Neina dan Leindra

Neina dan Leindra
Bab 9. Pembawa Sial


__ADS_3

Flashback On.


Rini yang usia kandungannya baru 8 bulan sudah menunjukkan kontraksi. Dan dengan sigap Reno membawa Rini ke rumah sakit dengan meminjam mobil tetangganya. Sangking paniknya melihat istrinya yang terus kesakitan, Reno tidak konsentrasi pada jalanan.


“MAAASS!!”, teriak Rini saat melihat sebuah mobil melaju ke arah mereka.


DUUAAR!


Mobil mereka pun bertabrakan. Kondisi keduanya pun sangat kritis. Mereka di larikan ke rumah sakit. Di sana mereka di berikan pertolongan pertama lebih dahulu. Namun, naasnya Reno tidak sadarkan diri. Ia koma. Sedangkan Rini yang mengalami pendarahan hebat harus secepatnya di operasi untuk mengeluarkan janinnya.


Setelah beberapa menit kemudian, lahirnya dua anak kembar yang begitu menggemaskan. Tapi, sepertinya Rini belum juga sadar dari tidurnya.


Dan setelah beberapa jam kemudian, barulah Rini mulai sadar. Ia memegangi perutnya yang ternyata sudah kempes. Ia sangat panik dan langsung bertanya apa yang terjadi padanya kepada seorang suster yang menjagannya.


“Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar. Ibu memiliki anak kembar yang sangat lucu”, ungkapnya dengan tersenyum

__ADS_1


Seketika air mata Rini keluar. Ia merasa lega kedua bayinya selamat. Ya, dia memiliki 2 bayi. Dan kini ia tidak sabar ingin bertemu dengan mereka. Namun, karena baru saja di operasi tidak memungkinkan Rini untuk duduk apalagi berjalan. Dan kedua anaknya juga harus berada di dalam inkubator. Jadi, mau tidak mau ia harus bersabar menunggu.


Lalu, ia pun menanyakan kondisi suaminya pada suster itu. Dan ia pun mendapat kabar yang begitu menyayat hatinya. Ingin sekali rasanya menemui Reno. Tapi, lagi-lagi ia mesti bersabar.


***


Keesokan harinya...


Ia berusaha sekuat tenaganya untuk duduk. Ya, hari ini ia harus segera melihat suami dan anak-anaknya. Ia tahan semua rasa sakit yang ada di tubuhnya. Dan ia juga terus memohon-mohon pada suster itu untuk mengantarnya melihat suami dan anaknya.


Tiba-tiba seorang dokter datang menghampiri Rini. “Maaf Ibu Rini, boleh kita berbicara sebentar? Ini mengenai kondisi kedua anak Ibu”, ucap dokter tersebut.


“I..iya dok. Boleh”, jawabnya sedikit takut.


“Begini Bu Rini, setelah kami cek ternyata ada sesuatu pada anak Ibu ini. Putra Ibu, mengalami penyakit leukimia dan putri Ibu, sepertinya mengalami pneumonia. Terlihat di sini salah satu paru-parunya agak kecil dari ukuran normal”, jelas dokter tersebut sambil memberikan hasil foto organ dalam bayinya.

__ADS_1


Seketika tubuh Rini menjadi melunak. Ia terduduk di lantai tidak percaya dengan kondisi kedua anaknya itu. Ia pun menangis karena patah hati, kasihan mengingat bayinya yang masih sangat kecil itu. Kenapa Allah tega sekali memberikan penyakit pada bayi sekecil ini. Bagaimana ia merasakannya? Pasti sakit sekali. Rini benar-benar tidak tega melihat bayi-bayinya itu. Ia pandangi kedua wajah polos yang tertidur itu.


“Ya, Allah pindahkan saja sakit mereka padaku. Hiks, hiks” gumam Rini sambil menangisi anaknya itu. “Tolong dok, lakukan apapun yang terbaik untuk anak-anakku. Aku nggak mau kehilangan mereka, hiks, hiks”.


“Maaf Bu, sayangnya fasilitas di sini belum mendukung untuk pasien seperti bayi anda. Dengan menyesal kami harus bilang jika bayi-bayi ibu harus di rujuk ke rumah sakit lain”, ungkap dokter tersebut.


Kini Rini sudah tidak bisa bilang apa-apa lagi. Tapi, yang pasti ia harus menyelamatkan bayinya. Dan pikiran yang lain pun muncul. Bagaimana dengan uang untuk pengobatan mereka?


Semenjak menikah, kehidupan Rini dan Reno begitu sederhana. Reno kerja serabutan dan Rini berjualan nasi uduk di depan rumah sewa mereka. Ya, pernikahan mereka di tentang oleh keluarga besar Reno. Namun, Reno dan Rini bersikeras untuk tetap bersama. Sehingga Ratna mengusir mereka dan mengeluarkan Reno dari perusahaannya. Ratna pikir, Reno tidak akan mampu hidup tanpa bergelimang harta. Tapi, ternyata Reno benar-benar bisa menahan semua hasratnya itu mengenai harta keluarganya.


Dan sekarang Rini benar-benar membutuhkan banyak uang untuk biaya pengobatan anaknya. Tapi, malangnya sepersen pun ia tidak memegang uang. Jangankan untuk biaya pengobatan anaknya. Membayar biaya persalinannya saja ia tidak mampu.


Kemudian, Rini meminta suster itu lagi untuk membawanya pada suaminya. Ia pun segera di bawa masuk ke ruang ICU. Dan sebelum masuk ia bertemu dengan Ratna yang sedang berjaga di luar.


“Lihat! Apa yang telah kamu lakukan pada anakku? Apakah kamu tidak berpikir akibat yang dia dapat? Kamu sudah mengambil segalanya dari Reno! Kamu membuatnya menderita dengan hidup serba kekurangan dan sekarang kamu buat dia koma seperti itu! Kamu memang pembawa sial!!”, ungkap Ratna dengan sangat marah.

__ADS_1


***


__ADS_2