
Rini merasakan sakit hati yang luar biasa. Ia selalu saja di salahkan oleh ibu mertuanya. Tapi, pada kenyataannya memang seperti itu. Karena lebih memilih untuk menikah dengan Rini, Reno rela kehilangan semua kemewahan yang ia punya. Saat ini, Rini pun menjadi merasa bersalah pada Reno.
Lalu, apa yang harus ia perbuat sekarang? Reno sedang koma dan sekarang anak-anaknya membutuhkan pengobatan untuk kesembuhan mereka. Dan biayanya sangat besar. Tidak mungkin Rini harus bekerja dan menelantarkan anaknya begitu saja. Sedangkan saat ini anaknya sangat membutuhkannya. Dari mana ia mendapatkan uang secara cuma-cuma sekarang?
Kemudian, matanya pun tertuju pada sang ibu mertua. Ya, keluarga Reno adalah keluarga yang sangat kaya. Kalau hanya untuk biaya pengobatan anaknya pasti sangat kecil bagi mereka. Rini mencoba memberanikan diri untuk berbicara pada Ratna.
“Ma, boleh aku minta tolong?”, tanya Rini dengan suara yang pelan.
“Apa kamu pikir saya mau menolong mu?” Ratna bertanya balik dengan sombongnya.
“Tapi, ini mengenai anak aku dan Reno, Ma. Mereka perlu pengobatan lebih lanjut. Tapi, saya tidak punya uang untuk membiayainya. Anak laki-laki kami terkena leukemia dan yang perempuan terkena pneumonia. Jadi, saya mohon sama Mama agar membiayai pengobatan mereka”, jelas Rini dengan menangis di depan Ratna.
“Dasar wanita pembawa sial! Sudah mencelakakan anakku dan sekarang kamu melahirkan anak yang berpenyakitan! Saya tidak sudi membiayai pengobatan mereka!”, jawab Ratna yang kesal pada Rini.
Hati Rini menjadi sangat sakit mendengar kalimat yang jahat itu. Padahal, anak-anak itu adalah cucunya juga. Darah dagingnya. Tapi, Rini tidak bisa membantah. Ia butuh uang dari mertuanya. Ia memaksakan dirinya turun dari kursi rodanya. Dan pada akhirnya, ia pun rela membuang semua harga dirinya dan berlutut di hadapan Ratna. Ia memohon pada Ratna sambil menangis. Ia juga mengatakan jika dirinya akan melakukan apa saja jika Ratna mau menolong anak-anaknya.
Mendengar itu, Ratna pun menyunggingkan senyumannya. Ia mempunyai ide cemerlang agar Rini pergi selamanya dari Reno.
“Baiklah. Tapi, ada syaratnya. Kamu harus pergi dari kota ini dan jangan menampakkan wajahmu pada Reno lagi! Gimana? Sanggup?”, ucap Ratna memprovokasi Rini.
Rini pun terdiam seribu bahasa. Betapa teganya sang ibu mertua yang mau memisahkannya dengan suaminya selamanya. Sungguh mana bisa ia mampu meninggalkan Reno. Selama ini mereka selalu bersama dan Rini tidak bisa jika tanpa Reno.
__ADS_1
“Sekarang keputusan ada di tangan kamu. Menyembuhkan anak-anak kamu atau tetap pada egomu untuk bersama dengan Reno”, ucap Ratna memprovokasi lagi.
Kemudian, seorang dokter datang untuk memeriksa keadaan Reno. Dan Rini hanya bisa melihatnya dari jauh karena di usir oleh Ratna. Rini kembali duduk di kursi rodanya di bantu oleh seorang Suster. Lalu mereka pun keluar dari ruangan itu dan Rini memohon agar ia di tinggal sebentar saja.
Rini menangis sendirian. Hatinya hancur dan pikirannya juga kacau. Tapi, tidak ada waktu untuk terus menangis. Ia butuh suatu keputusan. Keputusan yang tidak akan dia sesali seumur hidupnya. Jika di pikir-pikir ya, seharusnya ia terima saja syarat dari Ratna. Dari pada ia bertahan dengan egonya. Walaupun ia meninggalkan Reno, Reno tetap ada yang menjaganya. Tapi kalau anak-anaknya siapa lagi yang menjaganya kalau bukan ibunya yaitu Rini sendiri.
Dari kejauhan, Lucky melihat Rini yang sedang menangis sendirian. Ia berlari kecil untuk segera menghampiri Rini. Ia pun bertanya pada Rini apa yang sebenarnya terjadi sampai Rini menangis pilu seperti ini? Tanpa ragu, Rini menceritakan semuanya pada Lucky. Ya, selain ia percaya pada Lucky, ia juga butuh mengeluarkan rasa sesak di dadanya yaitu dengan menceritakan apa yang dialaminya pada orang lain.
“Tega banget Bu Ratna. Udah mbak tenang aja! Aku akan bicara pada Bu Ratna!”, ucap Lucky tegas karena merasa jengah dengan sikap Ratna
“Tidak Lucky, jangan! Nanti yang ada kamu di pecat sama Mama”, cegah Rini sambil memegang erat tangan Lucky.
“Mbak nggak perlu khawatir soal itu!”, ucap Lucky.
