Neina dan Leindra

Neina dan Leindra
BAB 13. TAHU DENGAN SENDIRINYA


__ADS_3

Reno yang melihat kelakuan Lucky itu langsung tersulut api cemburu. Ia melangkah dengan menghentak-hentakkan kakinya. Dan setelah dekat dengan Rini, ia langsung menarik Rini. Maka, terjatuhlah Lucky dengan posisi terlungkup mencium bumi.


“Rasakan!”, setak Reno.


Reno kembali menarik Rini berjalan menuju anak-anak mereka. Rini merasa kasihan pada Lucky yang masih tergeletak di sana. Berkali-kali Lucky memanggil nama Rini. Tapi Reno tidak memperbolehkan Rini mendekatinya lagi.


“Kasihan Lucky, Ren”, ucap Rini dengan wajah sendunya.


“Gak perlu ngasihani dia!”, jawab Reno ketus.


Reno pun menggendong Neina dan terus memegangi tangan Rini. Sedangkan Leindra dituntun oleh Rini. Mereka pun berjalan ke arah mobil. Dari kejauhan Rini melihat Lucky yang masih saja tiduran di sana sambil melambaikan tangannya.


Di dalam perjalanan, Rini yang kepikiran dengan kata-kata Lucky tadi menanyakan apa yang terjadi kepada Neina dan Leindra. Namun, tampaknya Neina maupun Leindra enggan memberitahukannya pada mereka


Tapi, Rini tetap mendesak mereka. Walaupun Reno sudah menghentikan Rini, karena menurutnya itu tidak terlalu penting. Namun, Rini tetap bersikeras ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya sehingga membuat Lucky menangis seperti itu.


“Em, kami bilang kalau...”, jawab Neina tapi masih ragu.


Rini memelototi mereka. Ia menunggu kelanjutan jawaban dari Neina itu. Neina dan Leindra saling berpandangan. Mereka sudah tidak mengelak lagi.


“Kami bilang kalau sebenarnya kami sudah tau kalau Om Reno adalah Papa kami...” sambung Leindra.


CIIIITTT!!!


Reno langsung mengerem. Dan itu menyebabkan penumpangnya hampir tidak terkendali. Rini memarahi Reno yang sudah tidak berhati-hati itu. Tapi, Reno tidak menganggap pusing ocehan Rini itu. Ia malah tertarik dengan ucapan si kembar tadi.


“Kalian bilang, kalian tahu kalau saya ini papa kalian?”, tanya Reno untuk memastikan.

__ADS_1


Neina dan Leindra sama-sama menganggukkan kepalanya. Reno masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Ia ingin tahu siapa yang telah memberitahukan mereka tentang hal ini.


Berbeda dengan Reno yang sangat antusias, Rini malah terkesan kesal dengan apa yang diketahui anak-anaknya itu. Ia sudah mengira jika cepat atau lambat anak-anak geniusnya itu akan mengetahui semuanya.


Neina dan Leindra menghela napas. Karena Papanya mengira mereka berdua anak biasa. Rasanya mereka terlalu malas untuk menjelaskannya lagi. Tapi, Reno tampak sedang menunggu jawaban mereka.


“Ren, udah deh. Itu nggak penting”, ucap Rini membalas Reno yang tadi mengejeknya begitu juga.


Reno pun mendengus kesal. Lirikan matanya begitu tajam pada Rini. Ia benar-benar tidak suka Rini bilang begitu padanya. Karena baginya ini sangat penting. Ia sudah menahan egonya untuk berterus terang pada anak-anaknya. Tapi, yang terjadi malah sebaliknya. Mereka sudah tahu bahwa Reno adalah Papa mereka.


“Baiklah aku saja yang akan memberitahukan mu. Tapi, sebaiknya kamu segera menjalankan mobil ini lagi”, pinta Rini pada Reno.


Reno pun menuruti permintaan Rini itu demi mendapat penjelasan darinya. Reno berpikir, dengan sikap santai Rini itu mungkinkah Rini yang telah memberitahukan si kembar? Namun, tebakannya salah. Rini tidak pernah bilang apa pun mengenai siapa Reno yang sebenarnya. Rini malah bilang jika mereka berdua sendirilah yang mengetahui semuanya itu.


