NIKAHI AKU TUAN!

NIKAHI AKU TUAN!
Part 23


__ADS_3

"Tuan William yang terhormat, tolong lepaskan borgol ini. Saya benar ingin ke toilet, sudah di ujung ini,"rengek Anindya.


Wanita berhijab itu yang sedari tadi berdiri disisi William terus merengek agar borgol yang melingkari pergelangan tangannya dilepaskan oleh pria itu.


Rengekan Anindya itu cukup bising di telinga, bahkan Alex yang ada di depan William saja merasa terganggu. Tetapi tidak dengan William, pria itu tetap dengan wajah seriusnya menatap Alex dan meminta asistennya melanjutkan laporan yang tengah Alex baca tanpa peduli dengan kehadiran Anindya disana.


"Kalau nggak di lepas, Saya bisa buang seni disini loh,"ujar Anindya lagi.


William menutup berkas di depannya, lalu tangan pria itu terangkat dengan kibasan pada Alex untuk keluar dari ruangannya.


Setelah Alex keluar dari dalam ruanganya, William memutar tubuhnya menatap sosok istri kecilnya yang terus merengek padanya itu.


"Mau buang air kecil?"tanya pria itu yang diangguki Anindya dengan wajah memelasnya.


Wajah memelas yang justru terlihat menggemaskan di mata William seperti seekor anabul yang patuh pada majikannya.


Pria itu memalingkan wajahnya agar Anindya tidak melihat rona merah pada kedua pipinya.


"Tuan William...Bisakan lepaskan borgol ini, Saya benar ingin buang air kecil,"rengek Anindya dengan akting menggemaskanya.


"Tuan William? Kenapa Kamu memanggil Saya seperti itu,"ucap William tidak suka. Sedari tadi dia sudah berusaha diam saat Anindya terus memanggilnya Tuan William, tetapi lama - kelamaan rasanya telinga pria itu berdenging karena panggilan tak enak di telinganya itu.


"Aduh, itu nanti saja dibahasnya. Sekarang biarkan Saya ke kamar mandi dulu."


Anindya benar-benar ingin buang air kecil, kantong kemihnya benar-benar telah penuh. Tetapi pria berstatus suaminya itu justru menatapnya penuh telisik seakan-akan William tidak mempercayainya.


"Eh? Kamu...kamu mau apakan Saya? Turunkan!"


Anindya memekik kaget karena aksi William yang tiba-tiba menggendong tubuhnya dan membawa dirinya ke dalam kamar mandi.


"Sekarang kencinglah,"ujar William dengan santai.


Mulut Anindya terbuka lebar, pria itu menyuruhnya buang air kecil dengan begitu mudahnya, sedangkan tangan Anindya dan William masih terborgol. Dan lagi William turut masuk disana dengan mata menatapnya lurus.


"Kamu gila ya...Bagaimana Saya bisa buang air kecil, sedangkan kamu masih disini dan tangan Saya masih di borgol begini,"sewot Anindya.


William acuh, dia tidak mau membuka borgolnya ataupun keluar dari kamar mandi. Toh, menurut William dirinya sudah melihat setiap lekuk tubuh Anindya. Jadi jika hanya buang air kecil dan sebagian tubuh mulus Anindya tentu saja tidak masalah bukan.

__ADS_1


"Lakukan saja sekarang, atau tidak buang air kecil sama sekali,"ujar William dengan tatapan datarnya.


Anindya di ujung gelisah, dia sudah sangat kebelet tetapi pria di depannya masih enggan menuruti keinginannya. Jadilah dengan terpaksa, Anindya tetap buang air kecil dengan syarat William harus membalik tubuhnya.


"Kamu beneran tidak mengintip kan?"tanya Anindya kesekian kalinya.


Anindya yang berada dalam gendongan William itu menatap curiga pria itu. Pasalnya William tidak juga menjawab pertanyaanya dan justru memalingkan wajahnya dengan ekspresi merona pada kedua pipinya.


Sebuah ekspresi yang membuat Anindya curiga. Wanita itu membatin jika William mengintip tentu tidak akan Anindya biarkan dan maafkan begitu saja.


William yang .mendapat teror pertanyaan itu hanya bisa diam membisu, dia sekuat tenaga menahan dirinya agar melupakan bagaimana peristiwa di kamar mandi, entah mengapa mendengar kucuran air saat Anindya mensucikan diri usai buang air kecil menarik atensinya. Jadilah saat itu, dia yang berjanji tidak akan mengintip harus menelan ludahnya kasar saat melihat sebagian area belakang Anindya.


