makan, karena bisa jadi kitalah yang akan dimangsa, makhluk reptil berdarah dingin yang mirip monster gozila ini juga sangat sensitif sama darah mens, atau dia juga begitu sensitif kalau sarang telurnya di dalam tanah diganggu.
“Wah, kamu tahu banyak, Nat!”
“Iya, sebelumnya aku sudah cari tahu.”
“Saya jadi gak usah jelaskan ya, Mba. Sudah dijelasin Masnya. Oh, iya satu hal. Jangan membawa sesuatu dari pulau ini, ya. Agar kelestarian hewan purba ini tetap terjaga. Juga, jangan merokok, membuang sampah sembarangan, dan membawa barang yang berbau tajam.”
“Ih, jijik banget. Tuh, liurnya keluar.” Natan berbisik memotong penjelasan ranger.
Aku tertawa. “Lucunya.”
“Lucu dari mana, tuh lidahnya keluar. Hih.” Natan semakin menggenggam erat tanganku.
“Lucu. Lucu, mirip Natan Brian.”
Natan tersenyum. “Aku baru tahu, selama ini kamu mencintai biawak.”
“Komodo!”
Natan segera menutup mulutku agar berhenti berteriak. Rombongan lagi-lagi melirik sinis kami. Natan pun segera minta maaf ke mereka. Mengatakan kalau ini sering terjadi sama wanita hamil. Aku hanya tersenyum. Natan banyak berubah!
__ADS_1