Reno menyetir sambil termenung. Otaknya masih tidak nyambung dengan ucapan Rini itu. Bagaimana bisa anak sekecil mereka bisa tahu sendiri tanpa di beri tahu. Tidak mungkinkan? Wajah Reno saat itu terbodoh dengan bibir yang hampir jatuh karena memikirkan hal yang tidak masuk akal itu menurutnya.


“Apa-apaan kamu ini?”, ucap Reno kesal.


“Habisnya kamu melamun gitu! Udah kayak orang kesambet! Kalau ada apa-apa gimana? Kamu kan lagi nyetir!”, balas Rini tak kalah kesal.


“Ya kan bisa bilangnya baik-baik! Gak mesti nyubit seperti ini!”


“Diiiaaaammm!!!”, teriak Neina.


Suaranya yang melengking itu mampu membuat yang lain sampai menutup telinga. Dan pada akhirnya mereka pun berhenti berdebat. Rini merasa sedih sekali. Padahal dulu jika ia berbuat seperti itu, Reno tidak akan marah padanya. Ya, Reno telah banyak berubah sekarang. Dan itu juga karena dirinya yang telah membuat Reno kecewa.


Neina dan Leindra sangat senang ketika mereka sudah sampai. Mereka berlari mengikuti Rini yang telah lebih dahulu keluar dari mobil untuk membukakan pintu rumahnya.

__ADS_1


Neina dan Leindra masuk dan begitu juga dengan Rini. Lalu, ia langsung menutup pintu rumahnya. Yang ternyata Reno ada di baliknya. Dan wajah Reno sampai berciuman dengan pintu tersebut.


Reno pun semakin kesal dengan Rini. Dia merasa tidak dianggap sama sekali. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia mencoba mengatur napasnya agar amarahnya tidak keluar. Akhirnya ia pun mengetuk pintu rumah itu.


Rini yang hendak ke dapur langsung berlari kecil untuk melihat siapakah tamunya. Dan ia sangat terkejut saat melihat Reno yang berada di balik pintu rumahnya. Wajahnya mengerut dan napasnya menggebu-gebu hingga tampak sedikit asap keluar dari hidungnya seperti gorila sedang marah.


“Hehehe, aku kira kamu langsung pulang tadi”, ucap Rini cengengesan.


Reno tetap menatapnya tajam. Dan Rini pun mempersilahkan Reno untuk masuk. Rini kembali ke dapur untuk mengambil makanan yang telah ia masak sebelum menjemput anak-anaknya tadi.


Melihat Neina dan Leindra telah berada di meja makan, Reno pun ikut nimbrung bersama mereka. Perutnya pun sekarang terasa lapar. Krrruuuk.., suara itu berasal dari perut Reno.


“Ih, Om punya peternakan cacing ya? Hihihi”, ejek Neina.


Reno pun ikut terkekeh mendengar ucapan Neina itu. Ia membenarkannya dan sekarang cacing-cacingnya sedang kelaparan.


“Eh, tapi masa kalian masih panggil Om sih? Panggil Papa dong. Oke?”, pinta Reno berharap.


“Ih, GR banget!”, jawab Rini ketika mendengar permintaan Reno sambil membawa semangkuk besar sup daging sapi beserta teman-temannya.


Reno mendengus kesal. Rini selalu saja membuatnya kesal akhir-akhir ini. Tapi, wajahnya langsung kembali ceria melihat makanan yang telah terhidang di meja. Sup daging sapi, bakso, mie putih, dan tak lupa kerupuk serta sambal. Air liur Reno sudah bercucuran. Ia tidak sanggup menahannya lagi.


Tanpa aba-aba ia langsung menyantapnya dengan lahap. Hah, ia sangat merindukan masakan istrinya yang dulu selalu ia rasakan. Ini adalah makanan ke kesukaannya. Belum pernah ada yang bisa menandingi enaknya masakan istrinya ini. Tanpa Reno sadari ia terus mengagumi Rini dalam hatinya.


“Jangan lupa napas ya, Pa”, celetuk Neina yang terkekeh melihat Papanya yang seperti tidak makan selama seminggu.


***

__ADS_1


__ADS_2