Neina dan Leindra

Neina dan Leindra
BAB 16. BUKAN ANAK HARAM


__ADS_3

Pagi ini, Ratna begitu bersemangat menunggu kepulangan Reno. Ia begitu banyak menyiapkan berbagai makanan. Ia sudah sangat rindu dengannya.


Namun, di tengah kebahagiaan itu, Marni selaku asisten rumah tangga Ratna datang menemuinya. Ia memberi tahukan ada sebuah mobil yang parkir di halaman rumahnya. Dan itu adalah mobil Suri.


Ratna berdecak kesal dan juga sangat malas. Ia heran kenapa setiap kali ia sedang berbahagia ada saja yang mengusiknya. Ratna pun berjalan ke arah pintu menarik senyumnya agar terlihat ramah.


Dan benar saja, saat pintu di buka Suri sudah berada di sana. Dengan sangat ramah Ratna mempersilahkan Suri masuk. Wanita paruh baya yang berpenampilan sangat elegan itu, langsung masuk dengan mengangkat dagunya.


Dalam hati, Ratna bergumel. Hatinya sangat panas dengan tingkah sombong Suri itu. Tapi, ia tetap memperlihatkan senyumnya.


Ratna mempersilahkan Suri untuk duduk. Tapi, sepertinya Suri tidak menghiraukan Ratna. Ia malah berdiri melihat-lihat benda-benda yang terpajang di sana.


“Aku dengar, Reno akan pulang hari ini. Aku hanya ingin menyampaikan jika kamu harus segera mempercepat pernikahannya dengan Yunita”, ucap Suri yang sambil memegang sebuah guci berwarna emas.


Ratna menghela napasnya dengan pelan agar tidak terdengar oleh Suri. Rasanya ia sangat kesal karena Suri selalu saja menganggap dirinya sebagai orang nomor satu di keluarganya yang harus dia ikuti kemauannya.


“Mbak tenang aja. Aku sudah mempersiapkannya. Hanya saja, sangat susah membujuk Reno”, keluh Ratna yang sebenarnya kasihan melihat Reno yang terus di paksa.


“Semua tergantung pada kalian berdua. Jika kalian masih menginginkan kemewahan ini, maka turuti perintahku! Karena dengan menikah dengan Yunita bisa membuat anakmu semakin terpandang. Tapi, jika tidak siap-siap kalian kehilangan semua ini!”, cecar Suri dengan senyum jahatnya.


Ratna sangat geram dengan perkataan Suri itu. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia sudah memandang tidak suka pada Suri. Tapi, Suri hanya biasa saja seperti tidak punya salah.


“Mana bisa begitu Mbak? Reno juga darah daging Mas Alvin! Apa yang dia miliki sah miliknya!”, jawab Ratna geram.

__ADS_1


“Cih, anak haram itu tidak akan pernah bisa berkuasa di sini!” jawab Suri dengan senyum mengejeknya.


“Jaga mulut Mbak! Reno bukan anak haram! Saya hamil setelah saya dan Mas Alvian menikah!”, darah Ratna semakin mendidih.


“Hahahaha, bagiku dia tetaplah anak haram! Anak yang tidak pernah di harapkan dan di anggap di keluarga ini”, jawab Suri memandang jijik pada Ratna.


Begitu menyakitkan ucapan Suri itu. Rasanya dadanya seperti tertusuk belati. Tidak ada sedih rasa segan ia mengatakan Reno adalah anak haram. Atau setidaknya rasa kasihan terhadap anaknya.


“Ingat Ratna, semasa Mas Alvin hidup kamu hanya istri simpanannya. Masih untung sekarang kamu saya tampung di sini dengan bergelimang harta. Tapi, kamu dengan tidak tahu malu menginginkan warisan Mas Alvin. Kamu harus tahu, harta Mas Alvin hanya milikku!” jelas Suri yang membuat Ratna terdiam.


Kemudian Suri langsung pergi dari rumah itu. Sudah puas dia menginjak harga diri Ratna. Dan Ratna hanya bisa menangis. Ia sampai terduduk di lantai. Rasanya badannya sangat lemas. Hatinya sangat sakit di hina seperti itu.


