Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta

Nariswari - Jalan Tol Menuju Cinta
Koma


__ADS_3


Di bandara Ahmad Yani,


Juni. Keenan Juni telah menunggu kami. Mimi pun langsung ke toilet. Sepertinya sengaja membuatku berduaan dengan Juni. Juni mendekat lalu menanyakan kabarku. Aku mengatakan baik-baik saja. Wajahnya begitu segar melihatku. Rasanya sudah lama tidak melihatnya.


Dia seperti dulu. Tidak berubah. Selalu gagah. Dahulu dia Rangga. Orang gagah. Aku memanggilnya seperti itu sebelum mengetahui namanya. Dia masih sama. Sedangkan aku? Sudah kembali seperti dulu, persis waktu pertamakali sebelum mengenal Natan. Aku yang sekarang, aktivis kemanusiaan dan alam yang sering bermandikan hujan, keringat, dan terik. Mungkin Natan sekarang tidak mengenaliku. Bahkan Mimi sampai memicingkan mata melihatku, mungkin berpikir lucu kenapa makhluk sepertiku bisa mendapat ruang kecil di hati Natan.


"Kenapa kamu gak bilang kalo Natan sakit?" Aku menguatkan diri. Lalu bertanya.


Ia diam. Wajah bahagianya pun redup, "Aku takut kamu kepikiran. Aku melihat kamu dengan hidupmu sekarang, sudah sangat damai."


Aku menggeleng, "Justru kalo Natan sampai kenapa-kenapa setelah kamu bilang dia baik-baik saja. Itu akan membuatku sakit dan kepikiran."


Juni pun membuang muka. Tampaknya dia mulai marah.


"Sudahlah, terimakasih, tidak baik menyalahkan masa lalu." Aku menunduk menyesal. Kenapa langsung menodong pertanyaan penghakiman itu pada Juni?


"Apa rencanamu setelah ini, pulang?" tanyanya ragu. Tampak masih memendam rasa.


Aku mengangguk, "Aku hanya seminggu di sini."


Juni lagi-lagi menatapku dalam, "Bagaimana kalo kamu menetap di sini? Atau kalo kamu mau, kita bisa ke Bandung atau Surabaya?"


"Hah?" Aku melongo. Kita?


"Iya." Dia mengangguk kaku. Lalu berbisik, "Sebenarnya, ini pertamakalinya aku ingin memulai hidup seperti orang pada umumnya."


"Maksudnya?!" Aku meminta penjelasan tegas.


Bibirnya bergerak seperti memberi kode.  Dia menahan ekpresinya. Dan aku bingung. Apa jangan-jangan Juni?

__ADS_1


"Apa?!"


"Ada apa?" Mimi kaget mendengar aku histeris. Kami pun diam, "Yuk!" ajak Mimi.


Kami menaiki mobil hitam Juni. Aku menatap jalan raya yang dulu sering aku lalui. Rasanya begitu sendu. Padahal aku telah memiliki dunia baru di sana. Dunia yang membutuhkan aku di Sulawesi dan membuatku bahagia, bisa membantu rumah tangga masyarakat yang sedang diambang kritis di kabupaten Kolaka, juga saudara sesama orang Sulawesi, SULTENG, dan membantu suku Bajo. Dan Lolo.


Aku pun memasuki rumah itu. Gerbangnya tinggi seperti dulu. Kakiku rasanya berat. Seperti tertahan. Masih trauma rasanya.  Tapi, Juni di samping menguatkanku.


Rumah ini. Rumah yang difinishing putih elegan. Sampai sekarang, aku masih tidak percaya, anak pelaut kayak aku pernah tinggal di rumah flamboyan ini? Rumah lantai dua dengan pilar-pilar gagah di tengah kota, Semarang, Jawa Tengah. Rumah Natan bersamaku, dahulu.


Aku menjelajahi ruangan, banyak yang berubah. Mulai dari furniture, aksesori, dan foto-foto di dinding, tidak ada lagi reka jejakku. Seperti rumah ini tidak pernah kutinggali.


Mimi mengajak kami ke kamar. Pintunya masih sama. Pintu kayu yang di plitur. Aku menahan napas. Mimi pun membuka pintu.


Di pojok kamar, di atas springbed yang spreinya kini berganti warna menjadi merah, yang dahulu putih. Dia terbaring kaku di atasnya. Di tangannya belalai infus menggigit ganas. Dadaku lagi-lagi rasanya sesak, "Sejak kapan dia seperti ini?" tanyaku gemetar.


Mimi mengingat-ngingat, "Sudah lama, tapi dia sering tidak sadar sekitar 2 bulan yang lalu?" Dia menghapus air matanya.


Persis. Dengan firasatku.


"Overdosis alkohol."


