NIKAHI AKU TUAN!

NIKAHI AKU TUAN!
Part 28


__ADS_3

"Eva, sini!"


Anindya menarik lengan Eva dan meminta pelayannya itu bersembunyi di sebuah toko pakaian.


"Ada apa, Nona?"


Anindya membekap mulut Eva yang tadi berbicara cukup keras itu. Saat ini wanita berhijab dengan setelan berwarna denim tersebut tengah mengajak sang pelayan bersembunyi di sebuah toko yang ada di mall tersebut.


Entah apa yang membuat Anindya melakukan itu, tapi tampak jelas kekhawatiran pada raut muka Anindya.


Sesekali Anindya melongokkan kepalanya untuk memastikan keadaan di depannya.


"Kita pergi dari sini!"seru Anindya lalu berlari keluar toko tersebut dengan tangan menarik tangan Eva.


"Nona, Nona! Sebenarnya ada apa?"tanya Eva dengan nafas tersengal serta kaki yang harus ia pacu mengikuti langkah panjang Anindya.


"Gawat Eva, kita diikuti oleh orang tidak di kenal, kita harus segera keluar mall ini,"balas Anindya tanpa mengurangi kecepatan larinya.


Eve menoleh ke belakang, di belakang mereka memang tengah beberapa pria berpakaian serba hitam mengejar Anindya dan dirinya. Tapi Eva tahu, siapa mereka sebenarnya.


"Jangan sampai Nona Anindya kabur,"seru pria yang memimpin para pria berseragam hitam itu.


Anindya tidak peduli, dia terus berlari menuju arah parkir dengan Eva yang terus ia tarik.


Naasnya, supir yang tadi bersama mereka dan mengantar Anindya ke mall justru tidak ada di mobil.


"Nona!"


Anindya berbalik, dia menarik tubuh Eva ke belakang tubuhnya untuk ia lindungi. Jiwa patriotisme Anindya selalu muncul. Bahkan dia yang berstatus Nona justru meletakkan Eva (pelayannya) dibalik punggung.


"Nona, mereka bukan penguntit,"ucap Eva mencoba menjelaskan.


"Diam Eva, kamu tetap di belakang Saya. Saya ahli silat, biar Saya saja yang melawan mereka,"ujar Anindya.


Anindya benar-benar tidak mengenal para pria yang jumlahnya ada lima itu. Mereka tidak memakai seragam serba hitam tetapi juga kaca mata hitam yang bertengger pada setiap hidung mereka.


Sikap kuda-kuda telah Anindya pasang membuat kelima pria itu keheranan dengan sikap Anindya yang seakan menantang mereka.


"Apa? Jangan macam-macam sama Saya, sini maju!" Jari lentik Anindya terkacung menantang mereka.


Para pria itu saling bersitatap, satu diantara mereka maju karena pikiran jika Anindya hendak kabur. Dan misi mereka memang memastikan istri kecil Tuan William itu tidak akan kabur.


"Aw, Nona!"

__ADS_1


Pekikan kesakitan keluar dari mulut pria yang tadi maju kala sepakan kaki Anindya mengenai perut serta bogeman mengenai rahang tegasnya.


"Sepertinya Nona benar-benar ingin kabur, kita harus melemahkannya. Jangan sampai Nona Anindya kabur,"celetuk seorang pria pada ketiga rekannya.


Dan ketiga rekannya juga mengangguk mengiyakan pemikiran pria tersebut.


Kini Keempat pria yang tersisa sama-sama maju mengepung Anindya.


"Nona, mereka bukan orang jahat,"ucap Eva dengan wajah paniknya.


Tapi Anindya yang keras kepala justru mendorong tubuh Eva agar menjauh. Anindya tidak ingin menyeret pelayannya yang lemah dalam perkelahian.


"Nona menyerahlah! Dan jangan berbuat nekat,"ucap salah satu pria yang mengepung Anindya.


"Ck, tidak ada kata menyerah dalam kamus seorang Anindya,"ujar Anindya.


Anindya mulai melayangkan aksinya melawan keempat pria berseragam serba hitam itu. Dengan bakat ilmu bela diri yang ia miliki. Anindya sukses melumpuhkan keempat orang bertubuh tegap itu.


Kini mereka telah tersungkur di atas kerasnya lantai bastment mall dengan keadaan wajah babak belur.


"Mau lagi, hah? Payah,"ucapnya dengan gaya menantang.


Eva yang tadi disembunyikan Anindya pun berlari kembali mendekati sang Nona. Pelayan itu memutar tubuh Anindya memastikan jika sang Nona dalam kondisi baik-baik saja.


"Tadi itu bukan apa-apa, Ev. Aku bahkan bisa mematahkan tulang mereka,"sombong Anindya.


