Neina dan Leindra

Neina dan Leindra
BAB 26. KESEPAKATAN RENO DAN YUNITA


__ADS_3

Malam ini, Reno berada di sebuah restoran di temani oleh Yunita. Reno sengaja mengikuti keinginan Yunita yang mengajaknya makan malam bersama. Itu semua demi membuat Rini cemburu padanya. Padahal sebenarnya Reno sangat malas harus berduaan dengan Yunita.


Namun, berbeda dengan Yunita yang terlihat excited. Ia terlihat sangat bangga bisa berduaan dengan Reno. Dan di sela-sela menyantap makanan mereka, Yunita melontarkan pertanyaan mengenai kepulangannya ke ibu kota. Reno sampai berhenti mengunyah mendengarnya.


“Maaf Nita, aku belum bisa memastikannya. Aku tidak akan pulang sebelum anak-anakku mau ikut denganku”, jawab Reno dengan pasti.


“Anak? Kamu memiliki anak?”, tanya Yunita tidak percaya.


“Ya. Dan sekarang salah satunya sedang terbaring di rumah sakit”, jelasnya lagi.


“Apa salah satu? Berapa banyak anak yang kamu miliki Ren?”, tanya Yunita syok.


“Dua. Mereka kembar laki-laki dan perempuan”, jawab Reno.


Yunita langsung menarik napasnya. Hatinya sangat panas mengetahui jika Reno telah memiliki sepasang anak. Kalau begitu, akan mempersulit dirinya untuk merayu Reno. Ia pun mulai mengganti rencananya.


“Gimana kalau aku bantu kamu untuk membawa anak-anak kamu pulang bersama kamu? Tapi, jika rencanaku ini berhasil kamu harus berjanji secepatnya menikahi aku”, ucap Yunita memberi penawaran pada Reno.


Reno tidak langsung menjawab. Ada rasa kesal di dadanya mengetahui jika ada udang di balik batu yang berasal dari Yunita. Dari pertama kali kenal dengan Yunita hingga saat ini, tidak ada sedetik pun terlintas untuk menikahinya.


“Aku tidak ingin mereka merasa terpaksa ikut bersamaku. Dan aku juga tidak ingin menyakiti keduanya”, ungkap Reno yang berpikir mungkin saja rencana Yunita adalah menculik mereka.


“Kamu bisa mempercayaiku”, jawab Yunita dengan percaya diri. “Gimana Deal?”, lanjutnya lagi sambil mengulurkan tangannya.


Reno benar-benar bimbang. Ia sangat tahu watak Yunita yang licik ini. Dan kalau di benar-benar berhasil bagaimana? Sedangkan Reno sama sekali tidak mencintai Yunita. Bagaimana ia bisa menikahinya?

__ADS_1


Namun, tawaran Yunita untuk membantunya membawa anak-anak cukup menggiurkan. Akhirnya Reno pun menyetujuinya dan menjabat tangan Yunita. Baginya yang terpenting bisa  terus bersama dengan kedua anaknya.


Yunita tersenyum lebar. Ia merasa dirinya hampir mendekati tujuannya. Akhirnya cita-citanya menikahi Reno dan memiliki kekayaannya akan segera tercapai.


Dan setelah kesepakatan itu, Reno mengajak Yunita untuk ke rumah sakit melihat anak-anaknya. Tapi, Yunita menolaknya. Ia berdalih ada beberapa hal yang harus ia kerjakan malam ini. Sehingga tidak bisa menjenguk  anaknya.


***


Reno kembali ke rumah sakit. Ia mendapati anak-anaknya yang telah terlelap. Ningsih dan Lucky masih berada di sana. Namun, tampaknya mereka ingin segera pulang.


Reno merasa ada yang aneh dengan mereka. Tidak seperti biasanya mereka hanya berdiam saja. Bisa di katakan mereka selalu ceria dan punya tingkah aneh jika sudah bersama. Tapi, sepertinya tidak kali ini. Semua memperlihatkan wajah yang sayu.


Lucky pun beranjak dan mendekati Reno. Ia berpamitan kepada Reno.


Lucky tersenyum pada Reno. Rapat yang dia jalankan tadi berjalan dengan baik. Semua hasilnya sesuai seperti yang mereka harapkan.


