
Reno hendak berjalan ke kantin. Sudah dari pagi belum makan. Tapi, tiba-tiba HP-nya berdering. Dan tampak nama Yunita di layar HP-nya. Reno mendengus malas sekali ia meladeni wanita yang satu itu.
Tapi, Reno tetap saja menjawab panggilan itu sambil berjalan. Terdengarlah suara rayuan dari Yunita. Yang sebenarnya jika di dengar membuat bulu kuduk merinding.
“Maaf Yun, aku...”, jawaban Reno itu terhenti begitu melihat Rini.
Rini tengah duduk di sebuah kursi tunggu. Ia tampak sedang melamun. Reno berpikir inilah saat untuk membalas atas apa yang Rini lakukan pada dirinya. Ia kembali mendengar suara Yunita yang memanggil manja namanya.
“Oke aku akan segera menjemputmu. Kita akan dinner bersama”, ucap Reno sambil berjalan melewati Rini dan tanpa melihat ke arah Rini.
Rini tentu mendengar apa yang Reno ucapkan itu. Rini menghela napas mengatur hatinya yang terasa sakit itu. Rasanya ia tidak rela kalau Reno bersama wanita lain. Tapi, apa yang harus dia lakukan? Bahkan Reno sudah sangat membencinya. Ia hanya menatap nanar kepada Reno yang terus berjalan tanpa menoleh padanya.
Sedangkan di tempat lain...
Lucky terlihat sedang asyik memainkan Tablet-nya. Membuat Ningsih kesal karena merasa di acuhkan. Namun, saat Ningsih bertanya ternya Lucky sedang bingung dengan data di perusahaan mereka. Ia yakin jika data-data tersebut telah berubah secara otomatis.
“Apa menurut Mbak, ada yang meretasnya?”, tanya Lucky pada Ningsih.
“Mungkin saja itu terjadi”, Jawab Ningsih yang terus membelai kepala Neina.
“Hah, sepertinya aku harus mencari seseorang yang bisa mengetahui apa yang terjadi sebenarnya”, ucap Lucky tampak serius.
“Hohoho. Kamu tidak perlu mencarinya, karena orang itu sudah ada di sini”, jawab Ningsih sambil memainkan mata dan alisnya ke arah Leindra.
__ADS_1
Lucky melihat ke mana arah mata Ningsih menatap. Dan ia tidak percaya jika orang yang di maksud Ningsih adalah Leindra. Iya sih, mereka memang mengagumkan dan tampak sangat cerdas. Tapi, apa iya bisa melakukan hal itu? Lucky benar-benar tidak percaya.
“Ck! Kenapa? Kamu tidak percaya kalau Leindra mampu melakukannya? Dia adalah anak yang super genius yang kita miliki”, ucap Ningsih saat melihat Lucky yang mengerutkan keningnya pada Leindra seolah ia tidak mempercayainya.
“Baiklah. Coba kamu lihat ini”, ucap Lucky memberikan Tablet itu kepada Leindra yang juga sedang sibuk bermain detektif di HP-nya.
Namun, Leindra malah tidak mau. Ia begitu karena Lucky telah meremehkannya. Ia pun menjadi ngambek dan menggeser tubuhnya membelakangi Lucky. Melihat itu, Ningsih pun menjadi geram pada Lucky.
“Pangeran tampannya mami, please ya bantui. Ini kan perusahaan Papa juga. Emangnya Leindra tega melihat perusahaan Papa di rundung masalah begini?”, bujuk Ningsih.
Dan saat Ningsih yang mengatakannya, Leindra langsung mau mengerjakannya. Ia langsung merampas tablet itu dari tangan Lucky. Mendapatkan perlakuan seperti itu membuat Lucky hanya bisa mengelus dada.
Dengan segera Leindra mengotak-atik isi dari data-data tersebut. Tidak lupa ia masukkan sebuah flashdisk kecil miliknya pada Tablet tersebut. Dan tidak lama, Leindra pun mendapatkan hasilnya.