Aku maju lalu mencengkram lengan Mimi, "Kamu bilang kamu mencintainya! Kenapa kamu membiarkan dia minum? Kamu telah membiarkannya mati!" Aku menatapnya tajam. Ingin menamparnya. Mimi tampak ketakutan. Juni pun menahanku. Lalu menunjuk Natan.


Aku pun duduk di sampingnya. Dia tidak sadarkan diri, dia koma.


"Aku biarin dia minum biar dia bisa melupakanmu. Kamu menghantuinya." Mimi patah-patah menjawab. Aku menahan tangis.


Kenapa? Bukannya dia sudah mendapatkan apa yang dia cita-citakan bertahun-tahun lamanya?


"Tapi, sudah dua bulan ini, dia sudah berhenti minum."

__ADS_1


"Tentu saja! Kalo dia minum lagi, bisa jadi itu terakhir kali kamu lihat dia mabuk."


Aku bangkit memperhatikan ruangan ini. Kamarku bersama Natan, dahulu. Aku lalu bangkit membuka tirai dan jendela. Membiarkan udara segar dan cahaya masuk. Lalu mematikan lampu.


"Natan tidak suka cahaya."


Aku lalu memandang tajam, "Ini bagus untuk kesehatan, kita harus memperlakukan orang sakit sebagaimana orang sehat."


Aku pun menaruh bunga di vas setelah meminta Bu lastri membelinya. Bu Lastri sampai menangis melihatku. Juga Pak Surip. Mereka melapor, kalau Natan suka berkata kasar dan marah-marah tanpa alasan jelas pada mereka. Aku pun menguatkan mereka, mengatakan kalau Natan khilaf, dan akan kembali seperti dulu. Meski aku ragu.


Aku pun mendekor rumah mewah yang berhawa gelap ini, dengan penuh cahaya kehidupan. Semua pelajaran yang kudapat saat jadi relawan aku pakai di sini. Membuang semua koleksi wine Natan tanpa ampun, tidak peduli harganya selangit, yang paling berharga dari diri Natan kini hanya keinginan untuk hidup. Mimi melotot melihatku pun kubalasnya lebih tajam. Lalu kubuat dia mengerti.


Aku meminta Pak Surip memanggil tukang untuk memasang walpaper bernuansa alam, agar orang-orang di dalam rumah ini, berkurang depresinya. Juga ada gemericik air yang menenangkan hati di akuarium, juga air pancuran kembali dirawat. Kalau dulu, Natan sengaja membiarkannya. Akhirnya ikan-ikan di sana hampir mati, untungnya Pak Surip diam-diam menyelamatkannya.


Anak-anak ikan itu pun dikembalikan ke dalam air pancuran dan akuarium. Karena melihat ekosistem, atau kehidupan makhluk, kita akan lebih bersemangat hidup. Juga menaruh tumbuhan-tumbuhan di sudut-sudut rumah sambil menyesuaikan interior.


Saat Juni datang, dia pun terpukau dengan skill arsitekturku. Aku pun kikuk, mengingat kode-kode Juni saat di bandara. Dia merasa damai tinggal di sini, seperti berada di ruang terbuka hijau. Go green. Juni tak lama, setelah itu dia pergi. Entah ke mana.


Aku pun diam-diam mendatangi Bu Lastri. Pertanyaan ini menggundahkan hati. Aku pun menguatkan diri, "Bu, apa Natan dan Mimi sudah menikah?" bisikku. Bu Lastri pun takut-takut menjawabnya. "Tidak apa-apa bilang saja, Bu." Aku memandang sendu.


Beliau pun menggeleng lemah. Aku lalu menyebut berkali-kali. Selama ini, di rumah ini, mereka! Padahal sebelumnya aku sudah menyuruh Natan menikahinya dan menceraikanku. Apa yang ditunggunya?


Aku benci melihat mereka! Pantas saja rumah ini suram meskipun mewah. Karena keberkahan rumah ini telah dicabut.


Aku pun melarang Mimi mendekati Natan. Mimi pun marah, "Kamu harus menikah dulu dengan Natan. Baru bisa dekat-dekat." Aku mengepal tangan. Menahan tinjuku.


"Kamu aneh! Menyuruhku menikah. Sedangkan kamu? Kenapa bisa seenaknya mendekatinya?!"


"Karena aku masih istrinya. Dia belum menceraikanku. Simpan saja emosimu dulu! Kalo Natan sudah sadar dan menceraikanku, terus menikah sama kamu. Saat itu juga, aku tidak akan pernah lagi ikut campur rumah tangga kalian," sahutku tajam.


Dokter masih memeriksanya. Beliau bilang, kondisinya sedikit membaik. Aku bersyukur sejadi-jadinya. Dan aku tak bisa menahan haru. Meskipun dia sangat jahat. Kenapa aku masih bisa mengasihinya? Hati perempuan itu memang lemah!

__ADS_1


 


 


__ADS_2