NIKAHI AKU TUAN!

NIKAHI AKU TUAN!
Part 35


__ADS_3

Jemari lentik itu terus meremas dan keringat dingin membasahi setiap sela jemari lentik itu. Sesekali ekor matanya mencuri lihat akan sosok pria yang terus diam dan memasukkan sesuap demi sesuap makanan ke dalam mulutnya.


Nafsu makan Anindya hilang seketika, padahal menu makan malam ini begitu menggugah selera. Namun bagi wanita itu suasana yang begitu asing membuat nafsu makannya menurun bahkan hanya dua sendok saja yang masuk ke dalam kerongkongannya.


"Habiskan makan malammu, Nin,"ucap William, yang menyadari makanan Anindya masih banyak di atas piringnya.


"Iya,"cicit Anindya.


Perutnya seakan menolak makanan tersebut karena rasa nafsunya yang telah hilang.


Suasana makan malam itu kini terasa sangat hening dan hanya dentingan sendok pada piring yang terdengar. Anindya terus melirik William, memastikan tentang pria itu.


Makanan William telah habis, lalu pria itu meneguk air minumnya dan bersiap meninggalkan meja makan.


"Liam..."panggil Anindya lirih, seraya mencekal pergelangan tangan pria itu.


William menatap sekilas lalu ia melepaskan pegangan tangan Anindya tersebut dan berlalu begitu saja.


Wanita itu menunduk sedih, dia tidak menyangka respon William akan kabar yang ia berikan perihal kesalahpahamannya justru membuat William mendiamkan dirinya.


Anindya yang merasa sedih memilih meninggalkan meja makan lalu masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu menghempaskan tubuhnya di atas kasur dan menangis sejadinya disana.


Begini rasanya didiamkan seseorang yang biasa begitu hangat? Rasanya sakit dan lebih pedihnya karena Anindya justru merasa bersalah.


Padahal anak adalah amanah dari Allah, jika pun sekarang belum dikaruniai seorang janin dalam rahimnya seharusnya William tidak sampai mendiamkan dirinya.


Keesokan harinya Anindya harus kembali bersedih saat ia tidak mendapati William. Berdasarkan informasi yang ia dapatkan dari Eva jika William pagi-pagi sekali sudah berangkat sehingga melewatkan sarapan pagi bersamanya.


"Eva, apa kamu sudah menikah?"tanya Anindya menatap Eva yang tengah memijat bahunya itu.


"Sudah Nona,"jawab Eva dengan senyuman meronanya.


Mendengar jawaban tersebut membuat Anindya bangun dari posisinya lalu menarik Eva agar duduk didepannya.


"Aku boleh tamya sesuatu sama Kamu,"ucap Anindya berbisik. Kepala Anindya celingukan memastikan jika keadaan di sana hanya ada dirinya dan Eva. Karena biasanya sosok Mandala yang seperti jailangkung itu acap kali muncul disekitar Anindya dan mengagetkannya.


"Boleh Nona,"jawab Eva.


Anindya mulai menceritakan inti dari masalahnya tentang kesalahpahaman yang tengah terjadi diantara dirinya dan William yang justru membuat William mendiamkan dirinya saat Anindya mengatakan kebenarannya.


"Mungkin Tuan memang kecewa, Nona. Tapi percayalah Tuan sama sekali tidak marah kepada Anda,"ujar Eva.

__ADS_1


"Tapi dia seakan menghindariku, Eva. Bahkan dia melewatkan sarapan pagi bersamaku,"kesah Anindya dengan bibir mengerucutnya.


Eva terdiam, meskipun dia sudah berumah tangga tetapi watak suaminya dengan William tentu saja jauh berbeda.


"Bagaimana jika Anda yang mendekatinya lebih dulu agar Tuan William kembali berbicara pada Anda, Nona,"ucap Eva.


"Bagaimana caranya, Ev?"tanya Anindya antusias.


"Anda datang saja ke kantornya Tuan dengan membawa bekal makan siang, lalu tanyakan apa iya Tuan benar marah karena hal tersebut dengan suara lembut,"saran Eva.


"Lembut? Suara Aku kan emang cempreng gini, nggak bisa lembut Eva..."


Pelayan itu terkekeh saat mendengar pengakuan Anindya pasal suaranya yang cempreng. Dan tawa Eva itu sukses membuat semakin masam saja wajah Anindya.


"Sudah jadi diri sendiri saja Nona. Tapi masalah datang ke kantor sepertinya memang harus Anda lakukan, Nona,"ujar Eva.


Anindya mengangguk setuju. Lalu dengan dibantu Eva, Anindya mulai membuat menu bekal yang akan ia bawa ke kantor William. Entah bagaimana ekspresi William saat melihat kedatangan Anindya ke kantornya.


