NIKAHI AKU TUAN!

NIKAHI AKU TUAN!
Pary 29


__ADS_3

"Tuan William,"panggil Mandala.


William yang baru saja keluar dari mobilnya menatap anak buahnya dan beberapa pengawal di belakangnya dengan tatapan menelisik.


Wajah para pengawal William begitu mengenaskan dengan luka lebam di beberapa area wajah mereka.


"Apa terjadi sesuatu dengan Anindya?"tanyanya.


"Tidak Tuan, Nona Anindya baik-baik saja. Sekarang Nona ada di dalam,"ucap Mandala.


Sekali lagi William melihat kondisi mengenaskan para pengawalnya. Tetapi karena memang menurut William jika anak buahnya terluka karena menjalankan tugasnya adalah hal biasa maka pria itu acuh dan memilih melanjutkan langkah kakinya.


Yang kini William pikirkan adalah, apakah benar Anindya dalam kondisi baik-baik saja. Walaupun Mandala mengatakan jika istri kecilnya dalam kondisi baik, tetapi bagaimana bisa William tenang sedangkan para pengawalnya saja babak belur seperti itu.


Tanpa pikir panjang lagi, William berderap cepat memasuki mansion. Kakinya terus berjalan menuju kamar utama.


"Anind! Anin!"


William kelimpungan, dia tidak mendapatkan Anindya-nya di kamar. Pria itu melempar sembarang tas dan jas yang ia kenakan, lalu kembali melangkah keluar untuk mencari istri kecilnya.


"Dimana Nyonya?"tanya William pada seorang pelayan.


"Nyonya, dia ada di kolam renang, Tuan."


Kaki panjang itu kembali melangkah memutar haluannya ke arah belakang mansion dimana kolam renang besar ia buat disana.


Sesampainya disana, William langsung mengedarkan netranya mencari sang istri. Nafas yang tadinya memburu kini mulai teratur saat melihat sosok yang berenang dari ujung ke ujung kolam renang tersebut.


"Kamu membuatku takut,"gumam William.


William berjalan menuju kursi santai yang terletak disisi kolam renang tersebut, lalu ia meletakkan bobot tubuhnya disana dengan posisi setengah tiduran.


"Hehe, gaya renangnya sangat aneh,"monolog William.


Dia yang pandai berenang karena berlatih langsung dengan seorang pelatih. Sudah tentu, merasa aneh dengan gaya Anindya yang ala-ala orang desa yang biasanya berenang di sungai-sungai.


"Sepertinya cukup hari ini,"gumam Anindya.


Wanita itu hanya memakai pakaian renang pendek karena merasa pintu menunu kolam renang sudah ia kunci. Dengan santai Anindya berjalan dengan mengibas-ibas rambutnya sampai percikan itu mengenai wajah William.


"L-Liam, kamu disini,"gagap Anindya.


Segera wanita itu meraih handuk yang sialnya ada di kursi dimana William tengah duduk dengan senyuman penuh artinya.


Tubuh Anindya bergidik ngeri, dia tahu senyuman itu adalah sebuah senyuman yang menjurus ke arah peranjangan.

__ADS_1


Lihat saja, bagaimana netra elang William yang menelisik penampilan Anindya dari atas sampai bawah.


"Sinikan handuknya, Liam,"protesnya, kala handuk yang hendak Anindya ambil justru dikuasai William.


"Kamu mau ini, hem? Sini! Jangan jauh kayak gitu, Anindya."


Bingung, Anindya kebingungan karena tubuhnya tercetak jelas. Tapi, bukannya dia adalah istri William. Pria itu bahkan sudah menjamah tubuhnya berulang kali.


"Kenapa Aku harus malu,"batin Anindya.


Wanita itu tersenyum lebar membuat William mengernyitkan dahinya saat melihat perubahan ekspresi Anindya.


"Liam..."


"Anindya!"


William terpekik saat Anindya yang masih basah itu langsung mendudukkan tubuhnya di atas pangkuan William.


Kemudian setelah itu Anindya tertawa hingga terpingkal-pingkal. Dia senang sudah membuat pakaian William basah karena ia duduki.


"Ha ha ha, kamu ikut basah Liam,"ucap Anindya tertawa.


"Kamu! Lihatlah apa kamu masih bisa tertawa setelah ini,"balas William.


