Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta

Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta
Hamil yang Menyedihkan


__ADS_3


“Ini makanan kesukaanmu, gak dimakan lagi, ya?”


Aku menggeleng lemah. Sambil mengelus perut. Setiap kali mencium bau gurame bakar, terong tumis, dan sambal mangga ini rasanya ingin muntah, bahkan bau bawang kusukaanku, langsung auto muntah. Rasanya aku hanya akan makan buah dan rujak. Natan memandangku prihatin.


“Kalo makanmu gak teratur gitu, bisa sakit loh.”


“Lha, gimana? Aku gak bisa nyium baunya!” Suaraku meninggi.


“Harusnya gak usah cepet-cepet hamil kalo gitu,” jawabnya lirih.


Aku terhenti, lalu menghamburkan buah yang tersusun cantik di keranjang. Dia kaget. Aku berlari ke kamar. Entahlah. Kesal sekali! Kesal sekali! Apa ini yang dinamai perubahan hormon seperti di artikel yang kubaca? Atau memang dia suami yang menyebalkan, mencari gara-gara terus! Sejak aku tahu kalau hamil 3 hari yang lalu, hubungan kami jadi bersitegang. Ditambah perubahan tubuh yang aneh, sering mual, muntah, dan cepat emosi.


“Nariswari, aku minta maaf.” Natan mendekat saat aku membaca buku parenting di atas kasur putih. Aku hanya berdeham. “Aku cuma butuh waktu.”


“Berapa lama?” tanyaku jutek sambil membalik lembar baru.


“Uhm ….”


“Setahun? Atau sampai anak ini lahir? Atau, sampai batas waktu yang tidak ditentukan?”


“Eee … itu.”


“Sudahlah, Nat! Mungkin sebagai istrimu, aku harus sabar, berjuang hamil dan melahirkan sendiri.”


“Kamu yakin akan melahirkan? Itu kan sakit sekali.”


“Iya, kau benar. Sakit sekali rasanya seperti 20 tulang patah bersamaan, tidak hanya itu, rahim ini akan mengembang 500 kali lipat dari ukuran normal. Terus aku akan kehilangan darah sebanyak 500 ml atau setengah liter. Badan manusia juga hanya mampu menanggung rasa sakit hingga 45 Del. Tetapi selama bersalin, aku akan mengalami hingga 57 Del.”


“Dan kamu mau melakukan itu semua?” Natan menatapku sendu.


“Kenapa tidak?”


“Aku hanya tidak mau kehilangan kamu.”


“Ibu tidak akan mati karena melahirkan, ia meninggal karena ajal.”


“Aku tidak bisa menerima anak itu jika dia mengambil hidupmu.”


“Natan. Natan Brian. Berhentilah bersikap anak-anak! Sebentar lagi, kamu akan jadi seorang ayah.”

__ADS_1


“Aku belum siap.”


Entah aku benci sekali mendengar kalimat bimbang itu. “Dasar laki-laki! Berani berbuat, tapi gak mau bertanggung jawab! Sana pergi!” Aku menutup hidung. “Dari tadi aku tersiksa sama wangi parfummu, bikinku mau muntah.” Akhirnya mengeluarkan unek-unek yang sedari tadi kutahan. Apa ini pengaruh hormon juga? Wangi Natan yang selama ini menjadi aroma favoritku kini berubah menjadi bau busuk yang begitu menyakitkan!


Natan melangkah gontai lalu menghilang. Maafkan aku!


***


[Kamu terlalu keras sama dia]


[Terus aku harus gimana? Aku belum pernah nemu kasus seperti itu. Kenapa ada suami macam dia yang gak bahagia saat istrinya hamil]


[Iya, ada tapi sedikit. Ada banyak faktor, Nar]


[Apa tuh?]


[Sebentar]


[Iya]


[Menurut di buku, karena kehamilanmu bisa jadi di luar rencana Natan, mungkin dia masih ingin pacaran, main-main, tapi harus dihadapkan kenyataan ini semua, apalagi dengan semua perubahan sikapmu selama ini, terus jadi tidak siap deh, terus dia bisa jadi takut sama tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, atau masa kecilnya memilukan, atau ia tidak ingin perhatian kamu terbagi, akan ada bayi yang dianggapnya orang lain di tengah-tengah hubungan kalian, atau dia gak punya panutan untuk menjadi ayah, atau sekarang ini kamu tidak melayaninya dengan baik, atau dia tidak tahu harus berbuat apa!]


