
"Woaah, ini benar-benar surga dunia,"ucap Anindya kagum.
Wanita itu berjalan kesana-kemari bak anak kecil yang mendatangi pusat permainan. Kaki Anindya terus bergerak mengelilingi villa bergaya modern itu. Kakinya menjejaki dapur dengan berbagai pekakas dapur modern yang membuat Anindya kebingungan.
"Liam, ini kompornya bagaimana cara menghidupkannya? Terus krannya kok nggak ada puterannya,"tanya Anindya.
William yang sedari tadi berdiri dengan senyumannya itu pun berjalan mendekati sang istri lalu memberikan contoh bagaimana cara menghidupkan kompor dan kran air otomatis itu.
"Ck, nanti pakai kompor biasa aja deh, Liam. masa iya nanti kalau mau masak harus panggil Kamu dulu sih,"dumel Anindya.
Sepertinya Anindya masih belum paham konsep William mengajaknya liburan berdua di pulau pribadi itu.
Anindya yang terus mengomentari dapur itu tanpa sadar jika sosok william sudah berada di belakang tubuhnya.
Grep.
"Eh, L-Liam,"gagapnya kaget dengan pelukan erat yang William lakukan.
Tangan William mengelus perut datar Anindya secara teratur ke bawah dan ke atas. Deru nafas pria itu mengenai leher Anindya yang masih memakai hijab namun bisa menembus pada pori-pori kainnya.
Kesal karena tidak bisa menyentuh kulit leher jenjang Anindya secara langsung. William melepas paksa hijab itu lalu membuangnya sembarangan.
"Liam...hentikan!"hardik Anindya mencoba menghentikan aksi sang suami.
Tetapi William yang sudah menahan diri sedari di dalam jet pribadi itu kini tak bisa lagi mengontrolnya. Bibir William justru semakin rakus membaui leher sang istri. Tanganya juga semakin aktif memasuki gamis Anindya.
"Liam, jangan disini. Nanti ada orang,"ucap Anindya di sela nafasnya yang tersengal.
William menulikan telinganya. Di dalam vila itu hanya ada dirinya dan Anindya, bahkan dipulau tersebut juga sudah di kosongkan. Jadi untuk apa ia takut jika ingin ***-*** di dapur sekalipun.
"Liam, jangan disini,"rengek Anindya lalu mendorong keras tubuh sang suami.
Tatapan mata William begitu sayu dan dipenuhi kabut gairah. Hal itu tentu saja mempengaruhi Anindya, wanita itu juga merindukan kehangatan tubuh William dan rindu berpacu keringat bersamanya.
"K-kamar kita dimana?"cicit Anindya menundukkan kepalanya.
Senyuman lebar terukir pada sudut bibir William saat ia mendengar kalimar yang keluar dari bibir sang istri. Tanpa banyak bicara lagi, William mengangkat tubuh Anindya dan membawanya menuju kamar mereka.
"Aahhh, Liam. Jangan lari-lari,"pekik Anindya karena William yang tidak sabar itu membawa tubuhnya berlari menuju kamar mereka.
***
Anindya merenggangkan kedua tangannya. Tubuhnya terasa begitu lelah, tulang-tulangnya terasa remuk karena percintaan yang begitu lama bersama William.
Pria itu sekaan begitu bernafsu dan terus menaburkan benih cintanya pada rahim sang istri.
__ADS_1
Anindya menolehkan kepalanya ke samping. Wajah tampan dan damai masih begitu nyenyak dalam tidurnya.
"Tampan,"pujinya untuk sang suami.
Tangan anindya terulur pada pahatan wajah yang begitu sempurna itu. Ia tak menyangka jika hidupnya akan begitu beruntung dengan menikah bersama William yang awalnya ia kira seorang OB seperti dirinya.
"Terkadang Aku masih merasa tidak percaya diri bersanding denganmu,"gumamnya.
Setelah merasa puas mengagumi wajah William, Anindya berniat turun ke lantai bawah untuk memasak makan malam mereka.
Tetapi tubuh itu tertahan karen tarikan William yang lalu kembali mengungkung tubuhnya.
"Liam? Kamu sudah bangun?"tanya Anindy salah tingkah.
"Hem, mau kemana?"
Anindya memalingkan wajahnya agar bola matanya tidak terkunci oleh tatapan William yang begitu melenakan.
"A-Aku mau masak ke dapur,"cicit Anindya.
"Ck, masih terlalu pagi Anin...Tidur lagi,"ucap William dengan suara paraunya lalu menarik pinggang sang istri dan menjebaknya dalam pelukan yang begitu hangat.
Anindya meringkuk membelakangi William yang memeluknya erat itu. Dia kembali pasrah, toh tubuhnya juga masih terlalu lelah karena tenaga yang terkuras begitu hebatnya.
Di pagi menjelang siang, keduanya baru-baru keluar kamar. Itu pun karena Anindya yang memberi ancaman akan marah pada William jika pria itu terus mengurung dirinya di dalam kamar.
"Kamu masih marah, hem? Aku sudah membawa dirimu jauh kesini, kita juga sudah menghabiskan malam panas kenapa Kamu masih marah seperti ini?"kesah William.
Anindya yang tengah makan itu menghentikan gerakan sendok dan garpunya. Dia menatap kesal pada William.
Sebenarnya sederhana saja yang Anindya inginkan. Permintaan maaf, bukan yang lainnya. Bukan ke luar negeri ataupun lainnya.
