
"Liam, bangun! Sudah subuh,"ujar Anindya, menggoyang bahu telanjang William.
Wanita itu sudah mengerjakan sholat Subuh, dan ini adalah kali keduanya Anindya mencoba membangunkan William untuk mengerjakan sholat Subuh.
Tapi seakan kelopak matanya terdapat beban dan telinga pria itu yang tertutup rapat, suara Anindya tak juga membuat William terjaga.
"Hah, Liam bangun! Kamu belum mandi wajib dan sholat Subuh. Nanti keburu waktunya habis,"gerutu William.
"Eungh..."
Lenguhan itu sedikit memberi rasa senang pada hati Anindya. Tapi itu hanya sebentar, karena setelah itu William hanya membalik tubuhnya memunggungi Anindya yang tampak kesal.
"Andai saja kamu bukan suami Aku, sudah Aku siram. Ck, kapan gitu Aku bisa sholat jamaah di imami sama suami, apa perlu ganti suami dulu ya?"
Monolog absurd itu keluar begitu lancar dan keras dari bibir Anindya. Itu hanya sebuah monolog tanpa ada niatan atau kesungguhan di dalamnya.
Meskipun Anindya bertingkah bar-bar, namun dari lubuk hatinya ingin bisa merasakan bagaimana indahnya beribadah bersama suami.
"Aku keluar dulu, Liam. Kamu bangun ya, ingat sholat lima waktu itu kewajiban kita sebagai umat Islam,"ucapnya, lalu beranjak dari sisi kasur dan meletakkan alat sholat yang sebelumnya ia pegang ke dalam lemari.
Helaan nafas panjang kembali keluar dari rongga hidung Anindya saat melihat sosok William yang masih saja tidur. Tidak ingin semakin kesal pada sang suami, Anindya memilih melangkah ke luar kamar menuju dapur mansion.
Suara daun pintu tertutup menandakan Anindya telah keluar dari dalam kamar tersebut. Lalu kelopak mata itu terbuka lebar dan dengan cepat William mendudukkan tubuhnya di atas kasur.
"Hanya dalam mimpi,"celetuknya.
Anindya yang telah keluar dari dalam kamar itu tampak menuju dapur. Disana para pelayan sudah mulai sibuk menyiapkan sarapan pagi.
Padahal majikan di rumah itu hanya ada dirinya dan William. Tapi entah kenapa mereka tampak begitu sibuk untuk menyiapkan makanan.
"Nyonya,"panggil seorang pelayan yang menyadari kehadiran Anindya.
Anindya tersenyum pada para pelayan itu. Aktivitas dapur itu berhenti karena kehadiran dirinya dan itu membuat Anindya merasa sungkan.
"Ah itu kalian lanjutkan saja, hemm...ada yang bisa Saya bantu,"tawar Anindya.
Dia benar-benar ingin merasakan bagaimana berjibaku dengan spatula dan kawan-kawannya itu. Karena setelah ia berada di Jakarta, sejenakpun Anindya tidak diperbolehkan untuk menyentuh alat-alat dapur.
"Tidak Nyonya, ini tugas kamu. Anda bisa kembali ke kamar saja. Tuan William pasti membutuhkan Anda saat ini,"ucap Eva.
"Kamu benar, sepertinya memang Aku harus kembali ke kamar deh,"putus Anindya, tapi meskipun begitu wanita berhijab itu justru melangkah ke arah dapur.
"Ini apa?"tanya Anindya menatap hidangan manis dalam mangkuk kecil yang menggugah selera itu.
__ADS_1
"Itu Lamington Cake, Nyonya,"ujar Eva.
"L-amina?"tanya Anindya memastikan nama dari cake di depannya.
"Bukan Nyonya, tapi Lamington Cake,"ralat Eva.
Cengiran kecil Anindya berikan. Di mansion William itu, para koki memang sering menyajikan makanan lezat yang namanya sulit dipahami Anindya. Maklum, yang lengket di otak Anindya adalah sejenis gado-gado, ketoprak, bakso, dan makanan khas Indonesia.
Sedangkan para koki lebih sering menyajikan hidangan internasional terlebih pada hidangan penutupnya.
"Ah iya itulah. Eva...apa boleh Saya memintanya untuk dimakan,"ucap Anindya.
"Ya ampun Nyonya, ini memang akan dihidangkan untuk Anda dan Tuan,"ucap Eva, beberapa pelayan yang mendengarnya hendak tertawa karena tingkah Anindya. Tapi pelototan mata tajam Eva membuat nyali mereka ciut.
