
Yunita sedang mengunjungi sebuah Mall. Tangannya sudah penuh dengan barang belanjaannya. Sepatunya saja sudah ganti menjadi hak tinggi lagi. Ia berjalan dengan lagaknya.
Dan tiba-tiba saja HP-nya berdering. Ia pun sibuk mengambilnya di dalam tas. Ia terlihat kesulitan karena tangannya sudah penuh memegangi tas belanjaannya. Setelah berhasil mengambilnya, ia pun melihat nama di layar HP-nya tersebut. Dan seketika wajahnya menjadi lesu. Rasanya ia malas sekali untuk mengangkatnya. Kalau saja bukan calon mertuanya, dia tidak akan mau mengangkat panggilan itu sekarang.
“Ya, Tante”, ucap Yunita.
Kemudian, ia mendengarkan jawaban dari seberang sana. Ratna bertanya pada Yunita apakah dia sudah menemui Reno atau belum.
“Sudah, Tan. Tapi, anak Tante itu keras kepala banget. Oh, iya. Tante tau? Tadi, aku juga bertemu dengan Rini”, Yunita mulai memanasi Ratna.
Jelas Yunita senang jika Ratna kepanasan mendengar cerita darinya. Ratna juga tidak suka dengan Rini sejak awal. Begitu juga dengan Yunita yang sudah mengincar Reno dari dulu atau lebih tepatnya harta kekayaan keluarga Reno.
Yunita menjauhkan HP-nya dari telinga begitu mendengar teriakan dari Ratna. Kupingnya terasa sakit mendengar jeritan maut itu.
“Iya, Tan. Rini datang ke kantornya Reno. Aku yakin dia pasti lagi ngebujuk Reno lagi biar mereka bisa bersama kembali. Kalau itu terjadi, terus nasib aku gimana dong, Tan?”, ucap Yunita berpura-pura memelas.
Ratna pun membujuk Yunita agar tidak merajuk. Ia berjanji akan secepatnya menyelenggarakan pernikahan dirinya dan Reno. Ratna juga menyuruh Yunita agar membujuk Reno dan juga menjauhkan Reno dari Rini.
“Oke, Tan. Tante bisa mengandalku. Pokoknya....”
BRUK!
Seseorang menabrak pundak Yunita dan membuatnya sedikit memutar sekaligus melihat orang tersebut. Seketika Yunita terpaku. Matanya berbinar melihat makhluk indah di hadapannya itu.
Di seberang sana, seorang wanita paruh baya sedang memanggil-manggil Yunita karena ucapannya sempat terpotong. Mendengarnya Yunita langsung tersadar.
“Ya, Tante. Udah dulu ya. Saya buru-buru nih”, ucap Yunita dan langsung mengakhiri panggilan tersebut.
Yunita terkesima dengan pria itu yang mengambil belanjaannya yang terjatuh. Pipi Yunita pun merona. Dan saat pria itu memberikan tas belanjaannya itu, tangan Yunita sampai gemetaran menerimanya.
“Maaf Ya, aku lagi buru-buru soalnya”, ucap pria itu pada Yunita.
“I..iya nggak apa-apa kok”, jawab Yunita gugup dan malu-malu.
__ADS_1
Pria itu langsung bergegas pergi dengan memakai penutup kepala Hoodie-nya. Yunita masih mematung melihat pria tersebut. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan pemain sepak bola yang paling terkenal dan juga tampan nan rupawan.
‘Ya ampun. Ternyata kalau dari dekat lebih ganteng. Dia tuh idaman aku banget’, ucap Yunita dalam hati yang lagi ke sem-sem.
***
Setelah berjam-jam tidur, akhirnya Neina mulai sadar. Ia perlahan membuka matanya. Ia pun tersenyum melihat samar-samar pria tertampan di dunia versi Neina sendiri yaitu ayahnya.
Reno sangat senang melihat Neina yang sudah siuman. Ia segera membangunkan Rini yang sedang tertidur di sofa bersama Leindra. Ia membangunkannya perlahan agar Leindra tetap terjaga.
Rini langsung menemui Neina ketika Reno memberitahukannya jika Neina sudah siuman. Rini langsung mengusap-usap rambut Neina dan juga mengecup keningnya. Sekarang hatinya perlahan merasa lega.
Reno pun juga ikut menciumi Neina. Tapi, yang di ciumnya adalah punggung tangannya. Neina merasa sangat senang melihat papanya yang sekarang selalu berada di dekatnya. Setelah sekian lama ia tidak pernah bertemu dengan papanya.
