Neina dan Leindra

Neina dan Leindra
BAB 17. HANYA SAMPAI DI SINI


__ADS_3

Setelah beberapa lama di perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di bandara. Reno menuntun Neina dan Leindra masuk ke dalam bandara. Sedangkan Lucky membawa dua koper di tangannya. Neina dan Leindra menatap kagum bandara yang sangat megah itu. Ini adalah pertama kalinya mereka masuk ke sana. Karena memang Rini tidak pernah mengajak mereka berwisata ke bandara.


Reno, Lucky, Neina dan Leindra sedang duduk di ruang tunggu menunggu jadwal mereka berangkat. Tapi, yang terjadi adalah keempat-empatnya sedang merasakan kegelisahan. Reno sendiri juga tidak tahu kenapa hatinya begitu resah dan gelisah. Setiap kali melihat wajah anak-anaknya, ia malah sedih karena dari tadi mereka terus saja murung dan diam. Reno merasa jika keduanya tengah memikirkan ibu mereka. Ia juga menguatkan hatinya sendiri. Ia berjanji akan membahagiakan kedua anaknya lebih dari apa yang Rini berikan.


Lucky juga begitu, ia memang sudah gelisah sejak awal. Ia tahu jika Rini tidak mungkin bisa hidup tanpa kedua anaknya. Mengingat bagaimana Rini yang telah mengorbankan segalanya demi mempertahankan anak-anaknya agar tetap berada di sisinya.


Lucky tidak tahan lagi, ia segera keluar dan menelepon Rini tanpa sepengetahuan Reno. Beberapa kali panggilan Reno tidak terjawab. Reno mendengus kesal. Kenapa Rini menjadi seperti ini? Bukankah seharusnya dia lebih kuat dan tidak menyerah seperti ini? Lucky geram dan mengacak-acak rambutnya.


“Mama!”, teriak Leindra  ketika melihat ibunya di lantai dua bandara yang sedang berteriak tapi, suaranya tidak terdengar karena terhalang oleh dinding kaca.


Lucky, Reno serta Neina langsung melihat ke arah mana mata Leindra melihat. Melihat Rini di sana, Lucky pun bisa bernapas lega sekarang. Rini terlihat sedang melambaikan tangannya. Mungkin Rini telah ikhlas jika Neina dan Leindra di bawa oleh Reno.


Dan tiba saatnya, mereka untuk pergi. Reno menuntun kedua anaknya untuk segera menaiki pesawat. Selangkah, dua langkah, keduanya berhenti berjalan. Reno pun bingung dengan apa yang anaknya itu lakukan.


“Kami mengantar Papa hanya sampai di sini aja”, ucap Leindra.


“Apa? Tapi kalian bilang mau ikut dengan Papa kan?”, tanya Reno bingung serta ada rasa takut di hatinya.


“Iya Pa. Tapi, maksudnya kami ikut Papa sampai di bandara aja. Kami tidak akan pernah meninggalkan Mama sendirian. Lagian...”, penjelasan Neina terhenti.


Reno menjadi penasaran. Apalagi alasan mereka sekarang. Ah, rasanya Reno sedang di permainkan oleh anak-anaknya. Padahal ia sudah sangat senang bisa membawa anak-anaknya bersamanya ke ibu kota.


“Lagian, apa Neina?”, tanya Reno penasaran.

__ADS_1


“Lagian, siapa suruh Papa nggak ngajak Mama!”, jawab Neina merajuk sambil menghentakkan kakinya.


Di tambah lagi, Neina juga melipat tangannya di dadanya. Dan mulutnya yang di monyongkan. Reno jadi terkejut melihat putrinya yang tiba-tiba marah itu.


“Iya, benar! Padahal dari tadi kami sudah menunggu Papa, supaya mengajak Mama. Papa jahat! Aku benci sama Papa!”, sentak Leindra yang juga ikut merajuk dan lari meninggalkan Reno.


“Iya, aku juga benci sama Papa!”, ucap Neina juga yang terus mengikuti Leindra.


Reno mematung memandangi anak-anaknya yang berlari menaiki eskalator untuk menemui ibu mereka. Lucky yang melihat anak-anak itu yang akhirnya tetap bersama ibunya merasa senang serta melambaikan tangannya kepada keduanya.