"Begitu ya, Saya tidak sabar untuk memakannya. Ya sudah Eva, Saya kembali ke kamar ya,"ucap Anindya lalu berbalik meninggalkan semua pelayan dengan aktivitas mereka.
Kaki Anindya terayun dengan santai, dia tidak yakin jika William telah bangun tidur meskipun sudah ia bangunkan sebelumnya. Sehingga wanita itu memilih untuk lebih santai.
"Na...na...na..na, pagiku cerah...eh kok malah nyanyi lagu anak sekolah sih,"monolog Anindya saat sadar dengan nyanyian yang ia bawakan.
"Anind...Anind, dasar kamu ini,"rutuk Anindya pada dirinya sendiri, yang diselingi kekehan renyah miliknya.
Anindya memasuki kamar utama. Di atas kasur, telah kosong. Hanya tampak seprai kusut dan selimut yang masih berantakan.
Sembari menunggu William, Anindya membereskan kasur kusut itu lalu beranjak menuju walk in closet untuk memilihkan pakaian kerja untuk William.
"Semoga inu cocok, secara Aku kan cuma berasal dari kampung. Tapi, Aku juga sering lihat tampilan para petinggi di kantor dulu sih,"monolognya.
Saat ia hendak keluar bertepatan dengan William yang akan masuk ke dalam walk in closet.
"Eh aww,"pekiknya yang hilang akan keseimbangan. Beruntung tangan kekar William berhasil menahannya sehingga Anindya tidak terjatuh.
Selama beberapa saat netra keduanya saling bertautan. William yang terbuai akan bentuk indah bibir Anindya perlahan mendekatkan wajahnya.
"Liam! Ini pakaian kamu, pakai sekarang,"ujar Anindya seraya mendorong dada William. Diserahkannya pakaian kerja yang sebelumnta ia pilih kepada William lalu Anindya berlari cepat menjauhi William.
"Ya ampun William, kenapa kamy selalu berpikir mesum jika bersama dia,"rutuk William.
***
William yang telah siap berangkat kerja terlihat berjalan dengan sosok Anindya di sampingnya. Pria itu memaksa Anindya untuk mengantarkan dirinya sampai William benar-benar meninggalkan mansionnya.
Bahkan pria itu dengan modusnya memberi titah agar Anindya bergelanyut pada lengannya.
__ADS_1
"Nggak ih Mas, Aku tetap antar kamu kok,"tolak Anindya.
"Anindya!"seru William tak terbantahkan.
Mendapat tatapan tajam dan perintah tegas sang suami membuat Anindya mau tidak mau menurutinya dengan bergelanyut pada lengan pria itu.
Sungguh ini bukan karakter dari seorang Anindya, lihatlah wanita itu tampak menahan rasa malunya. Sementara William justru begitu bangga bahkan saat Alex yang menunggunya melihat, William justru menepuk bahu tangan Anindya.
Seakan-akan pria itu tengah memamerkan dirinya yang telah berpawang pada sang asisten.
" Selamat pagi Tuan William...Nyonya,"sapa Alex.
"Pagi Alex,"balas Anindya dengan senyumannya.
Sayangnya perbuatan Anindya yang membalas Alex justru memancing sosok pria disamping Anindya menatap tajam Alex.
"Ehem, Alex kamu masuk ke dalam mobil,"titah William, yang tanpa memberi titah lagi segera dipatuhi Alex.
"Saya mau berangkat, kamu di mansion saja,"utas William.
Anindya tidak lantas menjawabnya. Setelah keluarnya William, dia juga berniat untuk keluar menemui Tuan Bavers.
"Anin! Kamu mendengar Saya?"ucap William lagi.
"Iya Liam, Aku mendengarnya,"balas Anindya.
"Bagus, sekarang cium pipi Saya."
Apa-apaan ini? Kenapa semakin kesini tingkah William semakin menjadi.
"Anin! Hitungan ketiga, jika tidak maka..."
Cup.
Satu kecupan singkat mendarat dengan sempurna pada pipi William membuat pria itu tersenyum penuh kemenangan. Setelah apa yang ia inginkan didapatkannya, William gegas masuk ke dalam mobilnya dengan wajah riang.
Anindya menatap mobil William yang perlahan menghilang dibalik gerbang tinggi mansion. Wanita itu dalam kegundahan untuk mematuhi perintah William atau memenuhi janjinya pada Tuan Bavers.
"Maaf Liam."
***.
TBC
__ADS_1