"Duduk dan diamlah,"titah William yang telah mendudukan tubuh Anindya di kursi yang ada di sampingnya.


"Kamu mengintip Saya ya? Dasar mesum, kamu memang pria kurang ajar,"ucap Anindya dengan memukul lengan pria di sampingnya itu.


Cup!


Satu kecupan singkat mendarat persis pada bibir tipis Anindya, membuat wanita itu mendelik dan terperangah kaget.


Suara Anindya tertelan kembali saat William kembali melabuhkan bibirnya. Kali ini bukan hanya sebuah kecupan melainkan sebuah ciuman dalam dan cukup lama.


Anindya yang tadinya menolak mentah-mentah pada akhirnya turut terbuai akan permaian yang William lakukan pada bibirnya.


"Panggil Saya Liam, dan diamlah atau Saya akan melakukan hal lebih dari ini,"ujar William usai melepaskan tautanya.


Sedangkan Anindya hanya bisa diam dengan kepala menunduk serta jantung yang berdendang ria, detak jantungnya berpacu sangat cepat karena tautan yang lembut tersebut.


Melihat Anindya yang tak bersuar membuat sudut bibir William terangkat. Kini pria itu kembali fokus pada tumpukan berkas di atas mejanya dan membiarkan Anindya sibuk dengan dunianya. Satu lagi, William juga menyerahkan tablet untuk istrinya bermain agar tidak merasa bosan walaupun Anindya tidak bisa jauh darinya karena borgolan di tangan wanita itu. Jadilah, William layaknya seorang ayah yang menjaga anaknya.


Jarum jam terus berjalan tanpa terasa waktu untuk pulang kantor telah tiba. William menutup laptop dan berkas di depannya, lalu ia beralih menatap sosok cantik yang meletakkan kepalanya di atas meja dan tertidur nyenyak.


Dengan sangat lembut William meraih tubuh Anindya dan menggendongnya keluar perusahaan menuju mobil pria itu.


"Tuan,"panggil Alex dari balik kemudi.


William memberi kode matanya agar Alex memelankan suaranya. Alex menganggukkan kepalanya lalu menatap sekilas dari balik spion ke arah kursi penumpang.

__ADS_1


"Tuan Bavers mengundang Anda makan malam di mansion,"ujar Alex.


Helaan nafas berat terdengar dari rongga hidung William. Dia sudah beberapa kali menolak undangan makan malam dari Tuan Bavers, ayahnya. Tetapi tentu menghindar bukan pilihan yang tepat. Terlebih mereka yang sudah mengetahui pernikahan antara dirinya dan Anindya.


"Kamu urus saja, besok Saya akan kesana dan membawa Anindya juga,"ujar William.


"Tapi Tuan, apa Anda yakin akan membawa Nyonya Kecil?"


Bukannya Alex tidak suka, tetapi membawa sosok Anindya yang kata Tuannya (William) adalah wanita desa yang polos tentu saja membuat Alex khawatir. Terlebih di mansion utama ada beberapa orang yang penuh intrik dan bisa saja mempermalukan Anindya.


"Saya akan selalu disampingnya. Kamu tahu bukan, jika Saya tidak membawa Anindya justru akan membuat mereka menertawakan status pernikahan kami,"ujar William.


"Baik Tuan."


Setelah pembicaraan singkat di dalam mobil itu. Baik William maupun Alex sama-sama diam sampai perjalanan mereka selesai dan tiba di mansion milik William.


Dengan sigap Alex keluar lebih dulu untuk membukakan pintu mobil bagi William.


Disisi mobil terlihat Mandala dan Eva telah menyambut kedatangan pria itu dan Anindya.


"Tuan William,"sapa Manda.


William mengernyit, kaki pria itu berhenti tepat di depan dua orang kepercayaannya meminta Mandala mengatakan apa yang telah terjadi.


"Nyonya Wanda tadi pagi mendatangi mansion Anda, tetapi hanya sampai gerbang karena kami tidak mempersilahkan dirinya masuk,"lapor Mandala.


"Kerja bagus, jangan sampai wanita itu menginjakkan kakinya di mansion Saya,"ujar William tegas.


"Baik Tuan William,"seru mereka bersamaan.


William hanya menganggukkan kepalanya, lalu dia kembali melanjutkan langkah kakinya memasuki mansion dengan Anindya yang masih setia tidur di dalam gendongannya.


"Kamu tidurnya sangat nyenyak,"kekeh William.


***


To be continue

__ADS_1


__ADS_2