Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta

Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta
Hamil yang Menyedihkan 2


__ADS_3

                                             



Aku tidak akan pernah melupakan kejadian itu! Tidak akan pernah! Aku hanya bisa meringkuk di kasur, sembari memeluk lutut. Mengingat kejadian kemarin begitu membuatku jeri. Ini pertama kalinya setelah sekian lama, dia memandang dengan tajam. Tatapannya yang selalu lembut yang disuguhkannya setiap hari. Waktu meminta permintaan ngidamku yang aneh. Dia menatap dengan dingin. Dan aku seketika takut! Kayak bukan aku! Kayak bukan Natan yang kukenal, kalau dulu dia kehilangan kontrol karena dia mabuk, tapi … ini dia sadar!


Aku pun tertunduk, memalingkan muka. Tak sanggup melihatnya. Aku menyerah. Aku ingin … aku begitu ingin, aku ingin ….


“Aku pengen banget ketemu sama Juni.”


“Aku pengen banget ketemu sama Juni.”


Aku menatapnya penuh harap lalu membisu. Karena seketika wajah teduh Natan itu berubah. Berubah. Tidak ada lagi raut wajah menyenangkan dari dirinya. Dia memandang tajam. Terdiam. Bibirnya yang mungil bergerak. “Lebih baik kamu tusuk aku pake panahmu ketimbang membiarkan kamu bertemu Juni!” Natan lalu menyerahkan kembali busur dan anak panah yang diambilnya. Lalu beranjak pergi seperti ingin membiarkanku sendiri dalam kebodohon.


“Tapi, ini keinginan bayimu!”


“Sudahlah! Berhenti bawa-bawa bayi itu, dia ngerti apa? Kenapa juga harus ketemu Juni?”


“Aku tidak tahu, Natan! Itulah yang paling aku inginkan.”


“Jelas diam-diam kamu merindukannya, kan?” Dia mengacungkan tangan menunjukku. “Jadi, makan kelapa muda di pulau komodo itu cuma pura-pura, ya?” tanyanya kejam menghakimi.


“A-aku tidak mau makan!”


“Kalo begitu, sama!” seru laki-laki melankolis itu pergi.

__ADS_1


Aku menitikkan air mata. Aku begitu terpukul! Aku tak tahu kenapa harus Juni? Kenapa harus merindukan Juni. Aku betul-betul ingin melihatnya, aku betul-betul ingin mendengar suaranya yang serak dan pelan ketika berbicara. Kenapa tidak boleh? Juni kan saudaranya sendiri!


Hari sudah senja. Aku tidak akan masuk ke rumah. Aku memegang perut. Rasanya lapar sekali. Sayangnya, aku tidak ada nafsu makan, ditambah sikap Natan yang seenaknya. Aku pun berbaring di gazebo sambil mengelus perutku yang membuncit. Harusnya aku tetap memaksa makan agar nutrisi bayi ini tetap terpenuhi, tapi egoku sama Natan terlalu tinggi. Lihat siapa di antara kita yang akan mengalah!


***


“Pagi-pagi sekali Pak Natan sudah ke kantor, Bu. Tadi bapak cuma berpesan, Ibu diminta makan ini, sup ikan salmon, kalo gak ya, Bu Lastri bakal suapin.”


“Biar saya makan sendiri, Bu. Oh iya, kenapa saya bisa di atas kasur? Bukannya saya kemarin tidur di gazebo?”


“Malam-malam, Pak Natan diam-diam menggendong Ibu ke kamar,” jawab Bu Lastri tertunduk.


Aku pun mengangguk terharu, meskipun kita bertengkar seperti layaknya pasangan suami istri lainnya, tapi Natan masih begitu peduli. Jika dia mementingkan egonya tentu saja dia membiarkanku tidur di luar. Kali ini, Natan mengalah lagi!


Aku memandang cahaya temaram dari langit yang pekat. Sudah jam 9 malam, tapi Natan belum pulang juga, dia tidak menghubungiku. Apa jangan-jangan Natan?! Ah, tidak! Mana mungkin! Aku berani bersumpah dia tidak akan selingkuh seperti dulu lagi, apalagi aku hamil anaknya. Tapi … tapi. Tapi bagaimana kalau dia minum lagi? Ah, semoga saja dia tidak melakukannya! Kalau gitu aku harus melakukan sesuatu!


