Neina dan Leindra

Neina dan Leindra
BAB 21. NEINA PINGSAN


__ADS_3

20 menit sebelum Rini masuk ke ruangan Reno. Rini sedang menelepon Ningsih menanyakan di mana ia berada.


“Kamu langsung aja deh, ke kantor Bos Reno. Ruanganku di dalam ruangannya”, jawab Ningsih dengan wajah yang begitu cemas.


Namun, di seberang sana Rini mendengus kesal. Ia sama sekali tidak mau bertemu langsung dengan Reno. Ia pun terus menanyai keberadaan Ningsih karena tidak mau berjumpa dengan Reno.


“Aku masih lama nih Rin. Aku lagi setor tunai nih”, jawab Ningsih lagi yang kepalanya sudah penuh keringat.


Rini pun semakin kesal. Emangnya Ningsih setor tunai di mana sih sampai lama begitu? Rini menyangka jika ATM di sana sedang ramai.


“Kamu di mesin ATM mana sih? Perasaan di perusahaan ini juga ada mesin ATM-nya”, tanya Rini.


“Siapa yang ke mesin ATM, Rin?”, Tanya Ningsih balik.


“Lah, tadi kamu bilang lagi setor tunai kan?”, Rini tampak begitu kebingungan


“Iya setor tunai di WC! Alias aku lagi BAB, Rini...! Dan ini keras banget..!”, jelas Ningsih.


“Ih... jorok banget sih!”, jawab Rini dan langsung mengakhiri panggilannya.


Setelah itu, Ningsih mengirimkan pesan di mana ruangan Reno berada. Dan mau tidak mau Rini pun melangkah ke sana.


***


“Ih... pengen ku ulek-ulek tuh mulut cocor bebek!”, ucap Rini kesal. “Mbak juga! Kenapa nggak biarin aku aja tadi!” sambung Rini yang sebenarnya tidak mau di lerai.


“Kalau aku biarin, yang ada tuh cewek tinggal nama kamu buat!”, jawab Ningsih.


Rini pun mendengus kesal. Baru saja mau marah lagi, tapi tiba-tiba HP-nya berdering. Ia terkejut melihat nama Miss Claudia di layarnya yang tak lain adalah guru Neina dan Leindra di sekolah.


Rini langsung menerima panggilan itu. Ia juga penasaran sampai Miss Claudia meneleponnya. Sudah pasti ada persoalan yang penting. Saat Rini mendengarkan perkataan Miss Claudia, raut wajahnya seketika berubah.


“Apa? Neina pingsan? Oke, saya seger ke sana!”, ucap Rini langsung berlari dengan wajah yang panik sampai tidak sempat lagi berpamitan dengan Ningsih.


Dan begitu juga dengan Ningsih. Hatinya tiba-tiba tidak enak mendengar Neina pingsan. Ia juga ikut panik tapi bingung harus bagaimana.

__ADS_1


Ia masuk kembali ke ruangan Reno untuk meminta izin. Tapi, melihat kepanikan Ningsih, Reno jadi penasaran. Ia pun menanyakan hal apa yang telah membuat Ningsih sepanik itu.


“Itu Bos.., Neina..!” ucap Ningsih terbata- bata karena panik.


“Neina? Kenapa dengan Neina?”, tanya Reno yang hatinya juga menjadi tidak enak.


“Neina pingsan. Dan Rini baru saja dapat kabar dari guru mereka. Tadi Rini udah pergi...”, belum sempat Ningsih menjelaskan, Reno pun langsung bergegas pergi dari kantornya.


Yunita menjadi heran melihat Reno. Ia tidak sempat menghentikan Reno dan itu membuatnya kesal. Lalu ia melihat Ningsih, yang menjadi penyebab utama Reno pergi begitu saja tanpa mengajaknya.


“Eh, gembul! Kamu sengaja ya buat Reno pergi ninggalin aku?”, ucap Yunita berlagak sombong.


“Gembal-gembul, enak aja panggil aku kayak gitu! Aku tuh punya nama Ningsih!”, jawab Ningsih yang kesal atas sikap Yunita.


“Terserah! Aku nggak peduli! Hah, sudahlah! Percuma ngomong sama kamu! Mending aku shoping aja”, ucap Yunita yang juga jengah dengan Ningsih.


Yunita pun pergi dari ruangan itu. Dari belakang Ningsih mengibas-ngibaskannya tangannya mengusir Yunita. Lalu, ia tersadar jika Yunita memakai sepatu yang aneh.


Tiba-tiba Lucky memanggilnya untuk melihat apa yang Lucky temukan. Ningsih pun duduk di sebelah Lucky untuk menonton sebuah video. Dan ternyata itu adalah Yunita yang tadi mengalami hak sepatunya patah di lantai bawah tadi.


Mereka pun berdua terkekeh melihatnya. Ningsih menyuruh Lucky untuk memutarnya lagi dan mereka pun tertawa lagi. Semakin di ulang-ulang, gelak tawa mereka semakin meriah.


***


Tidak lama kemudian, sampailah di sebuah rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, Rini langsung berlari masuk ke dalam. Ia mencari-cari keberadaan Neina. Dan ia melihat Miss Claudia dan juga Leindra.


Rini pun berlari menghampiri mereka. Ia menanyakan keberadaan Neina. Miss Claudia menjelaskan bahwa Neina sedang di periksa di dalam ruangan tersebut. Mereka harus menunggu sampai dokter selesai.