Lalu detik berikutnya kini yang membekap mulut Anindya adalah bibir tebal milik William yang menerobos rongga mulut Anindya dengan ganas.


William membalutkan handuk berbentuk kimono panjang itu pada tubuh Anindya lalu melepas kemejanya untuk ia jadikan penutup pada kepala agar rambut indah sang istri tertutupi.


Setelah itu pria itu mengangkat tubuh Anindya bak anak koala dan melangkah meninggalkan kolam renang.


"Liam, bajuku disana. Kamu mau apa?"tanya Anindya, dengan tangan menunjuk pakaiannya.


"Apa lagi, menghukum kelinci kecil yang telah berani menggoda singa jantan,"ucap William dengan senyuman smirknya.


Ah, Anindya tidak bisa lagi kabur. Dia hanya bisa membenamkan wajahnya pada dada bidang William dan membiarkan pria itu membawanya menuju kamar mereka.


Sesampainya di kamar, Anindya harus sekuat tenaga bertahan karena serangan William yang begiti memabukkan dan ganas di atas ranjang. Berulang kali suara l*nguhan keluar dari bibirnya kala tubuhnya terus dihujami oleh milik pria itu.


"L-Liam..."


***


"Ck, pria itu benar-benar menyiksaku,"kesal Anindya.


Dengan memegang pinggangnya yang terasa sakit karena ulah William. Perlahan Anindya bangkit dari kasur hendak ke kamar mandi.

__ADS_1


"Lihatlah, dia justru tidur begitu nyenyak, dasar pria,"maki Anindya, yang melihat wajah tenang William dalam tidurnya.


Rasa ingin buang air kecil yang tak bisa tertahan kembali menyadarkan Anindya dan mendorongnya untuk segera ke kamar mandi.


Beberapa menit yang dibutuhkan wanita itu untuk buang air kecil. Setelah itu, ia kembali berjalan kembali ke kamar.


"Siapa yang menelepon,"gumam Anindya saat melihat layar ponselnya menyala.


Itu adalah nomor baru yang tidak dikenal. Rasa malas membuatnya memilih menolak panggilan tersebut. Namun kembali lagi nomor asing itu meneleponnya.


"Awas kalau orang iseng ya,"gumamnya, lalu menggeser icon hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo, assalamu'alaikum,"ucapnya.


Selama beberapa detik tidak ada sautan dari seberang mengharuskan Anindya mengecek ponselnya apakah panggilan tersebut masih terhubung atau tidak.


"Maaf Mba/mas, kalau nggak penting Saya matikan,"ucap wanita itu hendak memutus sambungan telepon tersebut.


"Ini saya Bavers."


Bola mata Anindya membelalak sempurna. Dia tahu betul suara berat penuh wibawa itu adalah milik dang Papa mertua.


Mendadak bulu kuduknya berdiri dan nafasnya tercekat di tenggorokan. Mimpi buruk apa yang tengah Anindya impikan sampai merasakan mendapat telepon dari pria yang jelas menatapnya penuh kemarahan di hari pertama ia berkunjung.


"I-iya hallo, Papa mertua."


"Tuan Bavers, panggil saya itu,"ucap sosok Bavers dari seberang panggilan.


"Belum diakui ternyata kamu, Nin. Sabar...perlahan semuanya pasti bisa,"hibur Anindya dalam hatinya.


Anindya kembali mendekatkan layar ponselnya pada daun telinga untuk mendengar tujuan dari pria parubaya berwajah tegas yang sayangnya itu adalah mertuanya.


"Besok anak buah Saya akan menjemput kamu, jangan beritahu William jika kamu menemui Saya."


Itu bukan sebuah permintaan namun sebuah perintah yang sama sekali tidak bisa Anindya menolaknya.


"Baik Pa, eh maksudnya Tuan Bavers,"ucapnya, meralat panggilan untuk Bavers.


"Hem."


Usai deheman yang pria itu berikan. Panggilan tersebut diputuskan secara sebelah pihak oleh Tuan Bavers.


Anindya menatap galau ponselnya yang telah berwarna hitam. Entah apa yang akan ia hadapi di esok hari, yang jelas sepertinya besok bukan hari yang mudah untuk ia lewati.


"Semangat Anindya!"

__ADS_1


__ADS_2