Aku terdiam lama. Tertegun. Sepenuhnya, memang bukan salah Natan!


[Beri waktu, kalo perlu suruh dia baca buku, ungkapkan saja perasaanmu, layani dia dengan baik sebisanya, atau kalo tidak mempan juga … konseling]


[Kalo tidak mempan semua, Mba Lil?]


[Tukar tambah hehehe]


[Maksudnya?]


[Ganti suami]


Apaaa?!


Hari ini, di usia kehamilan yang minggu ke-7. Aku harus berubah. Juga Natan! Aku sudah memberinya cukup waktu, buku kemarin juga sudah dibacanya, aku harus belajar mengungkapkan perasaan, dan melayaninya dengan baik!


***


“Mau ke mana? tanyanya selidik, dia yang baru pulang kerja lebih cepat menaruh tas laptopnya di atas meja kayu jati.

__ADS_1


“Ke dokter,” jawabku sambil mencari baju yang pas di perutku.


“Buat apa?”


“Cek USG, kamu lupa?” Aku berbalik menatapnya yang kini duduk di kursi depan cermin.


“Oh itu, panggil saja dokternnya ke sini.”


“Kan alatnya gak di sini. bos!”


“Oh, iyaya.” Natan lalu bergegas mengambil jaket jeansnya.


“Kamu mau ke mana?” tanyaku balik.


“Ya ngantar kamu. Emang ke mana?”


Aku tersenyum cerah. “Serius nih?” Natan hanya mengangguk kecil. Juga tersenyum kecil.


Sekarang usianya 8 minggu. Pada minggu ini aku sudah bisa mendengar detak jantungmya. Tapi, kata dokter, ada juga ibu hamil yang usia 8 minggu, belum kedengaran. Jika degup jantung tidak terdengar di masa-masa ini, bisa ditunggu selama 12 minggu untuk dapat mendengar segala jenis suara dalam rahim dengan jelas.


USG kandungan, atau sonogram, adalah metode paling akurat dan sering digunakan oleh dokter/bidan untuk memeriksa detak jantung bayi.  Jika mama belum atau tidak menjalani USG di masa ini, maka mama mungkin dapat mendengar detak jantung pertama si buah hati lewat fetal doppler pada kunjungan prenatal rutin mama.


Dokter atau bidan mungkin dapat mendeteksi detak jantung bayi menggunakan doppler sedini 10 minggu usia kehamilan, tapi lebih sering terdengar di minggu ke-12.


Fetal doppler adalah alat ultrasound versi mini yang dapat digenggam guna menemukan detak jantung bayi. Dokter atau bidan akan melapisi perut Mama dengan dengan ultrasound gel dan menggerakkan batangan doppler di sekitar permukaan perut sampai ia menemukan tempat di mana detak jantung dapat terdeteksi.


Doppler mengirim dan menerima gelombang suara yang memantul dari jantung bayi mama. Dengan cara ini, fetal doppler membuat detak jantung bayi “menggema”, cukup keras untuk bisa ikut mendengarnya.


Detak jantung pertama si kecil akan sangat bergantung pada ukuran tubuh mama saat hamil, posisi rahim, lokasi bayi, dan keakuratan usia kehamilan Mama. Banyak perempuan yang mengatakan bahwa detak jantung bayi mereka pertama kali terdengar seperti keriuhan sekawanan kuda berderap kencang.


Denyut jantung bayi berkisar 120-160 denyut per menit, jika detak jantung yang sebenarnya bayi berada di luar rentang tersebut, bisa jadi bayi mama memiliki masalah jantung.


“Dengar, Nat! Detak jantungnya seperti kuda!”


“Iya. Kayak kamu.”


“Hah? Maksudmu aku mirip kuda?”


“Hahaha … bukan, kayak kamu pas lari, aku kejar, langkahnya kuat, suaranya keras.”


Aku tersenyum bahagia. Apakah Natan sudah bisa menerima bayinya? Papa Natan dan Mama Nariswari ….

__ADS_1


 


 


__ADS_2