NIKAHI AKU TUAN!

NIKAHI AKU TUAN!
Part 32


__ADS_3

Lintang mematung menatap penuh kagum akan pemandangan di depannya. Sosok wanita yang baru saja ia temui dengan begitu berani menghajar habis-habisan seorang pria.


Sementara di depan Lintang, sosok Anindya dengan semangat memukul pria yang ia lihat dengan matanya melecehkan seorang gadis.


Beberapa pengunjung kedai es krim tersebut juga tak kalah kaget melihat aksi yang Anindya lakukan, mereka juga tidak ketinggalan mengabadikan momen tersebut.


"Apa yang kalian lakukan? Hapus sekarang atau Saya jamin diri kalian tidak akan baik-baik saja,"ancam Lintang yang melihat aksi para pengunjung itu.


Mereka yang mengenal siapa itu Lintang dan bagaimana pengaruh pria itu dalam dunia bisnis pun mau tak mau menghentikan aksinya mengambil video Anindya.


"Punya tangan itu dijaga, lihat cewek mulus grayang sana grayang sini, otak itu di pake buat mikir yang baik-baik bukan mikir yang m*sum,"sentak Anindya dengan nafas memburunya.


Seorang penjaga yang sedari tadi tidak menghentikan aksi Anindya pun maju, penjaga itu baru menghampiri saat merasa Anindya cukup puas memukuli pria itu.


"Sudah Nona? Atau mau ditambah lagi, Saya dukung tindakan Anda ini,"ujar Penjaga itu.


"Bawa saja dia Pak, wajahnya sudah babak belur gitu. Nanti kalau mati, Saya juga yang kena masalah,"tutur Anindya dengan sopan.


Penjaga itu mengangguk paham, ia lalu menyeret pria mesum itu untuk dibawa ke kantor polisi.


Sementara para pengunjung disana bertepuk bangga karena apa yang baru saja Anindya lakukan.


"Keren sekali Anda, Nona,"puji seorang pengunjung.


Aksi tepuk tangan dan sorak gembira itu cukup mengagetkan Anindya. Dia pikir tidak banyak orang yang melihatnya. Ternyata tanpa ia sadari sudah menjadi tontonan.


"Ah, tidak masalah,"balasnya dengan senyuman canggung.


"Tidak Nada sangat hebat. Banyak wanita yang tidak bisa melawan sebuah p*lecehan. Tapi tadi Anda melakukannya, dengan menghajar habis pria mesum tadi,"puji pengunjung tadi.


Sekali lagi Anindya hanya mengangguk dengan menyertakan senyuman canggung pada sudut bibirnya.


"Nona..."


Kepala Anindya menoleh. Sosok gadis yang tadi ia tolong karena menjadi korban pelecehan pun menarik atensinya.


Gadis itu tampak memiliki wajah lugu dan lemah. Ia juga memakai seragam SMA yang cukup ketat. Dan mungkin hal itu yang membuat pria kurang ajar tadi melecehkannya.


"Kamu baik-baik saja kan? Ah panggil saja Kak jangan Nona,"ujarAnindya diangguki gadis itu.


"Saya baik-baik saja, terima kasih sudah mau menolong Saya,"ujar gadis itu tulus.

__ADS_1


"Sama-sama, lain kali lebih hati-hati dan...Kamu setiap sekolah apa gaya berpakaiannya seperti itu?"


Anindya benar-benar penasaran akan satu hal tersebut. Ingatnya semasa SMA tidak ada siswi dengan rok span di atas paha serta atasan yang begitu ketat.


Apa pihak sekolah tidak melarangnya? Atau gadis di depannya ini termasuk gadis nakal? Aish, pikiran penuh menerka ini membuat Anindya pusing. Karena gadis di depannya hanya menganggukkan kepalanya.


"Kamu punya uang tidak? Buat beli seragam lagi, itu sepertinya sangat ketat dan tidak pantas untuk dipakai lagi,"ujar Anindya.


"Ada Kak, ada. Papa Saya seorang pengusaha. Jadi cukup banyak uang yang Saya miliki. Ini cuma karena stylish saja,"jelas gadis itu penuh penyesalan.


Helaan nafas panjang keluar dari hidung Anindya. Ternyata alasan dibalik semuanya adalah pergaulan dari gadis SMA tersebut.


