
"Alex, siapkan jet pribadi,"titah William pada panggilan yang tengah ia lakukan.
William mematikan panggilan itu sepihak membiarkan Alex mengurus semuanya. Sementara ia meminta Eva untuk membereskan pakaian miliknya dan Anindya.
Setelah semuanya selesai, William kembali menggendong Anindya yang masih lelap dalam tidurnya di atas kasur itu, bahkan Anindya sama sekali tidak terganggu dengan tubuhnya yang beulang kali dipindah-pindahkan oleh William.
Pria itu membawa Anindya masuk ke dalam mobil dimana Mandala telah siap mengantarkan pria itu menuju jet pribadinya yang telah siap.
"Selamat jalan, Tuan,"ucap Eva mengantar kepergian Anindya dan William.
Mobil mewah itu melaju meninggalkan mansion. Supaya tidak mengganggu tidur Anindya, selama di dalam mobil, William memangku tubuh istri kecilnya itu.
"Eungh, dimana?"tanya Anindya mendongakkan kepalanya menatap sang suami.
William mengelus kepala sang istri dengan lembut lalu menjawab.
"Sudah tidur lagi ya, nanti kalau sudah sampai Aku bangunin,"ujar William.
Elusan lembut yang William berikan pada kepala Anindya membuat kelopak mata wanita itu kembali memberat dan tertidur lagi. William tersenyum kecil melihat tingkah Anindya. Itu terlalu menggemaskan, jika tidak ingin memberikan kejutan pada Anindya sebagai permintaan maafnya, sudah pasti William tidak tahan menganggurkan sang istri dalam pangkuannya itu.
Beberapa menit kemudian, mobil itu telah sampai di bandara dimana jet pribadi William telah menunggu pria itu.
Alex sang asisten dengan setia berdiri tak jauh dari jet tersebut. Lalu saat melihat kedatangan William dan Mandala yang menyeret koper besar itu. Alex segera berjalan mendekati Tuannya itu
"Semuanya telah siap, Tuan,"ujar Alex.
"Hem, Saya titip perusahaan kurang lebih seminggu,"balas William.
"Baik Tuan. Semoga Anda dan Nona menikmati liburannya,"ucap Alex lagi.
William menganggukkan kepalanya. Lalu dengan tubuh Kanaya yang ia gendok bak anak koala, pria itu masuk ke dalam jet pribadinya itu.
Sesampainya di dalam jet, William diarahkan oleh seorang pramugari menuju sebuah ruangan dengan kasur didalamnya. Dengan sangat lembut dan hati-hati, William membaringkan tubuh kecil sang istri.
Anindya ini tipe orang yang mudah tidur, dan jika sudah tidur maka gangguan sebesar apapun tidak akan bisa membangunkannya sampai ia merasa puas dengan tidurnya.
Kurang lebih mereka berada di dalam pesawat selama tujuh jam. Sempat Anindya terbangun saat di pesawat, namun wanita itu hanya bangun untuk sholat dan makan, setelah itu ia kembali tertidur.
Bahkan Anindya tidak peduli ia ada dimana, dan terus menyueki William saat ia terbangun tersebut. Dan setelah perutnya kenyang, Anindya kembali terlelap.
__ADS_1
Jet pribadi yang membawa Anindya dan William telah Bandara Internasional Kota Male, Maladewa. Melihat Anindya yang masih terlelap, William bermaksud menggendong tubuh kecil sang istri lagi.
Saat tubuh Anindya sudah dalam gendongan William, kelopak indah wanita itu bergerak lalu terbuka.
"Kita sudah sampai, sekarang turunkan Aku Liam,"pinta Anindya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Belum, kita belum sampai. Tetaplah dalam gendongan Saya,"ucap William, lalu mengubah posisi Anindya bak anak koala.
Anindya memekik kecil karena cepatnya pergerakan yang William lakukan pada tubuhnya. Refleks tanganya memegang leher William lalu saat sudah mulai tenang, Anindya mendongak menatap belakang tubuh William heran.
Pemandangan asing seperti di sebuah bandara. Dengan orang-orang berperawakan seperti bukan di Indonesia.
"Liam, kita dimana? Kok suasananya beda ya,"tanya Anindya, dengan wajah ia letakkan pada bahu William.
"Kamu akan tahu, diamlah sebentar lagi kita akan naik kapal pesiar,"terang William yang mendapat balasan anggukan saja oleh Anindya.