Akankah dia marah atau senang? Sudahlah sepertinya Anindya tidak ingin ambil pusing dengan hal tersebut dan memilih fokus membuat makanan.


Setelah membuat makanan, Anindya menyempatkan diri mandi dan sedikit berdandan. Sebenarnya William sudah menyediakan segala alat perawatan kecantikan di kamar mereka. Namun Anindya yang malas berdandan tentu saja enggan memakainya.


"Eva, mana tadi rantangnya?"tanya Anindya.


"Astaghfirullah...Nona? Kenapa wajahnya jadi ondel-ondel,"ceplos Eva, yang sesaat kemudian langsung memukul bibirnya sendiri.


"Jelek ya? Aku nggak bisa dandan soalnya,"ucap Anindya dengan cengiran kudanya.


"Ya Ampun Nona, kenapa tidak bilang sama Saya jika tidak bisa berdandan. Sini biar Eva bantu dandan supaya kelihatan cantik mempesona,"ujar Eva, lalu menarik Anindya kembali ke kamarnya.


Tidak hanya make up yang Eva kerjakan, tetapi pelayan itu juga mengganti outfit pakaian Anindya yang terkesan todak senada.


"Nah pakai ini saja, Nona akan terlihat trendy tapi elegan gitu,"ucap Eva mengankat sebuah dress berwarna hitam dengan outer warna putih.


Anindya tidak banyak protes, dia patuh saja diperlakukan oleha Eva sebagai tata rias dadakannya itu.


"Wah, sumpah Nona...Anda sangat cantik,"puji Eva membuat pipi Anindya bersemu merah.


"Ini nggak berlebihan kan Ev?"tanya Anindya.


"Tidak Nona, sebaiknya Anda segera berangkat sekarang sebelum makan siang tiba,"ucap Eva lalu mengarahkan tangannya keluar kamar tersebut pada Anindya.

__ADS_1


Senyuman simpul Anindya berikan pada Eva, lalu melangkah menuju dapur untuk mengambil rantang. Saat ia hendak meminta tolong pada salah satu supir di mansion tersebut, kebetulan masuklah Mandala dengan ekspresi terkejutnya menatap Anindya.


"Eva? Dia siapa? Kenapa Kamu main izinin orang masuk ke dalam mansion,"maki Mandala yang menunjukkan maksudnya pada Anindya.


"Aw, kenapa ijak kaki Saya."


Mandala meringis kesakitan saat kakinya justru mendapat injakan cukup keras dari Eva.


"Jaga bicaranya Man, dia itu Nona Anindya, majikan kita istrinya Tuan William,"ucap Eva menjelaskan siapa sosok yang menurut Mandala asing itu.


"Nona Anin?"ucap Mandala dengan nada terkejutnya lagi.


Anindya tersenyum lagi pada si panjaga mansion tersebut lalu berkata.


"Sudah lah kalian jangan buat Saya malu ini. Oh iya Mandala bisa antar Saya ke kantor Liam, Saya ingin memberikan bekal makan siang ini padanya,"ujar Anindya.


"Siap Nona,"saut Mandala dengan suara tegasnya.


Anindya berangkat ke kantor William untuk pertama kalinya, ada perasaan takut dan grogi. Dulu ia memang sering masuk area perkantoran namun sebagai office girl dan kini ia masuk sebagai istri dari si pemilik perusahaan.


"Nona, sudah sampai,"ujar William membuyarkan lamunan Anindya.


"Ah iya, Man. Terima kasih,"ucap Anindya tulus.


Mandala keluar lebih dulu untuk membukakan pintu mobil Anindya.


Seluruh pandangan staf perusahaan tertuju pada sosok Anindya yang tampil elegan itu. Bukan hanya masalah tampilan namun lebih ke arah sosok tangan kanan William selain Alex, Mandala yang menemani Anindya.


"Siapanya Tuan William ya? Kok sampai Mandala mengantarnya,"bisik-bisik para staf itu.


Anindya tidak peduli, meskipun hatiny merasa gerogi tapi sebisa mungkin dia bersikap ramah pada mereka semua dengan senyumannya.


Mandala membawa Anindya memasuki lift yang akan membawa mereka ke lantai dimana ruangan William berada.


Anindya semakin grogi saja saat melihat angka-angka lantai di lift terus berganti. Sampai suara dentingan terdengar diiringi terbukanya pintu lift.


"L-Liam,"gagap Anindya dengan tatapan nanar.


"Mandala, bawa Aku ke bawah lagi,"teriak Anindya seraya menekan tombol tutup lift.


***

__ADS_1


__ADS_2