Reno menganggukkan kepalanya. Dalam hati ada rasa bangga pada Lucky yang selalu memberikan yang terbaik untuk perusahaannya. Ya, walaupun terkadang Lucky sangat menjengkelkan. Tapi, di lain sisi dia adalah orang yang sangat bisa di percaya dan langsung bertindak cepat apabila di butuhkan.


Ningsih sedang mencium kening Neina yang sudah tertidur pulas itu. Setelahnya, ia mendekati Leindra yang tidur di sebelah Neina dan mencium keningnya. Sebenarnya ia juga ingin sekali menginap merawat Neina. Tapi, itu tidak mungkin karena orang tua mereka berada di sana. Lalu, Ningsih pun berpamitan dengan Rini dan Reno.


Reno tampak heran pada Rini yang hanya diam saja. Ini tidak seperti biasanya. Reno menebak-nebak jika Rini sedang kesal. Namun, ia tidak tahu Rini kesal dengan siapa. Hm, mungkinkah Rini sedang cemburu dengannya karena mengajak Yunita makan malam? Reno mengingat-ingat kejadian tadi.


“Bos. Sepertinya mbak Rini belum makan sejak siang tadi. Aku takut kalau dia jatuh sakit juga”, bisik Lucky sebelum ia keluar dari ruangan itu.


“Hm”, jawab Reno yang entah peduli atau tidak.

__ADS_1


Reno menarik napasnya. Ia pun keluar kembali menuju kantin rumah sakit. Ia membeli sebungkus nasi beserta sayur dan lauknya.


Setelah itu ia kembali lagi dan memberikan nasi bungkus itu pada Rini. Ia juga menyuruh Rini untuk segera makan.


“Aku tidak mau! Aku tidak lapar”, jawab Rini ketus.


Ia memang tidak berselera makan sejak siang tadi. Walaupun perutnya sudah terasa lapar tapi ia sangat malas untuk makan. Rasanya sangat tidak enak harus makan sedangkan anaknya sedang sakit begitu.


“Terserah. Aku tidak peduli. Aku sudah berbaik hati denganmu. Tapi, kalau kamu yang tidak peduli dengan kesehatanmu, itu bukan urusanku!”, ucap Reno yang terlihat geram.


Karena pemberian Reno tidak di terima oleh Rini, ia pun meletakkannya begitu saja di atas nakas. Lalu ia berbalik melihat kedua anaknya yang sudah terlelap itu.


“Kamu pulanglah. Kamu tidak perlu repot-repot mengurus mereka. Aku bisa melakukannya sendiri. Mereka adalah anak-anakku. Jadi, aku sudah terbiasa dengan ini”, jelas Rini yang masih duduk di sofa.


“Mereka anak-anakku juga. Jadi, tidak usah memberitahukan aku apa yang harus dan tidak aku lakukan”, jawab Reno yang tidak senang Rini mengusirnya.


Rini menarik napasnya dengan begitu kesal. Harus dengan kata-kata apa lagi ia membuat Reno untuk pergi dari ruangan ini. Ia tidak mau jika Reno terus berada di dekatnya. Sejak tadi hatinya sudah terasa sangat buruk.


Reno juga sudah merasa muak melihat Rini. Ia berpikir seolah-olah Rini adalah yang paling benar salam mengurus anak-anak. Seolah-olah ia tidak memiliki kesalahan apapun.


Rini kembali memainkan gawai-nya. Ia pura-pura sibuk sendiri. Padahal ia sudah mati gaya tidak tahu harus berbuat apa lagi. Apakah ia harus mencoba mengusir Reno sekali lagi? Tapi, mungkin hasilnya akan sama saja. Reno juga orang yang sangat keras kepala.


Tapi, sepertinya Reno tahu apa yang diinginkan Rini. ia pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Ia duduk di kursi tunggu dan menyandarkan tubuhnya yang terasa letih itu. Ingin sekali ia ungkapkan rasa bencinya pada Rini. Tapi, ini bukanlah tempat yang tepat. Ia hanya bisa menahannya saat ini. Ia pun memejamkan matanya di sana.


***

__ADS_1


__ADS_2