NIKAHI AKU TUAN!

NIKAHI AKU TUAN!
Part 34


__ADS_3

"Kamu kenapa?"tanya Anindya bingung.


Sedangkan si pria sama sekali tidak ingin melepaskan pelukannya. Bahkan saat keduanya berada di atas kasur, William masih betah memeluk tubuh Anindya dalam diamnya.


Anindya benar kebingungan dengan tingkah William, pria itu terus memeluknya dengan posesif hingga pagi menjemput William masih begitu posesif dan terus mengintilinya.


"Liam, apa Kamu tidak berangkat kerja? Aku tahu hari ini Kamu tidak libur kerja,"ucap Anindya yang hanya dibalas gelengan oleh William yang duduk di depannya itu.


Apa gerangan yang membuat seorang William Bavers itu memilih libur bekerja dan menjadi ekor Anindya.


"Aku libur mau menemani Kamu di mansion,"ujar pria itu yang justru membuat Anindya heran.


Dan pikiran Anindya justru tertuju pada hari kemarin dimana ia yang diam-diam menemui Tuan Bavers.


Anindya memandang William lamat-lamat mencari adakah kemarahan di mata pria itu padanya. Tetapi selama apapun dan sejeli apapun Anindya mencari dari sorot mata William, ia tidak juga menemukan kemarahan disana.


"Liam, apakah ada sesuatu yang membuatmu seperti ini sama Aku?"tanya Anindya penuh kecurigaan.


"Tidak, justru Kamu yang ada sesuatu,"balas William dengan senyuman lebarnya.


"Sesuatu? Apa itu?"tanya balik Anindya.


Tetapi kalimat tanya itu justru tidak diindahkan William. Pria itu beranjak meninggalkan Anindya seorang diri di ruang tengah tersebut dengan wajah kebingungannya.


Tidak lama kemudian, William datang kembali dengan segelas susu dan semangkok buah yang telah pria itu kupas dan potong-potong.


"Minum ini, Nin,"ujar William menyodorkan gelas berisi susu itu padanya.


"Ini apa?"tanya Anindya heran.


"Susu,"jawab William.


Tidak ada rasa curiga apapun dari Anindya, wanita itu mengambil alih gelas susu itu lalu meminumnya.


"Emmm, kok rasanya beda kayak susu yang pernah Aku minum sih,"ucap Anindya lalu mengangkat susu itu dan menunjukkannya pada William.


"Itu rasa baru, tapi lebih banyak nutrisinya. Habiskan, Nin. Aku yang membuatnya sendiei,"balas William.


Meskipun Anindya tidak suka dengan rasa susu tersebut, tetapi karena William yang telah membuatnya sendiri menjadikan Anindya tidak tega dan kembali meminumnya.

__ADS_1


"Sudah, ini sudah habis,"ujar Anindya seraya meletakkan gelas itu di atas meja.


Senyuman lebar mengembang pada sudut bibir William. Selanjutnya pria itu menyodorkan garpu dengan sepotong apel diujungnya.


"Perutku kenyang Liam, nanti saja ya,"tolak Anindya.


Anindya adalah tipe wanita yang malas memakan buah-buahan namun dia menyukai sayuran. Adakah orang yang memiliki selera seperti Anindya?


Penolakan Anindya itu tidak berbuah, William masih saja kekeuh menyodorkan garpu itu di depan mulut Anindya. Dan jika seperti itu, maka tidak ada pilihan lain yang bisa Anindya lakukan selain menuruti kemauan William.


Bibir kecil Anindya dengan malas terbuka menerima buah dari tangan William itu.


"Emmm, huek..."


Anindya beranjak dari sofa dan berlari menuju wastafel. Rasa mual saat buah itu masuk ke dalam perutnya membuat Anindya tidak mampu menahan diri.


"Anin...Kamu baik-baik saja?"ucap William khawatir, sembari memijat tengkuk Anindya.


Setelah rasa mual itu hilang barulah Anindya dan berbalik menatap William.


"Dulu Aku pernah makan buah dari teman di desa, dan saat Aku memakannya ternyata di dalamnya ada ulatnya. Dan saat Aku tahu, ternyata teman-teman Aku di desa sengaja ngasih buah busuk. Dan semenjak itu Aku membenci dan tidak mau makan buah. Jika dipaksa akan mual seperti tadi,"jelas Anindya. Dia sengaja menceritakan hal itu pada William agar pria itu tidak merasa bersalah.