Sedari kemarin, William belum juga meminta maaf dan menjelaskan semuanya pada Anindya. Dan itu cukup membuatnya kesal.
Makanan di atas piringnya masih tersisa setengah, namun karena rasa kesalnya. Anindya sudah tidak lagi bernafsu untuk menghabiskannya.
"Mau kemana?"tanya William saat melihat istri kecilnya beranjak dari posisinya.
"Kolam renang,"ucap Anindya dengan raut wajah masamnya.
William benar-benar dibuat pusing dengan kelakuan istri kecilnya. Dia mengusap wajahnya kasar. Lalu turut beranjak untuk mengejar Anindya.
Di kolam pribadi yang langsung berhadapan dengan birunya pantai. Anindya mendudukan tubuhnya pada pinggiran kolam lalu memasukkan kakinya pada kolam renang itu.
Berulang kali ia menghela nafasnya. Dia terkadang merasa memang harus bersikap posesif pada William, namun terkadang ragu apakah itu harus ia lakukan.
__ADS_1
Dia sendiri belum tahu siapa sosok sang suami yang sesungguhnya, Anindya hanya menikah dengannya dalam kondisi mendesak.
Tidak ada cinta di awal pernikahan mereka. Itu yang terus menghantuinya. Yoga yang berpacaran dengannya bertahun-tahun saja bisa menikung dirinya. Bagaimana dengan William yang orang baru.
William terlalu baik padanya, terkadang membuat Anindya merasa minder dengan dirinya sendiri. Pria itu sekuat tenaga menjaga pernikahan ini, namun itu yang justru membuat Anindya semakin dilema.
"Kamu baik, bertanggung jawab, tapi Aku tidak yakin Kamu mencintaku atau tidak. Kamu selalu memperlakukanku bak ratu, namun Aku justru takut itu hanya sebagai bentuk tanggung jawab tanpa adanya perasaan. Meskipun Aku sudah mengatakan akan berusaha bertahan, namun nyatanya hatiku masih saja ragu, terlebih dengan apa yang kemarin Aku lihat,"gumam Anindya.
Jika hanya mengatakan lupakan yang lalu itu mudah, tapi melakukannya butuh banyak waktu.
Saat melihat bagaimana Clarissa mencium pipi William dan tangan melingkari pria itu, membuat ketakutan di hati Anindya kembali muncul.
Dia takut William akan mengkhianati dirinya sebagaimana Yoga melakukannya. Yoga yang mengenal Prita hanya beberapa bulan saja sanggup mengkhianati dirinya, apalagi ini Clarissa yang masa lalu William.
"Anind... Akhirnya Aku menemukanmu,"celetuk William, lalu menghampiri Anindya.
Pria itu melakukan hal yang sama seperti Anindya dengan duduk disamping wanita itu. Tetapi Anindya justru menggeser tubuhnya menjauh. William tak patah arang, pria itu kembali mendekati Anindya, namun lagi dan lagi Anindya menghindarinya. Hingga wanita itu hampir terjatuh ke dalam kolam, tetapi beruntung William dengan sigap menolongnya.
"Kamu ini, kenapa ceroboh sekali sih Nin,"tegur William seraya menahan Anindya dengan bahunya.
Anindya menatap nyalang suaminya itu. Lalu beranjak dari sisi kolam dan memilih duduk tiduran pada kursi santai disana.
"Anin, Aku sudah membawamu ke sini. Tidak bisakah Kamu jangan marah seperti ini terus,"keluh William yang juga mengikuti Anindya duduk di kursi.
"Ck, Liam. Aku nggak memintamu membawa Aku kesini, ini urusan Kamu,"ketus Anindya.
"Ya ampun, iya Aku tahu salah. Tapi tidak bisakah Kamu menghargaiku sedikit saja. Jangan seperti ini,"ucap William frustasi.
Ucapan William itu justru membuat Anindya semakin kesal saja. "Aku sudah berusaha menghargai Kamu dengan datang ke kantor Kamu membawa bekal makan siang meskipun sudah berhari-hari Kamu mendiamkanku. Tapi nyatanya, justru Kamu yang tidak menghargai Aku dengan berduaan bersama wanita lain (Clarissa) bahkan hingga berciuman dan berpelukan,"oceh Anindya dengan segala isi hatinya.
Sangking emosinya, nafas Anindya bahkan sampai tersengal. Dia menatap William marah. Dan apa yang Anindya katakan itu sukses membungkam bibir William. Pria itu juga merutuki dirinya atas keputusannya mendiamkan Anindya.
Padahal Anindya juga tak bersalah, karena takdir saja yang belum memberinya keturunan.
"Diam kan, sudah lebih baik kita kembali ke Indonesia saja. Tidak ada gunanya disini,"ujar Anindya marah. Lalu beranjak hendak meninggalkan William lagi.
Grep.
Tubuh Anindya tertarik ke belakang lalu terperangkap dalam pelukan William.
"Maaf...Maaf, Aku mengaku salah sudah mendiamkan Kamu. Tapi masalah di kantor kemarin Aku beneran tidak bersalah, biarkan Aku menjelaskannya,"pinta William.
"Lepas Liam, Aku mau beberes pakaian dan kita kembali ke Indonesia,"tolak Anindya.
"Tidak akan, dengarkan dulu penjelasanku,"kekeuh William yang semakin mengeratkan pelukan itu.
__ADS_1
"Ck, dasar keras kepala..."
***