
Anindya menahan dress untuk menutupi bagian dadanya. Dress itu telah koyak karena ulah tangan William yang begitu nakal dengan menyobeknya.
Tatapan kesal Anindya berikan pada pria berstatus suaminya itu. Seumur dia hidup, baru kali ini Anindya memakai pakaian mahal dan indah. Tetapi dengan enaknya, William merobeknya hanya kesal karen resleting dress itu yang tersendat.
"Kalau cuma mau rusak baju tadi nggak usah deh,"dengus Anindya.
William menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Istri kecilnya marah hanya karena dress yang ia berikan sobek.
"Tadi benar susah, besok Saya belikan yang baru lagi, satu toko juga tidak masalah"ucap William dengan bujukannya.
Kedua mata Anindya membola sempurna, jiwa miskinnya merontah dan menjerit saat sang suami dengan entenganya ingin membelikan pakaian satu toko untuk dirinya.
"Sudahlah tidak perlu dibahas lagi, Aku mau ganti baju sendiri, Liam,"putus Anindya akhirnya.
Anindya bangkit dari kursi dengan tangan masih bertengger pada dadanya mencegah agar dress panjang yang ia kenakan tidak melorot yang akan memperlihatkan dada mulusnya.
Sialnya, pergerakan Anindya yang tengah rempong dengan menarik dress agar tidak terinjak kakinya itu justru memancing nafsu singa pemangsa yang ada dalam satu kamar dengannya.
"LIAM! Apa lagi,"pekik Anindya saat tubuhnya ditarik dan diletakkan di atas pangkuan pria itu.
Nafas William memberat, derunya mengenai area leher Anindya membuat bulu kuduk Anindya meremang.
"K-Kamu mau apa?"gagap Anindya.
Bibir tebal itu mulai menelusuri area tulang belikat Anindya, membuat wanita itu meremang karena sengataan yang sangat sensitif dan intim itu.
Tubuh kecil Anindya diangkat lalu William balikkan hingga kini keduanya saling berhadapan dengan posisi Anindya masih di atas pangkuan pria itu.
"Boleh kan? Aku tidak bisa menahannya lagi,"ucap William meminta izin untuk melakukan lebih.
Manik coklat Anindya menatap balik manik legam milik William. Dari kedua matanya tersirat jelas gairah yang begitu besar dan meminta untuk segera disalurkan saat itu juga.
Jujur, Anindya masih sedikit was-was akan penyatuan yang William lakukan. Pasalnya saat di kamar hotel dimana dirinya diperawani oleh pria itu, terngiang jelas bagaimana keganasan seorang William
Menolaknya? Tentu itu tidak bisa Anindya lakukan. Bagaimanapun pria yang tengah ia duduki pangkuannya adalah suaminya, pria yang halal menyentuh setiap inci tubuhnya.
Tetapi logika Anindya lainnya kembali memerangi argument itu. Anindya sangat takut jika William akan meninggalkan dirinya.
"Bagaimana ini? Aku benar-benar bingung,"batin Mba Yuni.
Tiba-tiba William mengangkat tubuh Anindya dan meletakkannya di atas kasur. Sementara dirinya bangkit.
__ADS_1
"Baiklah, jika tidak mau,"celetuk William.
Anindya panik, dari suara itu, terlihat jelas kekecewaan terdengar disana. Dia merasa berdosa karena menolaknya.
Tidak, Anindya bahkan belum menolaknya. Wanita itu hanya terlalu lama berpikir dan sepertinya itu membuat William mengira jika Anindya telah menolak bercinta dengannya.
Anindya bangkit dari kasur, wanita itu berjala cepat untuk mencegah William yang telah memegang gagang pintu kamar mereka itu.
"Liam, jangan pergi,"ucapnya seraya mencekal pergelangan tangan William.
"Lepaskan Anindya, Saya tahu kamu tidak mau. Biarkan Saya keluar,"ucap William tanpa menolehkan kepalanya.
Kepala Anindya menggeleng cepat, tangan yang tadinya ia gunakan untuk mencekal pergelangan tangan William puna kini ia lepas.
Grep.
Anindya memeluk erat tubuh William dari belakang membuat pria itu terjengit kaget karena kelakuannya.
