
Yuki mendengus kesal. Ia merasa jika Reno semakin lemot saja.
“Ya, Mama aku lah kak. Mama Suri! Iya kali Mama Ratna. Ya nggak mungkinlah dia mau ngancuri perusahaan kakak”, jawab Yuki.
Reno kembali lemas. Rasanya lelah sekali terus berperang dengan mereka. Padahal apa yang dia dapatkan ini hanya sebagian kecil dari ayahnya. Dan itu pun memang sudah menjadi haknya.
Reno bukanlah pencuri yang mengambil harta ayahnya. Tapi, seakan ia dianggap sebagai pencuri oleh keluarga istri pertama Papanya.
“Jadi kamu juga ingin menghancurkan ini juga?”, tanya Reno sambil menatap langit-langit.
“Maaf kak. Tapi, aku hanya menjalankan perintah Mama aja”, jawab Yuki memelas. Habisnya, kalau aku nggak nurut ntar mama nggak mau ngasih aku uang untuk shoping”.
Sekali lagi Reno memicingkan matanya tajam pada Yuki.
Sedangkan Yuki hanya cengengesan melihat Reno.
“Kamu kan sudah bekerja di perusahaan Pak Bram? Masa masih minta juga?”, ucap Lucky sewot.
“Ye, biarin aja! Masalah buat Lo!”, jawab Yuki yang juga sewot.
Yuki mau pun Lucky sama-sama memalingkan wajah mereka karena kesal antara satu sama lain.
Lalu, Yuki melihat anak laki-laki yang berada di sebelah. Lucky. Ia lantas menanyakan anak kecil siapakah itu.
“Dia Leindra anak kakak”, jawab Reno.
“What? Anak kakak juga? Jadi kalian ini kembar? Duh lucunya”, ucap Yuki yang terus gemas pada anak-anak itu. “Hai, Leindra. Aku Onty Yuki”.
Leindra tidak bergeming. Ia tetap memasang wajahnya yang ketat itu. Ia sama sekali belum respect terhadap Yuki.
Lalu, Yuki teringat akan hal. Ia belum bertanya siapa orang yang pintar yang telah mengalahkannya meretas sistem di perusahaan ini.
“Jadi, apakah kakak yang mengembalikan sistemnya seperti semula?”, tanya Yuki penasaran.
Reno menggelengkan kepalanya. Membuat Yuki sedikit bingung. Lalu, ia menatap Lucky.
__ADS_1
“Jadi, si aneh ini yang melakukannya?”, tanya Yuki lagi sambil menunjuk Lucky.
“Eh, siapa yang aneh! Kamu tuh yang aneh!”, ucap Lucky kesal di sebut aneh oleh Yuki.
“Emang kamu aneh kok! Makanya masih jomblo. Hohoho!”, balas Yuki lagi yang senang menggoda Lucky.
Wajah Lucky pun memerah karena marah. Ia sampai mengepalkan tangannya.
“Emang kamu punya pasangan? Jomblo juga kan?!”, ucap Lucky yang tidak mau kalah.
“DIAM! Apa perlu saya nikahkan kalian di sini?”, teriak Reno.
Yuki dan Lucky sama-sama terkejut mendengar teriakan Reno. Tapi, mereka langsung sadar dan langsung membaca mantra ajaib sambil menokok kepala mereka dan juga badan meja.
Keduanya sama-sama bergidik geli mengingat jika mereka sampai menikah. Karena sejak awal Yuki dan Lucky tidak pernah akur jika bertemu.
“Bukan! Bukan Lucky yang melakukannya”, ucap Reno.
Tentu saja hal itu membuat Yuki semakin bingung. Jika bukan kedua orang dewasa yang ada di depannya, lantas siapa yang melakukannya?
Yuki pun mengikuti ke mana arah mata Reno memandang. Dan ia pun langsung terkejut, tidak percaya jika Leindra adalah orangnya.
Berkali-kali Yuki mengatakan jika Reno telah membohonginya. Mana ada anak kecil yang bisa melakukannya. Sedangkan dirinya saja butuh waktu bertahun-tahun mempelajarinya.