"Kalau Papa kamu kaya seharusnya mampu beli seragam yang layak jangan pakai seragam ini. Lihat kamu baru saja akan menjadi korban pelecehan."


Gadis itu hanya bisa menganggukkan kepalanya patuh. Seakan nasihat yang Anindya itu adalah nasihat yang sangat berharga dan tidak akan ia langgar.


"Sekarang Kamu pulang gih,"ucap Anindya.


"I-iya, maaf kalau boleh tahu nama Kakak siapa? Sama boleh minta nomor ponsel Kakak,"


"Ah iya, kita belum berkenalan ya. Nama Saya Anindya. Kamu?"tanya balik Anindya.


"Ara, kalau gitu Saya pulang dulu ya,"pamit anindya.


"Iya kak Anind, hati-hati di jalan."


Ara tersenyum lebar dengan lambaian tangan yang ia berikan pada Anindya mengiringi wanita itu pergi dari kedai es krim tersebut.


Saat Ara yang terfokuskan pada sosok Anindya, dari arah belakang tanpa disadarinya telah maju seorang pria dan bersiap menarik telinga Ara.


"Aw aw, siapa sih?"pekik Ara menahan telinganya yang telah ditarik. Kepala gadis itu menoleh ke samping. Dan alangkah terkejutnya saat ia melihat si pelaku yang menarik telinganya itu.


"Kak Lintang, ampun kak...Jangan tarik telinga Ara!"adunya dengan meringis kesakitan.


"Dasar gadi nakal!"


***


Anindya yang telah sampai di depan gerbang Mansion milik William itu mengernyit saat melihat pemandangan di depan gerbang itu.


"Mereka lagi...Tidak bosan apa membuat keributan,"gerutu Ardi menatap kesal pemandangan tersebut.

__ADS_1


Anindya hanya memandangnya saja. Dia melihat sosok Wanda yang tengah memaksa masuk ke dalam mansion ditemani Clarissa disisinya.


"Kalian tidak sopan! Biarkan Saya masuk, Saya mau menemui wanita kampungan itu,"sentak Wanda pada penjaga.


Anindya memijat keningnya yang mendadak rasa pening menyerang kepalanya. Tadi ia telah berhadapan dengan Papa mertuanya lalu kini ia harus berhadapan dengan sosok Mama mertuanya juga.


Kenapa nasib Anindya miris sekali. Dia tidak sesibuk William, namun otak kecilnya dituntut menanggung beban pikiran yang tidak mudah.


Saat mobil itu telah sampai tepat di depan gerbang. Segera penjaga tersebut membuka gerbang agar Anindya bisa masuk ke dalam sana.


"Hey, jangan halangi Saya! Saya mau masuk menemui wanita kampungan itu,"sentak Wanda kesal karena ia kembali dihalangi oleh penjaga.


"Ya! Kamu berani sekali pada Tante Wanda. Dia itu Mamanya William,"saut Clarissa merasa tidak suka.


Sementara itu Anindya yang baru keluar dari dalam mobilnya menampilkan wajah ngeri pada dua wanita tersebut.


"Ar, itu mereka suruh masuk saja deh,"putus Anindya.


"Tapi Nona..."


Ardi merasa jika membiarkan Wanda dan Clarissa masuk adalah keputusan yang salah. Sehingga ia cukup keberatan dengan hal tersebut.


"Tidak apa, dulu Saya bahkan pernah mengalami hal lebih mengerikan dari mereka,"ucap Anindya, memberi keyakinan pada Ardi.


"Baik Nona."


Usai memberi perintah tersebut. Anindya memutuskan untuk masuk ke dalam mansion lebih dulu. Dia butuh air putih untuk mendinginkan hati dan otaknya sebelum menghadapi mama mertua dan mantan tunangan William.


Sementara Ardi berjalan mendekati gerbang dimana keributan masih terjadi.


"Biarkan mereka masuk,"utas Ardi.


Dua penjaga itu menatap heran. Mereka dengan susah payah menghalau Wanda dan Clarissa, lalu kenapa dua wanita itu bisa masuk.


Tetapi anggukan kepala Ardi akhirnya membuat dua penjaga itu menyingkirkan tubuhnya memberi jalan Wanda dan Clarissa masuk.


"Ck, kalian ini memang payah,"rutuk Wanda dengan gaya sombongnya, lalu berjalan jumawah diikuti Clarissa disampingnya.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2