Neina dan Leindra

Neina dan Leindra
BAB 28. PERAWATAN WAJAH


__ADS_3

Aaaaa!!!


Selalu begitu teriakan para wanita yang memasuki studio melihat sosok Andara. Mereka bergiliran satu-persatu berfoto bersama idola mereka.


Rini tersenyum geli melihat Andara yang tidak ada perlawanan sama sekali. Ia terlihat lesu namun memaksakan untuk tersenyum.


Gema saat ini menjadi fotografer mendadak. Ia yang bertugas memfoto mereka menggunakan ponsel milik masing-masing.


Rini teringat pada anaknya yang ia tinggal di rumah. Ia pun kembali ke rumah untuk melihat keadaan mereka. Dan saat melihatnya di kamar keduanya masih tertidur. Ia tersenyum sebentar lalu kembali lagi ke tokonya.


Di luar Rini menatap tokonya yang sedang ramai itu sambil berdecak pinggang. Ia jadi ingat wajah Andara tadi. Begitu sangat lucu saat ia mengerjainya. Ia tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya apa yang telah ia lakukan pada pria malang itu.


Sudah 2 jam berlalu, dan semua pelanggannya sudah mendapat giliran. Rini pun menyuruh mereka untuk keluar karena tokonya akan segera tutup. Ia melihat roti dan kue-kue-nya ludes tidak bersisa di etalase. Ia begitu senang melihatnya.


Kemudian Andara pun keluar dari ruang studio itu. Ia duduk di salah satu meja dengan mendengus karena kelelahan.


“Hah, tega sekali padaku”, ucapnya merajuk.


“Sorry, habisnya anda sudah memporak-porandakan toko saya ini. Sekalian saja saya kerjai anda”, jawab Rini dengan santai.


Sekali lagi Andara menatap wajah cantik Rini. Walau sudah membuatnya kualahan tadi, tetap saja hatinya bergetar saat melihatnya. Hah, ia benar-benar tidak bisa marah pada Rini.


“Maaf juga karena telah merusak toko kamu. Tapi, sekarang kita sudah impaskan?”, ucap Andara sambil tersenyum pada Rini.


Rini membalas senyuman itu. Kemudian memberikan sebuah kartu nama pada Andara. Itu adalah kartu namanya. Ia berencana untuk mengantarkan roti-roti yang di pesan oleh Andara. Karena Rini mengerti jika Andara harus menyembunyikan identitasnya agar tidak di kerumuni seperti tadi.


Andara sungguh merasa senang akan hal itu. Dan ia menjadi teringat sesuatu. Tiga hari lagi ia akan mengadakan sesi wawancara dengan sebuah stasiun televisi.


Ia merasa toko milik Rini ini sangat cocok untuk itu. Ia berharap Rini mau menyetujuinya. Karena dengan Shooting di tokonya Rini juga akan mendapatkan keuntungan yang besar juga. Karen tokonya akan terkenal.


Rini tampak berpikir sejenak. Ia mengira tidak ada salahnya menerima penawaran tersebut. Toh, akan menguntungkannya juga.


“Deal?”, tanya Andara sambil mengulurkan tangannya.


“Deal”, balas Rini membalas uluran tangan Andara.


Lagi-lagi Andara merasa sangat senang. Sepertinya ia berhasil terus berdekatan dengan Rini. Ya, Andara sejujurnya menyukai Rini saat pandangan pertama. Jantungnya selalu berdegup kencang saat ia berada di dekat Rini.

__ADS_1


Setelah itu, Andara pun berpamitan pulang. Dan tidak lupa Rini membekalinya dengan brownies kesukaannya. Serta mengingatkannya untuk tidak terlalu banyak makan makanan manis mengingat Andara adalah seolah olahragawan.


Bukan main perasaan bahagia semakin bersemi di hatinya begitu mendapat perhatian dari wanita cantik di hadapannya itu. Ia sudah tidak kuat lagi menahan jantung yang sudah tidak karuan itu lagi. Ia langsung buru-buru keluar.


Ya, karena semua roti sudah habis Rini menutup tokonya dengan cepat hari ini. Ia pun langsung masuk ke rumahnya ingin mempersiapkan makan malam untuknya dan anak-anaknya.


Tapi, baru saja selangkah masuk ia sudah mendengar gelak tawa di dalam. Langkahnya terhenti sejenak karena terkejut mendengarnya. Ya, suara itu memang terdengar seperti tawa Neina. Tapi, Neina tidak pernah tertawa seperti itu jika hanya berdua bersama Leindra. Lalu, ia tersadar kembali dan mengikuti arah suara tersebut.


Dan benar saja di kamar itu terdapat seorang pria. Ia sedang tidur di kasur Neina. Sedangkan Neina duduk di atas perutnya dan mengoleskan masker di wajahnya. Tidak tanggung-tanggung bahkan mata pria itu di tutupi oleh potongan tomat.


“Neina? Itu.. itu siapa?”, tanya Rini yang sudah was-was.


Namun, Neina malah terkekeh. Dengan senang ia mengatakan jika pria itu adalah papanya. Mendengar suara Rini, Reno langsung hendak memarahinya karena telah meninggalkan mereka sendirian di rumah.


