
"Tidak apa Sayang, sini duduk. Dari tadi kita nungguin Kamu,"ucap Wanda dengan senyum lebarnya.
Clarissa tersenyum lebar, wanita dengan pakaian seksinya itu melakukan cipika-cipiki lebih dulu dengan Wanda baru setelah itu ia berjalan hendak duduk disamping William.
"Maaf Tante, ini siapa? Cla biasanya duduk disini,"aduh Clarissa.
Anindya menatap jengah wanita yang sedari tadi memanggil namanya "Cla" itu. Anindya tidak tahu siapa betul wanita dengan pakaian seksi tersebut, yang jelas perasaanya mulai tidak nyaman dengan kehadirannya.
"Ah dia...dia cuma orang luar kok Sayang,"ujar Wanda.
Entah mengapa, mendengar kalimat yang meluncur dari bibir merah Wanda rasanya sangat sakit dihati Anindya. Bahkan kini Anindya tampak menunduk dengan meremas gaun panjang di atas pahanya itu.
"Maaf bisakah Kamu pindah,"ujar Clarissa dengan percaya dirinya pada Anindya.
Tak.
Suara dentingan sendok begitu keras mengenai piring di atas mejanya. William sudah benar-benar muak dengan semua drama yang dibuat Wanda.
Pria itu berdiri dengan tangan menggenggam erat tangan Anindya dan berkata.
"Maaf Tuan Bavers, sepertinya Saya dan ****Istri Saya**** tidak bisa melanjutkan makan malam disini. Kami harus pulang,"ujar William menarik tangan Anindya meninggalkan meja makan itu.
"WILLIAM! Kembali duduk, atau Kamu tahu akibatnya,"bentak Tuan Bavers keras.
Langkah kaki William sempat berhenti selama beberapa saat, tetapi setelah itu ia kembali melangkah dengan tangan Anindya yang terus ia genggam erat.
Clarissa sendiri tampak membekap mulutnya. Dia tadinya benar-benar tidak tahu siapa itu sosok Anindya. Tetapi saat William menyematkan status istri Saya pada Anindya cukup membuatnya syok.
Ia memang datang makan malam karena undangan Wanda, pertunangannya dengan William telah berakhir karena kesalahan dirinya beberapa bulan yang lalu. Clarissa pikir, malam ini dia bisa mengambil kembali kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan William melalui undangan Wanda tersebut.
"Wanda, bisakah kamu tidak bersikap seenaknya,"ucap Tuan Bavers penuh penekanan.
"Sayang, Maafkan Aku ya. Aku kira dengan mengundang Clarissa makan malam bersama kita akan memperbaiki hubungan Clarissa dengan William, juga pasti akan memperbaiki hubungan kita dengan putra sulung kamu itu,"ucap Wanda dengan wajah memelasnya.
Hanya sebuah wajah memelas yang tidak mencerminkan isi dalam hatinya. Karena jika William semakin jauh dari Bavers. Maka kesempatan Wanda menguasai aset pria itu akan semakin besar.
"Ck, Saya pergi,"decih Tuan Bavers meninggalkan meja makan.
"Sayang, Sayang. Kamu mau kemana?"ucap Wanda dengan suara merengeknya.
Tetapi wanita itu tidak benar-benar mengejar Bavers. Dia hanya berpura-pura sedih lalu bersikap biasa ketika tubuh Tuan Bavers menghilang dibalik pintu ruang pribadinya.
"Huft, sini Cla. Kita nikmati makan malamnya,"ajak Wanda pada Clarissa yang sedari tadi hanya berdiri.
__ADS_1
Clarissa menurut, dia cukup paham sifat Wanda. Clarissa mengambil tempat duduk berhadapan dengan Wanda.
"Stev, ke kamar dulu,"ucap Steven yang sedari tadi menjadi penonton dari drama kedua orang tuanya.
"Kamu mau kemana Stev? Habiskan dulu makan malammu,"utas Wanda penuh penekanan.
Meskipun cukup malas harus makan malam setelah drama keluarga tersebut. Mau tidak mau, Steven menuruti kemauan Wanda dengan duduk kembali dan melanjutkan makan malamnya.
"Maafin Cla ya Tante, karena ada Clarissa makan malam kalian jadi berantakan,"ujar Clarissa.
"Ck, kalau sudah tahu seharusnya tidak perlu datang,"cibir Steven.
"STEV, jaga bicaramu!"hardik Wanda pada sang putra.
"Kamu tidak melakukan kesalahan sama sekali Sayang, sudahlah kamu nikmati makan malamnya saja,"ujar Wanda dengan senyuman lebarnya.
