
"Tuan William, Daddy Anda memberikan surat undangan makan malam,"ucap Alex menyodorkan surat undangan dari Bavers.
Tawa William pecah. Dia terkekeh melihat undangan dari Daddy-nya. Apa sebegitu frustasinya kah pria parubaya itu agar dirinya bisa datang ke mansion utama dan ikut makan malam. Sehingga sampai membuat undangan untuk dirinya, layaknya undangan pernikahan.
"Keluarga macam apa yang Aku miliki ini, Alex? Bahkan hanya untuk makan malam bersama pria tua itu harus menyebar undangan,"ucap William di sela tawanya.
Alex hanya diam, membiarkan Tuannya berbicara segala yang ada dalam benaknya hingga William puas.
"Sepertinya Daddy Anda sudah mengetahui pasal Nona Anindya,"celetuk Alex menghentikan tawa William.
"Pasti, dia selalu memiliki mata-mata, dan juga dia dan istri barunya itu pasti kalang kabut karena Aku menikah begitu cepat dan bukan dengan gadis pilihan mereka,"saut William yang diangguki Alex.
"Lalu bagaimana Tuan? Apa Anda akan menghadirinya?"tanya Alex.
"Tidak, Anindya tengah marah padaku pasal ia yang tahu siapa diriku sebenarnya. Bakal runyam jika mempertemukan mereka dengan Anindya, Aku juga takut Wanda dan putranya akan mengancam Anindya,"balas William dengan sorot mata tajamnya.
Wanda, Steven, dua nama yang selalu sajs membuat sorot matanya berubah tajam. Hingga detik ini William terus mencari kebeneran dari meninggalnya sang Mommy, ibu kandung William.
"Baik Tuan, akan Saya sampaikan penolakan Anda,"ujar Alex.
"Hem."
***
"Dia masih belum membuka pintu kamar."
William memandang daun pintu yang masih tertutup rapat sedari saat ia meninggalkan pintu tersebut. Bahkan kini dia tidak bisa masuk karena Anindya menguncinya dari dalam.
Sebenarnya bisa saja, pria itu menggunakan kunci cadangan karena dialah pemilik mansion tersebut. Tetapi hal itu William tidak melakukannya, karena pemikiran jika Anindya masih membutuhkan waktu untuk sendiri.
Pria itu memutar tubuhnya mengubah haluan menuju tempat pribadi miliknya, malam ini William memutuskan untuk tidur di atas sofa panjang ruang pribadinya.
Keesokan harinya, Anindya yang telah mengerjakan sholat subuh tengah mengalami peperangan batin. Dia bingung apakah harus memaafkan pria itu, atau tidak. Tetapi, jika dipikir-pikir, William tidak seratus persen bersalah.
Pria itu membohonginya karena memang keadaan yang saat itu mengharuskan William menutupi identitas asli dirinya.
__ADS_1
"Tapi, kenapa dia mau menikahiku? Aku takut, dia hanya ingin bermain-main saja dengan pernikahan ini. Anin...Anin, lagi pula bukannya pernikahan kamu dan dia memang tidak dilandasi cinta."
"Sepertinya Aku memang harus bicara dengannya, diam dan menghindar tidak akan menyelesaikan masalah,"lanjutnya lagi.
Anindya memutuskan untuk membersihkan tubuhnya lebih dulu, sebelum ia menemui William dan membicarakan perihal pernikahan keduanya.
Setelah ia mandi dan bersalin dengan pakaian yang baru, Anindya melangkah keluar kamar. Hari sudah pagi, para pelayan juga telah beraktivitas dengan tugas masing-masing.
Tapi kemana pria itu? Anindya masih belum menemukan keberadaannya, padahal dia sudah berkeliling mansion mencarinya. Sampai ketika sosok pria yang pernah Anindya lihat kala William membawa dirinya ke hotel menarik perhatian Anindya untuk bertanya.
"Tuan."
Alex yang sedang duduk dengan memangku laptop itu berdiri, saat menyadari jika yang memanggilnya adalah Anindya, istri Tuannya. Maka, saat itu juga Alex menundukkan kepalanya.
"Tuan, apa Anda melihat Budi? Ah tidak maksud saya, dia..."
