
"Jaga bicaramu Anind!"sentak William.
Bak petir di siang bolong. Kalimat yang Anindya ucapkan begitu mengejutkan William.
Kesadarannya seketika kembali, emosinya pun langsung meningkat. Cerai, kata paling tidak ingin William dengar apalagi melakukannya.
Anindya terjengit, bentakan William terdengar begitu keras sampai telinganya terasa berdenging. Apa dirinya telah melakukan sebuah kesalahan? Anindya hanya tidak ingin menjalani pernikahan yang di awali sebuah kebohongan dan tanpa ada dasar cinta di dalamnya.
Terlebih Anindya juga memiliki rasa ketakutan tersendiri. Dirinya yang gagal menikah dan diselingkuhi dengan kejam oleh Yoga, tentu saja itu sangat membekas lukanya di dalam hati Anindya. Yoga yang hanya seorang karyawan kantor biasa dan anak kepala desa saja begitu kejam pada dirinya, apalagi William. Meskipun Anindya belum tahu seluruh identitas William, tetapi dengan cerita jika pria itu pemilik pabrik di desanya serta mansion besar yang ia tempati saja sudah membuat Anindya ketakutan.
"Lebih baik kamu keluar, dan pikirkan lagi akan permintaanmu,"ujar William sembari memalingkan wajahnya dari Anindya.
"Tidak, Aku sudah membulatkan keputusan dan telah memikirkannya dari semalam. Aku tidak bisa menjalani pernikahan yang di awali sebuah kebohongan. Aku minta kamu untuk menceraikan Aku,"kekeuh Anindya.
William merogoh saku celanaya untuk menghubungi seseorang disana.
"Ke ruang pribadi Saya,"ujar pria itu lalu mematikan panggilan sepihaknya.
Tidak lama sosok Alex muncul dari balik pintu dan menghampiri William dan Anindya.
"Tuan,"panggil Alex.
"Bu maksudku Tuan William. Tolong ceraikan Aku, Aku mohon—"
"Kamu! Apa semudah itu kata cerai keluar dari mulutmu Nin. Aku tidak ingin menceraikan kamu, terlebih kita sudah....Ah sudahlah. Bawa dia pergi ke kamarnya,"titah William.
Alex maju dan berdiri tegak di depan tubuh Anindya membuat wanita itu harus berjingkrak untuk bisa melihat William.
"Tidak Tuan William, Aku mohon kabulkan permintaanku, ceraikan Aku!"
Teriakan Anindya akan permintaannya itu perlahab menghilang seiring tubuh wanita itu yang berhasil Alex giring keluar ruang pribadi William.
Tampak William menggeram frustasi, di pagi hari dia harus mendapati sesuatu yang membuat dirinya emosi. Dia tidak mungkin menceraikan Anindya, apapun itu alasannya. Terlebih setelah dirinya menghabiskan malam panas bersama Anindya. Dia bukanlah seorang pecundang. sebagai pria sejati, William juga menghargai kesakralan sebuah pernikahan.
Di kamar utama, terlihat Anindya terus menggedor pintu kamar tersebut dari dalam. Dirinya terkunci membuat wanita cantik tersebut hanya bisa berteriak memohon agar dibukakan pintu.
"Buka, Aku bilang buka pintunya. Dasar Tuan William s*alan. Aku bilang buka,"pekik wanita itu.
__ADS_1
Lamanya dia yang berteriak dan terus menggedor pintu membuat tenaga Anindya terkuras. Kesal tidak bisa keluar, wanita itu berjalan menuju pintu balkon kamar.
"Tidak dikunci ternyata,"ucapnya girang.
Anindya melangkah keluar menuju balkon kamar tersebut. Dia pikir dari sana akan menemukan jalan keluar. Sayangnya letak kamar utama yang ada di lantai lima membuat jantung Anindya mencelos karena tingginya kamar tersebut dari tanah.
"Ini kalau jatuh, bakal masuk kuburan atau rumah sakit ya,"gumamnya menatap ngeri ke bawah.
"Ck, ayolah Anindya. Kamu adalah gadis kuat, pikirkan caranya agar bisa keluar dari sini."
Wanita itu kembali masuk, lalu melepas seprai kasur, selimut, seluruh korden jendela, bahkan beberapa kain panjang yang tersimpan di lemari ia keluarkan. Lalu dengan kuat, Anindya menyambungnya menjadi sebuah tali panjang dan mengikatnya pada pembatas balkon tersebut.
"Masih kurang, tapi kainnya sudah habis. Aku loncat saja kali ya, saat kainnya habis,"ujar wanita.
