NIKAHI AKU TUAN!

NIKAHI AKU TUAN!
Part 36


__ADS_3

"****, apa yang Kamu lakukan!"desis William menatap Clarissa nyalang.


Sedangkan yang mendapat kalimat penuh penekanan itu tampak menundukkan kepala berpura-pura menyesali akan kelancangannya namun sudut bibirnya tersenyum puas.


"Alex!"teriak William memanggil sang asisten.


Alex berjalan mendekati Tuannya, lalu tanpa adanya kalimat perintah dari William, tangan Alex mencekal kuat lengan Clarissa membuat sang empunya meringis kesakitan.


Sementara William yang melihat Clarissa sudah dalam kuasa Alex, pria itu gegas mengejar istri kecilnya yang kabur kala melihat kesalah pahaman saat lift terbuka tadi.


Pria itu memasuki lift dengan kegelisahan dalam hatinya, jelas sekali mata memerah yang Anindya perlihatkan beberapa saat lalu. Dan itu rasanya membuat akal William hampir tak terkendali.


"Dimana Istri Saya?"tanya William pada bagian resepsionis.


"Istri? Maaf Tuan William, istri Anda seperti apa?"tanya balik resepsionis itu yang semakin memancing emosi William.


"Istri Saya yang datang bersama Mandala, dia cantik dan imut,"teriak William yang sempat-sempatnya memuji sang istri.


"Oh, tadi keluar Tuan. Nona tadi men...nangis sepertinya,"jelas resepsionis itu yang terjeda karena sosok William telah pergi tanpa mendengar kelanjutan ucapan si resepsionis.


Seorang karyawan laki-laki menghampiri resepsionis itu dan bertanya.


"Tadi Tuan William menyebut gadis cantik yang bersama Tuan Mandala adalah istrinya? Aku nggak salah dengar kan?"tanyanya.


"Iya, tapi sepertinya mereka tengah bertengkar, oh ya ampun!"


Resepsionis itu mendadak wajahnya berubah ketakutan, keningnya juga mulai basah karena peluh. Sepertinya dia telah melakukan kesalahan besar dan mulai menebaknya.


William berlari keluar perusahaan sayang sekali mobil yang dikendarai Mandala telah pergi dari area kantor dan menyisakan debu. Tidak ingin kehilangan cara, William meraih ponselnya untuk menelepon Mandala.


"****, Mandala sialan,"rutuknya kesal karena sang anak buah tidak juga mengangkat panggilannya.


Kini pikirannya adalah segera menemukan Anindya dan menjelaskan semuanya. William baru saja akan masuk ke dalam mobil miliknya, namun Alex terlebih dulu mencegahnya.


"Biarkan Saya yang menyetirnya, Tuan,"ucap Alex, sebagai asisten yang membersamai William bertahun-tahun lamanya, Alex paham betul bagaimana William mengemudi disaar kondisi kacau yang akan sangat membahayakan orang-orang pengguna jalan lainnya termasuk William sendiri.


"Kamu berpikir Saya tidak bisa menyetir gitu,"tuduh William dengan gurat amarahnya.

__ADS_1


Ya begitulah jika dalam kondisi marah orang dengan IQ tinggi seperti William pun akan menjadi ber-IQ rendah dan terbawa emosinya.


"Tidak Tuan, orang-orang Saya sudah mengikuti mobil yang membawa Nona Anin. Jadi, lebih baik Anda duduk di belakang agar lebih tenang dan biarkan Saya menyetir,"balas Alex memberi pengertian.


William tidak manyauti kalimat Alex. Pria itu menutup keras pintu kemudi lalu beralih membuka pintu penumpang dan masuk ke dalamnya.


"Kenapa masih diam? Cepat!"sentak William.


Alex menghembuskan nafasnya panjang. Pria blasteran Belanda-Indo itu pada akhirnya segera masuk ke dalam mobil sebelum William kembali meneriakinya.


Disisi lain, Anindya terus meminta Mandala berkeliling tanpa arah. Tadi wanita itu sempat menangis dalam diam namun secepat kilat Anindya menyudahi tangisannya dan memilih diam sembari melihat jalanan dari balik jendela.


"Nona, kita mau kemana?"ucap Mandala pelan.


"Jalan saja Man,"balas Anindya singkat.