"Tuan William mungkin ada di ruang pribadinya, Saya juga tengah menunggunya,"ujar Alex tanpa mengangkat kepalanya.
"Ah begitu ya, terima kasih."
Meskipun merasa aneh dengan sikap Alex yang tidak mau menatap dirinya saat berbicara. Tetapi setidaknya Anindya sudah mengetahui dimana keberadaan William saat ini.
"Ini ruang pribadi, Tuan. Biasanya tidak ada yang diperbolehkan masuk, tetapi karena Anda adalah istrinya kemungkinan diperbolehkan,"ujar Eva.
Dengan perasaan takut, tangan Anindya mengetuk pintu ruang pribadi tersebut selama beberapa kali. Sampai, ketukan ketiga tidak ada juga jawaban dari dalam membuat Anindya inisiatif memutar handle pintu.
"Tidak dikunci, Aku langsung masuk saja mungkin ya,"gumamnya.
Seiring pintu terbuka lebar, bersamaan dengan tubuh Anindya yang mulai masuk ke dalam ruangan tersebut. Pintu itu kembali ia tutup.
Netra Anindya terpaku pada sosok yang tertidur di atas sofa dengan tangan menutupi wajahnya. Dialah William, pria itu terlihat sangat kelelahan, sepertinya semalam William tidak mudah untuk tidur.
Ditatapnya lebih dekat wajah tampan itu, sampai seorang Anindya berjongkok karena terpanah pada damainya William.
"Eh, akhhh."
__ADS_1
"Kamu tidak tidur?"sungut Anindya menatap kesal sosok yang mulai membuka kelopak matanya namun seringai lebar terlihat jelas pada dua sudut bibirnya.
"Jika Aku tidur, mungkin Aku tidak akan melihat ada seseorang yang diam-diam menyelinap dan terus mengagumi wajah tampan Saya,"ucap William dengan percaya diri tingkat tingginya.
Anindya tidak terima, wanita itu mencoba berontak dari rengkuhan William yang membuat tubuhnya berada di atas tubuh pria itu.
"Diamlah Nin, kamu tahu diwaktu pagi adalah ini sangat sensitif dan juga Kadar Testosteron Tinggi,"ujar pria itu.
Anindya diam mencerna maksud dari pria di bawahnya itu. Sampai ketika dia merasakan dibawah sana ada sesuatu yang mengganjal barulah wanita itu sadar dan tanpa menghiraukan permintaan William untuk diam, Anindya bangkit lalu melempar bantal pada bagian bawah William.
"Saya sedang marah, tapi kamu masih bisa mesum,"ucap Anindya sewot.
William meringis, pria itu bangkit dari tidurannya dan duduk dengan meletakkan bantal di atas pusat inti tubuhnya.
"Ini normal Anindya, terutama untuk pria dewasa yang sudah menikah saat bersama istrinya,"ujar William.
Anindya menatap bengis sosok William. Seingat dia, dulu William adalah sosok yang paling anti bersentuhan. Kenapa kini pria itu menjelma menjadi sosok yang sangat modus.
"Jangan menormalkan situasi yang hanya modus kamu saja Budi, ah tidak maksud Saya Tuan William."
Raut muka William langsung berubah saat Anindya memanggilnya dengan sebutan Tuan William. Walaupun itu nama aslinya, tetapi dengan raut muka kesal Anindya tentu saja membuat William tidak senang.
"Semuanya diluar kendali Saya Anind, Saya tidak bisa memberitahu identitas Saya saat itu,"keluh William.
"Tapi tetap saja kamu sudah berbohong. Dan Saya, tidak suka itu. Tuan William."
William mengusap wajahnya kasar, baru saja dia merasa lega karena Anindya yang dia kira sudah tidak marah padanya. Namun, siapa sangka jika ternyata wanitanya benar-benar marah padanya.
"Kamu mau apa, supaya bisa memaafkan kebohongan Saya?"
Anindya menatap lurus sosok pria yang masih duduk dengan muka bantalnya itu. Dia tengah menimang keputusan yang ada dalam pikirannya saat ini.
Wanita itu menutup kedua matanya sejenak lalu menarik nafas panjangnya dan berkata.
"Ceraikan Saya!"
__ADS_1
***
TBC