"Kamu trauma?"tanya William yang diangguki Anindya.


"Sudah, Aku tidak apa-apa kok. Karena Kamu mengatakan hari ini ingin menemaniku di mansion, bagaimana jika Kamu temani Aku menonton TV saja,"ucap Anindya dengan senyuman lebarnya


"Hem,"balas William.


Anindya mengapit tangan William lalu mengajak pria itu ke ruang keluarga lalu menyalakan televisi dan menikmati waktu bersama.


***


Keesokan harinya, hari ini William akhirnya mau berangkat kerja dengan segala bujuk rayu yang Anindya lakukan padanya.


Untuk menghilangkan rasa bosannya, Anindya memutuskan untuk membuat camilan. Dengan dibantu Eva, Anindya mulai bereksperimen di dapur.


Makanan ringan yang tengah ia buat adalah sejenis kue kering khas dari Italia. Itu karena saran dari Eva, kepala pelayan itu mengatakan jika kue kering tersebut merupakan makanan kesukaan William.


"Eva, setelah dimasukkan ke dalam oven. Terus apa lagi?"tanya Anindya.

__ADS_1


"Kita tunggu selama lima belas menit Nona, nah sembari menunggu kita bisa membuat puding juga,"ucap Eva.


Anindya mengangguk antusias. Eva ini pelayan yang kemampuannya diluar jangakauan Anindya. Maklum Eva adalah lulusan sebuah kampus di luar negeri.


Untuk puding sepertinya itu bukan hal yang sulit bagi Anindya. Wanita itu mengikuti Eva untuk mengambil bahan-bahan yang di butuhkan.


Saat Anindya membuka sebuah lemari, tanpa sengaja Anindya menemukan kotak bungkusan susu yang menarik atensinya.


Anindya mengambil kotak susu itu lalu menanyakan kepada Eva siapa pemiliknya. Karena berdasarkan tulisan dari kemasan kotak susu itu adalah kotak susu ibu hamil.


"Eva, ini susu siapa ya? Kok ada disini,"tanya Anindya.


Eva meletakkan bahan-bahan untuk membuat puding itu di atas meja lalu berbalik dan menatap apa yang dimaksud Anindya.


"Itu bukannya milik Anda, Nona? Kemarin dan tadi pagi kan Tuan William membuatkan untuk Anda dengan tangannya sendiri,"balas Eva.


Anindya membekap mulutnya, kini ia mulai menerka kenapa William begitu memaksanya meminum susu tersebut dan semakin posesif kepadanya.


"Jangan bilang, dia pikir Aku sedang hamil,"gumam Anindya.


"Itu benar, Nona. Kemarin kan Tuan William telah memberitahu kabar gembira itu pada seluruh pelayan bahkan Tuan William meminta koki untuk mengubah menu makanan Anda,"jelas Eva semakin membuat Anindya terkejut.


Seharian ini Anindya dilanda kecemasan. William mengira dirinya tengah hamil, padahal Anindya yakin jika ia masih belum hamil.


Anindya duduk gelisah di sofa ruang tengah menanti kepulangan William. Ia akan menjelaskan kebenarannya pada William.


"Sepertinya dia mendengar perdebatan Aku sama Nyonya Wanda tempo hari, dan akhirnya jadi salah paham,"gumam Anindya.


Saat Anindya yang tengah menunggu kepulangan William. Dari arah luar suara deru mobil memasuki area mansion terdengar dan membuat perasaan Anindya mendadak tidak tertebak.


"Bagaimana reaksinya saat tahu Aku tidak hamil,"monolognya dengan cemas.


Derap kaki William terasa mencekam di telinga Anindya. Saat sudah memasuki mansion, refleks Anindya berdiri menyambutnya.


Senyuman William mengembang lebar saat melihat wajah Anindya. Kaki pria itu semakin cepat mendekati wanitanya. Lalu melabuhkan sebuah kecupan singkat pada kening Anindya saat sudah berada di depan wanita itu.


"Liam, ada yang mau Aku kasih tahu sama Kamu,"ucap Anindya mengigit bibir tipisnya.


"Iya?"

__ADS_1


"Sebenarnya...Aku tidak hamil, Liam..."


***


__ADS_2