
"Masuk!"
Anindya memasukkan tubuhnya pada mobil sesuai perintah William, sementara itu William telah duduk dibalik kemudi.
Selama beberapa saat William terdiam melihat sosok istri kecilnya yang malam ini begitu berbeda dari biasanya. Seharusnya dia sudah menyalakan mesin mobilnya, tetapi William justru asik memandangi Anindya.
Anindya yang tidak tahu cara pemakaian sabuk pengaman tampak kesulitan. Dengan inisiatifnya, William mendekat dan mengambil alih memasang sabuk pengaman tersebut.
"Seperti ini caranya,"ujar pria itu.
Selama beberapa saat nafas Anindya tercekat. Jarak wajahnya dengan William teramat dekat membuat udara yang ia hirup justru aroma tubuh pria itu.
Cup.
"L-Liam,"gagap Anindya sembari membekap bibirnya yang baru saja William kecup.
Sementara si pelaku sendiri justru bersikap biasa saja, seakan apa yang baru saja dia lakukan tidak berarti sama sekali.
"Kenapa kamu cium-cium Aku?"gerutu Anindya dengan kesalnya.
Dia kesal karena William suka sekali melakukan sesuatu yang selalu membuat detak jantungnya tidak aman. Misalnya, seperti tadi mengecup bibirnya tanpa permisi.
"Kamu mau ini? Kata Alex, ini sangat disukai anak kecil,"ujar William memberikan satu gelas cup minuman boba.
Anindya menatap minuman tersebut. Dia menyukainya, tetapi kata-kata William cukup membuat telinganya gatal.
Anak kecil katanya? Walaupun Anindya berusia sembilan belas tahun, bukan itu sudah termasuk dewasa. Buktinya dia bisa diajak untuk membuat anak bersama William.
"Mau tidak? Jika tidak, Saya buang,"ujar William menarik kembali tangannya.
"Eh tidak bisa. Kalau sudah dikasih jangan ditarik lagi, nggak baik itu namanya,"ucap Anindya sembari merebut gelas boba tersebut.
Anindya menancapkan sedotan pada tutup boba tersebut. Lalu mulai menyedotnya dengan perasaan senang.
"Aku kan mau ketemu orang tua kamu, Kamu tidak takut dandanan Aku rusak karena minum begini?"tanya Anindya.
William membelokkan setirnya ke kanan, sesuai tujuan arah mansion milik keluarga Besar Bavers.
"Hanya minum, tidak akan merusak dandananmu. Dan juga Aku tidak peduli dengan tanggapan mereka tentang kamu,"balas William.
Mendengar jawaban sarkas dari William membuat Anindya diam. Entah mengapa dirinya merasa hubungan antara William dan keluarganya tidak baik-baik saja.
"Saat disana, kamu akan bertemu dengan Tante Wanda dan anaknya. Nanti apapun yang dia katakan, jangan hiraukan dirinya. Tetap disampingku,"pinta William tegas.
"Iya."
Beberapa menit kemudian, mobil yang membawa William dan Anindya telah memasuki area mansion keluarga Bavers.
Di depan pintu, terlihat beberapa pelayan telah berjajar untuk menyambut Anindya dan William.
__ADS_1
Perasaan tidak nyaman mulai menghampiri Anindya. Dirinya khawatir dan mulai gerogi menghadapi keluarga dari suaminya itu.
Takut dipandang sebelah mata, sudah tentu ada perasaan tersebut. Tetapi genggaman tangan yang William berikan tiba-tiba membuat rasa gerogi itu perlahan lenyap.
"Ingat, apapun yang mereka katakan jangan hiraukan. Kita hanya makan malam setelah itu pulang. Biar semuanya Aku yang menjawab,"ucap William.
William benar-benar takut jika Anindya akan tidak nyaman ditengah-tengah keluarganya nanti. Terlebih dengan Wanda yang memiliki mulut julid dan pedasnya.
"Selamat datang Tuan William,"sapa seluruh pelayan tersebut.
William hanya berdeham. Pria itu terus melangkah dengan genggaman yang semakin ia eratkan pada tangan Anindya.
Saat keduanya masuk, mereka langsung disambur oleh pasangan parubaya dan satu orang pria muda. Dialah Tuan Bavers dan istri keduanya, Wanda. Dan untuk pria muda itu adalah Steven, putra Wanda.
"Selamat datang, William. Akhirnya kamu mau juga datang kemari,"celoteh Wanda dengan senyuman lebarnya.
Sementara William tampak diam tidak menggubris kalimat yang keluar dari mulut Wanda.
Anindya melepaskan genggaman tangan William hendak bersalaman pada kedua mertuanya. Bukankah itu adab yang harus ia lakukan.
"Mau apa?"tanya William.
"Salim sama orang tua kamu, Liam,"balas Anindya.