Senyuman lebar yang juga mendapat balasan tak kalah lebarnya dari Clarissa.
Sementara itu di dalam mobil William tampak memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kecepatan yang membuat Anindya harus memejamkan kedua matanya karena rasa takut.
"Liam! Aku tidak mau mati,"pekik Anindya.
William menekan rem, membuat mobil tersebut berdecit dan tubuh keduanya maju ke depan beberapa senti.
"Maaf, Aku pasti telah membuatmu ketakutan,"desah William menatap Anindya penuh rasa bersalah.
"Iya, jantung Aku rasanya mau lepas dari tempatnya. Perut Aku bahkan terasa mual,"ucap Anindya.
"Kamu ingin muntah? Kita turun sekarang ya,"ucap William bersiap melepas sabuk pengamannya.
"Tidak, tidak untuk sekarang. Tetapi jika kamu kembali menjalankan mobilnya seperti tadi, mungkin Aku akan benar-benar muntah,"balas Anindya.
Senyuman kecil tersematkan pada sudut bibir William. Pria itu kembali menghidupkan mesin mobilnya lalu melajukannya dengan kecepetan sedang.
Selama melanjutkan perjalanan pulang suasan mobil sunyi. Baik William maupun Anindya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sesekali William melirik Anindya dengan ekor matanya. Pria itu tampak mengkhawatirkan istri kecilnya yang sedari tadi diam membisu itu.
Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di mansion pribadi milik William. Saat Anindya hendak membuka pintu mobil, suara William menghardiknya dan membuat Anindya urung membuka pintu mobil tersebut.
"Tetap di dalam,"ucap William.
Anindya merengut kembali dalam posisi semula. Sedangkan William keluar lebih dulu dari mobil lalu beralih membukakan pintu mobilnya.
__ADS_1
"Seharusnya tidak perlu seperti ini,"kesah Anindya saat sadar maksud William melarangnya keluar lebih dulu.
Tetapi apapun itu, William seakan tidak peduli. Pria itu kembali menggenggam tangan Anindya erat saat seluruh tubuh wanita itu telah keluar dari dalam mobil.
Bahkan hal itu terus William lakukan sampai keduanya memasuki kamar mereka.
Anindya menatap tangannya yang masih saja William genggam erat, padahal keduanya telah berada di dalam kamar.
"Liam, tangan Aku,"ucap Anindya.
William menoleh, lalu tanpa memberi aba-aba. Tubuh tegap itu menarik tubuh kecil Anindya dan memasukkannya dalam dekapan yang hangat.
Bulu mata lentik Anindya mengerjap berulang kali. Ini terlalu mengejutkannya, dia bahkan belum siap untuk menerima pelukan yang erat dan hangat ini.
William terus memeluk tubuh kecil Anindya, dia ingin mengatakan maaf pada istri kecilnya atas perlakuan keluarganya yang menurut pria itu pasti menyakiti hati Anindya.
Namun yang bisa William lakukan hanya memeluk erat tubuh Anindya selama beberapa saat lamanya tanpa satupun kalimat yang keluar dari dalam mulutnya.
"Liam, Aku sulit bernafas,"gumam Anindya.
Pelukan itu merenggang namun tangan kekar William masih bertengger pada kedua bahu wanita itu.
Pria itu membimbing Anindya untuk duduk di kursi meja riasnya. Lalu hal selanjutnya cukup membuat Anindya terkejut dan canggung sekaligus.
Dia (William) melepaskan sepatu hak tingginya, membersihkan make up pada wajah Anindya dan terakhir pria itu hendak melepas dress panjang yang melekat pada tubuh Anindya setelah sebelumnya pria itu telah melepas kerudung yang membalut kepala Anindya.
"L-Liam yang ini tidak perlu,"gagap Anindya mencegah tangan pria itu yang hendak membuka resleting dressnya.
"Suut, kamu diam saja ya. Biar Aku menyelesaikan sampai akhir,"ucap pria itu lembut.
Suara itu sangat lembut hingga membuat Anindya tidak mampu untuk membantahnya. Kini Anindya hanya bisa mengigit bibirnya kala merasakan tangan hangat milik William yang tanpa sengaja menyentuh permukaan kulit punggungnya.
"L-Liam,"gagap Anindya.
"Hem,"dehem William.
"B-biar Aku saja."
Anindya masih menolak atas ketidaksadarannya. Setiap William menyentuh permukaan kulitnya, tubuhnya meremang bak tersengat aliran listrik.
"Diam Anindya!"utas William penuh penekanan.
"Apa yang Kamu lakukan, LIAM?"pekik Anindya saat mendengar sobekan dress panjang miliknya.
__ADS_1
***
TBC