Setelah tekadnya bulat, dan persiapan telah selesai. Anindya mulai menuruni kamar menggunakan kain panjang yang tidak sampai pada tanah tersebut.
Dengan hati-hati, Anindya menuruninya. Sampai sebuah seruan membuat wanita itu kaget dan melepaskan pegangannya pada kain panjang tersebut.
"Anindya!
"Aahhh."
"Sakit...eh tapi kok tidak terasa,"gumam wanita tersebut dengan memejamkan matanya.
"Ini beneran tidak sakit."
Perlahan kelopak matanya terbuka, seketika birunya langit terlihat jelas di matanya. Dia masih hidup, tapi kenapa tidak merasakan sakit justru kesan empuk yang Anindya rasakan.
"Sudah cukup tidurannya,"celetuk sosok dari bawah.
Suara itu sangat familiar dan Anindya kenal betul pemiliknya. Segera wanita itu menyingkir dari atas dan bangkit. Alangkah terkejutnya wanita itu saat ia tahu jika ada William di bawahnya.
"Maaf, sini biar Aku bantu,"ujar Anindya penuh penyesalan.
Wanita itu membantu William agar bisa bangun dari posisi tidurannya di atas tanah tersebut.
"Mau kemana, hem?"tanya William menatap tajam Anindya.
__ADS_1
Anindya menunduk dengan jemari kedua tangannya saling bertautan.
"Karena kamu tidak mau menceraikan Aku, jadi Aku mau kabur saja,"ujarnya jujur.
William yang mendengar penjelasan Anindya dibuat geleng-geleng kepala. Kenapa gadis yang baru saja menginjak usia delapan belas tahun dan dulunya bekerja di pabrik miliknya itu begitu ceroboh dalam mengambil keputusan.
"Eh, ini tangan Aku mau kamu apain? Kenapa di borgol,"ujar Anindya panik.
William tidak menggubris ocehan Anindya, pria itu terus memasang borgol pada tangan Anindya dan tangannya sendiri lalu menguncinya dan selanjutnya kunci itu ia serahkan pada Alex.
"Saya akan ke kantor, dan sepertinya Saya tidak bisa meninggalkan Kamu sendirian di mansion. Otak kamu terlalu sulit ditaklukan oleh pelayan disini,"ujar William.
Kedua mata Anindya membola. Pria itu akan pergi ke kantornya, dan jika tangannya diborgol dengan tangan William sudah pasti ia akan ikut kemanapun pria itu pergi.
Anindya tampak frustasi, idenya untuk pergi karena William yang tidak mau menceraikan dirinya justru berakhir harus ikut kemanapun pria itu pergi.
"Tolong lepaskan Aku, kamu gila. Aku tidak mau ikut kamu,"ujar Anindya berontak.
Tapi aksi berontak Anindya itu tidak bisa membantu dirinya, karena tenaganya jauh lebih lemah dibanding sosok William yang tengah menyeretnya agar masuk ke dalam mobil pria itu lalu melesat meninggalkan mansion menuju kantor William.
Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di kantor dengan gedung tinggi menjulang tersebut. Anindya masih enggan keluar dari dalam mobil, namun lagi-lagi, tarikan William membuatnya tak berdaya dan hanya bisa melangkah pasrah mengikuti kaki pria itu.
"Siapa wanita yang bersama CEO kita itu?"
Bisikan-bisikan kecil dari karyawan Bavers Group masuk pada telinga Anindya, saat ia mengikuti langkah kaki William. Wanita itu hanya bisa menundukkan kepalanya. Sementara William tampak acuh dengan seluruh tatapan tanda tanya para stafnya itu.
"Selamat pagi, Tuan William,"sapa seorang wanita berseragam formal saat William akan memasuki ruangannya.
Suara pintu ditutup dengan keras mengagetkan wanita berstatus sekretaris William tersebut. Dia menatap sosok Alex yang hendak meninggalkan pintu ruangan William.
"Tuan Alex, ada apa dengan Tuan William?"tanya wanita itu.
"Prahara rumah tangga,"jawab Alex singkat kemudian berlalu begitu saja.
Wanita tersebut menutup mulutnya yang terbuka. Dia tidak percaya dengan apa yang tadi Alex katakan padanya itu.
"Apa tadi adalah istri Tuan William. Oh tidak, kabar ini sangat mengejutkan dan membuat Saya tidak bisa berkata-kata,"celetuk sekretaris itu dengan raut muka terkejutnya.
__ADS_1
***