Gelengan kepala jelas William berikan. Dia tidak ingin istrinya itu mendapat penolakan dari kedua orang tuanya.
"Tidak apa, Aku coba dulu,"ujar Anindya memohob pengertian dari William.
Anindya berjalan mendekati Tuan Bavers dan meraih tangan keriput pria itu untuk ia cium punggung tangannya.
Tadinya dia pikir, pria itu akan menolak apa yang Anindya lakukan. Tetapi nyatanya tidak.
"Mau apa?"tanya Wanda sinis.
Anindya memutar bola matanya malas. Yang seperti Wanda ini, tipikal ibu mertua yang paling dibenci oleh semua wanita di dunia ini.
"Salim Tan,"ucap Anindya lalu meraih paksa tangan Wanda dan menciumnya.
Ekspresi wajah Wanda terlihat jelas begitu jijik setelah Anindya menyaliminya.
"Tenang Tan, Saya sudah membawa tisu buat Tante,"ujar Anindya menyodorkan sehelai tisu untuk ibu mertuanya itu.
Dengan cepat Wanda menerima tisu itu dan mengelap tangannya tanpa sadar jika yang memberikannya adalah Anindya.
"Ehem, Wanda,"tegur Tuan Bavers sukses menghentikan aksi istri keduanya itu.
Wanda mendongak menatap semua yang ada disana. Hampir saja luntur citra wanita lemah lembutnya dimata sang suami karena ia yang baru saja kelepasan.
"Maaf Sayang, tadi tanganku keringatan,"dusta Wanda.
__ADS_1
"Sudah, sebaiknya kita ke meja makan sekarang,"titah Tuan Bavers tegas.
Semuanya diam dan menurut akan perintah dari Tuan Bavers.
"Liam, nanti duduknya kita bersebalahan kan?"bisik Anindya.
William menatap sejenak istri kecilnya yang tadi telah melakukan sesuatu diluar prediksinya. Tadinya ia takut Anindya akan lemah menghadapi Wanda. Tetapi nyatanya dugaan dirinya salah besar.
"Iya Nin, kita akan bersebelahan,"ujar William kembali mengaitkan jemarinya pada jari-jari lentik Anindya.
Sesampainya di meja makan. Semuanya duduk di kursi masing-masing dengan Tuan Bavers yang ada di kursi paling ujung dan di sebelah kananya ada Wanda.
"Siapa nama kamu?"tanya Wanda menatap lurus Anindya.
"Anindya Tan, panggil saja Anindya,"ujar Anindya dengan senyuman lebarnya.
"Tante? Kenapa kamu memanggil Saya Tante,"sungut Wanda dengan senyuman tipisnya.
Dia ingin suaminya memandang Anindya dengan pandangan gadis kampungan yang bar-bar dan tidak tahu etika.
"Oh itu, Liam manggil Tante dengan panggilan Tante Wanda. Jadi Anin sebagai istri yang patuh hanya bisa menurut,"ucap Anindya membalas senyuman lebar Wanda.
Skatmat, dia kalah dari wanita kampung. Membuat hati Wanda memanas. Tetapi dia tidak ingin kehilangan akal meracuni pandangan Bavers pada Anindya.
"Ah begitu ya, tapi kalau mau panggil Mama juga boleh kok. O iya dengar-dengar kamu berasal dari desa, benar begitu? Pendidikan kamu sampai apa?"tanya Wanda dengan senyuman liciknya.
"Ya Allah, kenapa mertua Aku kok begini banget sih,"jerit batin Anindya.
"Bisakah Anda diam dan tidak membuat istri Saya tidak nyaman, Tante Wanda. Berasal dari mana pun istri Saya bukanlah urusan Anda,"ujar William tegas.
Anindya terkesiap. Kedua matanya berbinar mendapat kalimat pembelaan dari suaminya. Ah, sepertinya hati Anindya perlahan meleleh dengan sikap manis William.
"Bukan begitu William, Mama hanya takut kamu salah pilih,"ujar Wanda dengan tatapan seolah-olah dia merasa bersalah.
"Pah, jika obrolan ini masih dilanjut. William akan pulang bersama Anin,"ucap William.
Tuan Bavers yang sedari tadi diam menjadi penonton pun akhirnya berbicara.
"Duduk kembali, William! Tidak akan ada yang meninggalkan meja makan ini, dan Kamu Wanda berhentilah berbicara,"sergah Tuan Bavers.
"Kita mulai makan malam ini,"lanjutnya lagi.
"Sebentar Sayang, kita masih kekurangan satu orang,"ucap Wanda.
Semua orang menatap Wanda penuh tanda tanya. Siapa yang dimaksud wanita itu, dan kenapa mereka harus menunggunya.
"Selamat malam, Om, Tante. Maaf Cla terlambat."
***
__ADS_1
TBC