“Beneran Onty. Kalau tidak, mana mungkin aku bisa sampai kemari”, ucap Neina sambil menaik-turunkan alisnya.
Yuki menatap Leindra kembali. Sepertinya ia masih tidak percaya dengan kegeniusan anak-anak ini. Tapi, ia melihat sesuatu yang aneh pada Leindra. Ia pun mulai berbisik pada Neina.
“Sst Neina! Itu si Leindra kulkas berapa pintu sih?”, bisik Yuki pada Neina walaupun sebenarnya suaranya terdengar juga oleh yang lainnya.
“Sepuluh pintu Nty, xixixi”, Jawab Neina cekikikan.
Yuki tersenyum, tapi sebenarnya ia ingin sekali tertawa ngakak. Lucu memikirkan betapa dinginnya Leindra seperti kulkas sepuluh pintu. Begitu pula dengan Reno dan Lucky. Namun, mereka hanya bisa menahannya. Karena takut Leindra akan marah.
Ketiganya berdehem untuk meminimalisir rasa geli mereka. Tapi, Leindra malah melirik mereka satu-persatu dengan sinis.
__ADS_1
“Sudah! Pokoknya ini semua kakak sita!”, ucap Reno mengalihkan pembicaraan sambil menunjuk semua peralatan milik Yuki yang berada di meja.
“Yah, jangan dong kak!”, ucap Yuki memelas. “Ntar Mama marah sama aku. Terus uang jajanku gimana? Lusa ada launching produk terbaru. Tas, sepatu, baju aku mau beli semuanya kak”, lanjut Yuki merajuk.
“Ck! Kamu tuh ya, masih aja mikirin penampilan! Udah tau uang nggak cukup, masih aja maksa!”, ucap Lucky yang masih sewot.
“Eh, jangan sepele ya! Uangku cukup kok untuk beli itu semua! Cuma aku inikan anak yang rajin menabung jadi aku minta sama Mama aja. Terus uangku, ya aku tabung aja untuk masa depanku nanti” jawab Yuki merasa sudah benar.
Lucky hanya bisa menepuk jidatnya mendengar ucapan Yuki yang luar biasa itu. Konsep menabungnya sungguh berbeda dari yang lainnya.
“Sudah! Kalian ini selalu aja berisik! Lucky cepat bawa Yuki!”, perintah Reno.
“Mau di bawa ke mana bos?”, tanya Lucky yang bingung dengan perintah Reno.
“Ke pelaminan! Ya keluar dari sinilah! Masih nanya lagi!”, jawab Reno kesal dengan kelemotan Lucky.
Lucky pun menyengir kuda sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Ia pun segera metergap Yuki.
“Aku nggak mau keluar sebelum kakak ganti rugi! Aku minta 1 M!”, pinta Yuki dengan kesal.
“Nggak! Enak aja ganti rugi. Kamu yang sudah buat kakak rugi! Lagian kamu sudah terlalu boros!”, jawab Reno kesal.
Yuki mendengus kesal. Ia sampai menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil yang sedang merajuk.
“Oke! Kalau begitu aku akan tetap di sini! Sampai kakak memberikanku uang!”, ucap Yuki mempertahankan kehendaknya.
Yuki mengeraskan tubuhnya saat Lucky tengah menariknya. Ia tetap kekeuh ingin berada di sana. Reno yang melihat Yuki seperti itu langsung berdecak pinggang.
“Angkat dia!”, perintah Reno pada Lucky. “Ayo anak-anak, kita pulang!”.
Hap! Dengan cepat Lucky menggendong Yuki dan meletakkan tubuhnya di pundak Lucky.
Yuki berteriak minta di turunkan. Tapi, Lucky tetap menggendong dan membawa Yuki keluar. Yuki terus berteriak sambil memberontak memukul punggung Lucky seta kakinya yang terus bergerak.
“Dada Onty Yuki, xixixi”, ucap Neina melambaikan tangannya sambil cekikikan.
__ADS_1
***