
“What? Ya ampun mbak, kok mendadak banget sih?”, ucap Rini yang sedang berbicara dengan Ningsih di ruang tamu.
Malam itu, setelah Rini menutup tokonya, Ningsih pun datang dan hendak menempah kue pada Rini untuk camilan di ruang rapat. Ya, memang seharusnya Ningsih bilangnya sehari sebelumnya. Tapi, ia lupa dan baru teringat malam ini.
“Rapatnya siang kok Rin. Bisakan?”, bujuk Ningsih sambil unjuk gigi. “50 kotak aja. Nggak banyak-banyak kok. Isinya juga yang simpel-simpel aja. 2 biji gorengan, bolu kukus sama bolu pisang coklat yang di taruh di cup juga Rin. Duh... enaknya”, lanjut Ningsih sambil berkhayal menikmati pisang coklat yang coklatnya lumer di mulut.
“Iya deh, Iya mbak ku sayang.... Puas!”, jawab Rini tapi terlihat kesal.
Ningsih langsung memeluknya dengan erat. Sampai Rini sesak napas dibuatnya. “Mbak... lepasin”, ucap Rini dengan kepayahan.
***
Tap...
Tap...
Tap...
Seorang wanita yang sangat cantik bak seorang model dengan sepatu hak tingginya, masuk ke dalam gedung perkantoran milik Reno. Semua orang menatap takjub dirinya.
PLETAK!
Tiba-tiba hak sepatunya patah sebelah. Membuatnya terpelekok dan terduduk di lantai. Semua orang yang menatapnya kagum tadi, berubah menjadi uji tahan tawa.
“Sialan nih sepatu buat malu aja! Jangan-jangan aku di tipu lagi!”, gumamnya kesal dan juga malu.
Kemudian, karena tidak ingin di permalukan lagi ia pun mencoba mematahkan hak sepatunya yang sebelah lagi. Dan benar saja sangat mudah untuk di patahkan.
‘Tuhkan benar! Pasti aku di tipu deh! Katanya ori. ORI apaan kayak gini! Ih, nggak level banget deh!’ ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Wanita itu pun berdiri lagi. Lalu ia mendatangi resepsionis sambil tersenyum. Ia menanyakan kepadanya di mana ruangan Reno berada
“Apakah anda sudah punya janji Bu?”, tanya resepsionis itu.
“What? Ibu? Kamu nggak bisa lihat apa? Wajahku yang masih terlihat muda ini?”, ocehnya sambil tertawa di paksa yang tidak suka di panggil Ibu.
‘Huh, buat kesal aja sih! Jangan terpancing, okey. Aku harus terlihat baik dan juga ramah’, ucapnya dalam hati.
“Begini panggil saya dengan sebutan Nona Yunita. Dan saya...”, lanjut Yunita lalu mengambil HP-nya dan memperlihatkan foto dirinya bersama Reno yang bergandengan tampak begitu mesra, menurutnya. “Calon istri Reno. Bos anda. Jadi saya pikir, saya tidak perlu melakukan perjanjian jika ingin menemuinya”, jelas Yunita dengan senyuman dan ucapan yang di imut-imutkan.
Resepsionis itu pun menjadi ilfeel melihatnya. Ia tidak menyangka jika bos mereka bisa suka dengan wanita aneh dari planet lain itu. Karena malas berdebat lagi dengan wanita aneh itu, ia pun mengatakan di mana ruangan Reno berada.
Tanpa ucapan terima kasih, Yunita pun langsung membalikkan badannya dan menyibakkan rambutnya agar terlihat lebih wow. Tapi, yang ada mereka tetap menahan tawa melihat tingkah Yunita yang aneh itu. Terlebih kalau sudah melihat sepatu hak tingginya sudah menjadi sepatu ceper.
Setelah menaiki lift menuju lantai 5 dan kini Yunita telah sampai di depan ruangan Reno. Ia pun segera mengetuk pintu itu dan juga merapikan penampilannya. Dari dalam terdengar suara Reno menyuruhnya masuk. Dan Yunita pun segera membuka pintu itu.
BYURRR!!!
