Neina dan Leindra

Neina dan Leindra
BAB 27. KUPON BERHADIAH


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, dan tidak ada hal yang berkesan bagi Rini maupun Reno. Walaupun mereka bersama-sama tinggal mengurus Neina, tapi mereka sama sekali tidak saling bicara.


Neina sudah sembuh dan ia sudah di bolehkan untuk pulang. Reno pun mengantar mereka sampai ke rumah Rini. Setelah itu, ia berpamitan pada kedua anaknya untuk pergi bekerja. Karena beberapa hari ini ia tidak masuk ke kantor.


Neina meminta Rini untuk menemaninya tidur lagi. Dan Rini dengan senang hati menggendong Neina dan merebahkannya di kasur empuknya. Rini berbaring di sebelah Neina menemaninya hingga ia tertidur.


Rini teringat saat tadi baru sampai. Ia melihat pengunjung yang begitu ramai. Ia menjadi penasaran dengan apa yang terjadi di tokonya. Sebelum beranjak, ia sempat membelai dan mencium kening Neina.


Rini melangkah keluar dari kamar Neina dan pindah ke kamar Leindra. Ia meminta Leindra agar menjaga Neina sebentar sementara dirinya melihat kondisi toko rotinya. Dan setelah Leindra menyetujuinya, ia pun bergegas pergi menuju tokonya.


Dari luar ia melihat orang-orang yang berkerumun. Ia pun semakin penasaran dan mempercepat langkahnya. Saat masuk situasi sudah berdesakkan. Ia mencoba untuk menembus orang-orang itu agar pusat perhatian mereka bisa terlihat olehnya. Namun, hal itu tidak berhasil.


Rini pun menyerah. Perlahan ia keluar dari kerumunan itu. Ia memanggil Zahra dan Gema. Mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi di tokonya itu.


Zahra dan Gema saling berpandangan satu sama lain. Sepertinya mereka agak ragu untuk mengatakannya. Sebenarnya hal ini benar-benar di luar jangkauan mereka.


“Ayo katakan apa yang terjadi? Ada apa dengan mereka?”, tanya Rini yang frustrasi melihat keadaan tokonya di tambah dua karyawannya yang hanya diam saja.


Gema menyenggol-nyenggol pundak Zahra. Sepertinya Gema menginginkan jika Zahra saja yang menjelaskannya pada Rini.


Zahra memandang wajah Rini yang sudah kesal itu. Ia seperti menunggu Zahra untuk memberitahukannya. Dengan begitu pun tidak ada pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya.


Ya, Zahra menceritakan jika ada seorang pemain sepak bola bernama Andra yang datang ke toko itu. Dan sejak saat itu, ia menjadi sering datang ke sana. Ia juga mengatakan jika awalnya Andra menutupi dirinya dan juga wajahnya. Tapi, sayangnya ada seseorang yang mengenalinya dan terjadilah seperti yang mereka lihat saat ini.


Ya, siapa yang tidak kenal dengan Andara. Ia adalah pemain sepak boleh tanah air yang sudah banyak mencetak gol dan mengharumkan nama bangsa. Fans-nya juga banyak di mana-mana.

__ADS_1


Rini menghela napasnya. Ia pun meminta mikrofon pada Gema. Setelah mendapatkannya ia pun mulai bicara.


“Perhatian! Mohon perhatiannya!”, ucap Rini.


Tapi, sepertinya tidak ada yang memedulikan suara Rini itu. Ia pun menghela napas kesal. Sejenak ia berpikir apa yang harus di lakukannya agar bisa memecah kerumunan itu. Dan ia pun mempunyai ide.


“Perhatian untuk para pengunjung, harap tenang. Kami akan memberikan kesempatan untuk anda yang membeli roti apa saja di toko kamu dan akan mendapatkan kupon dengan hadiah foto bersama pemain sepak bola kita, Andara!”, ucap Rini dengan suara yang lebih kuat agar terdengar oleh mereka semua.


