Neina dan Leindra

Neina dan Leindra
BAB 30. MENEMUKAN DALANGNYA


__ADS_3

Lucky dan Reno merasa kebingungan serta khawatir karena Neina yang sudah pergi entah ke mana itu. Entah sejak kapan Neina sudah tidak berada di sana.


“Ningsih!”, teriak Reno.


Namun, tampaknya Ningsih tidak mendengarkan teriakan Reno. Padahal suaranya sudah sampai menggema di ruangan itu.


Ningsih sedang memakai headset mendengar musik dengan volume yang teramat kuat sambil mengerjakan pekerjaannya.


Reno sudah mencoba berteriak beberapa kali memanggil Ningsih. Ia ingin bertanya apakah Ningsih melihat Neina yang keluar dari ruangannya.


“Papa tenanglah! Percaya pada Neina. Apa Papa masih menganggap kami anak biasa?”, ucap Leindra.


“Di mata orang tua, anak-anak tetaplah anak-anak. Tidak peduli seberapa hebat anaknya. Di mata Papa kalian tetaplah putra-putri kecil Papa”, jawab Reno yang terus melihat ke arah pintu yang terbuka lebar itu.


Leindra heran dengan rasa yang menggelitik di hatinya setelah mendengarkan ucapan Papanya tadi. Tidaknya menyangka bahwa dirinya sangat terharu mendengarnya.


“Neina, kamu sudah dekat dengan peretas itu sekarang. Arah jam 2”, ucap Leindra menghubungi Neina.


“Hah? Kantin ya?”, jawab Neina dari seberang sana.


Jelas suara itu terdengar oleh Reno dan Lucky juga. Leindra menganggukkan kepalanya. Mereka pun langsung bergegas keluar dari ruangan tersebut.


Tidak lama kemudian, Ningsih pun mulai penat karena dari tadi fokus pada pekerjaannya. Ia melihat ke arah meja Reno. Dan alangkah kagetnya dia karena semua orang sudah tidak ada.


Ningsih sampai berdiri dari duduknya karena keheranan. Pasalnya ia tidak melihat bahkan menyadari mereka pergi keluar. Kini ia pun terpelongo sendirian.


Sedangkan di tempat lain, Neina sudah masuk ke area kantin. Ia menuju seseorang yang ia rasa agak mencurigakan. Dengan beraninya Neina langsung duduk di hadapannya.


Dia adalah seorang wanita. Ia memakai topi hitam dengan rambut kucir kuda. Ia pula memakai masker untuk menutupi wajahnya sambil berpura-pura terserang flu.

__ADS_1


“Eh, ada dik kecil”, serunya dengan suara yang lucukan.


Neina hanya tersenyum seadanya.


“Kamu sendirian? Orang tua kamu mana?”, tanyanya lagi.


“Orang tuaku, yang punya perusahaan ini”, jawab Neina tanpa merasa takut.


“What? Serius? Jadi kamu anaknya kak Reno? Keponakan aku?” tanyanya bertubi-tubi dengan mata yang berbinar.


“Oh jadi Tante, adiknya Papa”, ucap Neina yang langsung paham.


Yuki memberi kode dengan jari telunjuk yang di tempelkan pada mulutnya. Berharap tidak ada yang mendengar apa yang Neina tadi katakan.


Yuki langsung mengacak-acak rambut Neina karena terlalu gemas. Yuki suka sekali dengan anak kecil. Di matanya anak kecil selalu lucu walaupun terlihat nakal.


“Eh, tunggu dulu apakah Papa kamu yang menyuruh kemari? Berarti aku udah ketauan dong? Yah, mati aku!”, ucap Yuki yang bertanya dan menjawab sendiri serta menepuk jidatnya.


“Jadi, kenapa Tante menjahili Papa? Tante menyebalkan!”, ucap Neina dengan memajukan bibirnya sembari melipat tangannya di dada.


“Tante? Menyebalkan? Eh, tunggu dulu! Kamu jangan panggil Tante tapi onty Yuki. Oke?”, pinta Yuki. “Dan soal menyebalkan. Kamu tidak tahu aja seberapa menyebalkan papamu itu!”, sambungnya lagi sambil mengingat-ingat Reno yang selalu menganggunya.


“Tetap aja Onty yang salah. Karena Onty dalang yang merusak sistem di sini”, Jawab Neina yang tidak mau kalah.


Yuki pun menarik napas dalam-dalam. Lalu ia mengakui kesalahannya pada Neina sembari mencubit pipi Neina dengan gemas.


Yuki pun akhirnya memohon pada Neina agar tidak memberitahukan hal ini pada Papanya. Bahwa dirinyalah yang telah meretas disistem mereka. Kalau tidak, ia kan di keluarkan dari daftar keluarganya.


“Hm, gimana ya Ty. Onty ini cantik dan sebenarnya baik hati sih”, ucap Neina yang terus memandangi Yuki.

__ADS_1


Yuki merasa terharu sampai ingin menangis di puji oleh keponakannya itu. Matanya sudah berkaca-kaca karena bahagianya.


“Tapi, masalahnya Papa udah tau. Tuh dia!”, jawab Neina sambil memutar lehernya melihat ke arah pintu masuk kantin.


Yuki langsung melihat ke arah mana Neina memandang. Dan benar saja Reno sudah berada di sana. Yuki langsung kaget nggak karuan melihatnya.


Sedangkan Reno terus memicingkan matanya pada wanita yang sekarang sedang menutupi wajahnya dengan ujung topinya.


Reno melangkahkan kakinya mendekati meja tempat Neina dan Yuki. Di ikuti oleh Lucky dan Leindra.


BRAK!


Reno memukul meja dengan kuat. Sampai-sampai Yuki langsung berdiri dari duduknya sangking terkejutnya.


"Ih, kak Reno! Kaget aku!", bentak Yuki tapi meringis.


"Yuki?", tanya Reno saat mendengar suara wanita itu.


Yuki langsung menundukkan kepalanya karena sudah ketahuan oleh Reno. BRAK! Reno memukul meja lagi.


"Jadi kamu beneran Yuki!", ucap Reno lagi yang masih setengah percaya.


Reno langsung membuka topi dan masker yang di pakai Yuki. Dan setelah wajah Yuki terpampang nyata, Reno pun terduduk lemas.


"Kenapa kamu melakukan ini padaku, Yuki? Siapa yang menyuruhmu?! Ayu cepat katakan!", Sentak Reno.


"Siapa lagi kalau bukan Mama", jawab Yuki dengan memajukan bibirnya.


"Mama? Mama siapa?"

__ADS_1


***


__ADS_2