Leindra mendekati Rini dan memeluk kakinya. Rini jadi tersentak melihat Leindra yang sejenak ia lupakan. Tapi, kini ia langsung memeluknya.


“Maafin Leindra, Ma”, ucap Leindra yang masih memeluk Rini.


“Kenapa Leindra minta maaf?”, tanya Rini lembut.


Tapi, saat Leindra ingin menjelaskan dokter keluar dari ruangan tersebut. Rini pun langsung berdiri dan menanyakan kondisi Neina.

__ADS_1


“Sepertinya Neina mengalami pneumonia ringan...”, ucap dokter itu.


“Apa? Tapi saat itu, dokter bilang jika Neina tidak mengalaminya karena tidak ada tanda-tanda yang mengarah ke sana”, jawab Rini yang teringat perkataan dokter yang dulu saat memeriksa kondisi paru-paru Neina.


“Maksud ibu, apakah Neina sempat mengalami sesuatu sebelumnya?”, tanya dokter itu untuk memastikan.


“Iya, dok. Saat lahir, ukuran paru-paru Neina kecil sebelah. Tapi, dokter menyatakan jika Neina tidak kenapa-napa. Apakah hal ini bisa terjadi lagi?”, jelas Rini yang kini tengah bersedih dan hampir menangis.


Dokter tersebut menjelaskan jika hal itu bisa saja terjadi. Namun, ia juga menjelaskan jika yang di alami Neina ini tidak terlalu parah. Jadi, dokter hanya memberinya obat dan antibiotik. Dan untuk melihat perkembangannya lebih lanjut, dokter menyarankan agar Neina di rawat inap selama tiga hari.


Setelah dokter pergi, Rini pun terduduk lemas. Ia menangisi Neina yang sedang berjuang melawan penyakitnya itu. Miss Claudia mencoba menenangkan Rini. Dan saat itu, Reno pun tiba setelah mencari kesana-kemari.


“Di mana Neina?”, tanya Reno yang masih terengah-engah.


Miss Claudia yang tahu jika itu adalah ayah dari Neina langsung menjawab jika Neina sedang di dalam ruangan tersebut. Reno langsung ingin masuk, tapi Miss Claudia menahannya. Ia mengatakan jika suster itu belum selesai merawat Neina. Jadi, mereka harus bersabar menunggu dahulu.


Reno pun tampak lesu. Kemudian, ia menyuruh Miss Claudia untuk pulang. Karena di sana sudah ada dirinya dan juga Rini.


Setelah Miss Claudia pergi, Reno pun duduk di sebelah Rini. Ia tahu jika Rini sangat terpukul. Reno merangkul Rini dan menarik tubuhnya agar bersandar di dadanya. Saat itu, tangis Rini malah semakin pecah. Tapi, Reno membiarkannya agar Rini mengeluarkan semua yang menyesakkan di dadanya.


“Pa, maafkan aku”, ucap Leindra yang tengah berhadapan dengan Reno.


Reno sampai kaget karena telah melupakan Leindra yang berada di dekatnya. Perlahan ia melepaskan pelukannya pada Rini. Dan langsung memegangi pundak Leindra.


“Kenapa Leindra minta maaf? Emangnya apa yang terjadi?”, tanya Reno pelan.


Leindra pun menceritakan awal kejadiannya. Saat itu, teman-teman Neina mengajaknya untuk bermain kejar-kejaran. Dan Neina langsung ikut bermain bersama mereka. Awalnya Leindra membiarkannya saja. Karena Neina begitu bersemangat dan sangat gembira. Mereka bermain cukup lama. Sampai Leindra melihat jika wajah Neina sudah pucat. Namun, Neina tetap memaksakan dirinya berlari.


“Aku udah bilang sama Neina untuk stop. Tapi, Neina tidak mau, Pa. Aku terus bilang begitu sama Neina. Tapi, karena Neina nggak dengerin aku, aku langsung tarik tangan Neina biar berhenti bermain. Tapi, Neina marah dan langsung bermain lain. Terus, Neina jadi pingsan, Pa”, jelas Leindra panjang lebar dengan wajah penuh penyesalan.


“Aku nyesel biarin Neina main tadi, Pa. Hiks..hiks. Aku nggak bisa jagain Neina dengan baik”, lanjut Leindra bersedih.


Reno menarik napas. Ia mengerti bagaimana perasaan Leindra sekarang. Tapi, Reno harus memberikan arahan agar Leindra tidak terus menyalahkan dirinya sendiri.


“Lein, Leindra adalah saudara yang terbaik untuk Neina. Ini bukan salah Leindra. Karena kamu telah berusaha semampu kamu untuk menolong Neina. Tapi, mungkin bagi Neina, permainan itu sangat mengasikan. Jadi, ia tidak mau berhenti bermain. Jadi, ini bukan salah Leindra. Okey”, jelas Reno yang berharap Leindra tidak menyalahkan dirinya lagi.

__ADS_1


Rini mendengar semua ucapan Reno tadi. Ia sangat terharu pada Reno yang bisa berkata lembut seperti itu. Rini berpikir jika memang seharusnya Neina dan Leindra mendapatkan perhatian dari sosok ayahnya. Reno bisa menangkan Leindra atas kata-katanya yang lembut dan bijak itu.


***


__ADS_2