Seketika orang-orang itu berbalik dan melihat pada Rini dengan wajah heran. Begitu juga dengan Gema dan Zahra. Perasaan mereka tidak pernah memiliki kupon semacam itu. Perasaan mereka pun jadi tidak enak. Bagaimana jika mereka semua tahu jika Rini hanya berbohong.


“Mbak, tapi Kita kan nggak punya kupon semacam itu?”, bisik Zahra yang ketakutan.


“Makanya sekarang cepat kamu buat dan cetak. Pakai kertas biasanya aja lalu potocopy dan gunting”, Jawab Rini yang sudah memikirkannya sejak tadi.


Zahra pun mengerti dan ia langsung menarik tangan Gema untuk membantunya membuat kupon tersebut.


Ya, jika di lihat-lihat mereka sangat banyak. Tapi, apa boleh buat ia harus menghentikan aksi mereka itu. Rini menganggukkan kepalanya. Ia meyakinkan semua orang dan menyebutkan rule-nya.


Dan akhirnya mereka pun mau berpencar dan mengantre untuk membeli roti agar mendapatkan kupon tersebut.


Tidak lama, Zahra kembali ke kasir dengan membawa beberapa kupon dan sisanya sedang di kerjakan oleh Gema.


Sementara itu, Rini yang telah melihat Andara yang mematung di sebuah kursi itu langsung mendatanginya. Ia langsung menarik tangan Andara.


Mungkin Andara sudah terlalu banyak terkena jepretan foto. Ia menjadi linglung karena nyawanya sudah tidak di tubuhnya lagi.

__ADS_1


Namun, Rini tetap berusaha menyadarkan Andara. Ia terus mengguncang-guncang tubuh Andara sampai pada akhirnya Andara bisa melewati masa kritisnya. He...he...he...


Andara terkejut lalu terperanjat saat melihat Rini. Di matanya Rini bak malaikat penolongnya. Rini menyuruhnya untuk mengikutinya dan Andara mengikutinya begitu saja. Ia berjalan dan terus saja melihat wajah Rini yang sangat indah itu. Seakan-akan Rini disinari oleh cahaya yang menambah keindahannya. Andara sampai tersenyum-senyum sendiri mengkhayalkan sesuatu.


Tentu saja Rini menjadi ngerih dan ilfeel melihat Andara tersenyum begitu padanya. BRAK! Rini menutup pintu dengan kuat membuat khayalan Andara semuanya buyar.


Mereka kini berada di sebuah ruangan yang mirip dengan studio. Ya karena ruangan tersebut di pakai untuk membuat foto roti-roti dan kue-kue yang akan di posting ke sosial media.


Andara terduduk lemas. Ia bisa bernapas lega sekarang karena telah terhindar dari serangan fans-nya itu. Dia mengucapkan banyak terima kasih pada Rini yang telah membantunya.


“Ini belum berakhir tuan Andara. Apa anda tadi tidak dengar saya bilang apa?”, ucap Rini tersenyum sambil melipat tangan di dadanya.


Andara mengerutkan dahinya. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang telah di katakan Rini sebelumnya. Tapi, sepertinya ia tidak mendengarkan apa-apa karena kebisingan yang di sebabkan orang-orang tadi.


Rini tertawa kecil melihat Andara yang terlihat bingung itu. “Anggap saja ini sebagai ganti rugi karena anda telah membuat kacau toko saya”, ucap Rini dengan senyum liciknya.


“Hah? A..apa maksud kamu?”, jawab Andara yang merasa takut.


“Ya, karena kamu telah membuat kerusuhan ini. Jadi, tadi aku bilang pada mereka dengan membeli satu box roti mereka akan mendapatkan kupon foto bersama dengan anda”, jawab Rini yang masih tersenyum penuh kemenangan.


“A..apa? Jadi, aku keluar dari kandang buaya masuk ke kandang singa nih ceritanya?”, tanya Andara yang tidak percaya telah di manfaatkan oleh Rini.


“Begitulah... hi hi hi”, jawab Rini tertawa geli.


Andra pun kembali merasa lemas. Ia bersandar di badan kursi sambil berkomat-kamit membaca doa agar dirinya kuat menghadapi cobaan ini.

__ADS_1


***


__ADS_2