Lucky masih saja membantah. Ia tetap ingin bicara pada Ratna, memberitahunya bahwa ia sudah kelewatan. Rini tidak kehabisan akal untuk mencegah Lucky. Ia pun memakai gelarnya sebagai istri dari Reno, Bosnya. Rini memerintahkan Lucky untuk tidak ikut campur. Dan Lucky harus mendengarkannya karena ini perintah seorang Bos.
Lucky melihat mata Rini yang sangat begitu yakin. Dan mau tidak mau Lucky juga harus yakin pada apa yang akan Rini putuskan. Lucky pun bertanya mengenai keputusan Rini. Dan Rini menyatakan bahwa dirinya telah memutuskan untuk menyanggupi syarat dari Ratna. Semua itu ia lakukan demi kesembuhan anak-anaknya.
***
Setelah itu, Rini pun pindah membawa kedua anaknya. Dan Ratna menepati janjinya untuk membiayai seluruh pengobatan anak-anak Rini. Rini memilih rumah sakit besar yang memiliki alat-alat medis yang lengkap. Ia begitu setia menemani anak-anaknya dan mengurus semuanya sendirian. Di sela-sela itu tidak hentinya ia selalu berdoa untuk anak-anaknya dan juga suaminya. Kalau ingat dengan Reno, pasti Rini akan langsung menangis. Ia sangat Rindu sekali dengan Reno. Tapi, bahkan kabar Reno seperti apa pun ia tidak tahu. Ia sudah mengganti HP beserta nomornya.
__ADS_1
Begitulah Rini ia terlihat kuat dari luar tapi, sebenarnya rapuh di dalamnya. Namun, dia harus tetap kuat demi anak-anaknya. Kalau dia kuat insyaallah anak-anaknya juga ikut kuat berjuang melawan penyakit mereka.
Dan ternyata ada kabar baik untuk Rini. Neina, putrinya di nyatakan baik-baik saja. Memang hasil Poto paru-parunya kecil sebelah. Dokter bilang kemungkinan akibat efek samping dari anastesi. Namun jika di perhatikan, Neina tidak menunjukkan gejala seperti sesak napas ataupun yang lainnya. Semuanya normal-normal saja. Dokter juga mengutarakan jika kemungkinan paru-paru Neina akan normal seiring waktu dan pertumbuhannya. Mendengar itu, Rini pun menarik napas lega. Ia tak hentinya mengucap rasa syukur.
Dan untuk Leindra, ia akan menjalankan kemoterapi. Dokter sudah mempersiapkan semuanya untuk Leindra. Dokter memberikan pengarahan untuk Rini agar selalu tegar dan juga tidak berhenti berdoa untuk kesembuhan Leindra. Dokter juga akan berusaha untuk menolong Leindra agar sembuh dari penyakitnya.
Setelah bulan demi bulan berlalu, kondisi Leindra tidak ada perubahan. Membuat semangat Rini luntur. Tak hentinya ia menangis sambil melihat anak bayinya yang tengah berbaring itu. Ah, sakit sekali hati Rini rasanya melihat bayinya yang malang itu. Ia pun memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi pada Leindra dan ia sangat tidak siap kehilangan anaknya.
Rini lalu, pergi mencari dokter yang bertanggungjawab atas pengobatan Leindra. Rini menceritakan ketakutannya mengenai Leindra. Dan ia pun bertanya apakah tidak ada cara lain lagi untuk menyembuhkan Leindra? Ia akan melakukan apa saja demi kesembuhan putranya itu.
“Ada satu cara lagi. Tapi, ini baru saja di terapkan kepada dua orang anak. Jadi, metode ini masih sangat baru. Dengan suntik rekayasa genetika T-sel”, jelas dokter tersebut.
Tapi, Rini tentu saja tidak tahu apa yang di maksud dengan dokter itu. Jadi, ia menanyakan apa yang di maksud dokter itu supaya ia mengerti dan tidak salah mengambil keputusan.
“Jadi, T-sel adalah jenis sel darah putih yang dapat menyerang dan menghancurkan sel-sel yang terinfeksi di dalam tubuh, termasuk sel-sel kanker. Namun, kami butuh donor yang sehat untuk mengambil T-sel tersebut yang akan nantinya di suntikan pada Leindra. Apakah ibu bersedia menjadi pendonornya?”, ungkap Dokter itu.
Di situ, Rini berpikir keras. Karena ini adalah metode baru. Dan masih di terapkan kepada 2 orang anak walaupun dokter bilang padanya hingga sekarang 2 orang anak tersebut hidup seperti anak-anak pada umumnya. Ya, metode ini di katakan berhasil dan sangat efektif. Tapi, apakah efektif juga untuk Leindra?
Rini betul-betul berada dalam kebimbangan. Bagaimana jika ia sampai mengambil keputusan yang salah? Apakah Leindra akan meninggalkannya? Tapi, bagaimana jika metode itu benar-benar berhasil dan Leindra bisa sehat kembali seperti 2 anak itu?
Rini pun melaksanakan ibadah sholat untuk di berikan petunjuk dari Allah. Ia terlihat begitu khusuk. Dan selepas sholat, hatinya terus berkata jika ia harus menyetujui metode yang diberikan dokter tersebut.
__ADS_1
Flashback off
***