Lucky melihat sebuah titik merah yang memang tidak berada jauh dari perusahaan mereka. Dan jika di ingat-ingat itu adalah sebuah apartemen. Lucky berpikir jika orang itu tinggal di sana dan terus mengawasi mereka.
Kemudian, Leindra kembali meminta tablet tersebut. Ia akan segera menormalkan kembali. Karena akan bahaya jika dibiarkan. Bisa saja orang itu akan memasukkan sebuah virus yang akan merusak seluruh jejaring di perusahaan Papanya.
Leindra terus berusaha mengerjakannya. Dan kini Lucky percaya jika Leindra benar-benar anak genius. Dan bukan sembarang genius. Sayang, Bosnya tidak mengetahui apa-apa mengenai anaknya ini.
“Selesai!”, sorak Leindra dan langsung memberikannya pada Lucky kembali.
Lucky pun melihat hasil yang di kerjakan oleh Leindra. Dan Ya, semuanya sudah kembali seperti semula. Karena Lucky benar-benar memiliki ingatan seperti gajah. Ia tidak mungkin salah dalam melihat angka-angka yang telah tertukar dengan sendirinya itu.
__ADS_1
Lucky bisa bernapas lega sekarang. Dan mulai saat ini dia tidak akan meremehkan dua anak itu lagi.
“Bagaimana Lucky? Kamu sudah yakinkan sekarang?”, tanya Ningsih mengejek Lucky.
Lucky hanya bisa unjuk gigi dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ini. “Oke, mulai sekarang Om bisa mengandalkanmu, Lein. Bisakan?”, ucap Lucky mengajukan sebuah kesepakatan.
BRAK!
“Tidak! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!”, ucap Rini dengan marah.
Semua terperangah melihat Rini yang muncul dan marah seperti itu. Mereka pikir Rini sedang bersama Reno saat ini. Tapi, sepertinya tidak. Mereka juga heran kenapa tiba-tiba Rini semarah itu.
“Bukannya sudah aku bilang mbak, kalau Neina dan Leindra tidak boleh menggunakan kemampuan mereka dalam hal apapun. Tolong anggap mereka seperti anak-anak yang seumuran mereka pada umumnya!”, lanjut Rini dengan tegas
Ningsih mau menjawab apa yang dikatakan Rini itu. Menurutnya Rini sudah berlebihan. Ia hanya berusaha menolong Reno yang tidak lain adalah Papa kedua anak itu. Namun, Lucky sudah menyelonong lebih dahulu.
“Maaf mbak. Tapi, yang kami lakukan hanya untuk menolong perusahaan Bos Reno agar ia tidak merugi nantinya”, ucap Lucky yang juga tidak terima di salahkan.
“Apapun alasannya Lucky! Apa kalian tidak berpikir ancaman apa yang sedang mengintai anakku jika orang lain tahu bahwa Leindra terlibat dalam hal ini? Bagaimana setelah mereka tahu jika Leindra yang melawan mereka lalu mereka mengincar Leindra!”, jelas Rini yang terlihat begitu kesal.
Mereka pun terdiam. Memang hal itu bisa saja terjadi. Lucky juga tidak berpikir sampai ke sana. Ini memang membahayakan bagi Leindra jika ia terus ikut campur. Tapi, dengan ke genius-an Leindra bisa menjadi pondasi yang kokoh untuk memajukan perusahaan mereka dan selalu bisa melindungi data-data mereka.
“Dari dulu aku sudah memperingatkan Neina dan Leindra untuk tidak menunjukkan kemampuan mereka pada siapa pun. Bahkan di sekolah aku meminta mereka untuk menjadi anak-anak pada umumnya. Aku tidak mau mereka di anggap aneh oleh teman-temannya dan juga aku tidak ingin anak-anakku di manfaatkan oleh orang lain. Aku harap kalian mengerti...”, lanjut Rini yang kini wajahnya berganti sedih.
__ADS_1
Rini berjalan masuk ke toilet. Ia bersandar serta menangis di sana. Dadanya terasa sangat sesak memikirkan masalah yang terus datang padanya. Ia rapuh, sangat rapuh. Tapi, ia di minta untuk tetap tegar.