
Setelah Rini agak tenang, Lucky dan Ningsih mengajaknya untuk masuk ke ruang Neina di rawat. Tapi, Rini masih tidak ingin masuk ke sana. Ia belum siap menghadapi Reno. Ia menyuruh keduanya untuk masuk terlebih dahulu. Dan mau tidak mau mereka pun hanya masuk berdua saja.
Ningsih mengetuk pintu ruangan tersebut. Reno yang mendengarnya langsung membukanya. Dan ia terlihat kaget melihat dua insan aneh berada di hadapannya.
“Ya Allah..., Bunny sweetie ku. Kasihan banget..”, teriak Ningsih melihat Neina yang terbaring di bangsal.
Ningsih langsung masuk sebelum di beri aba-aba oleh Reno. Ia meletakkan barang bawaannya dan langsung mencium Neina serta mengelus-ngelus kepalanya. Rasanya ia tidak tega melihat anak sekecil Neina harus di cucuk oleh jarum impus.
“Bunny Mami jangan sedih ya sayang. Karena Mami bawa ini...”, sambung Ningsih dengan menunjukkan sebuah bungkusan pada Neina. “Nasi soto dengan ekstra ayam”.
Seketika Neina langsung sumringah. Ia langsung meminta Ningsih untuk segera membuatkan untuknya. Reno benar-benar tidak menyangka jika Neina mau makan lagi.
“Tadi, kan Neina baru aja makan soto yang Papa belikan. Kok ini malah mau makan lagi? Emangnya kurang banyak?”, tanya Reno yang terheran.
“Iya sih Pa. Tapi, yang di beli sama Mami ini...”.
“Nasi Soto Spesial warung Soto Tok Abah”, seru Ningsih dan Neina bersamaan.
“Ini nasi soto kesukaan kita, iya kan Mi?”
“Iya dong, Sayang”, jawab Ningsih sambil mencium gemas Neina.
Ya, Reno baru menyadari jika nafsu makan yang berlebihan milik Neina itu di tularkan oleh Ningsih. Reno benar-benar tidak terima jika nantinya tubuh Neina malah menjadi seperti Ningsih yang padat berisi.
Lalu, mata Ningsih memandang ke arah Leindra yang sedang duduk sendirian memegang HP namun terus memandanginya. Ia juga merasa sangat sedih melihat Leindra yang hanya berdiam diri di sana.
“Mm, my prince jangan sedih ya. Mami juga bawain kok makanan kesukaan pangeranku yang ganteng sejagat raya ini”, ucap Ningsih dengan nada centilnya.
Ia mengambil satu bungkusan lagi. “Tada! Ayam bakar madu..”, ucap Ningsih sambil memperlihatkan bungkusan tersebut.
Ia berjalan ke arah Leindra untuk memberikan bungkusan tersebut padanya. Leindra cepat-cepat meletakkan HP-nya begitu tahu Ningsih membawa makanan kesukaannya. Wajah yang cemberut dari tadi telah berubah menjadi senyum yang lebar.
__ADS_1
Hah, jarang-jarangkan Reno melihat senyum selebar itu dari Leindra. Hati kecilnya begitu iri. Bahkan dirinya pun belum pernah membuat anak-anak sebahagia sekarang ini. Okelah jika ibu mereka yang membuat keadaan bahagian ini. Tapi, masalahnya Ningsih. Ningsih yang bukan siapa-siapanya anak-anak malah bisa membuat ruangan ini terlihat berwarna. Bahkan Ningsih tahu apa saja kesukaan Neina dan Leindra. Tidak seperti Reno yang tidak tahu apa-apa mengenai apa yang disuka dan tidak oleh anak-anaknya.
Dan lagi-lagi dalam hatinya Reno menyalahkan Rini. Karena Rini-lah anak-anaknya tidak bisa sedekat itu padanya. Dan gara-gara Rini juga Reno jadi tidak bisa mengetahui apa yang di sukai anak-anaknya.
Reno melihat betapa perhatiannya Ningsih terhadap anak-anak. Bahkan sekarang dengan telaten ia membantu Leindra membuka bungkusan berisi ayam bakar itu.
“Mami...! Kok jadi Leindra duluan sih yang di bukain!” panggil Neina yang sudah mulai kesal.
“Mati aku, Bunny-ku udah marah”, gumam Ningsih ketakutan. “Leindra cuci tangan dulu ya Sayang”, perintah Ningsih.
