
Leindra sedang duduk di kursi panas papanya. Reno telah membuka software yang di pakai di perusahaan tersebut untuk memasukkan semua data di sana.
Leindra mulai bekerja mencari serangan utama di software itu. Karena data mereka kembali kacau setelah beberapa saat Leindra mengembalikannya seperti semula.
Neina, Reno dan Lucky sedang duduk memangku dagu mereka dengan tangan yang di tumpukan di atas paha. Mereka melihat Leindra yang sedang beraksi dengan serius.
“Oh, my God! My sweety bunny!”, teriak Ningsih yang terkejut melihat Leindra dan Neina berada di sana saat kembali dari makan siangnya.
Mulutnya yang masih penuh dengan makanan, membuat suaranya agak tidak jelas. Ningsih buru-buru mengunyah makanannya dan menelannya secara bersamaan. Hampir saja ia kehabisan napas.
“Kalian kenapa di sini?”, tanya Ningsih terkejut.
“Sst!”, desis Reno dan Lucky dengan meletakkan jari telunjuk di bibir mereka.
Ningsih pun berdecak pinggang karena karena tidak di hiraukan. Ia melihat Leindra yang sedang serius di depan layar laptop milik Reno.
Ah, Ningsih mengerti sekarang. Tapi, ia jadi teringat dengan ucapan Rini lagi. Ia menghela napas kesal pada Reno dan Lucky.
Ningsih sudah bisa menduga jika Lucky adalah orang yang memberitahukan kepada Reno mengenai anak-anaknya yang genius. Padahal baru saja kemarin Rini mengatakan jika ia tidak ingin anak-anaknya terlibat dalam urusan seperti ini.
“Lucky ini tidak baik! Kamu ingat bagaimana marahnya Rini saat dia tahu Leindra mengerjakan ini?”, ucap Ningsih mencoba mengingatkan Lucky.
“Kenapa jika aku melibatkan anakku? Toh kedepannya ini juga akan menjadi milik mereka!”, jawab Reno kesal sebelum Lucky menjawabnya.
__ADS_1
“Tapi, Bos yang dikatakan Rini ada benarnya. Bagaimana jika mereka malah menjadi bulan-bulanan orang-orang itu?”, sahut Ningsih lagi yang juga khawatir pada Neina dan Leindra.
“Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan menjaga mereka sampai titik darah penghabisan!”, jawab Reno begitu sangat yakin serta mengepalkan tangannya.
Ningsih tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa berharap nasib baik akan selalu ada untuk Neina dan Leindra. Ia tidak bisa juga melarang apa pun pada Reno, yang memang Papa mereka juga.
Berbeda dengan Neina yang langsung matanya berbinar mendengar papanya yang akan sekuat tenaga menjaganya. Ia merasa Papanya seperti super Hero.
“Mami, tenang aja. Ini aku yang minta kok. Bukan salah om Lucky atau pun Papa. Aku juga tidak mau ada yang mengganggu Papa”, ungkap Leindra sambil terus menatap layar laptop itu.
Kini mata Reno yang berbinar mendengar ucapan Leindra. Memang benar Leindra yang menghubunginya dan mengatakan bersedia membantu Reno.
Namun, Reno baru mendengar alasannya sekarang. Dan itu sangat membuat hati Reno menghangat. Ia yang berpikir Leindra adalah seorang anak yang dingin seperti kulkas 6 pintu itu ternyata begitu peduli dan sayang padanya.
“Jangan coba-coba kamu memberitahukan ini pada Rini!”, ancam Reno pada Ningsih.
“Iya Bos”, jawab Ningsih lesu.
Mereka pun kembali pada kesibukan masing-masing. Sibuk melihati Leindra yang bekerja dengan serius.
Dan tiba-tiba saja Leindra berseru, “Oke! Selesai! Pa aku sudah dapat lagi lokasi orang yang meretas sistemnya”.
“Benarkah?”, jawab Reno dan beranjak mendekati Leindra.
__ADS_1
Leindra menunjukkan titik merah yang ia temukan pada Reno.
“Apakah ini tempat dimana orang itu berada?”, tanya Reno.
Leindra menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
“Tapi, ini di dalam perusahaan! Siapa dia? Kenapa tidak ada yang tahu jika ada penyusup di sini!”, ucap Reno kesal dan marah.
Ia mengeluarkan HP-nya dari saku celana. Lalu hendak menelepon sekuriti.
“Papa jangan gegabah. Kami sudah bagi tugas”, jawab Leindra sambil menampilkan senyuman.
Kegiatan tangan Reno pun berhenti. Ia melihat lagi kearah Leindra dengan tatapan tidak percaya. Ia bertanya-tanya apalagi yang akan di lakukan anaknya itu.
Leindra menekan salah satu tombol di jam tangannya. Kemudian memakai headset bluetooth. Ia kembali mengetik di keyboard. Dan tidak lama kemudian tampaklah titik hijau di layar yang hampir dekat dengan titik merah tersebut.
“Si... siapa titik hijau itu?”, tanya Reno bingung karena tiba-tiba saja titik hijau itu muncul setelah Leindra menekan tombol di jamnya tadi.
“Neina!”, jawab Leindra dengan senyuman mengangkat ujung bibirnya.
“Apa?”, ucap Lucky dan Reno bersamaan.
Lalu keduanya menatap ke arah lain yang dimana tempat itu di duduki oleh Neina sebelumnya. Dan benar saja Neina tidak ada lagi di sana.
__ADS_1
***