Aku pun bergegas naik ke atas di kasur. Menghubungi Natan lewat pesan singkat di WA, kalau aku lagi sakit. Kalau untuk berekting sakit, aku sudah lihai sejak kecil, lagipula dulu aku adalah anak teater saat kuliah. Semoga saja dengan ini, dia luluh! Lupakan saja soal Juni. Aku harus membuat badanku seolah-olah demam dan sakit. Juga, bibir dan wajahku kubuat pucat dengan make up. Kita lihat apa yang akan dilakukan Natan!


“Ah, aku membangunkanmu, ya?” Natan bertanya. Aku membuka mata saat dia memegang dahiku. Bodoh! Aku tertidur. “Maaf, tadi aku harus ke Bandung dan rencana menginap karena ada kerjaan. Tapi, langsung balik pas kamu kirim pesan. Uhm, kamu sudah makan? Sudah minum obat?”


Aku berhasil! Aku berhasil meluluhkannya! Aku hanya mengangguk kecil. Tersenyum tipis. Lalu menyuruhnya istirahat. Pasti dia sangat kelelahan. Dari Bandung ke Semarang kan 5,5 jam. Maaf!


Natan tidak mengganti pakaiannya. Dia hanya menaruh tas kerjanya di meja, lalu merebahkan dirinya di samping sambil mendekapku. Dan aku hanya menutup mata, pura-pura tertidur meskipun otakku tetap terjaga. Aku gak tahu perasaan apa ini! Kenapa aku merasa tertantang karena saling bertengkar? Padahal impian setiap wanita setelah pernikahan, rumah tangganya baik-baik saja, penuh cinta. Tapi, kenapa aku terkadang mulai merasa jenuh dengan semua itu! Haruskah begini? Haruskah kita bertengkar seperti ini?!


Maafkan aku! Maafkan aku, Natan! Untung kamu pulang baik-baik saja. Aku pun melirik jam dinding berwarna putih polos, lalu menghitung mundur. Ya Tuhan! Aku menutup mulut tak percaya! Natan pastilah ngebut! Dia lebih cepat 1 jam dari perkiraan perjalanan darat! Maafkan aku! Maafkan aku! Terima kasih, kamu baik-baik saja!

__ADS_1


***


Apa yang kurencanakan tidak berakhir bahagia! Natan sakit! Semenjak dari Bandung, dia hanya bisa meringkuk di kasur, sesekali mengambil tabletnya untuk menghubungi orang-orang di kantor. Aku pun merasa bersalah soal ini.


“Kamu sudah baikan, Nariswari?” tanyanya seketika saat kubangunkan untuk sarapan. Suaranya terdengar parau.


Aku mengangguk sembari membawakannya bubur ayam. Lalu duduk di depannya sembari menyuapkannya. Dia tersenyum. Seolah-olah melupakan kejadian kemarin. Aku bingung, apakah harus minta maaf? Tapi bisa gawat kalau dia tahu yang kemarin cuma akal-akalanku saja!


Aku memberikannya air minum yang telah diberi sedotan, dia pun menyedot air sembari memegang tanganku, lagi-lagi dia tersenyum, wajahnya yang putih pucat namun tampan seperti bintang film itu pun komentar. “Minyak tanah?”


“Hah? Minyak tanah?” Mataku terbelalak.


“Ini minyak tanah?”


Aku pun merengut. “Kalo kamu mengejekku lagi, aku gak mau nyuapin kamu lagi.”


“Iya-iya, hanya bercanda. Soalnya selalu ingat kejadian itu. Insiden minyak tanah hehehe.”


Aku hanya mengangguk. Menatapnya pagi ini tertawa lepas sudah cukup membuatku bahagia, biarlah mengidam anehku ini kutelan kuat-kuat. Harusnya aku ingat, kalau Natan tetaplah Natan, suami pencemburu stadium 4. Tidak akan pernah berubah! Bisa babak belur rumah tangga ini jika ada orang ketiga, meskipun itu sepupunya sendiri!


“Makasih ya, Nariswari.” Dia bangkit kemudian mengecup pipiku, lalu menarikku. Menuju ruang tamu, pelan-pelan aku membantunya menuruni anak tangga. Aku tak tahu dia mau mengajakku keluar rumah untuk apa, toh, dia masih sakit.


Aku pun terhenti. Memandang bulat. Bibirku bergerak. Mataku terbelalak. Apa yang kulihat bukanlah mimpi. Aku memandang Natan. Ini?! Ini?! Ini beneran? Dia pun melihatku, wajahnya yang kaku dan tampak tidak tulus itu tersenyum kemudian menarikku di sofa.


Di depannya yang hanya berjarak dua meter duduk seorang Juni menunggu kami. Juni. Iya Juni. Cinta pertamaku!

__ADS_1


 


 


__ADS_2