NIKAHI AKU TUAN!

NIKAHI AKU TUAN!
Bab 31


__ADS_3

"Maaf sudah membuat Anda menunggu, Tuan,"ucap Anindya.


Sosok pria berahang tegas di usianya yang sudah menginjak setengah abad itu tampak masih menguarkan aroma karismatik dan itu membuat Anindya sedikit kikuk berhadapan langsung dengannnya.


Untuk menghilangkan rasa gugupnya, Anindya membenarkan posisi duduknya yang sama sekali tidak bermasalah.


Tuan Bavers masih saja diam memandangi gadis yang sudah menyandang status istri dari putra tunggalnya itu.


Entah apa yang tengah ada di dalam pikiran pria parubaya itu. Yang jelas dengan tatapan tajamnya secara tidak langsung mengatakan jika ia tidak menyukai sosok Anindya.


"Maaf Tuan, ada apa Anda ingin menemui Saya?"tanya Anindya, dia tidak bisa menahan diri dengan suasan hening yang mencekam itu.


Tuan Bavers menjetikkan jemarinya membuat seorang pria mendekatinya.


"Tulis nominal yang kamu mau lalu bawa cek itu lalu pergilah dari hidup putra Saya,"titah Tuan Bavers penuh penegasan.


Anindya terjengit kaget. Di depannya terdapat sebuah buku cek sebuah bank ternama di negara ini. Ia bukanlah tidak tahu apa-apa perihal fungsi cek itu.


Tapi apa yang tadi mertuanya katakan pada Anindga. Tuan Bavers memintanya untuk menulis nominal yang diinginkan Anindya lalu pergi dari sisi putranya? Anindya masih belum paham akan titik yang nyatanya sudah sejelas itu. Ah tidak, mungkin lebih tepatnya Anindya menepis segala yang ia pahami.


"Maksudnya Tuan? Maaf, Saya tidak mengerti,"ucap Anindya memasang wajah penuh tanda tanya.


"Ck, kenapa William bisa menikah dengan perempuan dari desa yang tidak tahu apa-apa ini. Apa kamu benar-benar tidak mengerti, Saya menyuruh kamu untuk pergi dari sisi William, atau lebih tepat ceraikan dia. Lalu sebagai gantinya Saya akan memberikan uang dengan nominal yang Kamu inginkan, berapapun itu,"jelas Tuan Bavers panjang lebar.


Anindya tertawa renyah, tangan wanita itu memegang perutnya dan tanpa sungkan ia tertawa keras sampai membuat Tuan Bavers kesal.


"Kau! Kenapa Kamu ketawa,"sentak Tuan Bavers.


Anindya mengangkat satu tangannya pada pria itu, sedangkan satu tangannya yang lain masih memegang perut karena lamanya dia yang tertawa.


"Bercerai? Uang? Sepertinya itu tawaran yang menggiurkan Tuan,"ucap Anindya setelah tawanya berhenti.


Tuan Bavers berdecak kesal, serta memandang Anindy semakin rendah.


"Sekarang tuliskan nominalnya, Kamu dari desa sudah pasti tidak pernah mendapatkan uang dalam jumlah yang banyak,"ucap Tuan Bavers.


Tatapan Anindya yang tadinya begitu meneduhkan tiba-tiba berubah tajam. Aura wanita itu juga mendadak berubah mencekam.

__ADS_1


"Saya tidak membutuhkan ini dari Anda, terima kasih atas tawarannya, Tuan,"tolak Anindya seraya mendorong kembali cek itu di depan Tuan Bavers.


Bola mata Tuan Bavers membulat sempurna saat dengan terang-terangan tawaran dirinya ditolak oleh Anindya.


"Ck, kenapa? Apa kamu ingin menguasai harta keluarga Bavers sehingga tidak mau melepaskan William,"tuduh Tuan Bavers.


"Waah, Tuan atau Papa mertua bisa kan ya? Anda sepertinya sangat tahu tujuan Saya,"ucap Anindya terkekeh kemudian ia kembali melanjutkan kalimatnya.


"Tapi asal Papa mertua tahu, Saya menikah dengan William yang saat itu Saya tahunya seorang office boy. Jadi dari sini seharusnya Anda tahu jika Saya bukanlah wanita gila harta,"katanya.


Tangan Tuan Bavers terkepal kuat. Ia salah mengira sosok Anindya adalah wanita yang mudah dia intimidasi. Ah sepertinya pria paru baya itu lupa akan fakta kejadian di mansion Bavers.