Kemudian, Leindra pun beranjak untuk mencuci tangannya. Sedangkan Ningsih kembali pada Neina yang mulutnya sudah 5 cm maju ke depan.
“Yah, jangan ngambek gitu dong my bunny. Kasihan dong nasi sotonya di manyunin gitu”, ucap Ningsih sambil menyiapkan Nasi soto buat Neina.
Setelah itu Ningsih pun menaruh meja kecil di atas kaki Neina. Lalu meletakkan semangkuk soto dengan ayam yang banyak, nasi dan tidak lupa perkedelnya.
“Makasih Ya, Mi”, ucap Neina yang sudah kembali sumringah dan ingin segera menyantap makanan di hadapannya itu.
“What? Oma?”, Ningsih berteriak terkejut mendengar jika Reno menyebutnya Oma-Oma.
“Pppfftt”, Lucky menahan tawanya.
Namun, ternyata Ningsih mendengarnya. Ia langsung menatap Lucky dengan tatapan sambaran petirnya. Seketika Lucky berdehem untuk meredakan rasa geli di dadanya.
“Duh, Bos Reno ini katarak ya? Lihat nih, pipi aku yang cubby..” ucap Ningsih sambil bergaya pose ala-ala anak 2000-an menggembungkan pipinya.
‘Cubby apaan? Itu sih udah kayak ikan buntal’, ejek Reno dalam hatinya.
“Nih, kulit wajahku, kencang kan bos. Nggak klemir-klemer dan kempot”, sambung Ningsih lagi sambil mencubit-cubit pipinya sendiri.
‘Ya, iyalah kencang. Ke isi lemak!’, jawab Reno lagi dalam hatinya.
__ADS_1
“Dan, Bos nggak liat? Wajahku ini putih, glowing lagi..”, lanjutnya lagi.
“Glowing apaan? Berminyak gitu, udah bisa kali buat goreng ayam tuh muka berminyak”, ejek Reno lagi.
“Ya kan... jadi ya cocok-cocok aja dong di panggil Mami”, ucap Ningsih percaya diri.
Lucky yang mendengarnya saja udah setengah mati menahan tawa. Sampai-sampai ia sesak kentut juga. Geli melihat wajah Ningsih yang putih glowing itu. Kemudian, Lucky teringat sesuatu. Ia mengotak-atik HP-nya dan menemukan sebuah foto ulat daun pisang lalu memperlihatkannya pada Reno.
Reno pun melihat gambar ulat daun pisang yang itu lalu, menatap Ningsih. Tiba-tiba gelak tawa pun terdengar dari Reno dan juga Lucky. Mereka sampai memukul-mukul pinggiran bangsal itu sangking lucunya membandingi Ningsih dengan ulat daun pisang yang mirip dengannya itu.
Ningsih pun heran serta kesal karena mereka menertawakannya. Dengan sigap ia pun merampas HP Lucky itu. Dan betapa kesalnya dia melihat gambar ulat daun pisang itu. Ia baru sadar jika kedua manusia itu menyamakan dirinya dengan ulat daun pisang itu.
“RENO!!!”, teriak Ningsih yang menggelegar di seluruh penjuru ruangan.
“Gawat Bos. Cepat kabur!” ucap Lucky pada Reno.
Reno pun langsung terbirit-birit keluar dari ruangan itu. Ningsih pun mengejarnya tapi Reno sudah menutup pintu itu dan menahannya agar tidak terbuka oleh Ningsih. Lucky terkekeh melihatnya.
“Kamu juga!”, teriak Ningsih pada Lucky.
Namun, Lucky sudah merencanakan sesuatu. Ia langsung berlutut dan menyatukan kedua telapak tangannya di hadapan Ningsih.
“Ampun ndoro Putri. Saya sengaja biar Bos Reno keluar. Kan saya mau berduaan aja sama kamu dan anak-anak”, Lucky beralasan sambil mengedipkan sebelah matanya
Seketika Ningsih diam dan kesem-sem. Pipinya merona karena malu di goda oleh Lucky. “Oh, gitu. Ya udah”, jawab Ningsih menahan senyumnya yang malu-malu itu.
Neina sudah dari tadi tertawa melihat kejadian lucu itu di depannya. Tapi, berbeda dengan Leindra yang malah mual melihat Lucky merayu Ningsih.
***
ULAT DAUN PISANG
__ADS_1