Wanita itu masih belum sepenuhnya tersadar, dan setelah William membawanya menuju sebuah kapal pesiar barulah Anindya memekik kaget.
"Yaa! Liam, ini beneran kapal pesiar? Kamur tidak bermaksud membuangku kan,"tuduh Anindya dengan pikiran buruknya.
Cletak.
"Buang jauh-jauh pikiran burukmu, dan lebih baik nikmati perjalan ini,"ucap William, menarik tubuh Anindya agar berada dalam dekapannya dan memandang birunya laut dari dek kapal pesiar itu.
Sayangnya Anindya yang masih marah itu justru berontak dari dekapan William.
"Aku masih marah sama Kamu Liam, jangan peluk-peluk Aku, tubuhmu bau pelakor,"dengus Anindya menjauh lalu masuk ke dalam kapal pesiar itu.
Helaan nafas berat keluar dari rongga hidung Wiliam. Menenangkan wanita yang tengah marah ternyata begitu sulit, bahkan lebih sulit dari ia mengalahkan kompetitor perusahaan.
Sekitar empat puluh menit perjalanan, mereka telah sampai di sebuah pulau pribadi di Maladewa bernama "Ithaafushi -The Private Island"
Sebuah pulau pribadi yang dikhususkan untuk para konglomerat yang memiliki kekayaan tiada batas.
Anindya menatap penuh takjub akan pemandangan sekitar pulau tersebut. Dengan dikelilingi oleh pantai serta bangunan megah vila yang memanjakan mata membuat Anindya memukul kedua pipinya cukup keras.
"Aw, ini beneran mimpi. Ya ampun, di sini ternyata ada bangunan mewah kayak gini. Liam...Ehem ehem,"ocehan Anindya seketika berhenti saat ia sadar jika tengah marah pada William.
Ketika namanya dipanggil, William yang tengah berbicara dengan supir kapal pesiar itu pun menyudahi obrolan mereka dan berjalan mendekati Anindya.
__ADS_1
"Kenapa Nin? Ada yang kurang puas?"tanya William.
Sumpah, kalimat william itu sukses membuat Anindya tidak percaya. Ini bukan tidak puas tapi terlalu puas. Ya ampun, sekarang Anindya mulai menanyakan seberapa kaya sih suaminya ini. Kenapa bisa membawanya ke tempat indah seperti sekarang ini.
"Tidak, ini bagus kok. Cuma mau nanya, kamu bawa Aku kemana ni? Bali ya?"tebak Anindya, yang justru memancing tawa William.
"Ha ha ha, Ini Maldives Anin. Kita bukan di Bali, tapi Maladewa,"jelas William.
"Maladewa? Jadi...Kita di luar negeri?"cicit Anindya.
"Iyalah, mana ada Bali dengan jarak tempuh pesawat tujuh jam-an kayak tadi,"ucap William.
***
"Dimana William, kenapa hanya Kamu yang diperusahaan?"tanya Tuan Bavers dengan suara dalamnya.
"Tuan William sedang ke luar negeri bersama Nona untuk berbulan madu,"jawab Alex.
Brak.
Berkas yang ada di atas meja itu seketika jatuh berserakan di atas lantai. Urat rahang Tuan Bavers mengencang dengan wajahnya merah penuh amarah.
"Apa-apaan anak itu. Semenjak dia menikah dengan gadis kampungan itu, William jadi seenaknya di perusahaan,"sentak Tuan Bavers.
"Mau jadi apa perusahaan Saya ini, hah!"lanjutnya dengan intonasi marah.
Kening Alex mengernyit saat mendengar pengakuan Tuan Bavers perihal perusahaan Bavers Group adalah miliknya. Karena berdasarkan wasiat dari kakeknya William bahwa Bavers Group akan jatuh ke tangan William sepenuhnya saat pria itu sudah menikah.
Dan karena saat ini William telah menikah maka kepemilikan perusahaan sudah beralih nama.
"Maaf Tuan Bavers, perusahaan ini sudah milik Tuan William saat setelah Tuan Saya menikah,"ujar Alex membenarkan fakta yang ada.
"Kamu! Aiish,"
Tuan Bavers berdiri dari kursinya mendekati Alex lalu melayangkan sebuah pukulan keras pada perut pria itu.
Bugh.
"Akibat dari membantah kalimat Saya,"ucap Tuan Bavers lalu berjalan meninggalkan Alex.
__ADS_1
***