"Jangan panggil saya seperti itu...Saya tidak mau tahu, kamu harus menceraikan William. Kalian sangat berbeda, putra Saya terlalu sempurna untuk Kamu yang kampungan itu,"sarkas Tuan Bavers.


Anindya beranjak dari posisi duduknya. Dia tidak bisa berlama-lama di tempat itu, jika tidak ingin emosinya naik dan pada akhirnya berlaku tidak sopan pada Tuan Bavers, mertuanya.


"Baiklah Saya tidak akan memanggil Anda dengan sebutan itu...Maaf Tuan Bavers, Saya harus segera pergi. Mengenai tawaran Anda, Saya menolaknya dengan tegas,"ucap Anindya tegas, lalu beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan Tuan Bavers beserta asistennya.


Marah karena gagal membujuk Anindya menceraikan William. Tuan Bavers melampiaskan amarahnya dengan menggebrak meja.


"Sial! Wanita itu tidak mudah Saya kendalikan,"makinya.


Anindya terus menatap jalanan ibu kota. Ardi, supir pribadi di mansion pribadi William acap kali melirik Anindya melalui kaca spion.


Pemuda itu merasa jika Nyonya-nya tengah menghadapi beban pikiran yang cukup berat.


"Nyonya, apa Anda sedang menghadapi masalah?"tanya Ardi, dengan inisiatifnya.


Anindya mengalihkan netranya sejenak pada kursi kemudi di depannya. Lalu membalas tatapan Ardi melalui kaca spion.


"Tidak ada. Ar, kamu tahu tempat yang biasanya jualan es krim? Saya tiba-tiba ingin memakannya,"ucap Anindya mengalihkan tema pembicaraan.


"Kedai es krim yang terkenal, sepertinya Saya tahu Nyonya. Mau Saya antar kesana?"


"Iya, tolong ya Ar...O iya, Saya boleh minta tolong sama kamu perihal Saya mengajak kamu kesini untuk tidak memberitahu pada William, bisa kan?"


Katakanlah dia salah keluar mansion tanpa izin dari William. Tapi, jika Anindya meminta izin pada William, ia rasa pria itu tidak akan mengizinkannya.

__ADS_1


"Ar, bisa kan?"sekali lagi Anindya meminta hal itu, karena Ardi yang terdiam.


"Iya Nyonya,"jawab Ardi. Meskipun dia orangnya William, namun melihat permohonan penuh harap yang Anindya berikan tentu saja membuat Ardi tidak tega.


Seutas senyuman kecil Anindya berikan atas kesanggupan yang Ardi berikan. Setidaknya dia bisa bernafas lega karena pasal keluarnya dia yang tanpa izin dari William.


"Nyonya kita jadi kan ke kedai es krimnya?"tanya Ardi.


"Jadi dong, ini iler saya sampai keluar karena membayangkan dinginnya es krim,"ucap Anindya memicu tawa Ardi.


"Anda ini bisa saja Nyonya,"balas Ardi di sela kekehannya.


Mobil itu terus melaju dan berhenti tepat di sebuah kedai es krim yang Ardi katakan sebelumnya. Dengan pengarahan yang Ardi berikan kini Anindya dapat duduk di sebuah kursi dengan satu cup es krim rasa vanilla di atas meja di depannya.


Sementara Ardi menolak ajakan Anindya untuk bergabung dengan alasan giginya sensitif terhadap minuman dingin. Sehingga pemuda itu memilih menunggu Anindya di mobilnya.


"Hey Nona...Boleh Saya duduk disini,"ucap seorang pria asing.


Anindya yang tengah menikmati es krim pun mendongak menatap pria yang baru saja berbicara padanya itu.


Tampan dan terlihar soft men. Itulah gambaran yang Anindya berikan pada sosok pria di depannya itu.


Anindya menatap sekeliling, ternyata semua meja di kedai es krim tersebut telah penuh dan mau tidak mau Anindya memberikan izin pria itu untuk duduk di kursi yang berhadapan dengan dirinya.


"Hem, silahkan,"balas Anindya datar, lalu kembali fokus pada es krim vanillanya.


"Nona, siapa nama kamu?"tanya pria itu.


"Anindya,"jawab Anindya singkat.


"Saya Lintang,"balasnya mengenalkan dirinya yang hanya dibalas Anindya dengan deheman saja.


Tapi reaksi judes dan jutek yang Anindya berikan justru membuat pria itu tersenyum lebar padanya. Sembari memasukkan es krim coklat ke dalam mulutnya, pria itu terus mencuri pandang pada Anindya.


"Nona mau kemana?"tanya Lintang.


"Yaaa! Apa yang kamu lakukan?"

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2