Lucky hanya bisa menghela napas kesal untuk menahan amarahnya. Ia pun menyalahkan Yunita yang tiba-tiba datang ke kantor itu.
“Reno...!”, panggil Yunita dengan nada di imut-imutkan sambil berlari kecil ke arah Reno.
Saat itu, Yunita hampir saja memeluk Reno, dengan cepat Reno langsung menangkis tangan Yunita. Membuat gadis itu semakin cemberut.
“Kenapa kamu kemari?”, tanya Reno menatap penuh kecurigaan.
“Ya, Mama kamu lah. Mama kamu nyuruh aku ngebujuk kamu biar pulang. Dia khawatir kalau perusahaan kami di ibu kota kalau kamu tidak ada di sana”, jawab Yunita sambil bergerak menuju sofa dan duduk di sana.
Mau saja Reno berbicara, ketukan pintu terdengar lagi. Entah siapa kali ini yang datang. Apakah akan mengejutkan lagi? Reno pun mempersilahkan orang itu untuk masuk.
__ADS_1
“Permisi. Saya mau mengantar pesanan kue yang di pesan Mbak Ningsih”, ucap Rini menguatkan hati dan tubuhnya.
Reno pun menyuruhnya masuk dan meletakkannya di meja. Ia melihat wanita yang ada di ruangan Reno itu. Tapi, kemudian Rini pura-pura tidak mengenalnya.
“Dan tentunya, untuk menghalangimu berdekatan dengan wanita tidak tahu malu itu!”, sambung Yunita begitu melihat Rini.
Langkah Rini ketika hendak keluar menjadi tertahan. Ia sangat kesal saat Yunita berbicara seperti itu. Tapi, ia mencoba bersabar dan tidak memedulikannya. Ia pun melangkahkan kakinya lagi.
“Dasar! Wanita matre! Begitu dapat uang kamu langsung ninggalin Reno yang sedang sakit. Gak punya hati!”, ejek Yunita lagi dengan wajah angkuhnya.
“Apa kamu bilang? Rini mendapatkan uang?”, tanya Reno bingung dan tidak percaya.
“Iya, Reno sayang. Dia minta uang ke Mama kamu. Eh udah di kasih malah langsung pergi ninggalin kamu. Istri macam apa itu? Dasar matre!” lanjut Yunita dengan berkata bohong.
“Bisa diam nggak?!”, Rini tersulut api emosi.
Rini mengepalkan tangannya sangking emosinya, “Kamu jangan fitnah aku sembarangan!”
“Oh ya? Lalu, apa yang sebenarnya terjadi Rini? Sampai kamu tega meninggalkan Reno yang sedang sakit”, jawab Yunita dengan santainya.
Ya, Yunita tahu jika Rini tidak akan bisa mengatakan yang sebenarnya. Karena itu adalah bagian dari perjanjiannya. Makanya Yunita memprovokasinya. Kalaupun Rini sampai memberitahukannya, yang ada Reno akan marah pada ibunya. Dan Rini sudah pasti tidak mungkin melakukan hal yang membuat rusaknya hubungan ibu dan anak.
“Dasar wanita brengsek!”, maki Rini yang sudah tidak tahan lagi.
Sedangkan Reno masih bingung harus percaya kepada siapa. Ia sangat ingin tahu kebenarannya makanya ia biarkan kedua wanita itu adu mulut. Siapa tahu dengan begitu ia mendapatkan jawabannya.
“Eh, jangan kurang ajar ya! Kita tuh beda level! Kamu seharusnya menghormatiku!”, jawab Yunita geram yang dirinya di panggil brengsek.
Ketika itu, saat Ningsih melihat Rini yang akan berkelahi langsung datang dan melerainya. Ningsih berusaha menarik Rini keluar walaupun dengan drama saling ejek dan tuduh. Dan setelah bersusah payah membujuk Rini, akhirnya mereka pun bisa keluar dari ruangan Reno.
__ADS_1
“Ih... pengen ku ulek-ulek tuh mulut cocor bebek!”, ucap Rini kesal. “Mbak juga! Kenapa nggak biarin aku aja tadi!” sambung Rini yang sebenarnya tidak mau di lerai.
***