“Pa..”, panggil Neina masih lemas.
“Ya sayang. Kenapa?”, jawab Reno sedikit cemas.
“Aku, mau bilang sesuatu Pa”, ucap Neina lagi.
“Aku... mau nasi soto pakai perkedel. Pakai ayamnya yang banyak juga. Papa bisa belikan untukku kan?”
GUBRAK!
Reno dan Rini yang mendengarnya berasa ingin tiduran di lantai. Bisa-bisanya Neina masih sempat memikirkan makanan di saat sedang sakit seperti itu.
“Ya ampun, Neina... papa kira kamu mau bicara apa. Sampai cemas Papa, nak” jawab Reno meringis.
“Habisnya cacing peliharaan Neina udah pada kejang-kejang Pa. Kasian deh”, ucap Neina meyakinkan.
“Ha..ha..ha... anak Papa pintar banget ya ngelesnya”, Reno tertawa karena lucu dengan ucapan Neina.
Neina pun tersenyum malu pada Papanya. Ia yang memang sangat suka makan malu harus bilang jika ia lapar. Begitu pula dengan Rini yang juga tersenyum mendengar alasan dari Neina itu.
__ADS_1
***
TRING!
Suara lonceng terdengar di toko kue milik Rini itu. Seorang pria masuk ke dalam. Untungnya toko itu sedang tidak terlalu ramai. Ia masih saja menutupi wajahnya dengan masker dan memakai topi Hoodie-nya.
Ia memesan sepotong brownies dan kopi instan. Setelah itu, ia pun memilih tempat duduk yang paling pojok. Saat itu, Zahra yang mengantar pesanan pria itu. Tapi masalahnya pria itu membuka maskernya sebelum Zahra selesai meletakan makanan itu.
“A... Andara?”, ucap Zahra yang kaget melihat pemain sepak bola yang sedang viral itu.
“Sssttt, jangan kuat-kuat. Ntar yang lain tau kalau aku di sini”, ucap Andra bisik-bisik sambil memakai maskernya lagi.
Zahra langsung menganggukkan kepalanya. Namun, ia tidak kunjung pergi juga. Ia masih memandang takjub makhluk tampan itu. Sehingga Andara merasa sungkan dan risih di lihatin seperti itu.
Mau makan pun rasanya jadi tidak selera. Zahra terus saja berdiri di depan Andra sambil senyam-senyum gak jelas. Semakin dilihat senyum Zahra semakin menakutkan bagi Andara.
Dari jauh, Gema sudah memanggil-manggil nama Zahra sedari tadi. Padahal ada beberapa pesanan lagi yang harus di antar ke meja pelanggan. Gema menjadi terheran melihat Zahra yang terus berdiri di hadapan pelanggan itu. Apalagi sekarang Zahra sudah menjelma jadi siluman budek.
Gema pun menjadi kesal. Kini ia harus mengerjakan pekerjaan Zahra untuk mengantar pesanan. Setelahnya, ia pun mendekati Zahra.
“ZAHRA!” teriak Gema di telinga Zahra.
Seketika Zahra pun ikut berteriak sangking kagetnya. Ia merasa marah karena Gema telah memekakkan telinganya.
“Makanya kalau di panggil itu datang!”, ucap Gema yang jauh lebih kesal.
Ia melihat ke arah pelanggan itu. Lalu memicingkan matanya karena tidak suka melihatnya. Tapi, anehnya Zahra menjadi termenung lagi ketika melihatnya.
“Aaarrrgghh! Ayo ikut denganku!”, ucap Gema sambil menarik tangan Zahra yang belum juga terlepas dari melihat Andara.
Kini Andara bisa bernapas lega. Ia sudah sangat lapar dan ingin segera menyantap makanan yang manis itu. Ia harus lebih hati-hati agar tidak ada yang mengenalinya. Ia pun membuka maskernya lagi dan dengan cepat melahap potongan brownies itu lalu memakai maskernya kembali.
Andara tiba-tiba berhenti mengunyah. Ia sangat suka dengan rasa brownies tersebut. Ini adalah brownies terenak yang pernah ia makan. Ia melihat ke arah etalase yang berisi kue dan bolu yang beraneka. Rasanya ia ingin mencicipi semuanya. Rasanya ia tidak akan pernah bosan datang ke tempat itu.
__ADS_1
***