Dia masih belum tahu akan pergi kemana. Hatinya tengah gundah memikirkan pemandangan saat Clarissa yang bergelanyut pada lehee William dan bibir gadis itu mengecup pipi William.


"Kenapa tadi Aku justru pergi ya? Kan Aku istrinya, bego banget sih kamu Nin,"rutuknya.


Sejenak diri Anindya tadi bingung akan apa yang harus dilakukan karena emosi yang mendera hatinya. Dan kini akal gadis itu telah kembali membuat Anindya bisa berpikir jernih.


"Hah? Apa Nona?"


"Pulang, pulang ke mansion,"ucap Anindya dengan senyuman kecilnya.


Setelah berjam-jam Anindya mengajaknya berkeliling tanpa arah kini Mandala justru di ajak pulang begitu saja.


Tapi bukankah itu lebih baik, sehingga ia tidak perlu mendapatkan masalah jauh lebih besar dari William.


"Tapi Aku tadi lihat Nona tersenyum, ya ampun ada apa ini? Semoga itu bukan hal buruk yang akan terjadi,"batin Mandala.


Mandala memutar kemudinya mengikuti kemauan sang majikan untuk pulang ke mansion. Sekitar pukul tujuh malam, Anindya telah sampai di mansion.


Wanita itu melangkah masuk ke dalam mansion dengan tubuh tegak dan sikap yang santai namun auranya cukup menyeramkan.


"Anin! Akhirnya kamu pulang,"seru William lalu menarik tubuh istri kecilnya dalam dekapan hangat pria itu.

__ADS_1


Tapi, William merasa pelukan itu tak sehangat biasanya. Anindya tidak membalas pelukannya bahkan wajah wanita itu terkesan datar padanya.


"Anin..."


"Mandilah Liam, tubuh Kamu bau,"sarkas Anindya menghentikan William yang ingin berbicara.


William paham maksud dari kata bau adalah bukan bau badan melainkan bau lainnya. Pria itu menatap manik indah sang istri.


Dia tidak bisa menebak isi pikiran Anindya dari bola matanya. Dan itu rasanya sangat menyakitkan.


"Baiklah Saya mandi dulu, setelah ini kita bicara,"putusnya lalu mengusap bahu Anindya dan meninggalkannya.


Anindya menatap punggung tegap yang melangkah menuju kamar itu dengan segala kerumitan di hatinya.


Wanita itu memilih untuk mendudukkan dirinyadi sofa lalu menyandarkan kepalanya pada kepala sofa.


Hatinya masih begitu trauma akan perselingkuhan. Dulu saat Yoga dan Prita juga awalnya sama seperti yang baru saja ia lihat pada William.


Saat itu Yoga mengatakan jika Anindya telah salah paham dan itu cukup membuat Anindya memaafkannya.


Dia begitu dejavu, terlebih Anindya tahu betul siapa sosok Clarissa dalam hidup William. Berdasarkan info yang ia dapatkan. Jika Clarissa dan William telah berpacaran hampir lima tahun lalu dua tahun mereka bertunangan dan Anindya tidak tahu penyebab hancurnya pertunangan mereka.


"Aku hanya orang baru dalam hidup Liam, sedangkan dia (Clarissa) masa lalu yang telah lama bersama Liam. Apa Aku bisa memenangkannya? Kenapa sekarang Aku justru pesimis padahal tadi di mobil Aku begitu ingin menyingkirkan Clarissa,"gumam Anindya dengan mata terpejamnya.


"Aku takut kalah tapi Aku juga takut menang,"lanjutnya.


Perlahan rasa kantuk menghampiri Anindya membuat wanita muda itu masuk ke alam mimpi yang damai.


William yang telah selesai membersihkan badannya kembali menuruni anak tangga mencari keberasaan Anindya.


"Disini rupanya,"gumam pria itu.


William berderap mendekati Anindya yang tertidur dalam posisi duduk itu. Ia amati dengan lamat wajah cantik dan imut tersebut.


Dua titik air mata tersisa pada sudut mata Anindya dan itu cukup membuat William terenyuh. Ia kecup ekor mata Anindya untuk menghapus air mata tersebut.


Kemudian William mengangkat tubuh kecil Anindya untuk ia bawa masuk ke dalam kamar mereka.

__ADS_1


"Maaf sudah membuatmu menangis,"ucap William.


***


__ADS_2