Eva menoleh menatap kelima pengawal yang telah dalam kondisi mengenaskan itu. Dia kini sedikit ragu dengan perkataan William untuk menjaga Anindya, karena sosok Anindya yang William katakan berasal dari desa dan lemah.


"N-Nona, mereka bukan orang jahat. Mereka pengawal Anda,"jelas Eva dengan tatapan meringis pada para pengawal itu.


"Hah? Pengawal? Maksudnya?"


Anindya tidak paham maksud dari Eva. Pengawal? Dia tidak memiliki pengawal, dan lagi pula untuk apa ada pengawal.


"Jangan ngaco deh, Ev. Saya tidak punya pengawal. Kayak putri kerajaan saja,"balas Anindya dengan kekehannya.


"Tapi Nona..."


"Nona!"


Mandala berlari cepat mendekati Anindya. Pria itu tadi harus mengangkat telepon dari William sehingga membiarkan Anindya dalam pengawasan kelima anak buahnya.


Tapi, apa ini yang Mandala lihat? Kelima anak buahnya begitu mengenaskan dengan wajah babak belur. Apa yang sebenarnya telah Mandala lewatkan? Sehingga peristiwa seperti ini bisa ia lewatkan.

__ADS_1


"Kalian, apa yang telah terjadi,"ucap Mandala.


Satu per satu pengawal bangkit dari posisinya.Mereka memegangi area tubuhnya yang sakit karena perbuatan Anindya. Sementara Anindya sendiri tampak kaget dengan kehadiran Mandala, orang kepercayaan William.


"Mandala, kamu disini? Ngapain?"tanya Anindya kembali membuat fokus Mandala tertuju pada Anindya lagi.


"Maafkan Saya, Nona. Para pengawal tidak benar menjaga Anda,"ujar Mandala dengan menunduk sebagai ungkapan permintaan maaf dirinya.


"Sebentar-sebentar. Siapa yang kamu maksud pengawal dan siapa yang menjaga siapa?"tanya Anindya dengan wajah bingungnya.


"Kami pengawal Anda, Nona Anindya,"celetuk salah satu dari kelima pengawal yang telah babak belur itu.


Anindya membekap mulutnya, pengakuan dari orang-orang itu ditambah dengan adanya sosok Mandala membuat wanita itu benar-benar terkejut dibuatnya.


Dia tidak salah dengar bukan? Jika mereka adalah pengawalnya, maka Anindya telah salah duga dan salah sasaran. Anindya terlalu naif, dan merasa jika apa yang dilakukannya itu benar. Lagi pula, orang-orang itu terlalu mencurigakan.


Dengan pakaian serba hitamnya dan diam-diam mengikuti Anindya, tentu saja membuat naluri waspada gadis itu bangkit dan secara spontan Anindya melakukan penyerangan untuk melindungi dirinya.


"Itu, lain kali kalau mau jadi pengawal itu bilang dulu jangan diam-diam ngikutin kayak penguntit gitu. Lagi pula, siapa sih yang suruh kalian jadi pengawal Saya?"ucap Anindya.


"Tuan William,"ujar Mandala.


Apa dirinya selemah itu? Sampai William mengirin orang-orangnya untuk menjadi pengawalnya? Atau pria itu hanya takut Anindya kabur. Ah, Anindya lupa satu hal. Bukankah tadi pagi, William membisikkan kalimat jika ia tidak bisa kabur darinya. Mungkin saja, ini yang dimaksud oleh William.


"Ck, Tuan kalian itu memang senang sekali membuat repot,"Anindya berbalik hendak masuk ke dalam mobilnya. Tetapi sebelum itu, tubuh wanita itu berbalik.


"Mandala, maafkan Saya sudah membuat anak buah kamu terluka. Bisakan Kamu bawa mereka ke rumah sakit untuk berobat, nanti biar Saya mintakan biayanya sama William,"ucap Anindya.


"Tidak Nona, tidak perlu. Kami baik-baik saja,"seru kelima pengawal itu bersamaan. Bisa jadi masalah jika Mandala benar-benar menuruti kemauan Anindya dan Anindya memintakan biaya pada William.


"Tapi, itu luka kalian lumayan parah,"ucap Anindya meringis melihat luka lebam pada wajah para pengawal.


"Nona, sebaiknya Anda kembali ke mansion. Mereka adalah para pengawal dan luka seperti itu adalah luka kecil bagi mereka,"celetuk Mandala.


Netra Anindya menatap para pengawal itu. Sontak anggukan kepala mereka bebarengan menyutujui ucapan Mandala pun terjadi.


"Huft, baiklah. Tapi, kalau mereka kenapa-kenapa beritahu Saya, Mandala."


"Baik Nona."Mandala menundukkan kepala.


Anindya melanjutkan niatannya masuk ke dalam mobil diikuti Eva dan supir mereka yang baru saja datang dari kamar mandi.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2