Memang selama ini, Ratna dan Reno tidak pernah di anggap di keluarga itu. Tapi, Alvin telah bertindak membagikan hartanya juga kepada Reno. Membuat Suri tidak bisa menerimanya. Ia sama sekali tidak tahu jika Alvin telah mengubah surat warisannya dengan memberikan sebagian hartanya pada Reno.


Dan kini, perusahaan yang di teruskan oleh Reno berkembang pesat. Selama ini Ratna selalu berusaha membuat Reno tampak memiliki kemampuan untuk mengurus perusahaan juga. Makanya, saat Reno menikah dengan Rini yang hanya orang biasa itu, Ratna sangat tidak bisa menerimanya. Dan yang lebih parahnya, Reno sampai membangkang pada ibunya. Ia tidak peduli dengan ancaman Ratna dengan menarik semua fasilitasnya jika ia tetap menikahi Rini. Namun, Reno malah tetap menikahi Rini dan meninggalkan semua kemewahannya.


Ratna sangat stres saat itu yang terus-terusan di rendahkan oleh Suri dan keluarga lainnya. Bukannya ia tidak tahu diri. Ia sadar jika dirinya hanya sebagai istri simpanan. Tapi, di sepelekan serta di hina setiap hari membuat hatinya semakin hari semakin mengeras.


Ia berjanji akan membuat Reno bisa melebihi anak-anak Suri dalam segala hal termasuk mengurus perusahaan. Dan saat kesempatan itu datang, Ratna langsung membuat kesepakatan pada Rini agar meninggalkan Reno. Dengan begitu ia bisa membuat Reno kembali menurutinya.


***


Kini Reno, Lucky, Neina dan Leindra sedang berada di dalam mobil menempuh perjalanan ke bandara. Sesekali Reno menanyakan keadaan mereka. Namun, Lucky masih saja terlihat sedih dan kecewa. Hatinya terlalu mengkhawatirkan Rini yang sendirian di rumahnya.

__ADS_1


Reno melihat kedua anaknya memakai jam tangan yang sama. Ia jadi teringat akan hal. Reno yang penasaran dengan jam tangan jadul itu, menanyakan pada Neina siapa yang telah memberikan itu pada mereka.


“Mama, Pa. Emangnya kenapa?”, ucap Neina yang sedang memeluk bonekenya.


“Nggak apa-apa. Gimana kalau nanti Papa belikan yang baru untuk mengganti itu”, usul Reno.


Tapi, Neina menggelengkan kepalanya. Ia tidak setuju dengan usulan Papanya. Karena baginya jam tangan itu begitu spesial.


“Pa, kenapa Papa nggak ngajak Mama sekalian ikut dengan kita?” tanya Neina  dengan wajah imutnya.


Jelas pertanyaan itu membuat Reno sulit untuk mengungkapkannya. Sedangkan Lucky sangat puas dengan pertanyaan skakmat dari Neina. Pertanyaan itu mewakili isi hatinya.


“Ya, Pa. Kenapa Papa hanya mengajak kami aja?”, lanjut Leindra.


“Em, itu karena... karena”, jawab Reno gugup. “Mama kaliankan punya toko kue, jadi toko itu tidak bisa di tinggal begitu saja. Jadi, Mama nggak mau ikut”, Reno mencoba berkilah.


“Papa nggak bohong-kan?”, ucap Lendra yang menatap tajam pada Reno.


“Nggak dong, kenapa Papa mesti berbohong? Udah ya jangan pikirkan itu lagi” jawab Reno berkilah.


Bos...bos. Salah Bos ngomong begitu pada anak-anak. Bos nggak tau aja se-genius apa mereka. Aku yakin mereka pasti tahu jika Papanya tengah berbohong, ucap Lucky dalam hati.


Neina dan Leindra saling berpandangan. Ya, keduanya sangat tahu jika Papanya sedang berbohong. Sangat di sayangkan, tingkat kebohongan Reno itu hanya untuk anak TK.

__ADS_1


Ya, walaupun Neina dan Leindra juga belajar di taman kanak-kanak saat ini. Tapi kepintaran mereka jauh sekali di atas rata-rata anak-anak lainnya. Tapi, keduanya tidak pernah memperlihatkan kepintaran mereka di depan teman-teman dan guru mereka. Dan semua itu adalah permintaan dari Rini. Ia hanya takut jika Neina dan Leindra tidak memiliki teman hanya karena mereka lebih spesial.


***


__ADS_2