"Kata siapa Aku tidak mau, Aku mau Liam,"cicit Anindya menenggelamkan wajahnya pada punggung pria itu.
Senyuman lebar terbit pada kedua sudut bibir Anindya. Ternyata tidak sesulit yang ia kira untuk menaklukkan hati nurani Anindya.
Lihatlah dengan drama sedikit ngambeknya, kini Anindya dengan rela menyerahkan dirinya pada William.
"I-iya,"cicit Anindya.
Ingin rasanya William melompat girang karena ia bisa kembali memadu kasih dengan sang istri kecilnya.
"Kamu tidak bisa menarik kalimatmu, Nin. Sekarang kamu lepaskan tanganmu dari perut Saya,"ucap William.
Tetapi gelengan cepat Anindya dapat William rasakan pada punggungnya.
"Jika begini, bagaimana kita bercinta,"ucap William hendak melepas tangan Anindya dari perutnya.
"D-dressku lepas ke bawah semua. Aku, Aku hanya memakai dalaman saja. Sangat memalukan,"lirih Anindya.
Kedua bola mata William membola sempurna. Tanpa berlama-lama lagi, William melepas tangan Anindya dan membalik tubuhnya.
"Kenapa sekarang, Saya begitu mesum,"rutuk William.
Hanya dengan Anindya saja yang selalu sukses membuat William terus menerus berpikiran perihal peranjangan. Dan kini ia melihat sosok yang biasanya bar-bar kini tengah malu-malu kucing karena tubuhnya terekspose jelas di depan William.
__ADS_1
"Jangan malu,"ucap William hendak menarik tangan Anindya yang melindungi area dada wanita itu.
Tapi saat tangan itu berhasil William lepaskan, Anindya segera menubrukkan tubuhnya pada dada bidang William agar pria itu tidak melihatnya dari depan.
"Aku sangat malu, tidak bisakah kita mulai saja. Aku tidak suka pandanganmu ketika melihat tubuhku, sangat mesum,"maki Anindya yang sukses memancing tawa renyah William.
"Ha ha ha, sesuai keinginanmu. Kita akan bercinta hingga menjelang subuh,"ucap William lalu meraih tubuh Anindya dan ia bawa pada tempat peraduan mereka.
***
"Katakan ada apa?"ucap William dari balik telepon.
"Tuan, Saya menemukan bukti Nyonya Wanda yang sering mendatangi unit mewah apartemen di Hybrid Land, Tuan,"jelas Alex.
"Apa kamu tidak bisa membereskan satu tikus saja, Alex."
"Saya masih harus memastikan kabar ini Tuan. Saya juga harus memastikan jika apartemen itu benar atas nama Nyonya Wanda,"ujar Alex.
"Ck, berikan kabar baik saja. Malam ini jangan ganggu Saya, besok kita bahas di kantor,"ucap William lalu memutuskan panggilannya begitu saja.
Dia merutuki asistennya karena di jam malam yang terus meneleponnya. Padahal saat ini Anindya tengah terlelap karena kelelahan oleh ulahnya.
William kembali melangkah masuk ke dalam kamarnya. Ia berjalan mendekati sisi kasur dan menatap dengan lama sosok yang terlelap dengan damainya itu.
"Kamu istriku, Nin. Ingat itu, "ucap William.
Setelah mengatakan kalimat itu, William berjalan kembali memutari kasur dan merangkak menaikinya.
Dia tidak sampai melakukan pergumulan panas dengan Anindya sampai menjelang subuh, karena sang istri yang keburu kelelahan.
Keesokan harinya tampak Anindya telah bersiap dengan pakaian yang telah pelayan siapkan. Wanita itu begitu senang saat sarapan pagi, sang suami mengatakan jika ia dibebaskan untuk berjalan-jalan dengan syarat tidak boleh kabur atau sekedar memiliki niatan itu.
Dan Anindya menyanggupinya, Anindya sudah pasrah dengan takdir.
"Kamu yang akan menemani Saya jalan-jalan kan?"tanya Anindya pada Eva yang telah menanti dirinya.
"Iya Nona,"jawab Eva.
"Oke Eva, ayo kita bersenang-senang,"ajak Anindya dengan cerianya.
***
__ADS_1
TBC