Tapi, belum sempat ia mengatakannya Neina sudah menghentikannya terlebih dahulu.


“Ssstt! Papa, jangan bicara dulu! Nanti maskernya pecah dan malah membuat wajah Papa berkerut!”, oceh Neina apa suara manja anak kecil.


Reno tidak bisa berkutik. Ia langsung diam begitu di marahi oleh Neina. Ia hanya bisa menunjukkan jarinya yang telunjuk dan ibu jarinya membentuk lingkaran.


Bagaimana bisa Rini menahan tawanya melihat Reno yang seperti makhluk luar angkasa itu. Bayangkan saja, wajahnya tertutupi adonan masker berwarna putih, mata di tutupi oleh tomat dan bibirnya jadi kelihatan dower karena memakai masker bibir. Apalagi saat ini Reno benar-benar tidak bisa berkutik lagi.


“Okey, selesai. Tinggal tunggu setengah jam. Iya kan Ma?”, tanya Neina pada Rini.


“Iya sayang”, jawab Rini sambil terkekeh.


“Dan menunggu maskernya mengering, gimana kalau aku kutekin kuku kaki Papa. Okey?”, ucap Neina menanyakan pendapat Reno.


Reno hanya bisa bilang em, em, saja. Padahal sebenarnya ia tidak mau. Tapi, Neina menganggapnya jika Reno setuju dengan usulannya. Neina langsung bergerak cepat ke kamar Rini dan mengambil sebotol kutek berwarna merah.


Sebenarnya kutek itu jarang Rini pakai. Ia hanya suka mengkoleksinya saja. Paling dia pakai kalau ia sedang menstruasi karena saat itu ia di larang untuk sholat.


Neina pun mulai mengecat kuku kaki Reno.


 Rini hanya menggelengkan kepalanya melihat anaknya yang sangat antusias itu. Lalu, ia melihat ke arah Leindra yang sedang duduk di depan komputer milik Neina.


Rini bertanya pada Leindra apa yang sedang dilakukannya. Karena ia tampak begitu serius sekali.

__ADS_1


Leindra melirik Rini sebentar dan bilang jika ia sedang memperbaiki software yang tidak berjalan atas permintaan Neina. Rini mengangguk saja.


Ya, karena semuanya masih asik dengan kesibukan masing-masing, Rini pun keluar dari kamar Neina dengan mengatakan jika dirinya hendak memasak untuk makan malam mereka.


Kedua anak pintar itu serentak mengatakan “Oke” dengan senyum yang lebar. Dan Rini pun berlalu pergi.


Ketak-ketik, ketak-ketik, lalu Leindra memencet kuat salah satu tombol di keyboard tersebut.


“Yes”, serunya bergembira.


“Pa, sudah selesai. Kita bisa menggunakannya besok”, ucap Leindra dengan suara pelan seperti berbisik.


Lagi-lagi Reno mengangkat tangannya dan menunjukkan jarinya yang berbentuk lingkaran itu pada Leindra.


Satu jam lebih telah berlalu. Kini Reno, Neina dan Leindra sudah berada di meja makan. Sedangkan Rini masih mempersiapkan makanannya di atas meja.


Sesekali ia melihat ke Reno yang wajahnya tampak bercahaya sehabis di masker dan juga bibirnya yang pucat pun telah menjadi merah delima. Tidak bisa di pungkiri jika Reno terlihat lebih tampan setelah perawatan di wajahnya.


Namun, saat melihat ke arah kakinya, sontak membuat Rini ingin tertawa tapi masih ia tahan. Bagaimana tidak, melihat kaki seorang pria yang penuh dengan kuteks berwarna merah dan belepotan dimana-mana.


Melihat Rini yang cengar-cengir, Reno langsung menatap tajam ke arah Rini. Ia tahu jika Rini sedang mengejeknya.


 Tapi, Rini tidak takut sama sekali dengan tatapan itu. Ia tetap cengar-cengir sambil meletakkan makanan yang sudah di masaknya.


Sebenarnya mereka terlihat aku hanya di depan anak-anak saja. Tapi, jika sedang berdua mereka akan terus beradu argumen.


“Rin, besok aku akan menjemput anak-anak dari sekolah dan membawanya ke kantor”, ucap Reno.


“Hah? Emangnya ada apa kamu membawa mereka ke kantor?”, jawab Rini terkejut dan menaruh curiga pada Reno.


“Loh, mereka inikan anakku juga. Sudah sepantasnya mereka tahu kantor Papa mereka. Dan seluruh karyawan juga harus tahu jika mereka adalah anak-anakku”, ucap Reno tegas.


Rini berpikir sejenak. Namun, jika di pikir-pikir ucapan Reno masuk akal juga. Ini juga bisa membantunya. Karena ia besok harus membicarakan kepada pegawainya mengenai wawancara Andara yang akan di selenggarakan di tokonya.


Dan setelah memantapkan hatinya, ia pun membolehkan Reno untuk membawa Neina dan Leindra ke kantornya.


***

__ADS_1


__ADS_2