Rini juga merasa terkejut saat melihat Neina dan Leindra keluar dari ruang tunggu dan malah menaiki eskalator. Rini langsung berlari kecil ke arah eskalator itu. Dan saat Rini melihat anak-anaknya, ia berjongkok serta merentangkan tangannya.


Neina dan Leindra langsung berlari masuk ke dalam pelukan ibu mereka. Rini sangat senang hingga menangis. Tidak bisa dibayangkan bagaimana ia hidup tanpa kedua anaknya.


“Iya Ma, mana mungkin kamu meninggalkan Mama sendirian”, ucap Lendra yang masih memeluk Rini.


Neina melepaskan pelukannya, “Tapi, Mama janjinya beliin aku jepitan rambut yang ada bunga mataharinya. Itu tuh, cantik banget Ma. Ya, ya, ya”.


Rini memencet hidung Neina dengan gemas. Si ratu jepitan rambut itu selalu saja tidak pernah lepas dari memikirkan jepitan rambutnya.


Sedangkan di bawah sana, Reno masih terdiam menatap kepergian anak-anaknya. Lucky yang melihat Reno sedih datang menghampirinya. Lucky tengah berpikir seandainya Bosnya ini tahu kebenarannya pasti ia tidak akan mau meninggalkan Rini sendirian lagi. Tapi, jika bosnya tau yang ada bakal jadi perang dunia lagi. Lucky tahu jika Reno pasti akan merasa marah dan di khianati oleh keluarganya sendiri terutama ibunya.


Dulu saja, Reno mampu meninggalkan segalanya hanya untuk hidup bersama Rini. Menandakan begitu besarnya cintanya kepada Rini. Dan bisa dibayangkan bagaimana jika Reno sampai murka karena telah memisahkannya dari orang yang sangat di cintainya itu.

__ADS_1


"Yuk, Bos!", ajak Lucky.


Tapi, Reno tetap berdiri saja. Dapat di lihat bagaimana pemandangan bahagia itu di atas sana. Rini yang sangat senang memeluk Neina dan Leindra. Ada rasa iri di hati Reno melihat anak-anaknya yang tetap memilih Rini. Padahal ia sudah berjanji akan mengabulkan apa saja yang mereka inginkan. Tapi, itu tidak membuat anak-anaknya tergiur sama sekali.


"Wajarlah Bos. Mbak Rini adalah ibu mereka. Mbak Rini yang telah mengandung dan melahirkan mempertaruhkan nyawanya. Bos nggak tahu aja bagaimana Mbak Rini berjuang di ruang operasi sendirian", ucap Lucky tanpa sadar karena melihat momen mengharukan di atas sana.


"Apa maksud kamu Ky? Apa Rini di operasi? Kenapa aku tidak tahu?", tanya Reno yang bingung.


Lucky sadar kalau ia sudah keceplosan. Ia pun memaki dirinya sendiri dalam hati. Tapi, ia mencoba untuk tetap tenang dan mencari alasan yang logis agar Reno tidak menaruh curiga padanya.


"Ya, saat itukan Bos lagi koma. Jadi, bos nggak tahukan kalau Mbak Rini di operasi", jawab Lucky santai.


"Kenapa tidak ada yang memberitahukan aku jika Rini melahirkan dengan cara di operasi?", tanya Reno lagi yang terlihat cemas mengingat bagaiman Rini berjuang dulu tanpa dirinya yang mendampingi.


"Bos nggak pernah nanya sama saya! Kalau alasan yang lain mana saya tau, Bos", jawab Lucky yang tidak ingin disalahkan oleh Reno.


Reno tampak kesal dan juga sedih. Ternyata saat itu, Rini juga mengalami masa-masa sulit tanpanya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Rini bisa bertahan mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan anak-anak mereka. Entah mengapa hati Reno begitu teriris saat mengingatnya.


"Ehem! Bos, kita jadi pulang nggak? Keburu ditinggal ini!", ucap Lucky yang membuyarkan lamunan Reno.


Reno pun berbalik dan berjalan memasuki sebuah jalan yang terhubung ke pesawat yang akan ditumpanginya. Kakinya sangat berat untuk di langkahkan. Tapi, ia tetap memaksakannya.


***

__ADS_1


__ADS_2